JARI : Nafsu Berkuasa dan Cinta yang Terlupakan
“Warung sederhana di tepi Sungai Musi, Palembang. Sore hari. Suara azan Magrib baru saja usai. Kedua sahabat tampak tenggelam dalam obrolan ditemani dua gelas kopi hangat dan kuliner khas Palembang.”
Indra Darmawan: (menghela napas sambil mengaduk kopi) Uda, lihatlah negeri ini. Kita dikelilingi oleh tragedi kekuasaan. Mereka yang paling keras berteriak ingin memimpin justru seringkali paling tidak paham bagaimana mengelola amanah. Plato bilang itu seperti kapal yang dikemudikan pelaut yang bertengkar, sementara nahkoda sejati sedang mempelajari bintang.
Ade Indra Chaniago: (tersenyum tipis)Dinda, kamu selalu romantis dengan filsafat Yunani. Tapi Nietzsche akan tertawa melihat idealismemu. Baginya, keinginan untuk berkuasa adalah the will to power – itu adalah esensi kehidupan itu sendiri. Bukan masalah “harus” atau “tidak”. Setiap tarikan napas kita adalah bentuk dominasi atas oksigen di sekitar kita.
Indra Darmawan: Lalu apakah kita harus pasrah? Membiarkan para serigala memakan domba? Bukankah Islam mengajarkan sebaliknya? Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sebaik-baik pemimpin adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian.” (HR. Muslim). Ada apresiasi kasih sayang di sana. Kekuasaan tanpa cinta adalah tirani.
Ade Indra Chaniago: Tapi Nietzsche menyebut kasih sayang itu sebagai moralitas budak. Menurutnya, orang lemah menciptakan konsep “kebaikan” seperti kasih sayang untuk membatasi dominasi orang kuat. Jadi, apakah kita memuja kasih sayang karena kita lemah, atau karena kasih sayang memang benar-benar luhur?
Indra Darmawan: (meletakkan gelas) Uda, jangan main-main dengan kata-kata. Kasih sayang (rahman) adalah nama lain dari Allah sendiri. Bismillahirrahmanirrahim. Bahkan kekuasaan tertinggi di langit dan bumi disebut sebagai Ar-Rahman. Jadi kalau Nietzsche bilang itu kelemahan, mungkin dia lupa bahwa kekuatan tanpa rahmah adalah kebrutalan.
Ade Indra Chaniago: Tenang, Dindaku. Saya tidak membela Nietzsche buta-butaan. Saya hanya mengajak kita jujur. Tragedi kekuasaan di Indonesia sering terjadi karena orang-orang “bijak” justru lari dari kekuasaan. Mereka menganggap kekuasaan itu kotor. Akibatnya, panggung politik dikuasai oleh mereka yang haus kekuasaan. Bukankah Imam Al-Ghazali pernah memperingatkan bahwa ‘uzlah (mengasingkan diri) tidak selalu solusi? Bahwa kadang berkuasa adalah fardhu kifayah?
Indra Darmawan: (diam sejenak, lalu mengangguk) Itu titik bagus. Pertanyaan kita bukan “Haruskah orang bijak menghindari kekuasaan?” Tapi “Bagaimana orang bijak menggunakan kekuasaan tanpa menjadi biadab?” Hannah Arendt bilang kekuasaan sejati bukan kekerasan. Kekuasaan adalah ketika manusia bertindak bersama. Itu menarik. Karena dalam Islam, shura (musyawarah) adalah fondasi.
Ade Indra Chaniago: (mengambil sepotong pempek) Mari kita konkret. Lihat tokoh negara kita, Bung Hatta. Ia bijak. Ia adalah proklamator, wakil presiden. Tapi di puncak kekuasaan, dia memilih mundur karena prinsip. Apakah itu kebijaksanaan? Atau penghindaran?
Bung Hatta adalah contoh sempurna dari “pemimpin yang enggan” seperti dalam The State-nya Plato. Dia tidak haus kekuasaan. Tapi ketika dia berkuasa, dia luar biasa. Sayangnya, Indonesia kehilangan dia terlalu cepat. Lalu kita lihat Bung Karno. Dia menginginkan kekuasaan dengan gigih. Dan dia juga bijak dalam banyak hal. Tapi akhirnya kekuasaan menghancurkannya.
Indra Darmawan: Itu tragedi kekuasaan yang sesungguhnya. Bung Karno jatuh karena dia terlalu percaya pada massa dan terlalu sedikit pada sistem. Tapi jangan lupa, Soeharto juga bijak di awal. Dia bisa membaca situasi. Tapi kekuasaan tanpa kontrol dan tanpa kasih sayang membuatnya menjadi tiran. Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely. Lord Acton.
(Indra menyandarkan badan) Lalu apakah jawabannya adalah sistem demokrasi liberal seperti di Barat? Di mana kekuasaan dibatasi oleh checks and balances? Saya ragu. Karena korupsi masih merajalela bahkan di negara demokrasi paling maju sekalipun.
Ade Indra Chaniago: Arendt bilang satu-satunya batasan kekuasaan adalah keberadaan orang lain. Artinya, dalam demokrasi sejati, kekuasaan tumbuh dari bawah. Tapi bukankah itu mirip dengan konsep ijma’ (konsensus umat) dalam Islam? Tokoh seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) selalu menekankan bahwa kekuasaan harus berpihak pada yang lemah. Gus Dur memegang kekuasaan, tapi dia tidak pernah serius “menjaga” kekuasaan. Dia malah membiarkan dirinya dijatuhkan demi prinsip.
Indra Darmawan: Gus Dur adalah anomali yang indah. Dia bijak, dia lucu, dia menginginkan kekuasaan? Mungkin iya, karena dia ingin melindungi minoritas. Tapi dia juga tidak memperjuangkannya dengan gigih sampai mati. Dia seperti “navigator sejati” Plato: mempelajari bintang tanpa terganggu perkelahian pelaut. Tapi lihat akibatnya: dia dijatuhkan.
Ade Indra Chaniago: Jadi apakah dunia ini hanya untuk orang-orang kejam? Apakah orang baik harus menerima nasib selalu kalah?
Indra Darmawan: (menunjuk ke arah sungai) Lihat Sungai Musi ini. Airnya tenang, tapi di bawah ada arus yang kuat. Kekuasaan sejati, menurut saya, adalah seperti itu. Tidak perlu berteriak. Tidak perlu menjajah. Buya Hamka pernah berkata, “Kekuasaan yang paling kuat adalah kekuasaan yang didasari oleh cinta, karena cinta tidak memerlukan penjaga.”
Ade Indra Chaniago: Buya Hamka memang puitis. Tapi bukankah itu naif? Cinta tidak membutuhkan penjaga, tapi rezim membutuhkan polisi. Lihat Ali bin Abi Thalib. Beliau adalah orang bijak yang sangat berhati-hati dengan kekuasaan. Ketika jadi khalifah, beliau tidak tegas memberantas korupsi di barisannya sendiri karena terlalu bijak, terlalu penuh kasih sayang? Akhirnya, kekuasaan dirampas oleh Muawiyah yang lebih pragmatis.
Indra Darmawan: (menyeringai) Sekarang kamu bermain di wilayahku. Ali bin Abi Thalib adalah contoh sempurna dari “tragedi kekuasaan” versi Islam. Dalam Nahjul Balaghah, beliau berkata: “Sesungguhnya kekuasaan adalah amanah, bukan anugerah. Dan amanah akan dimintai pertanggungjawaban.” Ali tahu itu. Tapi beliau juga terlalu idealis. Beliau ingin membangun kekuasaan di atas etika sempurna. Sementara lawannya menggunakan segala cara.
Ade Indra Chaniago: Nah! Itulah masalahnya. Apakah etika dan kekuasaan tidak pernah bisa bertemu? Apakah orang yang ingin memegang kekuasaan harus siap menjadi “jahat” sedikit?
Indra Darmawan: (menghela napas panjang) Inilah mengapa Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin teragung. Beliau memiliki kekuasaan absolut di Madinah, tapi beliau juga penuh kasih sayang. Bahkan terhadap musuhnya. Dalam Fathu Makkah, beliau memaafkan penduduk Mekkah yang telah menyiksanya. Di situlah letak jawabannya. Kekuasaan dalam Islam bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk menegakkan keadilan dan rahmah.
Ade Indra Chaniago: Tapi apakah kita sebagai manusia biasa bisa seperti Nabi? Sejujurnya, Indra, saya ragu. Kita punya ego. Nietzsche benar ketika dia berkata bahwa di dalam setiap keinginan untuk berbuat baik, seringkali tersembunyi keinginan untuk berkuasa. Lihat saja para filantropis modern. Mereka membangun yayasan, tapi di balik itu ada kerajaan bisnis dan pengaruh politik.
Indra Darmawan: (diam sejenak, lalu bicara pelan) Maka kita perlu kembali ke Socrates. Filsafat adalah belajar mati. Belajar bahwa kita tidak abadi. Belajar bahwa kekuasaan dunia hanyalah pinjaman. Jika seorang pemimpin sadar bahwa dia akan mati dan mempertanggungjawabkan segalanya kepada Tuhan, maka dia tidak akan semena-mena. Sayangnya, di Indonesia, konsep “pertanggungjawaban akhirat” sering hanya diucapkan di atas mimbar, bukan dijalankan di kantor.
Ade Indra Chaniago: Mari kita bawa tokoh kontemporer. Joko Widodo. Apakah dia bijak? Dia datang dari luar elite, dari pinggiran. Banyak yang bilang dia merakyat. Tapi di akhir kekuasaannya, banyak yang kecewa karena dinasti politiknya.
Indra Darmawan: Jokowi adalah misteri. Dia awalnya seperti “pemimpin yang enggan” ala Plato. Tapi setelah merasakan manisnya kekuasaan, dia berubah. Apakah itu salah dia? Atau salah sistem yang memaksanya untuk mempertahankan kekuasaan dengan cara apa pun? Machiavelli bilang seorang pangeran harus licik seperti singa dan curang seperti rubah. Jokowi belajar itu terlambat, atau mungkin terlalu cepat.
Ade Indra Chaniago: Tapi lihat Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dia bijak. Dia punya kekuasaan turun-temurun di Yogyakarta, tapi dia tidak pernah haus kekuasaan nasional. Bahkan ketika ditawari jadi presiden, dia menolak. Dia memilih menjadi wakil presiden dan menteri. Itu kebijaksanaan. Dia tahu batas-batas dirinya.
Indra Darmawan: Sultan HB IX paham betul apa yang dikatakan Hannah Arendt: kekuasaan sejati tidak terletak pada jabatan, tapi pada kemampuan bertindak bersama. Di Yogyakarta, dia bertindak bersama rakyat. Itu sebabnya dia dicintai. Dia tidak perlu menjadi presiden. Kekuasaannya lebih besar sebagai figur moral.
Ade Indra Chanaigo: Tapi apakah itu berarti orang bijak sebaiknya menghindari kursi presiden? Kalau semua orang bijak menghindari kursi nomor satu, siapa yang akan memimpin? Para penjahat?
Indra Darmawan: (tertawa kecil) Bukan menghindari, Uda. Tapi menerima dengan enggan, seperti yang Plato katakan. Atau seperti Umar bin Abdul Aziz. Dia tidak mau menjadi khalifah. Dia menolak sampai hampir dipaksa. Tapi ketika dia menerima, dia menjadi pemimpin terbaik dalam sejarah Bani Umayyah. Keadilan ditegakkan, kasih sayang menyebar.
Ade Indra Chanaigo: Tapi lihat akhirnya. Dia diracun. Orang-orang yang dirugikan oleh keadilannya membunuhnya. Itu harga dari kebijaksanaan dalam kekuasaan: kematian.
Indra Darmawan: (menatap dalam-dalam) Bukankah itu yang dikatakan Montaigne? Berfilsafat adalah belajar mati. Seorang pemimpin bijak tidak takut mati. Karena dia tahu bahwa yang abadi bukanlah jabatannya, melainkan keadilan yang dia tegakkan. Itulah apresiasi kasih sayang tertinggi: rela mati demi kebenaran.
Ade Indra Chaniago: (mengusap wajah) Kita sudah terlalu filosofis. Mari praktis. Di Palembang ini, kita melihat banyak pejabat daerah yang korupsi. Mereka pintar, mereka “bijak” secara intelektual, tapi mereka rakus. Apakah mereka tidak mendengar nasihat agama? Tentu mereka hafal Al-Qur’an.
Indra Darmawan: Itu karena mereka memisahkan antara kekuasaan dan kasih sayang. Mereka pikir kekuasaan adalah tentang mengambil, bukan memberi. Imam Al-Mawardi dalam Al-Ahkam As-Sulthaniyyah menulis bahwa kekuasaan adalah untuk menjaga agama dan mengelola dunia. Sayangnya, di era modern, “mengelola dunia” sering diartikan “mengisi kantong sendiri”.
Ade Indra Chaniago: Lalu bagaimana cara mengapresiasi kasih sayang dalam birokrasi? Saya tidak bisa membayangkan seorang kepala dinas memeluk bawahannya sambil berkata, “Saya sayang kamu, tolong tanda tangan kontrak proyek ini.”
Indra Darmawan: (tertawa lepas) Bukan begitu, Uda. Kasih sayang dalam kekuasaan bukan soal pelukan. Tapi soal kebijakan yang berpihak pada yang lemah. Soal tidak menyiksa rakyat dengan prosedur berbelit. Soal menggunakan kekuasaan untuk mempermudah, bukan mempersulit. Rasulullah SAW bersabda: “Allah menyukai seorang hamba yang ketika bekerja, dia melakukannya dengan itqan (profesional) dan ihsan (kebaikan).”
Ade Indra Chaniago: Jadi profesionalisme adalah bentuk kasih sayang? Itu menarik. Karena seringkali kita mengira kasih sayang itu lemah, sementara profesionalisme itu keras.
Indra Darmawan: Justru di situlah Nietzsche salah. Dia pikir kekuatan adalah tentang dominasi. Padahal, kekuatan tertinggi adalah tentang kontrol diri dan pelayanan. Buya Syafii Maarif pernah berkata bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan itu liar, kebijaksanaan tanpa kekuasaan itu tak berdaya. Kita butuh keduanya.
Ade Indra Chaniago: Syafii Maarif adalah contoh menarik. Dia memimpin Muhammadiyah, sebuah organisasi besar dengan kekuasaan kultural luar biasa. Tapi dia tidak pernah terlihat haus kekuasaan politik. Dia lebih suka menulis dan berbicara. Apakah dia menghindari kekuasaan? Atau dia punya bentuk kekuasaan yang berbeda?
Indra Darmawan: Dia punya kekuasaan intelektual dan moral. Dan itu, menurut Arendt, adalah kekuasaan sejati. Karena dia bisa menggerakkan orang tanpa kekerasan. Sayangnya, dalam politik praktis, kekuasaan semacam ini sering diabaikan.
Ade Indra Chaniago: Dinda, saya ingin menguji satu hal. Eksperimen pemikiran Judith Jarvis Thomson tentang pemain biola. Jika Anda menempel pada tubuh seseorang yang membutuhkan ginjal Anda untuk hidup, apakah Anda wajib tetap terhubung? Thomson bilang tidak, karena tubuh Anda adalah milik Anda. Dalam konteks kekuasaan, apakah rakyat “tertempel” pada pemimpin? Apakah pemimpin berhak memutuskan hubungan?
Indra Darmawan: (berpikir keras) Di Indonesia, kita punya kontrak sosial. Rakyat memilih pemimpin. Jadi hubungan itu sukarela. Tapi setelah terpilih, pemimpin tidak bisa seenaknya melepas tanggung jawab. Ini beda dengan pemain biola yang tidak meminta. Rakyat meminta. Jadi pemimpin punya kewajiban.
Ade Indra Chaniago: Tapi kewajiban sampai kapan? Sampai mati? Lihat Soekarno. Dia diasingkan, dipenjara, dihina. Apakah dia tetap wajib berjuang? Iya. Tapi apakah negara berhutang padanya? Atau justru sebaliknya?
Indra Darmawan: Negara berhutang budi pada para pendiri. Tapi juga para pendiri tidak boleh meminta imbalan. Ki Hajar Dewantara mengajarkan Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang mendorong. Itulah filosofi kekuasaan kasih sayang gaya Indonesia.
Ade Indra Chaniago: (mencatat di ponsel) Itu bagus. Tapi apakah tokoh Islam seperti Hasan Al-Banna setuju? Beliau justru menekankan bahwa kekuasaan adalah sarana untuk menegakkan syariat. Tanpa kekuasaan, dakwah hanya omong kosong. Jadi mengejar kekuasaan adalah kewajiban.
Indra Darmawan: Al-Banna memang pragmatis. Tapi jangan lupa, beliau juga sangat menekankan akhlak. Anggota Ikhwan harus lebih baik akhlaknya daripada orang lain. Sayangnya, di banyak tempat, gerakan Islam politik justru kehilangan akhlak ketika berkuasa. Mereka menjadi kejam, bukan karena Islamnya, tapi karena haus kekuasaannya.
Ade Indra Chaniago: Itu karena mereka lupa satu hadits: “Sungguh kalian akan sangat menginginkan kekuasaan, padahal kekuasaan itu akan menjadi penyesalan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari). Jadi sebenarnya, kekuasaan itu berbahaya. Orang bijak memang harus menghindarinya jika bisa.
Indra Darmawan: (mengangkat jari) Tapi tidak selalu bisa. Kadang situasi memaksa. Seperti Nabi Yusuf yang meminta jabatan bendahara Mesir. Apakah itu haus kekuasaan? Tidak. Itu strategi untuk menyelamatkan rakyat dari kelaparan. Jadi niatnya yang membedakan. Jika niatnya untuk kemaslahatan, mengejar kekuasaan boleh. Jika niatnya untuk kesenangan pribadi, haram.
Ade Indra Chaniago: Kesimpulannya, Dinda? Setelah tujuh halaman percakapan kita, apa jawaban untuk pertanyaan “Haruskah orang bijak menghindari kekuasaan?”
Indra Darmawan: (berdiri, berjalan ke tepi sungai, lalu berbalik) Jawabannya: TIDAK. Orang bijak TIDAK harus menghindari kekuasaan. Tapi orang bijak harus sangat, sangat hati-hati dengan kekuasaan. Dia harus mendekatinya seperti mendekati api: tahu manfaatnya, tapi sadar risikonya. Dia harus berkuasa dengan dua fondasi: keadilan (seperti Ali bin Abi Thalib) dan kasih sayang (seperti Rasulullah). Tanpa keadilan, kekuasaan menjadi tirani. Tanpa kasih sayang, kekuasaan menjadi dingin dan brutal.
Ade Indra Chaniago: (mengangguk-angguk) Saya setuju. Tapi jangan lupa Nietzsche juga punya pesan: jangan menjadi domba yang mengklaim kelemahan sebagai kebajikan. Kita harus berani menjadi kuat. Tapi kekuatan kita harus diarahkan untuk melindungi, bukan menindas. Hannah Arendt mengajarkan bahwa kekuasaan tumbuh dari aksi kolektif. Jadi jangan berkuasa sendirian. Libatkan orang lain. Itu bentuk kasih sayang.
Indra Darmawan: Lalu apa kata tokoh negara Indonesia? Saya akan kutip Bung Hatta: “Kekuasaan yang berdasarkan kedaulatan rakyat haruslah kekuasaan yang bertanggung jawab.” Dan Bung Karno : “Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncangkan dunia.” Tapi pemuda yang dimaksud Bung Karno adalah pemuda yang penuh cinta tanah air, bukan pemuda yang haus jabatan.
Ade Indra Chaniago: Dan dari tokoh Islam, mari tutup dengan Jalaluddin Rumi: “Kekuasaan tanpa kasih sayang adalah penjara bagi jiwa. Dan kasih sayang tanpa kekuasaan adalah sayap tanpa angin.”
Indra Darmawan: (tersenyum lebar, mengangkat gelas kopi) Maka untuk Palembang, untuk Indonesia, dan untuk dunia: jadilah pemimpin yang bijak, yang berani berkuasa demi kebenaran, dan yang selalu membasuh kekuasaannya dengan kasih sayang. Mari kita akhiri dialog ini dengan doa: Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lilmuttaqina imama.
Ade Indra Chaniago: Aamiin. (meminum kopi hingga habis). Sungai Musi tetap mengalir, Indra. Dan kita tetap harus mengisinya dengan kebijaksanaan, bukan tragedi.
(Mereka berdua terdiam, menikmati senja Palembang yang merah, sementara di kejauhan terdengar suara kapal tongkang melintasi Sungai Musi membawa gunungan batubara. Kekuasaan dan kasih sayang tetap akan menjadi perdebatan abadi, tapi malam ini, di Palembang, dua sahabat telah menemukan satu jawaban sementara: berkuasalah dengan cinta, atau jangan berkuasa sama sekali.)
Minggu, 19 April 2026
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan