JARI : Apa yang Diinginkan Masyarakat?
Indra Darmawan (menyesap kopinya, matanya menerawang ke arah sungai): Uda, akhir-akhir ini saya gelisah. Di Belanda, di Prancis, di mana-mana rakyat seolah bangkit dengan amarah yang membabi buta. Mereka menolak Konstitusi Eropa, mereka memilih Le Pen, mereka merindukan gulden dan buku dongeng seperti Harry Potter. Seorang penyair Belanda, Gerard Reve, pernah bertanya dalam lagu mabuknya: “Apa yang diinginkan rakyat?” Lalu sebaris kemudian ia menjawab dengan kecurigaan gelap: “Tidak banyak hal baik, itu sudah pasti.”
Ade Indra Chaniago (tersenyum tipis): Kau terlalu terpaku pada Eropa, Dinda. Coba lihat ke kampung sendiri. Di sini, di Palembang, di desa-desa sepanjang Lematang, di pasar Kuto Besak apa yang diinginkan rakyat? Apakah mereka juga sekonservatif orang-orang Belanda yang merindukan masa kolonial? Apakah mereka juga ingin kembali ke zaman Hindia Belanda?
Indra Darmawan: Pertanyaanmu justru lebih dalam, Uda. Sebab jawabannya tidak sederhana. Charles Taylor, filsuf Kanada itu, mengatakan bahwa modernitas bukanlah pemutusan hubungan dengan masa lalu. Modernitas menyerap tradisi. Rakyat tidak ingin kembali ke gua, tapi mereka juga tidak ingin tercerabut dari akar.
Ade Indra Chaniago: Taylor memang cemerlang. Tapi saya lebih suka bertanya langsung kepada Bung Hatta. Di tahun 1931, ketika Hitler masih berjuang meraih kekuasaan melalui proses demokrasi, Hatta sudah memperingatkan bahwa kedaulatan rakyat bisa menjadi perkakas untuk memakan rakyat itu sendiri. Demokrasi bisa membunuh demokrasi.
Indra Darmawan (menyandarkan tubuh ke kursi): Itu peringatan yang sangat visioner. Tapi Hatta juga mengajarkan bahwa jantung demokrasi di mana pun adalah sama: rakyat. Demokrasi adalah pemerintahan yang berdasarkan keinginan dan kehendak rakyat. Lalu apa bedanya demokrasi Barat dengan demokrasi asli Indonesia?
Ade Indra Chaniago: Menurut Hatta, filosofi demokrasi Barat adalah individualisme yang melahirkan kapitalisme dan imperialisme. Sedangkan filosofi demokrasi asli Indonesia adalah kolektivisme kerja sama, tolong-menolong, usaha bersama untuk kemajuan seluruh rakyat. Tapi ia juga jujur: demokrasi asli sudah melenceng karena dirusak feodalisme dan penjajahan. Rakyat kemudian mengalami inferiority complex dan berkubang dalam keterbelakangan.
Indra Darmawan: Jadi apa yang diinginkan rakyat, Uda? Apakah mereka menginginkan seorang pemimpin yang kuat, seperti yang dibicarakan Laclau tentang kekaguman massa terhadap figur otoriter? Atau mereka menginginkan sesuatu yang lebih substansial?
Ade Indra Chaniago (mengambil rokok kretek dari bungkusnya, lalu menyalakannya dengan korek api): Mari kita tanya Buya Hamka. Kata Buya, lawan dari adil adalah zalim—memungkiri kebenaran karena hendak mencari keuntungan bagi diri sendiri, mempertahankan perbuatan salah karena yang bersalah itu kawan atau keluarga sendiri. Maka selama keadilan masih terdapat dalam kehidupan masyarakat, selama itu pula hubungan masyarakat akan aman sentosa, timbul amanat dan saling percaya.
Indra Darmawan: Tapi apakah keadilan itu cukup, Uda? Hamka juga berbicara tentang ihsan berbuat lebih tinggi dari keadilan. Memberi upah lebih dari yang semestinya, membuat hati orang bergembira. Itu yang dinamai ihsan.
Ade Indra Chaniago: Betul. Tapi lihatlah kenyataan kita sekarang. Politik dijalankan oleh teknokrat dan birokrat. Negara dikelola, bukan diperintah. Warga negara menjadi konsumen, politisi hanya punya pekerjaan di bidang politik, bukan panggilan jiwa. Seperti yang dikatakan dalam teks yang kau bawa ikatan spiritual antara pemilih dan pejabat terpilih perlahan hilang, bersama dengan kepercayaan pada elit politik.
Indra Darmawan: Dan di sinilah populisme lahir. Sebagai cermin demokrasi, seperti kata Panizza. Populisme bukan fenomena apolitis, tapi justru fenomena politik yang sangat penting gerakan tandingan dalam dunia di mana pasar yang menentukan segalanya.
Ade Indra Chaniago: Tapi populisme juga bisa menjadi jebakan. Rakyat yang kecewa bisa dengan mudah dimanfaatkan. Nabi Muhammad SAW sendiri telah mengingatkan: “Seseorang yang dipercaya menjadi pemimpin sepuluh orang, kelak di hari kiamat akan didatangkan dalam keadaan terikat. Ikatan itu tidak bisa dilepas kecuali oleh sikap adilnya yang ia lakukan di dunia.”
Indra Darmawan (mengangguk-angguk): Kita perlu merenungkan apa kata Imam Al-Ghazali. Beliau berkata: “Kebaikan rakyat bergantung kepada perilaku para pemimpin.” Dan dalam kitab Al-Tibr al-Masbuk fi Nasihati al-Muluk, ia menekankan bahwa seorang pemimpin harus mampu berbuat adil di antara masyarakat, melindungi rakyat dari kerusakan dan kriminalitas.
Ade Indra Chaniago: Tapi Al-Ghazali juga memberikan peringatan keras. Ia menyebut bahwa kerajaan yang adil, walau diperintah oleh pemimpin non-Muslim, akan mampu bertahan. Sebaliknya, kerajaan zalim walau dipimpin oleh orang-orang Islam akan hancur. Ini pelajaran penting bagi kita yang sering mengklaim diri sebagai negara beragama.
Indra Darmawan: Lalu bagaimana dengan konsep patriotisme konstitusional yang ditawarkan Foqué? Hak asasi manusia harus tertanam dalam kebiasaan sehari-hari hidup bersama, dalam solidaritas dan persahabatan. Bukan sekadar abstraksi hukum yang justru melemahkan komunitas.
Ade Indra Chaniago: Saya setuju, tapi kita juga harus mendengar suara dari tokoh idealis kita sendiri. Soekarno pernah berkata: “Aku ini bukan apa-apa kalau tanpa rakyat. Aku besar karena rakyat, berjuang karena rakyat, dan aku penyambung lidah rakyat.” Namun Bung Karno juga mengakui: “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”
Indra Darmawan: Itu pernyataan yang sangat jujur. Dan ironisnya, kini kita justru melihat para pemimpin yang mengatasnamakan rakyat, tapi seperti kata Hatta: “Bagaimana memperbaiki ekonomi rakyat kalau rakyat tinggal bodoh, mau saja diabui matanya, tak tahu mempergunakan tenaga ekonominya?”
Ade Indra Chaniago (menghela napas): Inilah inti persoalannya, Dinda. Yang diinginkan rakyat sebenarnya sederhana: keadilan, kesejahteraan, dan rasa aman. Tapi elit politik selalu mempersulit. Mereka membangun sistem yang rumit, membuat aturan yang berbelit, sehingga rakyat kecil merasa asing dengan proses politik.
Indra Darmawan: Seperti yang dikatakan Sutan Sjahrir: “Sesekali, tidaklah boleh kepentingan segolongan kecil yang hartawan bertentangan dengan kepentingan golongan rakyat banyak yang miskin. Keadilan yang kita kehendaki adalah keadilan bersama yang didasarkan atas kebahagiaan.”
Ade Indra Chaniago: Tapi Sjahrir juga mengingatkan bahwa kemerdekaan nasional bukanlah pencapaian akhir. Ia menekankan bahwa anak muda boleh pandai beretorika, tapi juga harus sadar untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat yang menjadi cita-cita.
Indra Darmawan: Dan di sinilah peran pendidikan, seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara. Beliau berkata: “Kekuatan rakyat itulah jumlah kekuatan tiap-tiap anggota dari rakyat itu. Segala daya upaya untuk menjunjung derajat bangsa tidak akan berhasil kalau tidak dimulai dari bawah.” Dan yang lebih penting: “Maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk kehidupan bersama adalah memerdekakan manusia sebagai anggota persatuan (rakyat).”
Ade Indra Chaniago: Pendidikan yang memerdekakan itu kuncinya. Bukan pendidikan yang mencetak robot-robot birokrat atau konsumen-konsumen pasif. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer: “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”
Indra Darmawan: Tapi Pram juga skeptis terhadap perwakilan rakyat. Ia pernah berkata dengan getir: “Perwakilan rakyat hanya panggung sandiwara. Dan aku tidak suka menjadi badut, sekalipun badut besar.”
Ade Indra Chaniago: Skeptisismenya wajar, Dinda. Tapi jangan sampai skeptisisme membuat kita apatis. Tan Malaka, si bapak Republik yang dilupakan, mengajarkan: “Kebaikan buat masyarakat itu bergantung kepada watak masyarakat, dan didikan masing-masing orang.” Masyarakat tidak bisa hanya menunggu pemimpin yang baik; mereka harus membangun watak kolektif.
Indra Darmawan: Tan Malaka juga mengkritik bahwa selama ini politik di Indonesia belum pernah menjadi “a common good”, kepunyaan umum rakyat. Ia menulis dengan tajam: “Pemerintahan dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat seperti yang dikatakan Lincoln tak pernah dikenal di Indonesia.”
Ade Indra Chaniago: Pernyataan itu keras, tapi ada benarnya. Berabad-abad rakyat hanya menjadi objek, bukan subjek. Mereka disuruh tepuk tangan, dijadikan tikar, seperti kata Hatta. Maka tidak heran jika ketika mereka diberi kesempatan bersuara, mereka sering melakukannya dengan emosi yang meledak-ledak.
Indra Darmawan: Kembali ke pertanyaan awal, Uda: Apa yang diinginkan masyarakat? Apakah mereka menginginkan seorang pemimpin yang adil seperti yang digambarkan Al-Ghazali: “Pemimpin adil adalah pribadi yang mampu mengemban amanah, menunaikan tugas dan kewajiban, memberikan hak-hak kepada orang-orang yang semestinya mendapatkan, memudahkan orang-orang yang sedang kesulitan dan kesusahan, serta menegakkan hukum sama rata tanpa pandang bulu kepada semua golongan.”
Ade Indra Chaniago: Itu ideal, Dinda. Tapi dalam kenyataan, rakyat juga menginginkan pemimpin yang dekat dengan mereka, yang mendengar keluhan mereka, yang tidak hanya duduk di balik meja marmer di ibu kota. Khalifah Umar bin Khattab memberi teladan: suatu malam ia berjalan sendiri di kegelapan untuk memeriksa keadaan rakyatnya yang miskin. Ia menegaskan bahwa keadilan adalah hak semua orang, bukan hanya untuk golongan tertentu.
Indra Darmawan: Umar juga mengirim surat kepada para hakimnya: “Berlakulah sama dalam menerapkan keadilan di majelismu agar seorang yang mulia tidak begitu mengharap kezalimanmu dan seorang yang lemah tidak putus asa dari keadilanmu.”
Ade Indra Chaniago: Dan Ali bin Abi Thalib, yang dijuluki Nabi sebagai hakim paling adil di antara umatnya, mengajarkan: “Keadilan adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat.” Dan beliau juga berkata: “Lebih baik kamu mengalah sedang kamu dikenang sebagai orang yang adil, daripada memilih menang dalam keadaan dikenang sebagai orang yang zalim.”
Indra Darmawan: Tapi apakah keadilan saja cukup, Uda? Manusia tidak hanya hidup dengan perut kenyang dan hukum yang tegak. Mereka juga butuh makna, butuh spiritualitas. Buya Hamka mengatakan: “Hidupnya seseorang adalah karena nyawanya. Habis nyawa itu, maka ia tiada. Adapun hidupnya sebuah bangsa, nyawanya adalah nilai hidup yang dipegang bangsa itu sendiri.”
Ade Indra Chaniago: Nilai hidup itu, Dinda, yang sekarang tergerus oleh individualisme radikal. Seperti yang dikritik Taylor, neoliberalisme telah membuat kita merasa bebas, bebas dari Tuhan, dari tanggung jawab, dari sesama. Tapi kebebasan itu ternoda: kita menghabiskan malam dengan frustrasi memilih pemasok gas, asuransi perjalanan, dan sekolah dasar, hanya untuk menyimpulkan bahwa semuanya sama saja.
Indra Darmawan: Dan dalam kekosongan makna itu, populisme masuk. Rakyat yang kehilangan pegangan mencari berhala baru. Seperti kata Rumi: “Amarah adalah angin yang memadamkan pelita akal.” Dan dalam syairnya yang lain: “Dunia dibangun di atas landasan prinsip hubungan timbal-balik. Siapa yang berbuat baik sekecil apapun niscaya akan dibalas kebaikan.”
Ade Indra Chaniago: Prinsip timbal-balik itu, kalau dalam istilah Islam disebut ihsan berbuat baik kepada sesama. Tapi ihsan hanya mungkin jika ada kesadaran kolektif bahwa kita ini satu tubuh. Seperti sabda Nabi: “Tolonglah saudaramu baik ketika berbuat zalim atau dizalimi.” Para sahabat bertanya, bagaimana menolong orang zalim? Nabi menjawab: “Kami tarik tangannya (agar tidak lagi berbuat zalim).”
Indra Darmawan: Jadi yang diinginkan masyarakat, menurutmu, Uda, adalah sebuah tatanan yang adil, pemimpin yang amanah, dan masyarakat yang saling tolong-menolong?
Ade Indra Chaniago: Itu jawaban normatif, Dinda. Tapi jawaban yang lebih jujur adalah: masyarakat menginginkan kepastian. Mereka lelah dengan janji-janji kosong. Mereka lelah dengan kebijakan yang berubah setiap kali ganti menteri. Mereka ingin aturan main yang jelas, yang tidak berubah-ubah sesuka hati penguasa.
Indra Darmawan: Mohammad Natsir mengingatkan bahwa demokrasi sekuler dapat berujung pada berbagai musibah kemanusiaan. Tanpa intervensi wahyu, manusia dapat terperangkap pada dorongan nafsu hewaniah. Tapi Natsir juga mengatakan bahwa Pancasila, di mata seorang muslim, bukanlah barang asing yang berlawanan dengan ajaran Al-Qur’an. Pancasila mengandung tujuan-tujuan Islam, meskipun bukan berarti Islam.
Ade Indra Chaniago: Natsir juga menekankan bahwa seorang dai harus senantiasa berpegang kepada kebenaran dan keadilan. Yang benar dan baik harus dikatakan benar dan baik, meskipun itu dilakukan oleh orang yang berbeda organisasi atau partainya. Ini prinsip yang sangat langka kita temui di kalangan politisi kita sekarang.
Indra Darmawan (menatap gelas kopinya yang hampir habis): Uda, saya jadi ingat sebuah puisi Rumi yang saya baca bertahun-tahun lalu. Ia bercerita tentang orang-orang yang mengira bahwa mereka dan orang lain sama-sama terikat pada tidur dan makan. Tapi Rumi berkata: “Dalam kebutaan, mereka tidak tahu bahwa antara keduanya terbentang perbedaan yang besar tidak terkira.”
Ade Indra Chaniago: Perbedaan itu, Dinda, adalah kesadaran. Sebagian orang hanya hidup untuk perut dan tidur. Sebagian yang lain hidup untuk nilai, untuk keadilan, untuk kebenaran. Yang diinginkan masyarakat sebenarnya adalah agar mereka diperlakukan sebagai manusia yang bermartabat, bukan sebagai obyek kebijakan, bukan sebagai pemilih yang harus dibujuk, bukan sebagai konsumen yang harus dilayani.
Indra Darmawan: Tapi bisakah keinginan itu terwujud di tengah sistem yang telah mengakar? Lihatlah bagaimana negara kita dikelola oleh teknokrat yang hanya menghitung angka pertumbuhan, tanpa pernah bertanya apakah pertumbuhan itu dirasakan oleh rakyat kecil di pedalaman Sumatera atau di kampung-kampung Kalimantan.
Ade Indra Chaniago: Kita harus berani mengakui kegagalan kita sebagai bangsa. Seperti kata Bung Hatta di akhir hayatnya: ia ingin dibaringkan bersama rakyat biasa. Bukan karena ia rendah hati, tapi karena ia tahu bahwa pemimpin sejati tidak pernah terpisah dari rakyatnya. Tapi lihatlah sekarang para pemimpin kita lebih suka dibaringkan di makam mewah yang megah, bukan di tanah bersama rakyat.
Indra Darmawan: Maka kesimpulan kita, Uda, setelah berjam-jam berdebat di tepi Sungai Musi ini: yang diinginkan masyarakat adalah pemimpin yang adil, sistem yang berpihak pada rakyat kecil, dan ruang bagi mereka untuk berpartisipasi secara bermakna. Bukan sekadar kotak suara setiap lima tahun, tapi keterlibatan yang terus-menerus dalam menentukan nasib mereka sendiri.
Ade Indra Chaniago: Dan kita sebagai akademisi, Dinda, punya tanggung jawab besar. Seperti pesan Pramoedya: “Barangsiapa muncul di atas masyarakatnya, dia akan selalu menerima tuntutan dari masyarakatnya—masyarakat yang menaikkannya, atau yang membiarkannya naik.” Kita tidak boleh hanya duduk di menara gading. Kita harus turun, mendengar, dan menyuarakan apa yang benar.
Indra Darmawan (mengangkat gelas kopinya yang terakhir): Mari kita akhiri dengan doa. Semoga Tuhan Yang Maha Adil memberikan kepada bangsa ini pemimpin-pemimpin yang amanah, dan kepada rakyat kesadaran untuk tidak pernah menyerahkan kedaulatan mereka kepada siapa pun yang tidak layak. Seperti kata Ali bin Abi Thalib: “Jangan kau kira bisa membela sesuatu, apalagi keadilan, kalau tak acuh pada asas, biar sekecil-kecilnya pun.”
Ade Indra Chaniago: Aamin. Dan ingatlah selalu sabda Nabi Muhammad SAW: “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah pemimpin yang adil. Dan manusia yang paling dibencinya adalah pemimpin yang zalim.”
(Matahari di ufuk barat Palembang mulai tenggelam. Dua orang sahabat itu berdiri, membayar kopi mereka, lalu berjalan kaki menyusuri tepian Musi masih terus berdiskusi tentang apa yang diinginkan masyarakat, seakan belum puas, seakan pertanyaan itu tak pernah cukup dijawab oleh satu generasi saja.)
Senin, 20 April 2026
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan