JARI: Kemaro sebagai Simpul Peradaban
Pulau Kemaro di tengah Sungai Musi, Palembang, adalah tempat yang penuh legenda kisah cinta lintas budaya antara Putri Siti Fatimah dari Kesultanan Palembang dan Tan Bun Ann, saudagar Tiongkok. Di pulau kecil ini, berdiri sebuah kelenteng dan makam keramat yang dihormati lintas agama, sebuah bukti nyata akulturasi dan toleransi yang telah hidup selama berabad-abad.
Di sebuah warung sederhana beratap rumbia, kelima sahabat duduk lesehan di atas tikar pandan. Suara riak air Sungai Musi terdengar samar, sesekali diselingi suara kapal yang melintas. Aroma pempek, tekwan, dan kopi tubruk bercampur dengan wewangian dupa dari kelenteng di kejauhan.
Indra Darmawan: “Nah, ini baru namanya ngopi. Pulau Kemaro ini mengajarkan kita satu hal: peradaban besar lahir dari percampuran, bukan isolasi. Coba bayangkan, berabad-abad lalu, seorang putri Melayu-Islam jatuh cinta dengan saudagar Tiongkok. Mereka membangun jembatan budaya. Islam di sini tidak pernah alergi dengan budaya lain. Tapi kenapa sekarang banyak yang mengklaim Islam itu agama yang terbelakang dan tidak bisa menyesuaikan diri dengan modernitas?”
Ade Indra Chaniago: “Dinda, pertanyaanmu itu persis seperti yang diangkat dalam artikel yang baru saja kita baca. Artikel itu membuka dengan klaim bahwa ‘dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak suara yang mengklaim bahwa Islam adalah agama terbelakang yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan nilai-nilai Barat modern dan sekuler.’ Lalu, nama Averroes atau Ibnu Rushd muncul sebagai lambang keterbukaan dan kesediaan untuk mengkritik Islam.”
Ferry Lesmana: (menyela, masih mengunyah pempek) “Tapi Uda Ade, jujur saya agak skeptis. Klaim bahwa Islam terbelakang itu kan sering dilontarkan oleh orientalis Barat atau oleh Muslim sekuler yang frustrasi. Tapi yang lebih mengkhawatirkan, ada juga kelompok Muslim sendiri yang justru menampilkan Islam yang eksklusif, anti-toleransi, dan anti-rasionalitas. Di Indonesia, kita lihat sendiri: bom bunuh diri, penyerangan terhadap jemaah Ahmadiyah, perusakan rumah ibadah, dan gerakan-gerakan yang mengatasnamakan agama namun melakukan kekerasan. Itu nyata. Jadi, apakah Ibnu Rushd masih relevan? Atau justru kubu Al-Ghazali yang menang?”
Juliansyah: (mencatat di buku catatannya yang lusuh) “Kak Ferry, kamu tepat. Tapi jangan kebablasan. Sebagai jurnalis, konflik agama di Poso, Ambon, dan Aceh, saya melihat bahwa kekerasan sering kali bukan representasi mayoritas Muslim Indonesia. Ada faktor politik, ekonomi, dan sejarah yang kompleks. Artikel ini justru mengingatkan kita pada masa Zaman Keemasan Islam (abad ke-9 hingga ke-12), di mana filsafat, mistisisme, aritmatika, kartografi, dan kedokteran berkembang pesat di dunia Arab. Saat Eropa dalam Zaman Kegelapan, Cordoba di Spanyol memiliki lebih dari tujuh puluh perpustakaan dan menjadi pusat budaya terpenting Abad Pertengahan. Jadi klaim bahwa Islam itu terbelakang secara historis tidak akurat.”
Andi Wijaya: (menyesap kopi perlahan) “Saya justru tertarik pada aspek psikologis dari debat ini. Mengapa orang, baik Muslim maupun non-Muslim cenderung melihat Islam secara hitam-putih? Psikologi kognitif mengajarkan kita bahwa manusia punya confirmation bias. Jika kita sudah percaya bahwa Islam itu intoleran, maka kita akan mencari bukti-bukti seperti serangan teroris atau pelarangan gereja, dan mengabaikan bukti toleransi seperti pesantren inklusif atau kerukunan di Kampung Kristen. Artikel ini secara jujur mengakui bahwa Ibnu Rushd memiliki pandangan yang elitis. Dia bilang interpretasi alegoris teks suci tidak boleh dilakukan oleh orang awam karena mereka kurang memiliki akal sehat yang cukup. Tapi pada zamannya, itu adalah proposisi yang berani, karena ia menentang dogmatisme absolut.”
Ade Indra Chaniago: (menghela napas panjang) “Baiklah. Mari kita bedah artikel ini secara mendalam. Ibnu Rushd (1126–1198) lahir di Cordoba, Spanyol. Dia adalah filsuf, ahli hukum, astronom, dan dokter pribadi Khalifah. Namun, kontribusi utamanya adalah upaya untuk mendamaikan gagasan Aristoteles dengan ajaran Islam. Menurut Ibnu Rushd, akal budi adalah alat untuk memahami teks-teks suci. Dia bahkan mengutip Surah 16:125, ‘Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmat dan nasihat yang baik, dan jika kamu berdebat, gunakanlah argumen yang paling indah.’ Baginya, teks suci memerintahkan kita untuk mempelajari segala sesuatu dengan bantuan akal.”
Indra Darmawan: “Tapi kan ada Al-Ghazali (1059–1111) yang menulis Tahafut al-Falasifah (Keruntuhan Filsafat). Al-Ghazali mengkritik para filsuf, termasuk Ibnu Sina dan Al-Farabi, karena dianggap terlalu mengedepankan akal hingga mengabaikan wahyu. Bahkan, Al-Ghazali menuduh mereka kafir dalam tiga ajaran: keyakinan tentang kekekalan alam, penafian pengetahuan Tuhan terhadap partikular, dan pengingkaran kebangkitan jasmani. Lalu, Ibnu Rushd membalas dengan Tahafut al-Tahafut (Ketidakkonsistenan dari Ketidakkonsistenan), di mana ia membela filsafat dan menyatakan bahwa tidak ada bukti empiris yang dapat bertentangan dengan Al-Quran, karena kebenaran tidak dapat bertentangan dengan kebenaran. Namun sayangnya, pengaruh Ibnu Rushd hampir tidak ada di Timur, tetapi justru besar di Barat. Terjemahan Ibrani dan Latin dari karyanya menginspirasi Thomas Aquinas, Roger Bacon, dan Renaisans Eropa. Ironis sekali, bukan? Filsuf Muslim justru lebih dihargai di Eropa daripada di dunia Islam sendiri.”
Ferry Lesmana: “Ini miris. Ibnu Rushd akhirnya diasingkan ke tempat terpencil dekat Cordoba, lalu melarikan diri ke Marrakech. Buku-bukunya dilarang dan dibakar. Banyak karyanya yang hilang selamanya akibat sensor. Ini bukti bahwa ketika kekuasaan politik bersekutu dengan ulama konservatif, maka pintu ijtihad ditutup. Dan itulah yang terjadi selama berabad-abad. Al-Ghazali mungkin tidak secara langsung menutup pintu ijtihad, tapi pengaruhnya yang begitu kuat kombinasi antara mistisisme dan skepsis terhadap filsafat menyebabkan umat Islam lebih mengandalkan taklid (imitasi) daripada ijtihad (penalaran independen).”
Juliansyah: “Tapi jangan salah. Al-Ghazali juga seorang sufi agung. Bukunya, Ihya Ulumuddin, adalah salah satu karya paling berpengaruh dalam Islam. Dia mengkritik filsafat karena dianggapnya terlalu spekulatif dan menjauhkan orang dari kesederhanaan iman. Namun, apakah Al-Ghazali anti-akal? Tidak juga. Dia menggunakan logika Aristotelian dalam argumen teologisnya. Yang dia tolak adalah klaim para filsuf bahwa akal bisa mencapai kebenaran tertinggi tanpa bantuan wahyu. Jadi, perdebatan Al-Ghazali vs Ibnu Rushd sebenarnya bukanlah perdebatan antara akal dan agama, melainkan tentang batas-batas akal dalam memahami yang transenden.”
Andi Wijaya: “Setuju. Kita perlu memperluas diskusi ini melampaui dikotomi Al-Ghazali vs Ibnu Rushd. Artikel ini hanya menyebut sekilas tentang mistisisme, tapi tidak menggali kekayaan tradisi Sufi yang justru menjadi jantung spiritual Islam. Mari saya tambahkan beberapa tokoh.”
Indra Darmawan: (tersenyum lebar) “Rumi! Ini favorit saya. Rumi mengajarkan bahwa cinta adalah satu-satunya politik yang halal. Bagi Rumi, perbedaan agama, suku, dan bahasa hanyalah ilusi. Dalam syairnya yang terkenal, ‘Bukan orang Nasrani, Yahudi, atau Majusi aku. Bukan dari Timur atau Barat, bukan dari darat atau laut.’ Rumi tidak mengakui eksklusivisme agama. Dia berkata, ‘Kamu adalah seluruh lautan dalam setetes air.’ Artinya, setiap manusia adalah mikrokosmos dari keseluruhan realitas ilahi. Contoh nyata dari ajaran Rumi? Di Indonesia, banyak pesantren yang mengajarkan Matsnawi Rumi sebagai bagian dari kurikulum akhlak. Di Turki, gerakan Whirling Dervishes terus mempraktikkan tarian sufi sebagai meditasi cinta. Ini menunjukkan bahwa Islam bisa sangat inklusif dan humanis.”
Ade Indra Chaniago: “Ibnu Arabi, sufi Andalusia yang lahir di Murcia, Spanyol, mengajarkan konsep Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud). Menurutnya, hanya Allah yang memiliki wujud hakiki; alam semesta dan manusia hanyalah manifestasi atau bayangan dari wujud Tuhan. Konsekuensi dari ajaran ini sangat radikal: tidak ada yang benar-benar terpisah dari Tuhan. Oleh karena itu, mencintai ciptaan berarti mencintai Sang Pencipta. Ibnu Arabi juga mengembangkan konsep Insan Kamil (Manusia Sempurna), yang kemudian diperluas oleh muridnya, Abdul Karim Al-Jili (1365–1424). Menurut Al-Jili, Insan Kamil adalah manusia ideal yang menampilkan citra Tuhan secara utuh. Di Indonesia, ajaran Ibnu Arabi sangat berpengaruh di kalangan sufi Aceh, seperti Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani. Mereka mengajarkan bahwa Tuhan lebih dekat dari urat leher, dan bahwa syariat hanyalah kulit, sedangkan hakikat adalah isinya.”
Ferry Lesmana: “Tapi bukankah ajaran Wahdatul Wujud sering dituduh sebagai panteisme atau menyamakan Tuhan dengan alam? Banyak ulama konservatif yang mengkafirkan Ibnu Arabi.”
Indra Darmawan: “Memang. Tapi ini masalah tafsir. Yang diajarkan Ibnu Arabi bukanlah bahwa alam adalah Tuhan, melainkan bahwa alam adalah tajalli (manifestasi) dari nama-nama dan sifat-sifat Tuhan. Ini mirip dengan konsep immanence dalam teologi Kristen. Sayangnya, karena ajaran ini dianggap terlalu filosofis dan berbahaya bagi akidah awam, banyak ulama yang melarangnya diajarkan kepada khalayak umum. Di Indonesia, pesantren-pesantren tradisional seperti di Jawa dan Sumatera tetap mengajarkan tasawuf Ibnu Arabi secara terbatas. Tapi di era modern, pemikiran Ibnu Arabi justru dihidupkan kembali oleh cendekiawan seperti Seyyed Hossein Nasr dan William Chittick.”
Juliansyah: “Ngomong-ngomong soal kontroversi, kita tidak bisa melupakan Al-Hallaj, sufi Persia yang dihukum mati karena mengucapkan ‘Ana al-Haqq’ (Aku adalah Kebenaran). Ucapan ini dianggap sebagai klaim ketuhanan oleh para fuqaha, padahal bagi Al-Hallaj, itu adalah ekspresi fana’ (peleburan diri) dalam Tuhan. Dia dieksekusi pada tahun 922 di Baghdad dipukul, disalib, dipotong tangan dan kakinya, lalu dipenggal. Sebagian ulama menyebutnya sebagai ‘Syahid al ‘Isyq al Ilahi’ (Martir Mabuk Cinta Tuhan). Di Indonesia, kisah Al-Hallaj sering diajarkan sebagai peringatan tentang bahaya fanatisme agama. Namun, juga sebagai inspirasi tentang keberanian untuk mengungkapkan pengalaman spiritual yang mendalam, meskipun harus membayar dengan nyawa.”
Andi Wijaya: “Kasus Al-Hallaj adalah contoh paling ekstrem tentang bagaimana otoritas keagamaan dan politik bersekutu untuk membungkam suara-suara yang tidak nyaman. Ini mirip dengan apa yang dialami Ibnu Rushd, hanya saja lebih brutal. Pertanyaannya sekarang, apakah kita masih mengulangi pola yang sama di Indonesia hari ini? Banyak ulama, cendekiawan, dan aktivis yang dikriminalisasi karena dianggap ‘menista agama’ padahal mereka hanya menyampaikan interpretasi yang berbeda. Ini ironis, karena Islam klasik memiliki tradisi ikhtilaf (perbedaan pendapat) yang sangat kaya.”
Ferry Lesmana: “Artikel ini menyebut Irshad Manji, seorang Muslim Kanada yang dalam bukunya The Islam Dilemma (atau The Trouble with Islam Today) menyerukan ‘Operasi Ijtihad’ untuk memulai perubahan dalam Islam. Manji berani mengkritik penindasan terhadap perempuan, minoritas agama, antisemitisme, dan rasa superioritas para pemimpin agama radikal. Baginya, dunia Islam sedang menuju kebencian, kekerasan, kemiskinan, dan kesalahpahaman. Oleh karena itu, ia ingin membuka kembali pintu ijtihad, seperti yang pernah diperjuangkan Ibnu Rushd. Apakah Manji kontroversial? Tentu. Tapi dia adalah bukti bahwa ada suara-suara kritis dalam Islam yang ingin Islam berdamai dengan keberagaman.”
Ade Indra Chaniago: “Saya setuju. Tapi jangan lupa juga tokoh seperti Mohammed Arkoun dari Aljazair yang mengusulkan ‘pemikiran Islam yang kritis’ dengan menggunakan metode dekonstruksi. Atau Nasr Hamid Abu Zayd dari Mesir yang dianggap murtad karena mengkritik teks suci sebagai produk budaya, kemudian melarikan diri ke Belanda. Di tingkat global, kita lihat negara-negara seperti Maroko dan Tunisia yang melakukan reformasi hukum keluarga yang lebih adil bagi perempuan. Tunisia, misalnya, telah menghapus poligami dan memberikan hak setara kepada perempuan dalam perceraian. Itu adalah ijtihad kontemporer. Bukti nyata lainnya adalah Universitas Al-Azhar di Mesir yang secara resmi mengakui mazhab Syiah dan mazhab-mazhab lain sebagai bagian dari Islam yang sah, setelah berabad-abad saling mengkafirkan. Ini adalah kembalinya semangat toleransi yang diajarkan oleh Ibnu Rushd.”
Andi Wijaya: “Contoh nyata tentang Islam yang adaptif dengan modernitas: Uni Emirat Arab dan Arab Saudi sekarang gencar mengirim astronot ke luar angkasa. Sultan bin Salman Al Saud adalah astronaut Muslim pertama yang pergi ke luar angkasa pada 1985. Mereka juga membangun reaktor nuklir dan kota pintar. Jika Islam anti-sains dan anti-rasionalitas, mustahil mereka melakukan itu. Jadi klaim bahwa Islam tidak bisa menyesuaikan diri dengan modernitas adalah mitos. Yang terjadi justru sebaliknya: Islam klasik-lah yang menjadi fondasi sains modern. Ibnu Rushd, Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Biruni, mereka adalah ilmuwan yang karyanya menjadi rujukan di universitas-universitas Eropa.”
Juliansyah: “Nah, sekarang kita bicara Indonesia. Kita punya dua tokoh pembaru Islam yang sangat terinspirasi oleh semangat rasionalisme dan pluralisme: Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur).”
Indra Darmawan: “Cak Nur, dengan gagasannya tentang ‘Islam, Yes; Partai Islam, No’ dan ‘sekularisasi’ (bukan sekularisme), ingin membebaskan umat Islam dari jebakan ideologisasi agama. Baginya, agama harus menjadi sumber nilai etis, bukan instrumen politik praktis. Ia mengusulkan ijtihad kolektif dan kontekstual yang sesuai dengan Pancasila dan demokrasi Indonesia. Cak Nur juga mendirikan Paramadina, sebuah lembaga yang mengajarkan Islam yang inklusif, toleran, dan berpikiran terbuka.”
Ferry Lesmana: “Lalu, Gus Dur. Saya kagum pada Gus Dur. Beliau adalah presiden ke-4 RI yang melampaui zamannya. Gus Dur tidak hanya berbicara tentang toleransi, tapi hidup di dalamnya. Beliau melindungi minoritas: Ahmadiyah, gereja, bahkan kelompok Syiah di Sampang. Beliau mencabut Inpres Tionghoa/Imlek yang diskriminatif. Beliau juga menjadikan Pulau Kemaro ini sebagai contoh akulturasi di mana kelenteng dan makam keramat dihormati lintas agama. Gus Dur pernah berkata, ‘Politik adalah mengurus kepentingan orang banyak, bukan mengurus perut sendiri.’ Dan ketika ada yang mengkritiknya karena terlalu ‘liberal’, dia justru berkata, ‘Saya tidak liberal, saya Muslim yang berpegang pada prinsip keadilan dan kemanusiaan.’ Dalam konteks debat Averroes vs Al-Ghazali, Gus Dur lebih dekat ke semangat Ibnu Rushd: akal, ijtihad, dan keberanian untuk tidak setuju dengan mayoritas.”
Ade Indra Chaniago: “Selain dua tokoh itu, kita punya Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah). Buya Hamka adalah ulama, sastrawan, dan sufi. Dalam Tafsir Al-Azhar-nya, Hamka sering mengkritik taklid buta dan mengajak umat untuk berpikir rasional. Ia juga mengapresiasi filsafat dan sufisme. Hamka mengatakan bahwa Islam adalah agama yang menghargai akal, karena dalam Al-Quran ada lebih dari 300 ayat yang menyeru manusia untuk berpikir (tafakkur), merenung (tadabbur), dan menggunakan akal (ta’qil). Hamka juga tokoh Muhammadiyah, yang dikenal sebagai gerakan modernis yang menekankan rasionalitas dan purifikasi aqidah, namun juga sangat terbuka terhadap tasawuf yang tidak menyimpang.”
Andi Wijaya: “Contoh nyata lainnya adalah Pesantren Lirboyo di Kediri, Pesantren Ngalah di Pasuruan, Pesantren Bali Bina Insani, dan Pesantren Al-Amin di Madura. Pesantren-pesantren ini tidak hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga mengajarkan toleransi, pluralisme, dan perdamaian. Misalnya, di Bali Bina Insani, para santri hidup di tengah masyarakat Hindu yang kuat, dan mereka belajar untuk saling menghormati, bahkan ikut merayakan Nyepi. Di Pesantren Ngalah, tradisi hidup berdampingan dengan umat Kristiani menjadi simbol harmoni di tengah keberagaman. Ini bukti bahwa Islam Indonesia itu rahmatan lil ‘alamin.”
Ferry Lesmana: “Tapi jangan hanya bicara tentang yang baik. Kita juga harus mengakui adanya wajah buruk Islam yang justru mengingkari semangat Averroes. Di tingkat internasional, kita lihat ISIS, Al-Qaeda, Boko Haram, dan Taliban. Mereka membakar perpustakaan, menghancurkan patung Buddha Bamiyan, menculik anak perempuan untuk dijadikan budak seks, dan mengeksekusi mati siapa saja yang tidak sepaham. Mereka mengklaim berjuang untuk Islam, tapi yang mereka lakukan adalah kebiadaban yang tidak pernah diajarkan oleh Al-Quran. Mereka adalah representasi dari tradisi penutupan ijtihad yang ekstrem.”
Juliansyah: “Di Indonesia, kita juga punya contoh serius. Kelompok teroris seperti Jemaah Islamiyah, Mujahidin Indonesia Timur, dan ISIS Nusantara. Mereka melakukan bom bunuh diri di gereja-gereja, di Katedral Makassar, di Surabaya. Mereka juga membunuh polisi dan warga sipil. Selain itu, kelompok intoleran seperti Front Pembela Islam (FPI) , meskipun sudah dibubarkan, pernah melakukan penyerbuan terhadap warung miras, tempat hiburan malam, dan bahkan pengadilan. Mereka juga kerap melarang kegiatan jemaah Ahmadiyah dan Syiah. Ahmadiyah, misalnya, sejak 2008 dikeluarkan SKB bersama yang melarang mereka menyebarkan ajarannya, dan sejak saat itu, mereka terus mengalami diskriminasi dan kekerasan.”
Andi Wijaya: “Secara psikologis, mengapa ini bisa terjadi? Karena ketika orang merasa terancam oleh globalisasi, oleh modernitas, oleh ketidakadilan ekonomi mereka cenderung mencari in-group identity yang kuat. Kelompok radikal menawarkan identitas yang jelas, hitam-putih, dan janji keselamatan di akhirat. Mereka juga menggunakan narasi konspirasi: bahwa Barat, Yahudi, Kristen, dan Syiah bersatu untuk menghancurkan Islam. Ini menutup pintu dialog dan rasionalitas. Inilah yang terjadi ketika pintu ijtihad ditutup dan taklid dibabi buta. Mereka tidak lagi membaca Al-Quran dengan akal, tapi dengan kacamata ideologi.”
Indra Darmawan: “Contoh lain: serangan terhadap masjid Muhammadiyah di Samalanga, Aceh, oleh kelompok yang tidak terima dengan perbedaan pemikiran. Di beberapa daerah, terjadi perkelahian antara jemaah masjid karena perebutan ‘rumah Tuhan’. Ini menunjukkan bahwa fundamentalisme tidak hanya mengancam non-Muslim, tapi juga Muslim yang berbeda pandangan. Ironisnya, kelompok-kelompok ini sering mengklaim sebagai ‘pembela sunnah’, tapi mereka justru merusak sendi-sendi ukhuwah Islamiyah.”
Ade Indra Chaniago: “Setelah mendengar semua ini, apa kesimpulannya? Apakah Islam bisa berdamai dengan modernitas? Apakah Ibnu Rushd masih relevan?”
Indra Darmawan: “Saya akan menjawab dengan metafora. Pulau Kemaro ini adalah simbol akulturasi. Di sini, tidak ada yang mempertanyakan apakah kelenteng boleh berdiri di tanah Muslim. Tidak ada yang melarang putri Melayu menikah dengan saudagar Tiongkok. Itu karena Islam Palembang sejak dulu adalah Islam yang terbuka, toleran, dan akomodatif terhadap budaya lokal. Namun, belakangan, pengaruh gerakan transnasional seperti Wahhabisme dan Salafisme mulai mengubah itu. Mereka mengajarkan bahwa budaya lokal adalah bid’ah dan syirik. Mereka ingin membangun Islam yang seragam, Arab-sentris, dan puritan. Inilah musuh dari semangat Averroes.”
Juliansyah: “Saya setuju. Tapi jangan lupa, ada juga gerakan-gerakan Islam yang sangat modernis, seperti Jaringan Islam Liberal (JIL) di Indonesia, meskipun kontroversial. Atau gerakan-gerakan feminis Muslim yang menuntut kesetaraan gender dan interpretasi ulang teks-teks misoginis. Di tingkat global, ada Musawah (gerakan kesetaraan dalam keluarga Muslim) dan Sisters in Islam di Malaysia. Mereka adalah pewaris semangat Averroes: berani mengkritik penafsiran yang sudah mapan, dan menggunakan akal untuk menemukan keadilan.”
Andi Wijaya: “Namun, kita juga harus realistis. Tidak semua orang bisa menjadi filsuf. Ibnu Rushd sendiri elitis: dia bilang orang awam tidak boleh membaca filsafat. Tapi di era digital sekarang, informasi sangat mudah diakses. Seorang ibu rumah tangga di Palembang bisa mengakses YouTube dan mendengarkan ceramah dari berbagai mazhab, bahkan dari berbagai negara. Ini membuka peluang ijtihad individual, tapi juga bahaya misinterpretation karena kurangnya otoritas keilmuan. Jadi, masyarakat butuh ulama yang benar-benar berilmu, berwawasan luas, dan terbuka, bukan ulama yang hanya hafal teks tapi tidak paham konteks.”
Ade Indra Chaniago: “Kesimpulan akhir dari diskusi panjang kita di pulau ini adalah: Islam memiliki potensi besar untuk menjadi agama yang rasional, toleran, dan modern. Sejarah Zaman Keemasan, para filsuf seperti Ibnu Rushd, para sufi seperti Rumi dan Ibnu Arabi, serta tokoh-tokoh kontemporer seperti Nurcholish Madjid dan Gus Dur adalah bukti nyata. Namun, potensi itu tidak otomatis terwujud. Ia harus diperjuangkan secara terus-menerus. Diperlukan keberanian untuk membuka pintu ijtihad, untuk mengkritik tradisi yang keliru, dan untuk berdialog dengan peradaban lain. Diperlukan juga kesadaran bahwa kebenaran tidak dimonopoli oleh satu golongan. Averroes mengajarkan bahwa ‘kebenaran tidak dapat bertentangan dengan kebenaran.’ Artinya, jika akal sehat dan sains membuktikan sesuatu, maka agama harus mampu menafsirkan ulang teks-teksnya agar selaras dengan temuan itu, bukan menolaknya.”
Ferry Lesmana: “Uda Ade, saya setuju. Tapi satu pesan terakhir: Jangan biarkan nama besar Averroes hanya menjadi hiasan di rak buku. Kita harus mempraktikkan ijtihad dalam kehidupan sehari-hari: dalam cara kita mendidik anak, dalam cara kita berpolitik, dalam cara kita berbisnis, dalam cara kita memperlakukan perempuan dan minoritas. Jika tidak, maka kita hanya mengulang kesalahan yang sama: menghormati Averroes di lidah, tapi mengikuti Al-Ghazali dalam ketakutan.”
Juliansyah: “Ambilah pelajaran dari Pulau Kemaro. Di pulau ini, perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekayaan. Islam, Tionghoa, dan Melayu bisa hidup berdampingan dengan damai. Itulah Islam yang sebenarnya: rahmatan lil ‘alamin, bukan rahmatan lil mu’minin saja. Jika kita kembali ke semangat itu, maka kita tidak perlu takut dengan modernitas, karena Islam sendiri adalah motor peradaban.”
Matahari mulai terbenam di ujung Sungai Musi. Air sungai berwarna keemasan. Dari kejauhan, terdengar azan Magrib dari masjid di pulau seberang. Kelima sahabat itu beranjak, membayar pempek dan kopi yang telah menemani diskusi panjang mereka.
Indra Darmawan: (tersenyum) “Besok kita lanjutkan lagi. Tapi sekarang, mari kita sholat Magrib dulu. Di pulau yang penuh cinta dan akulturasi ini, mari kita renungkan: Apakah kita sudah menjadi Muslim yang berpikiran terbuka seperti Averroes, atau justru menjadi Muslim yang fanatik dan tertutup seperti mereka yang membakar buku-bukunya?”
Mereka berjalan bersama menuju musholla kecil di tepi pulau. Pulau Kemaro, Palembang, menjadi saksi bahwa dialog peradaban tidak pernah berakhir.
Palembang, 04 Juni 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen