JARI : Elegi Suara yang Hilang

JARI : Elegi Suara yang Hilang

 

(Suasana: Selesai sholat Ashar berjamaah di musholla dekat Kambang Iwak. Mereka duduk melingkar di bangku taman menghadap kolam. Indra Darmawan dan Ferry menyalakan Dji Sam Soe bergantian. Mang Asep membawa gerobak kecil, ikut duduk sambil menuangkan es kembang tahu ke gelas plastik.)

 

Juliansyah (menghela napas, memandang air kolam): Uda, sawah kami mulai tercemar limbah pabrik kelapa sawit di Ogan Ilir. Kami sudah lapor ke DPRD, turun ke jalan, bikin petisi. Tapi rasanya seperti bicara pada tembok. Politisi hanya datang setahun sekali, bagi-bagi sembako, foto bareng, lalu hilang. Saya malu. Apakah kami ini warga negara atau hanya “penonton” setiap lima tahun?

Ade Indra Chaniago (duduk tegap, jari mengetuk bangku kayu): Juliansyah, Anda tidak perlu malu. Yang perlu malu adalah sistem yang membiarkan Anda merasa tidak berdaya. Saya katakan jujur: kepercayaan terhadap politik di seluruh dunia sedang dalam kondisi menyedihkan. Tapi yang lebih parah, kepercayaan politisi terhadap warga negara juga buruk. Mereka menganggap kita malas, hanya bisa mengeluh.
Padahal, kewarganegaraan itu upaya aktif, Saudara-saudara. Bukan sekadar nyoblos. Saya mengusulkan demokrasi revisi: Majelis Warga. Bayangkan, ada lembaga resmi tempat petani, ibu rumah tangga, mahasiswa, dan pedagang kembang tahu seperti Mang Asep ini duduk bersama, membahas kebijakan. Suara mereka kemudian dibawa ke rapat paripurna DPR, didengarkan, dan dianggarkan. Bukan sekadar saran, tapi berdampingan dengan Presiden dan DPR.

Ferry Lesmana (menghisap Dji Sam Soe dalam-dalam, lalu meniup asap ke arah kolam):
Majelis Warga, Uda Ade? Maaf, saya di OKI, masyarakat kami masih percaya pada “pemilik paranormal”. Tiba-tiba menyuruh mereka debat kebijakan soal pupuk subsidi? Bukankah itu terlalu rumit? Lagipula, nanti yang bicara hanya orang-orang yang ambisius atau yang disuruh lurah.

Indra Darmawan (tersenyum sambil memutar puntung rokok): Ferry, Anda perokok Dji Sam Soe, bukan? Rasanya pahit di awal, tapi lama-lama memberi ketenangan. Begitu juga demokrasi partisipatif. Memang tidak mudah. Tapi coba dengar: sekelompok ahli bisa menghasilkan solusi teknis fantastis, tapi mereka punya titik buta. Petani di OKI tahu persis kapan tanah gambut mulai kering. Ibu-ibu Ogan Ilir tahu harga cabai naik sebelum BPS merilis data. Kearifan kolektif itu nyata. Prancis sudah mencoba majelis warga untuk iklim. Sayangnya, Senat Prancis hanya mengadopsi 15 dari 149 rekomendasi. Itu bumerang. Jadi syaratnya: politisi harus sudah menentukan dari awal, jika rekomendasi ditolak, harus ada alasan jelas, bukan sekadar “tidak mungkin”.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Ratap Demokrasi Terluka

Mang Asep (mengangkat gelas es kembang tahu, bicara dengan logat Palembang): Maaf, nyo, saya ni cuma jualan. Tapi saya dengar ceramah dari kyai di kampung: “Pemerintah itu bayangan Tuhan di bumi.” Kata Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, pemimpin harus adil. Tapi kalau bayangannya bengkok, rakyat boleh meluruskan dengan cara yang bijak. Saya setiap hari lewat sini, lihat banyak pejabat bawa mobil mewah, tapi jalan di Kambang Iwak ini bolong-bolong. Mana suara saya kalau saya melapor? Saya cuma pedagang, bukan sarjana.

Ade Indra Chaniago (menepuk pundak Mang Asep): Itu persis intinya, Mang Asep. Anda tidak butuh gelar sarjana untuk tahu aspal rusak. Masalahnya, politisi kita hanya mendengar warga yang sedang marah. Siapa yang datang ke konsultasi publik? Orang yang tidak setuju. Siapa yang keras di medsos? Yang kecewa. Jadi politisi jadi takut, lalu menjauhi warga. Padahal seharusnya mereka menyambut dengan tangan terbuka. Di sinilah Mansyur Al-Hallaj —kaum sufi yang dieksekusi karena terlalu jujur—mengajarkan: “Aku adalah Yang Benar.” Kejujuran seorang warga adalah kebenaran yang harus didengar, meskipun menyakitkan.

Juliansyah (mengangguk-angguk): Tapi Uda, bukankah politisi punya tekanan pemilu? Hari ini dilantik, besok sudah kampanye lagi. Mereka lebih mikir jangka pendek. Disiplin partai juga mengikat. Anggota DPR dari partai saya (sebut saja partai X) kalau melawan kebijakan partai, bisa dipecat. Akhirnya kepentingan umum jadi bawahan kepentingan partai. Lalu apa bedanya Majelis Warga nanti tidak akan korup juga?

Indra Darmawan (menyalakan Dji Sam Soe kedua, bicara sambil mengusap keringat):
Pertanyaan bagus, Juliansyah. Itulah sebabnya majelis warga harus dipilih secara acak berstrata, seperti sidang juri. Bukan calon dari partai, bukan yang punya ambisi pencalonan ulang. Mereka datang sebagai warga biasa, didampingi ahli, lalu berdiskusi. Hasilnya tidak mengikat secara buta, tetapi politisi wajib merespon dengan alasan publik. Ini juga diajarkan oleh Junaidi Al-Baghdadi, seorang sufi yang bilang: “Tasawuf itu bukan hanya jubah dan tasbih, tapi membersihkan hati dari kepentingan diri.” Majelis warga adalah alat untuk membersihkan politik dari kepentingan sempit.
Dan tokoh dunia? Coba ingat Jürgen Habermas dengan “ruang publik ideal.” Di ruang publik yang sehat, warga bisa debat tanpa tekanan. Tapi ruang publik kita sekarang dikuasai buzzer dan hoaks. Maka majelis warga yang difasilitasi negara bisa menjadi oase rasionalitas di tengah gurun sinisme.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Konflik Bukan Musuh, Tapi Panggung Demokrasi

Ferry Lesmana (membuang puntung rokok ke asbak darurat dari kaleng bekas):
Saya mulai paham. Tapi di OKI, masyarakat kami masih banyak yang buta huruf. Apakah mereka bisa? Saya takut yang hadir nanti cuma lurah-lurah dan perangkat desa, bukan warga miskin kebun.

Ade Indra Chaniago (mengeluarkan buku catatan kecil): Ferry, jangan remehkan mereka. Saya pernah melakukan riset di Kabupaten Banyuasin saat konflik lahan gambut. Petani buta huruf tapi punya kearifan lokal tentang tata air musiman. Mereka tidak bisa menulis proposal, tapi mereka bisa bercerita. Majelis warga seharusnya menggunakan metode lisan, penerjemah, dan visual. Bukan rapat ala dewan yang baca naskah akademik. Di Provinsi NTT, ada percobaan “musyawarah kampung” untuk alokasi dana desa. Hasilnya lebih baik daripada perencanaan dari atas. Bukti nyata.
Lalu contoh gagal? Di Prancis tadi. Tapi jangan lupa Irlandia berhasil mengubah hukum aborsi melalui Citizens’ Assembly. Rekomendasi mereka hampir semuanya diadopsi. Jadi kuncinya: politisi harus percaya pada warga. Selama mereka menganggap warga bodoh dan egois, jurang akan terus melebar.

Mang Asep (menyodorkan gelas es kembang tahu ke Indra Darmawan): Dek, saya dulu berguru ke seorang habib di Kuto Batu. Beliau cerita tentang Rabi’ah Al-Adawiyah: “Aku tidak menyembah Tuhan karena takut neraka atau karena ingin surga, tapi karena cinta.” Nah, apakah politisi bisa mencintai rakyat tanpa pamrih? Saya kadang capek, lho. Jualan dari pagi, cuaca panas, kadang kena razia. Tapi saya tetap berusaha jujar (jujur). Kalau pemimpin juga berusaha jujur, saya ikhlas bayar pajak.

Indra Darmawan (tertawa, menerima gelas): Mang Asep, Anda ini filsuf sejati. Rabi’ah mengajarkan cinta tanpa syarat. Tapi sayangnya, dalam politik, kita butuh sistem yang mengoreksi ketiadaan cinta itu. Majelis warga adalah mekanisme koreksi. Bukan karena kita idealis naif, tapi karena tanpa itu, demokrasi hanya akan menjadi pertunjukan kesedihan setiap lima tahun.
Saya ingat Mansyur Al-Hallaj berkata: “Tak ada di dalam jubahku selain Allah.” Para politisi seharusnya bisa berkata: “Tak ada di dalam kekuasaanku selain amanah rakyat.” Jika mereka lupa, maka warga berhak menagih dengan cara santun, tapi tegas. Bukan anarkis, tapi juga bukan pasrah.

Juliansyah (menghela napas lega): Jadi, apa yang harus kami lakukan sekarang di Ogan Ilir? Mendirikan majelis warga sendiri-sendiri? Atau menunggu pemerintah pusat?

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Ketika Elite Membisu, Rakyat Berbisik

Ade Indra Chaniago (berdiri, memandang matahari sore yang mulai turun):
Jangan tunggu, Juliansyah. Mulai dari desa. Kumpulkan warga, buat musyawrah rutin yang tidak hanya membahas sedekah bumi, tapi juga anggaran desa. Rekam hasilnya, laporkan ke DPRD, dan jika diabaikan, gunakan hak Anda untuk demonstrasi tertib atau bahkan pembangkangan sipil bila perlu—seperti yang dilakukan warga Kabupaten Musi Rawas melawan tambang ilegal yang merusak sungai. Mereka tidak anarkis, tapi mereka mendirikan tenda di depan Kantor Bupati dan membagikan risalah.
Yang terpenting: jangan pernah berhenti percaya bahwa suara Anda berarti. Jika politisi tidak percaya pada Anda, maka Anda harus memaksa mereka untuk percaya—dengan bukti, dengan partisipasi, dan dengan keteladanan. Seperti kata Mahatma Gandhi: “Kita sendiri yang harus menjadi perubahan yang ingin kita lihat di dunia.”

Ferry Lesmana (mengacungkan Dji Sam Soe yang hampir habis): Setuju, Uda. Saya akan coba di Tulung Selapan. Tapi satu lagi: bagaimana mengatasi apatis warga yang bilang “ah, repot, biarin saja”?

Indra Darmawan (merapikan baju, bersiap pulang): Itu PR besar, Ferry. Apatis lahir dari keputusasaan yang berkepanjangan. Obatnya bukan motivasi instan, tapi kemenangan kecil. Jika warga melihat bahwa protesnya soal saluran irigasi didengar dan diperbaiki dalam sebulan, bukan setahun, maka kepercayaan akan tumbuh. Karena itu, saya setuju dengan Ade: Mulailah dari isu yang sangat konkret, bukan ideologi besar. Soal pupuk, soal jalan, soal air bersih. Setelah itu, baru naik level. Seperti belajar ngisep Dji Sam Soe: hisap pelan-pelan, jangan langsung masuk paru-paru.

(Mereka semua tertawa. Mang Asep bersiap menarik gerobaknya. Juliansyah dan Ferry salim ke dua akademisi. Sore di Kambang Iwak semakin kemerahan, asap rokok terakhir lenyap diterpa angin.)

Mang Asep (sambil mendorong gerobak, berteriak kecil): Es kembang tahu… segarnya… sama seperti demokrasi yang segar kalau ada suara kita, nyo!

(Semua tersenyum, lalu beranjak pulang.)

Warga negara bukan penonton. Mereka adalah pemilik sah pemerintahan diri sendiri. Dan jika politisi lupa, maka Kambang Iwak, warung tekwan, atau gerobak es kembang tahu bisa menjadi panggung lahirnya kesadaran baru.

Selamat membaca dan merenung !!!

Palembang, 9 Mei 2026

Tadarus Politik

Jaringan Aliansi Rakyat Independen

Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan