JARI: Konflik Bukan Musuh, Tapi Panggung Demokrasi
“Warung kopi sederhana di depan usaha cucian motor milik Mang Dolah. Perum Griya Asri Gandus, Palembang. Terdengar suara mesin cucian motor yang sesekali menderu. Meja-meja plastik warna-warni. Di atas meja: kopi tubruk, teh panas poci, pisang goreng, dan kue pukis. Asap rokok sigaret kretek tipis mengepul. Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB. Tiga ekor ayam kampung lalu-lalang di dekat pagar.”
Mang Dolah: (Sambil mengelap meja dengan lap kain bekas) Aduh, ramai betul rumah kedai ku sore ini. Ada Uda dari Perum Pemkot, ada aktivis, ada tokoh masyarakat dari Ogan Ilir, OKI pula. Mari, mari duduk. Kopi masih anget. Pisang goreng nyusul. Tapi… biasanya kalau ramai begini, yang dibahas bukan harga ikan gabus, tapi politik. Hati-hati saja, jangan jadi gaduh di warung saya, ya. Nanti cucian motor saya terbengkalai.
Ade Indra Chaniago: (Tersenyum, duduk di kursi plastik) Tenang, Mang Dolah. Kami bukan mau ribut. Justru kami mau belajar dari Mang Dolah. Bagaimana caranya warung kopi dan cucian motor ini bisa menjadi tempat orang beda pendapat tapi tetap bisa minum kopi bareng.
Andi Wijaya: (Membuka ransel, mengeluarkan beberapa lembar kertas) Iya, Mang. Karena kami baru baca artikel tentang seorang filsuf perempuan bernama Chantal Mouffe. Dia bilang: “Tidak ada masyarakat yang bebas dari konflik.” Politik itu bukan harus selalu damai-damai saja. Tapi yang penting, konflik itu diberi tempat. Bukan dipadamkan, bukan juga dibiarkan jadi perkelahian.
Juliansyah: (Menghela napas, menyuap pisang goreng) Wah, Kanda Andi. Di kampung saya di Ogan Ilir, konflik itu biasa. Pernah kami rebutan lahan perkebunan karet antara warga dengan perusahaan. Bapak lurah melarang kami bersuara. Katanya, “Jangan gaduh, nanti dianggap anti-investasi.” Akhirnya, diam saja. Perusahaan tetap masuk, lahan rakyat hilang. Tapi diam itu bukan solusi. Sekarang malah dendam. Ada warga yang sampai bakar ban di depan kantor desa.
Ferry Lesmana: (Mengangguk-angguk) Nah, itu dia, Jul. Di Tulung Selapan juga sama. Kami di OKI pernah konflik hebat dengan perusahaan sawit soal batas lahan adat. Tokoh masyarakat, ulama, dan aktivis kami kumpul. Ada yang marah mau bakar kantor. Ada yang justru ajak damai total, semua dimaafkan. Tapi lama-lama kami sadar: memaksa semua orang sepakat itu tidak mungkin. Yang kami butuhkan adalah ruang untuk berbeda pendapat, tapi tetap saling hormat. Chantal Mouffe menyebutnya… apa, Uda?
Indra Darmawan: (Menyesap kopi, lalu menegakkan badan) Itu namanya agonisme, Le. Bukan antagonisme. Ago nisme itu persaingan sehat, lawan yang dihormati. Sedangkan antagonisme itu musuh yang harus dimusnahkan. Mouffe mengajarkan bahwa demokrasi yang baik adalah demokrasi yang memberi panggung bagi perbedaan, tanpa harus memaksa semua orang menjadi sama. Saat ini, demokrasi liberal terlalu sibuk dengan prosedur rasional, lupa bahwa politik juga soal gairah dan identitas. Akibatnya, orang frustrasi, lalu lari ke populisme kanan yang eksklusif.
Mang Dolah: (Duduk ikut di bangku panjang, mengelap keringat) Begini loh, Dinda. Saya ini warga biasa. Dulu saya jadi RT. Warga di kompleks ini macam-macam. Ada yang pendukung partai A, ada yang B. Ada yang alim, ada yang jarang salat. Tapi setiap kali ada rapat RT, saya selalu bilang: “Silakan beda pendapat. Tapi kalau sudah keluar dari pos ronda, jangan ada yang dihina. Kita tetangga.” Nah, itu mirip dengan yang Mbak Mouffe katakan tadi? Bahwa lawan politik bukan musuh yang harus dihabisi?
Ade Indra Chaniago: (Tertawa kecil, menunjuk ke arah Mang Dolah) Nah, Pak RT Dolah sudah paham agonisme tanpa baca buku! Itu contoh mikro. Tapi di tingkat provinsi dan nasional, sayangnya, ruang untuk berbeda pendapat yang saling menguntungkan itu semakin sempit. Kekuasaan sering membungkam kritik dengan dalih “stabilitas”. Warga yang protes dianggap radikal. Padahal, seperti kata Mouffe, kalau konflik tidak diberi tempat, ia akan kembali seperti bumerang dengan kekerasan dan tak terkendali.
Andi Wijaya: (Mengepalkan tangan lalu melemaskannya) Contoh nyata bumerang itu di Sumsel? Banyak. Kerusuhan buruh di kawasan industri Kertapati beberapa tahun lalu. Sebelumnya, tidak ada ruang dialog yang sungguh-sungguh. Perusahaan hanya mau dengar serikat yang “ramah”, sisanya diabaikan. Lalu demonstrasi kecil-kecilan dianggap makar. Akhirnya, pecahlah bentrokan besar. Itu yang disebut Mouffe: penyangkalan konflik menyebabkan eskalasi.
Ferry Lesmana: (Menambahkan) Dan di OKI, konflik lahan antara masyarakat adat Suku Rimba dengan perusahaan HTI hampir berakhir dengan pembakaran puluhan hektar hutan. Ironisnya, pemerintah daerah lebih memilih memidanakan tokoh adat daripada duduk bersama mencari solusi agonistik. Baru setelah didampingi LBH dan LSM, ada mediasi. Itu pun setengah hati.
Juliansyah: (Menyela) Jadi, kalau menurut Mouffe, kita tidak usah anti-konflik sama sekali? Kita hanya perlu menjinakkan konflik, bukan menghilangkannya? Tapi caranya bagaimana, Uda?
Indra Darmawan: (Mengambil sebatang rokok, lalu menyalakannya dengan perlahan) Caranya, pertama, akui bahwa perbedaan itu wajar. Tidak ada masyarakat homogen. Kedua, bangun lembaga bersama tempat orang bisa bertikai secara sipil. Di Belgia, kata Mouffe, orang Wallonia dan Flandria hampir tidak punya institusi bersama selama puluhan tahun. Akibatnya, krisis berkepanjangan. Ketiga, desentralisasi yang sungguhan, bukan sekadar administrasi. Keputusan diambil serendah mungkin agar partisipasi maksimal. Itu semangat agonistik.
Mang Dolah: (Mengangkat gelas kopi) Nah, ini persis pengalaman saya. Waktu musyawarah RT, kadang panas juga. Ada warga yang teriak-teriak. Tapi karena ketua RT-nya tidak memihak, dan semua punya hak bicara yang sama, akhirnya solusi ketemu. Misalnya, soal iuran keamanan. Ada yang keberatan karena miskin, kami beri keringanan. Bukan menang sendiri. Itu agonisme versi warga.
(Suara mesin cucian motor dari belakang berhenti. Sejenak sunyi.)
Ade Indra Chaniago: (Membuka buku catatan) Baik. Sekarang saya ingin menghadirkan contoh tokoh idealis yang pro-rakyat dari Sumsel dan provinsi lain, yang secara nyata mempraktikkan semangat agonisme – memberi ruang konflik tanpa bermusuhan.
Ade Indra Chaniago: (Membaca dari catatannya)
- Lebih tepat saya sebutkan Prof. Dr. Siti Musdah Mulia (akademisi dan aktivis HAM) – Ia dikenal pro-rakyat karena konsisten membela hak-hak minoritas dan masyarakat adat. Di berbagai forum, ia selalu mendorong ruang musyawarah agonistikantara agama dan negara, tidak memaksakan konsensus tunggal.
Atau Soe Hok Gie (almarhum) – Ia adalah contoh idealis yang melawan kediktatoran dengan cara beradu argumen, bukan kekerasan. Sayangnya, ruang agonistik pada zamannya tidak tersedia.
Tapi yang lebih relevan dan hidup: Marwan Jafar (mantan Mendes PDTT). Kita sudah bahas sebelumnya. Ia pro-rakyat karena memelopori UU Desa yang memberikan ruang bagi desa untuk mengelola konflik dan aspirasi secara mandiri. Ia juga mendorong terbentuknya Badan Permusyawaratan Desa (BPD) yang seimbang dengan kepala desa.
- Bukti nyata di Sumsel:
- Kasus Hutan Adat Lembak, Muara Enim – Setelah bertahun-tahun konflik dengan perusahaan sawit, masyarakat adat didampingi KKI Warsi (LSBM) dan tokoh setempat seperti Panglima Rajo Dikit (tokoh adat yang idealis) berhasil mengajukan pengakuan hutan adat ke Kementerian LHK. Prosesnya agonistik: ada mediasi, ada demontrasi, ada lobi politik, ada gugatan. Tidak ada pembakaran kantor. Pada 2023, sebagian hutan adat mulai diakui.
- Gerakan “Palembang Menyimak” – Forum warga kota yang rutin digagas oleh komunitas Ruang Baca Musi dan tokoh muda seperti Indah Sari. Mereka mengundang warga, birokrat, dan aktivis untuk membahas masalah banjir dan sampah. Semua pendapat ditampung tanpa hujatan. Ini contoh agonisme murni.
- Bukti nyata di provinsi lain:
- Konflik Wadas (Jawa Tengah) – Warga menolak tambang andesit. Awalnya terjadi kriminalisasi. Namun dengan pendampingan tokoh idealis seperti Rieke Diah Pitaloka (aktivis buruh dan anggota DPR) dan LBH Yogyakarta, konflik berhasil dijinakkan ke ranah hukum dan dialog. Meski belum selesai, tidak ada kekerasan massal. Mouffe akan bangga karena antagonisme dicegah.
- Suku Baduy Dalam (Banten) – Mereka sangat tertutup dan menolak listrik, internet, kendaraan. Aparatus desa awalnya ingin memaksa. Tapi kemudian pemerintah memberi ruang perbedaan – Baduy dalam tetap hidup dengan caranya, Baduy luar boleh modern. Itu konsensus tanpa paksaan. Mouffe bilang: “Tidak perlu semua orang setuju, yang penting tidak saling membunuh.”
- Pilkada DKI 2017 – Kegagalan agonisme. Konflik identitas tidak ditangani, akhirnya meledak jadi antagonisme sengit. Ini pelajaran bahwa menutup ruang konflik berbahaya.
Mang Dolah: (Mengangguk-angguk, lalu berkata) Jadi, intinya, kita tidak perlu takut pada perbedaan. Yang perlu ditakuti adalah kalau perbedaan itu dipaksa jadi persamaan, atau dibiarkan jadi kebencian. Di warung saya ini, setiap hari orang beda partai duduk bareng. Beda pendapat soal politik ya biasa. Tapi begitu urusan bantuan tetangga kena musibah, semua kasih sumbangan. Itu demokrasi sejati.
Ferry Lesmana: (Menatap Andi Wijaya) Kita di Tulung Selapan belajar keras dari kegagalan lalu. Sekarang, setiap konflik lahan, kami wajibkan forum deliberatif dulu. Empat kali pertemuan, semua marah-marah dulu. Baru pada pertemuan kelima mulai cari solusi. Tidak langsung lapor polisi. Itu terinspirasi dari apa yang Bro Indra Darmawan sampaikan ke teman-teman.
Indra Darmawan: (Tersenyum merendah) Saya hanya mengingatkan bahwa politik itu bukan hanya akal, tapi juga hati. Mouffe benar: kalau kita hanya mengandalkan rasionalitas teknokratis, maka gairah rakyat akan diambil oleh populisme kanan atau ekstremis. Tugas kita sebagai akademisi, aktivis, tokoh masyarakat adalah menyediakan panggung agonistik – tempat orang bisa berbeda dengan aman.
Andi Wijaya: (Berdiri sebentar, lalu duduk lagi) Jadi, selama ini saya yang suka demo keras-keras, boleh dibilang kadang kelewatan batas? Saya sering melabeli bupati atau gubernur sebagai “setan korporat”. Menurut Mouffe, itu sudah antagonisme, bukan agonisme. Karena saya tidak lagi menganggap mereka lawan politik, tapi musuh yang harus dihancurkan. Itu berbahaya.
Ade Indra Chaniago: (Menepuk bahu Andi) Kesadaran itu penting, Dinda. Bukan berarti Anda tidak boleh marah. Marah itu wajar. Tapi panggung politik membutuhkan musuh yang dihormati, bukan dimusnahkan. Contoh: di Jerman ada partai Die Linke yang populis sayap kiri. Mereka keras melawan kapitalis, tapi tidak pernah berusaha membunuh politisi lawan. Itu agonisme. Kita di Sumsel butuh partai atau gerakan seperti itu.
Ferry Lesmana: (Menunduk, suaranya pelan) Uda, Kanda, Mang Dolah… saya sebagai petani karet di Tulung Selapan Ogan Komering Ilir, saya sering merasa suara saya tidak penting. Tapi setelah dengar Mouffe, saya mengerti bahwa konflik kecil di balai desa itu penting. Saya harus berani bicara saat musrenbang, meskipun ditertawakan. Karena jika tidak, dendam akan membesar. Dan dendam yang membesar itu yang membuat desa saya tidak pernah maju.
Juliansyah: (Mengangkat cangkir kopi) Saya setuju. Di Ogan Ilir, kita akan ciptakan ruang-ruang agonistik yang aman. Tidak perlu semua sepakat. Cukup saling hormat.
Mang Dolah: (Melihat jam dinding yang rusak, lalu ke langit) Waktu sudah pukul 17.20. Magrib sebentar lagi. Sebelum kami tutup warung, saya ingin dengar nasihat dari Uda Ade Indra. Biasanya, kalau ada tamu sekelas bapak-bapak ini, nasihatnya bukan untuk saya, tapi untuk semua.
Ade Indra Chaniago: (Menatap semua orang dengan teduh, suaranya pelan tapi tegas)
Untuk Juliansyah (Ogan Ilir) dan Ferry Lesmana (Tulung Selapan):
Kalian adalah penjaga panggung di desa masing-masing. Nasihat saya: jangan takut pada konflik, tapi jinakkan ia dengan aturan main yang jelas. Buat ruang di mana warga boleh marah, boleh berbeda, asal tidak menghina, tidak memfitnah, dan tidak merusak. Ajak tokoh agama, tokoh adat, dan juga aparat desa untuk duduk dalam satu forum berkala. Catat semua perbedaan pendapat. Jangan buru-buru cari konsensus. Biarkan konflik itu mendidih dalam suhu yang aman. Karena jika didinginkan paksa, ia akan meledak di kemudian hari.
Untuk Andi Wijaya: Jangan ubah gairah anda menjadi kebencian. Anda adalah oposisi yang penting. Tapi bedakan antara musuh politik dan setan. Musuh politik adalah rekan dalam demokrasi yang kebetulan berseberangan. Setan adalah imajinasi yang tidak perlu. Gunakan data, argumen, dan aksi damai. Jika anda mulai menyebut lawan sebagai “fasisme” untuk semua hal, ingatlah: moralisasi berlebihan yang diperingatkan Mouffe hanya akan memicu antagonisme berdarah.
Untuk Mang Dolah: Anda adalah contoh agonis sejati. Pertahankan warung kopi dan cucian motor ini sebagai ruang publik yang bebas tapi santun. Jangan pernah izinkan ada yang diusir hanya karena beda suara. Dan jangan pernah berdiri di satu pihak lalu memusuhi pihak lain. Karena dari warung kecil seperti inilah demokrasi sesungguhnya dirawat.
Untuk Dindaku Indra Darmawan: Mari kita perbanyak kajian dan pendampingan tentang politik agonistik ini di kampus. Jangan hanya mengajarkan teori Habermas tentang ruang publik yang rasional, tapi juga Mouffe tentang konflik yang produktif. Karena mahasiswa kita butuh keduanya: akal dan gairah.
Terakhir, untuk kita semua:
“Demokrasi bukanlah taman yang sunyi tanpa perbedaan. Demokrasi adalah pasar yang ramai di mana orang saling menawar pendapat, kadang berteriak, tapi kemudian pulang dengan tangan masih tercengkeram erat. Jangan pernah mengubah pasar itu menjadi kuburan. Karena jika konflik tidak diberi panggung, ia akan merangkak naik ke atas mimbar dan membawa serta kehancuran.”
Sekarang, azan Magrib berkumandang dari surau dekat sini. Mari kita bukan mengakhiri perbedaan, tetapi mengakhiri permusuhan. Sementara perbedaan – biarkan ia hidup. Karena hanya dengan itulah kita menjadi manusia seutuhnya.
Mang Dolah: (Mengangkat handuk, menunjuk ke langit) Magrib. Semua shalat dulu, ya! Nanti balik lagi kalau mau lanjut ngopi. Tapi ingat, cucian motor saya sudah selesai. Pulang bawa pakaian bersih. Semoga hati kita juga bersih dari dendam.
Mereka beranjak. Seorang membawa sajadah. Yang lain merapikan meja. Suara azan menggema di Perum Griya Asri Gandus. Satu cangkir kopi tersisa setengah – simbol obrolan yang masih terus akan berlangsung di warung Mang Dolah.
Palembang, 6 Mei 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan