JARI: “Kopi, Keraguan, dan Cinta” Menelusuri Kemenangan Ranah Kebebasan

JARI: “Kopi, Keraguan, dan Cinta” Menelusuri Kemenangan Ranah Kebebasan

 

Sebuah kedai kopi tua di kawasan pasar kuto, Palembang, sore hari. Aroma kopi robusta bercampur dupa dari rumah tua di seberang. Dua orang pemikir duduk bersandar pada kursi rotan.

 

Indra Darmawan: (mengaduk kopi tanpa minum) Uda, saya sedang berada di persimpangan yang mengganggu. Sebagai seorang peragu mungkin karena kecintaan saya pada filsafat saya sering terjebak dalam ketidaktegasan. Saya melihat segala sesuatu dari semua sudut, menemukan argumen tandingan, nuansa yang tak habis-habis. Lalu bagaimana saya memilih? Bagaimana saya memutuskan pihak mana yang saya bela? Pekerjaan mana, hubungan mana, bahkan… siapa saya sebenarnya?

Ade Indra Chaniago: (tersenyum tipis) Itulah beban kebebasan, Dinda. Saya ingat kata Simone de Beauvoir: “Kita dilahirkan dengan kebebasan yang dipaksakan.” Eksistensi mendahului esensi. Tidak ada cetak biru manusia dari langit. Tapi justru di situlah letak tugas sekaligus tantangan. Di Palembang ini, di mana kita diajari sikap waspada, sikap menghormati orang tua dan adat kebebasan itu sering terasa seperti pisau bermata dua.

Indra Darmawan: Tepat. Tapi di sinilah keraguan saya menggigit. De Beauvoir bilang kita harus memilih dengan tegas, bertanggung jawab. Namun bagaimana jika keraguan itu terus membisikkan, “Mungkin pilihan yang lain lebih baik”? Bukankah para filsuf sufi juga meragukan dunia lahir? Al-Ghazali meragukan indra dan akal murni hingga ia jatuh dalam skeptisisme, lalu diselamatkan oleh cahaya ilahi. Apakah keraguan itu akhirnya membawanya pada ketidaktegasan, atau justru pada kepastian yang lebih tinggi?

Ade Indra Chaniago: Al-Ghazali justru menemukan bahwa keraguan metodis adalah tangga menuju yaqin. Dalam al-Munqidz min al-Dhalal, ia mengatakan, “Saya mulai meragukan pancaindra, lalu akal, sampai Allah menanamkan cahaya dalam dadaku.” Jadi keraguan bukanlah akhir, melainkan penyucian. Tapi tantangan kita hari ini: bagaimana mewujudkan “kemenangan ranah kebebasan” di dunia yang serba terbatas? De Beauvoir mengingatkan bahwa situasi tempat lahir, gender, sejarah membentuk kemungkinan kita. Itu menciptakan empati. Namun sekaligus, kita harus mengakui bahwa kebebasan orang lain tidak boleh dibatasi. Di sinilah Islam dan sufisme punya suara.

Indra Darmawan: Coba jelaskan, Uda. Saya ingin mendengar bagaimana Mansyur al-Hallaj dengan anal-haq-nya, atau Ibnu Farid dengan hamriyah-nya (syair arak ilahi), serta Jalaluddin Rumi yang menari dalam kepasrahan apakah mereka berbicara tentang kebebasan yang sama dengan De Beauvoir?

Ade Indra Chaniago: (menyandarkan tubuh, mata menerawang) Hallaj dibunuh karena ia berteriak, “Akulah Yang Benar.” Itu bukan kesombongan, tapi peleburan diri dalam kebebasan absolut Tuhan. Namun di dunia, kebebasan itu harus diwujudkan dengan syahadat kesaksian. Hallaj mengajarkan bahwa ketika seorang hamba telah fana, maka yang bertindak adalah kebenaran. Tapi di ranah sosial, kita tidak bisa memaksakan pengalaman fana itu. Justru di situlah letak tugas: membebaskan diri dari tirani nafsu dan tirani sosial, tapi dengan tetap menjaga shari’ah sebagai pagar.

Ibnu Farid dalam Nazhm al-Suluk mengatakan bahwa kebebasan sejati adalah ketika kehendak individu larut dalam kehendak Kekasih. Seperti sebutir tetes yang melebur ke samudra. Tapi samudra itu tidak membatasi tetes; ia justru memberikan ruang gerak tak terbatas. Di sinilah paradoks: kebebasan tertinggi justru dalam kepatuhan total pada Tuhan. De Beauvoir mungkin tidak setuju, karena ia adalah ateis eksistensialis. Tapi bagi kita Muslim, kebebasan tanpa tauhid hanya akan melahirkan kesewenang-wenangan.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : "Mentalitas Do-It-Yourself, Berpikirlah Seperti Pemberontak"

Indra Darmawan: Tapi jangan lupa, De Beauvoir juga menekankan bahwa kebebasan saya harus menjamin kebebasan orang lain. Bukankah itu mirip dengan prinsip la dharara wa la dhirar (tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain) dalam hadis? Hanya saja, De Beauvoir tidak punya jaminan transenden. Ia hanya mengandalkan itikad baik dan tanggung jawab personal. Sementara sufi seperti Rumi bilang, “Kita adalah dari langit, dan ke langit kita kembali.” Maka kebebasan adalah perjalanan pulang. Tapi perjalanan pulang itu terjadi di dunia yang penuh dengan tembok dan jeruji. Bagaimana mewujudkannya?

Ade Indra Chaniago: Rumi dalam Fihi Ma Fihi berkisah tentang seorang pengembara yang ditanya, “Mau ke mana?” Jawabnya, “Aku bebas.” Penanya heran, “Bukankah kau terikat oleh jalan yang kau tempuh?” Pengembara itu tertawa, “Jalan itu aku yang memilih.” Nah, di sinilah tantangan: memilih di antara kemungkinan yang terbatas. Sebagai orang Palembang, kita tahu betapa adat dan keluarga kadang membelenggu. Tapi justru dalam belenggu itulah kebebasan diuji. Saya teringat Syekh Abdus Samad al-Palimbani ulama besar dari abad ke-18. Ia mengajarkan tarekat tetapi juga menulis kitab fikih. Ia tidak lari dari dunia. Ia justru mengatur dunia dengan syariat agar kebebasan tidak liar. Baginya, kebebasan adalah kemampuan untuk mengatakan “Laa ilaaha illallah” meniadakan segala tuhan palsu, termasuk nafsu dan kepentingan pribadi.

Indra Darmawan: Jadi kemenangan ranah kebebasan bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan kebebasan yang terikat pada nilai-nilai transenden. Tapi di era sekarang, banyak orang mengartikan kebebasan sebagai libertinage bebas seks, bebas konsumsi, bebas tanpa tanggung jawab. Di sinilah kita sebagai filsuf merasa prihatin. Saya setuju dengan De Beauvoir bahwa itikad buruk (mauvaise foi) adalah ketika seseorang berpura-pura tidak punya pilihan. Tapi bukankah banyak orang juga berlindung di balik “tuntutan zaman” untuk menghindari tanggung jawab?

Ade Indra Chaniago: (menghela napas) Itulah sisi gelap dari “kebebasan palsu”. Para sufi seperti Ibnu Atha’illah as-Sakandari dalam al-Hikam mengatakan: “Janganlah engkau keluar dari ujian, sebab yang menimpamu adalah Dia yang tahu caranya mengujimu.” Artinya, kebebasan sejati adalah ketika engkau tidak lagi merasa terjebak dalam situasi, karena situasi itu sendiri adalah medan pertemuan dengan Tuhan. Saya ingin membawa suara dari Aceh: Hamzah Fansuri (abad ke-16) menulis syair:

Wujud Allah wujud al-haq,
Wujud al-khalq wujud al-bathil,
Barang siapa mengenal wujud,
Tiada ia lagi kata dan khabar.

Hamzah Fansuri, sufi dari Barus, mengajarkan wujudiyyah—kesatuan wujud. Dalam pandangan ini, kebebasan bukanlah “bebas dari”, melainkan “bebas untuk menjadi cerminan Yang Satu”. Tapi tantangannya: ajaran ini sering dituduh panteisme, dan para pengikutnya kadang lupa bahwa di dunia kita tetap punya tanggung jawab sosial. Lihatlah Syekh Nuruddin ar-Raniri yang mengkritik Hamzah, lalu terjadi perdebatan sengit di Kesultanan Aceh. Itu menunjukkan bahwa mewujudkan kebebasan di ranah publik tidak pernah mudah. Ada politik, ada kekuasaan.

Indra Darmawan: Dari Sumatera Barat, saya ingat Syekh Muhammad Jamil Jaho (Buya Hamka dalam generasi sebelumnya? Sebenarnya Buya Hamka dari Minangkabau juga seorang sufi modern). Hamka dalam Tasawuf Modern menekankan bahwa kebebasan spiritual tidak boleh menjadikan seseorang malas bekerja. “Janganlah kau kira bahwa zuhud itu berarti tidak memiliki apa-apa. Zuhud adalah memiliki dunia tapi hati tidak terikat.” Itu mirip dengan gagasan De Beauvoir tentang engagement keterlibatan. Kita harus turun ke arena, memilih, bertindak, meskipun penuh risiko. Hamka juga mengutip Al-Ghazali bahwa kebebasan sejati adalah al-hurriyah yaitu bebas dari hawa nafsu. Siapa yang dikuasai nafsu, ia adalah budak.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : Nafsu Berkuasa dan Cinta yang Terlupakan

Ade Indra Chaniago: Tepat. Dan dari Jawa, kita punya Raden Ajeng Kartini yang meski bukan sufi dalam tarekat, tetapi semangatnya membebaskan perempuan dari belenggu adat adalah bentuk perjuangan kebebasan yang autentik. Kartini membaca De Beauvoir? Tidak, karena De Beauvoir lahir 1908, sementara Kartini wafat 1904. Tapi semangatnya sama: “Kita harus menuntut kebebasan, tetapi kebebasan itu bukan untuk bersenang-senang, melainkan untuk berkarya.” Bahkan Ki Ageng Suryomentaram dari Yogyakarta mengajarkan kawruh jiwa ilmu tentang rasa. Ia bilang bahwa kebebasan adalah ketika seseorang mampu maringkis (menahan) diri dari keinginan yang berlebihan. Bukan mati rasa, tapi justru peka.

Indra Darmawan: Saya mulai melihat benang merahnya. Baik De Beauvoir maupun para sufi, keduanya mengakui bahwa manusia dipaksakan untuk bebas. Bedanya, De Beauvoir berhenti pada tanggung jawab imanen, sementara sufi melompat ke tanggung jawab transenden. Tapi pertanyaan praktis saya tetap: Sebagai seorang peragu seorang filsuf yang selalu melihat tandingan argumen bagaimana saya memilih A atau B? Misalnya, saya harus memutuskan apakah akan menikah atau tidak, apakah akan menjadi aktivis atau akademisi, apakah akan membela suatu kebijakan kontroversial. Keraguan terus menghantui.

Ade Indra Chaniago: Saya akan menjawab dengan cerita tentang Syekh Yusuf al-Makassari (tokoh dari Sulawesi Selatan, namun pernah mengajar di Aceh dan Banten). Ia dipenjara oleh VOC di Sri Lanka dan kemudian diasingkan ke Afrika Selatan. Dalam penjara, ia menulis karya tentang tarekat Khalwatiyyah. Suatu hari muridnya bertanya, “Syekh, bagaimana engkau bisa tetap tegar dalam penjara? Bukankah kebebasanmu hilang?” Syekh Yusuf menjawab, “Penjara ini hanya membatasi jasadku. Tapi jiwaku bebas. Bahkan, di sini aku lebih bebas karena tidak perlu meladeni kepentingan dunia.” Lalu ia melanjutkan, “Tetapi jangan kau kira aku pasrah. Aku tetap mengatur perjuangan dari balik jeruji. Aku mengirim surat, mendidik murid, bahkan mempengaruhi politik.”

Maksudnya, Adinda: Keraguanmu yang terus-menerus itu jangan dibiarkan melumpuhkan. Justru jadikan ia sebagai tahqiq verifikasi berulang. Al-Ghazali menghabiskan bertahun-tahun dalam keraguan sebelum mencapai kepastian. Tapi ia tidak berhenti di keraguan. Ia mengambil lompatan iman (watsbat al-iman). Bagi De Beauvoir, lompatan itu adalah komitmen. Bagi sufi, lompatan itu adalah tawakkal. Perbedaannya: De Beauvoir tidak bisa menjamin bahwa pilihanmu benar secara universal; yang ada hanya itikad baik. Sufi meyakini bahwa jika pilihanmu didasarkan pada niat yang tulus dan istikhara, maka Allah akan menunjukkan jalan.

Indra Darmawan: Jadi keraguan itu bukan musuh ketegasan, melainkan bahan bakarnya? Saya merenungkan kata-kata Simone de Beauvoir dalam The Ethics of Ambiguity: “Kebebasan hanya bisa berhasil mencapai dirinya sendiri jika ia berusaha membuka masa depan yang tak terbatas.” Itu membutuhkan ketegasan. Tapi ketegasan yang tidak buta. Saya teringat juga Ibnu ‘Arabi dari Andalusia, yang oleh sebagian dianggap sufi besar. Dalam Fushush al-Hikam, ia mengatakan bahwa setiap manusia memiliki ‘ayn tsabitah (esensi permanen) di sisi Tuhan. Namun esensi itu tidak menentukan pilihan kita secara mekanis. Kita tetap harus takhalli (mengosongkan diri) dan tahalli (menghiasi diri) sebelum tajalli (tersingkapnya kebenaran). Proses itu penuh dengan keraguan dan ujian.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : Apa yang Diinginkan Masyarakat?

Ade Indra Chaniago: Betul. Dan dari Sumatera Selatan sendiri, ada Kiai Haji Abdurrahman Siddiq (tokoh dari Indralaya, ulama dan pejuang). Beliau pernah mengatakan, “Kebebasan itu ibarat air di sungai. Ia mengalir sesuai dasar sungai. Dasar sungainya adalah syariat. Tapi airnya tetap hidup, bergerak, tidak diam.” Beliau juga terlibat dalam politik praktis di masa revolusi, tapi tidak pernah kehilangan pijakan spiritual. Itulah contoh bagaimana seseorang bisa tegas tanpa menjadi kaku.

Indra Darmawan: Jadi, setelah berjam-jam berfilsafat di sini, saya mulai memahami bahwa tugas manusia untuk mewujudkan “kemenangan ranah kebebasan” bukanlah menghilangkan semua batasan, melainkan menyadari batasan mana yang merupakan takdir (seperti tempat lahir, gender, sejarah) dan mana yang merupakan tirani buatan manusia yang harus dilawan. De Beauvoir mengajarkan empati pada situasi, tapi juga keberanian untuk melampaui. Para sufi mengajarkan bahwa melampaui itu tidak mungkin tanpa “cinta” cinta pada Yang Mahabebas. Jalaluddin Rumi berkata, “Kebebasan adalah ketika engkau tidak lagi diperbudak oleh apa pun, termasuk oleh keinginan untuk bebas.”

Ade Indra Chaniago: (tersenyum lebar) Nah, itu dia. Engkau sudah sampai pada ‘ain al-musykilah (inti persoalan). Kebebasan bukanlah produk, melainkan proses. Bukan kondisi yang dicapai sekali untuk selamanya, melainkan perjuangan setiap napas. Sebagai seorang peragu yang juga pencinta filsafat, engkau memiliki kelebihan: tidak mudah terjebak pada ideologi tunggal. Tapi tantangannya: jangan biarkan keraguan berubah menjadi wahn kelemahan mental. Ambillah teladan dari Syekh Muhammad Nafis al-Banjari (dari Kalimantan tapi akrab dengan Sumsel) yang menulis Durrat al-Nafis. Ia mengajarkan tarekat Syattariyyah dengan penekanan pada zikir dan tafakkur. Tafakkur itu meragukan, mengkaji, mencari bukti. Tapi setelah tafakkur, datanglah zikir penegasan. Zikir adalah antidote bagi keraguan yang melumpuhkan.

Indra Darmawan: Jadi formula sederhananya: Ragu secara metodis, tapi tegas secara eksistensial. Dan ketegasan itu bukan karena kita 100% yakin, melainkan karena kita menyadari bahwa tidak memilih juga adalah pilihan dan seringkali pilihan yang paling tidak bertanggung jawab. De Beauvoir benar: Kita hidup dalam ambiguitas. Dan justru di dalam ambiguitas itulah kebebasan menemukan mahkotanya. Saya ingin mengakhiri dengan sebuah syair dari Hamzah Fansuri yang kau sebut tadi, yang telah saya hafal:

Barang siapa kenal dirinya,
Tahu ia akan Tuhannya,
Barang siapa tahu Tuhannya,
Binasalah dirinya.
Binasanya diri itu,
Hidupnya diri yang sejati,
Yang tiada mati selama-lamanya.

Itulah kemenangan ranah kebebasan: binasa dari keterikatan palsu, hidup dalam kebenaran abadi. Namun di dunia yang fana ini, kita harus tetap berkarya, memilih, dan bertanggung jawab. Seperti kata Rumi, “Engkau memiliki kaki. Maka berjalanlah. Jangan mengeluh tentang jalan yang berbatu.”

Ade Indra Chaniago: (mengangkat cangkir kopi) Untuk kebebasan yang tidak pernah selesai. Untuk keraguan yang melahirkan ketegasan. Dan untuk Palembang, yang mengajarkan kita bahwa di setiap seruan adzan, ada ajakan untuk merdeka dari segala sesuatu selain Allah.

Indra Darmawan: (menyentuh cangkir) Saya minum. Lalu besok pagi, saya akan memilih dengan segala keraguan yang tersisa.

(Mereka terdiam, menikmati kopi yang sudah dingin, sementara lampu-lampu kota Palembang mulai menyala satu per satu.)

 

Senin, 06 April 2026

Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan