JARI: Jangan Cari Tuhan di Luar Dirimu
Rumah panggung kayu ulin tua milik almarhum kakek Andi Wijaya, tepat di tepi Sungai Musi, kawasan 32 Ilir, IB II Palembang. Rumah ini berusia lebih dari satu abad, lantainya sedikit miring mengikuti arus sungai yang tak pernah berhenti mengikis tanah. Meja panjang dari papan jati tua sudah ditata: sepiring lakso khas Palembang (mie sagu dengan kuah santan kuning), cangkir-cangkir kopi tubruk yang masih mengepul, dan 5 bungkus rokok kretek. Di luar, suara jangkrik dan kodok bersahutan. Sesekali kapal tongkang melintas, suaranya bergemuruh pelan. Udara malam terasa sejuk, bercampur aroma sungai dan tanah basah.
Usai salat Isya, lima orang duduk bersila di atas tikar pandan. Mereka baru saja membaca sebuah artikel panjang tentang Masao Abe, filsuf terkenal dari Sekolah Kyoto Jepang, yang mengajarkan tentang “diri tanpa esensi” dan “ketiadaan absolut”.
Andi Wijaya: Alhamdulillah, kita sudah Isya. Silakan ambil lakso, Dulur-dulur. Ini buatan istri saya, kuahnya kental, rasanya gurih. Kakek saya dulu sering bilang, “Makanan enak harus ditemani diskusi yang dalam.”
Juliansyah: Terima kasih, Kak Andi. Bagaimana kalau malam ini kita bahas Masao Abe, tokoh Sekolah Kyoto Jepang. Ini sangat menarik, dan juga berat “kita semua adalah makhluk tanpa esensi”. Ia menyebutnya sunyata kekosongan, ketiadaan absolut.
Ferry Lesmana: Saya sudah baca sekilas. Abe membahasakan “diri” sebagai sesuatu yang tidak memiliki bentuk (formless self). Ia menolak gagasan bahwa diri memiliki inti permanen. Mirip dengan anatta dalam Buddhisme, tapi ia juga membandingkannya dengan filsafat Barat – dari Fichte, Husserl, Heidegger, hingga Derrida.
Indra Darmawan: Saya kenal baik dengan pemikiran Sekolah Kyoto. Pendirinya adalah Kitaro Nishida (1870–1945). Ia mencoba memadukan Buddhisme Zen dengan filsafat Barat, terutama Fichte dan Hegel. Konsep utamanya adalah zettai mu – “ketiadaan absolut”. Bagi Nishida, “aku” (self) bukanlah substansi, bukan objek. Ia adalah “tempat” (basho) yang memungkinkan segala sesuatu muncul. Ia mendahului pemikiran dan kesadaran. Ketika Anda mencoba mendefinisikannya, Anda sudah kehilangan dia.
Ade Indra Chaniago: Dan Masao Abe (1915–2006) adalah murid dari murid Nishida – tepatnya murid Shin-ichi Hisamatsu. Abe-lah yang memperkenalkan Zen ke Barat melalui bukunya Zen and Western Thought (1985). Ia mengajar di Chicago, Harvard, Princeton, bahkan sempat menjadi profesor tamu di Leiden pada musim dingin 1993–1994. Ia bilang, “Dunia sedang menjadi desa global. Karena itu kita harus terlibat dalam dialog.” Dialog antara Timur dan Barat, antara Buddhisme dan Kekristenan – dan saya tambah, antara Zen dan Tasawuf Islam.
Andi Wijaya (mengangguk sambil menyeduh ulang kopi): Nah, ini yang saya tunggu. Kita sering mendengar bahwa sufi Islam juga mengajarkan fana’ – peleburan diri, dan baqa’ – kekekalan dalam Tuhan. Apakah itu sama dengan “ketiadaan absolut” ala Zen?
Ferry memotong lakso ke piring kecil. Juliansyah menyesap kopi hitam. Rokok dinyalakan.
Indra Darmawan (membuka catatan): Mari kita pahami dulu ajaran Masao Abe dengan tepat. Dalam artikel tersebut, Abe menceritakan pengalamannya di Kuil Myoshin-ji, Kyoto. Di sana, ia memukul papan kayu tiga kali, lalu pintu geser kertas tipis terbuka dengan suara ‘ding-dong’ elektronik. Seorang biksu muda menunduk, hanya melihat sepatu, lalu ketika tahu itu Abe, ia langsung sujud. Adegan feodal yang kontras dengan modernitas.
Juliansyah (mencatat): Itu simbol Jepang: tradisi dan modernitas berjalan beriringan. Abe sendiri mengenakan kimono, istrinya rok pensil dan tas Dior.
Ade Indra Chaniago (tersenyum): Ya. Tapi inti ajarannya: diri tidak memiliki bentuk. Kitaro Nishida, sang pendiri, berlatih Zen sangat intensif, tetapi juga membaca Aristoteles hingga Heidegger. Ia tidak ingin membuat gerakan Timur baru atau filsafat Barat baru. Ia ingin filsafat dunia yang mencakup tradisi spiritual Timur dan Barat. Ia berkata: “Kita harus memandang tetangga dari perspektif kemanusiaan: kita semua adalah makhluk tanpa esensi.”
Ferry Lesmana (mengerutkan dahi): “Tanpa esensi” – ini sangat kontras dengan pandangan agama-agama Abrahamik yang meyakini bahwa manusia memiliki jiwa atau ruh yang kekal, yang merupakan esensi diri.
Indra Darmawan (mengangguk): Memang. Buddhisme Zen mengajarkan anatta – tanpa-diri. Gautama Buddha menjawab pertanyaan “Apakah diri itu?” dengan keheningan. Karena diri adalah sumber keberadaan yang sangat dalam, tidak bisa diobjektifikasi dari luar. Abe mengatakan: “Anda tidak dapat melihat diri Anda sendiri, Anda adalah diri Anda sendiri.” Ia memberi contoh mitos Yanadata: seorang pemuda yang kehilangan bayangan kepalanya di cermin, lalu panik mencari, padahal kepalanya ada di lehernya sendiri. Moralnya: Anda tidak bisa memiliki gambaran objektif tentang diri Anda.
Andi Wijaya (terkejut): Jadi, ketika kita bilang “saya Andi”, itu hanya label dari luar? Dari dalam, saya hanya “ada”? I am. Period.
Ade Indra Chaniago (menunjuk dengan sendok): Tepat! Abe membedakan antara diri dari luar (objek) dan diri dari dalam (subjek yang mengalami). Dari dalam, Anda tidak menemukan “Andi” yang memiliki sifat-sifat tertentu. Anda hanya menemukan keberadaan murni – tanpa bentuk, tanpa warna, tanpa kualifikasi. Ini yang disebut sunyata – kekosongan. Bukan berarti nihilisme, tapi kekosongan dari segala konstruksi, gagasan, dan identitas tetap.
Lampu rumah-rumah tetangga sudah banyak yang redup. Asbak mulai penuh. Ferry memesan pisang goreng.
Juliansyah (meletakkan pulpen): Sekarang, tolong jelaskan bagaimana konsep ini – “diri tanpa esensi” dan “ketiadaan absolut” – muncul dalam tasawuf Islam. Kita punya banyak tokoh sufi agung.
Ade Indra Chaniago (berdiri sebentar, meregangkan punggung, lalu duduk kembali):
Baik. Saya mulai dari Rabi’ah al-Adawiyah (713–801 M), seorang sufi perempuan dari Basra. Beliau mengajarkan cinta murni kepada Allah tanpa pamrih, tanpa takut neraka atau mengharap surga. Suatu malam, orang melihatnya berjalan membawa obor dan ember. Ditanya, “Mau ke mana?” Ia menjawab, “Aku mau membakar surga dengan obor ini, dan memadamkan api neraka dengan air ini, agar manusia menyembah Allah bukan karena takut atau ingin, tetapi karena cinta sejati.” Ini adalah peleburan ego – tidak ada “diri” yang mengharap imbalan. Hanya cinta.
Ferry Lesmana (mengangguk): Itu mirip dengan konsep Zen tentang “membunuh Buddha” jika Anda menemukannya. Abe berkata: “Apakah Anda telah menemukan Buddha? Bunuh dia! Anda tidak bisa memahami apa yang Buddha ajarkan dengan mengikutinya. Yang ilahi bersemayam di dalam diri Anda.” Artinya, jangan jadikan tokoh eksternal sebagai objek penyembahan.
Indra Darmawan (menambahkan): Lalu Hasan al-Basri (642–728 M), guru bagi banyak sufi awal. Ia mengajarkan zuhud – tidak terikat pada dunia. Tapi zuhudnya bukan berarti meninggalkan dunia, melainkan mengosongkan hati dari selain Allah. Beliau berkata: “Dunia adalah jembatan, lewati, jangan bangun istana di atasnya.” Ini serupa dengan sunyata: jangan membangun “diri” yang melekat pada harta, status, atau identitas.
Juliansyah (mencatat cepat): Lalu Abu Yazid al-Busthami (804–874 M), salah satu sufi yang terkenal dengan syathahat (perkataan ekstatik). Ia berkata, “Subhanaka, ma a’zhama sya’ni” (Mahasuci Engkau, betapa agungnya diriku) – yang dianggap kontroversial karena seolah-olah menyamakan diri dengan Tuhan.
Ade Indra Chaniago (tersenyum): Abu Yazid mencapai puncak fana’ – peleburan diri dalam Tuhan. Dalam kondisi itu, ia tidak lagi membedakan antara dirinya dan Tuhan. Ia berkata, “Aku keluar dari ‘aku’-ku seperti ular keluar dari kulitnya.” Ia juga berkata, “Aku melihat Tuhan dalam mimpiku, lalu aku bertanya, ‘Bagaimana jalan menuju-Mu?’ Tuhan menjawab, ‘Tinggalkan dirimu, lalu datanglah!’” Ini sangat dekat dengan Zen: lepaskan semua konstruksi diri, maka Anda akan “ada” dalam ketiadaan absolut.
Ferry Lesmana (mengerutkan dahi): Tapi bukankah ini mirip dengan panteisme – bahwa diri adalah Tuhan? Padahal Islam tegas dengan tauhid (keesaan Tuhan), bahwa Tuhan transenden, tidak sama dengan makhluk.
Indra Darmawan (menjelaskan): Para sufi membedakan antara wahdat al-wujud (kesatuan wujud) yang diajarkan Ibnu Arabi, dan panteisme yang menyamakan Tuhan dengan alam. Ibnu Arabi mengatakan bahwa wujud hanya satu, yaitu wujud Tuhan. Wujud makhluk adalah tajalli (manifestasi) atau refleksi, bukan wujud yang terpisah. Dalam istilah Zen, ini bisa dianalogikan dengan sunyata – semua fenomena kosong dari esensi intrinsik, tetapi justru dalam kekosongan itu segala sesuatu muncul. Abe bilang: “Segala sesuatu yang disajikan dari luar – dikotomi, kata-kata, ide, kebiasaan – tidak lebih dari konstruksi pikiran Anda. Ketika Anda paham itu, Anda dapat sekadar ada, di sini dan sekarang.”
Pisang goreng habis. Andi membawakan tambahan lakso hangat.
Juliansyah: Kita belum bicara Manshur al-Hallaj (858–922 M). Ia dihukum mati karena mengucapkan “Ana al-Haqq” (Akulah Kebenaran). Apakah itu bentuk fana’ yang ekstrem Uda Ade?
Ade Indra Chaniago (menghela napas): Al-Hallaj mencapai puncak fana’ sehingga ia tidak lagi merasakan dualitas antara dirinya dan Tuhan. Dalam kondisi itu, lidahnya berbicara atas nama Yang Haqq. Ia berkata: “Aku adalah Yang Kukasihi, dan Yang Kukasihi adalah aku. Kami dua jiwa yang bersemayam dalam satu tubuh.” Para fuqaha (ahli hukum) menganggapnya kufur karena mengklaim ketuhanan. Sebenarnya ia sedang dalam pengalaman spiritual yang tidak bisa diungkapkan dengan bahasa biasa. Abe dalam Zen akan mengatakan: jangan terpaku pada kata-kata. Ketika seorang biksu Zen berkata, “Jika engkau bertemu Buddha di jalan, bunuh dia!” itu bukan berarti membunuh secara fisik, tapi membebaskan diri dari keterikatan pada simbol.
Ferry Lesmana (mengangguk): Lalu Syeikh Junaidi al-Baghdadi (830–910 M). Ia dikenal sebagai “Sultan Para Sufi” karena berhasil menyelaraskan antara syariat dan hakikat. Ia lebih hati-hati daripada al-Hallaj, meskipun ia juga mencapai fana’.
Indra Darmawan (mengusap wajah): Junaidi adalah paman dan guru dari al-Hallaj. Ia mengajarkan al-fana’ sebagai “lenyapnya sifat-sifat tercela dan hadirnya sifat-sifat terpuji”. Tapi ia sangat menekankan baqa’ – tetap eksis dalam kesadaran akan Tuhan setelah fana’. Ia berkata: “Air samudra tetap air, meskipun ia mengambil warna dari bejana.” Artinya, wujud sejati adalah wujud Tuhan, tetapi dalam kehidupan dunia, kita tetap berinteraksi dengan realitas sosial. Ini mirip dengan Abe yang setelah mengalami sunyata (ketiadaan absolut) kembali ke dunia sebagai “Abe, profesor berkimono”. “Itu adalah hal kedua,” kata Abe.
Juliansyah (mencatat): Sekarang Jalaluddin Rumi (1207–1273). Beliau lebih puitis, tapi sangat dalam.
Ade Indra Chaniago (tersenyum): Rumi mengalami fana’ melalui cinta. Ia berkata: “Cinta adalah jembatan antara kita dan realitas sejati.” Dalam Masnavi, ia bercerita tentang seruling yang meratap karena terpisah dari rumpun bambunya – itu simbol jiwa yang terpisah dari Tuhan. Rumi juga mengatakan: “Matilah sebelum engkau mati!” Artinya, lepaskan ego, matikan keinginan-keinginan duniawi, maka engkau akan hidup sejati. Ini paralel dengan Zen: “Hanya duduk dan mengosongkan diri” – zazen – untuk mengalami sunyata.
Ferry Lesmana (menambahkan): Lalu Ibnu Farid (1181–1234), penyair sufi Mesir. Dalam syairnya Nazhm al-Suluk (Syair Perjalanan Spiritual), ia menggambarkan perjalanan jiwa menuju penyatuan dengan Tuhan. Ia menulis: “Aku adalah diriku, tetapi aku bukan aku; Aku adalah Engkau dan Engkau adalah aku.” Apakah itu tidak sama dengan pernyataan Abe bahwa dari dalam, kita hanya “ada” tanpa identitas?
Indra Darmawan (mengangguk): Persis. Perbedaannya, dalam tasawuf, “aku” yang fana’ kemudian baqa’ dalam Tuhan – tetap ada sebagai hamba yang sadar akan kebesaran-Nya. Dalam Zen, tidak ada konsep Tuhan personal. Namun pengalaman spiritualnya – pelepasan ego, identifikasi dengan “ketiadaan absolut” – sangat mirip.
Ferry memesan kopi lagi.
Juliansyah: Uda, kita belum mendengar tentang Ibnu Arabi (1165–1240). Beliau dijuluki “Syaikh al-Akbar” (Guru Besar). Ajarannya tentang wahdat al-wujud sering disamakan dengan panteisme, padahal tidak sederhana itu.
Ade Indra Chaniago (bersemangat): Ibnu Arabi mengajarkan bahwa wujud (wujud) hanyalah milik Allah. Wujud makhluk adalah wujud ‘aradi (aksidental), bukan hakiki. Dalam Fushush al-Hikam, ia menulis: “Hanya Allah yang benar-benar Ada; segala sesuatu selain-Nya adalah bayangan.” Tapi bayangan itu tidak terpisah dari yang membayangi. Dalam istilah Zen, semua fenomena adalah sunyata – kosong dari keberadaan intrinsik, namun manifestasi dari kekosongan itu sendiri. Ini sangat dekat dengan konsep pratitya-samutpada (saling ketergantungan) dalam Buddhisme.
Indra Darmawan (menambahkan): Ibnu Arabi juga berbicara tentang “A’yan Tsabitah” (esensi-esensi abadi) yang ada dalam ilmu Tuhan. Itu semacam “bentuk-bentuk ideal” yang memungkinkan setiap makhluk muncul. Tapi esensi-esensi itu sendiri tidak memiliki eksistensi independen. Mereka bergantung pada Tuhan. Dalam Zen, tidak ada esensi semacam itu – yang ada hanya kekosongan. Tapi perbedaannya: Ibnu Arabi tetap mengakui realitas Tuhan sebagai Wajib al-Wujud (Yang Wajib Ada). Zen tidak mengakui Tuhan personal. Namun secara pengalaman spiritual, keduanya sampai pada titik di mana dikotomi subjek-objek lenyap.
Andi Wijaya (menghela napas): Jadi, apakah seorang sufi yang telah mencapai fana’ bisa dikatakan “tidak memiliki esensi” seperti Abe, Uda?
Ade Indra Chaniago (mengangguk): Dari sudut pandang fana’, ya. Ketika seorang sufi tenggelam dalam lautan tauhid, ia tidak lagi merasakan “aku” yang terpisah. Semua label – suku, agama, profesi, bahkan nama – lenyap. Yang tersisa hanyalah “ada” murni. Tapi setelah baqa’, ia kembali sadar bahwa “ada” itu adalah anugerah Tuhan, bukan dirinya sendiri. Dalam Zen, tidak ada Tuhan yang memberi anugerah. Maka perbedaannya terletak pada interpretasi teologis pasca-pengalaman, bukan pada pengalaman itu sendiri.
Lakso hampir habis. Kopi diseduh ulang. Asbak diganti. Suara jangkrik makin keras.
Ferry Lesmana: Kita juga punya sufi besar di Nusantara. Saya sebut Hamzah Fansuri (wafat sekitar 1590) dari Aceh. Ia menulis syair-syair syathahat seperti:
“Aku ini Tuhan, Allah pun aku
Bukan lain daripada yang esa
Aku ini Adam, Syits pun aku
Bukan lain daripada yang nyata.”
Juliansyah (terkejut): Itu sangat kontroversial! Mirip dengan al-Hallaj. Apakah dia dikafirkan?
Indra Darmawan (mengangguk): Hamzah Fansuri dipengaruhi oleh Ibnu Arabi. Ia mengajarkan wahdat al-wujud bahwa wujud sejati hanya satu, yaitu Tuhan. Perbedaan antara Tuhan dan makhluk adalah ilusi. Muridnya, Syamsuddin al-Sumaterani (wafat 1630), lebih sistematis. Sayangnya, kemudian datang Nuruddin ar-Raniri dari Gujarat yang menuduh mereka sesat. Ar-Raniri membakar buku-buku Hamzah Fansuri. Polemik ini pecah di Kesultanan Aceh. Akhirnya paham Hamzah Fansuri ditinggalkan, diganti dengan paham wahdat al-syuhud (kesatuan kesaksian) yang lebih moderat.
Ade Indra Chaniago (mengangguk): Ya. Dan jangan lupa Syekh Siti Jenar (1426–1517). Ia menyebarkan Islam di Jawa dengan pendekatan sufistik yang akomodatif terhadap budaya lokal. Manunggaling kawula Gusti – penyatuan hamba dengan Tuhan. Ini sangat mirip dengan Zen yang mengajarkan bahwa ilahi bersemayam di dalam diri.
Ferry Lesmana (mencatat): Jadi, dari Hamzah Fansuri hingga Syekh Siti Jenar, kita melihat tradisi sufistik Nusantara yang sangat kaya. Sayangnya, hari ini banyak yang menganggapnya sesat.
Indra Darmawan (menghela napas): Itu karena keberagamaan yang cenderung literal dan anti-tasawuf. Padahal, tasawuf adalah jantung Islam. Tanpa tasawuf, Islam hanya kulit. Seperti yang dikatakan Imam al-Ghazali: “Tasawuf adalah membersihkan hati dari selain Allah.” Dan membersihkan hati berarti mengosongkan diri dari ego – persis seperti zazen dalam Zen.
Juliansyah: Abe juga membandingkan Zen dengan filsafat Barat – Husserl, Heidegger, Derrida. Apa relevansinya dengan sufi?
Ade Indra Chaniago (bersemangat): Husserl mengajarkan fenomenologi: “kembali ke benda-benda itu sendiri” dengan mengesampingkan prasangka (epoché). Ini mirip dengan zazen: mengosongkan pikiran dari konsepsi-konsepsi yang sudah terbentuk, untuk mengalami realitas secara langsung. Para sufi juga melakukan tazkiyatun nafs – penyucian jiwa – untuk dapat menyaksikan (musyahadah) Tuhan tanpa hijab.
Indra Darmawan (menambahkan): Heidegger dengan konsep Dasein (“ada di sana”) dan Sein-zum-Tode (ada menuju kematian). Abe mengkritik Heidegger karena masih mendefinisikan manusia sebagai makhluk dengan ketakutan mendasar akan kematian. Abe berkata: “Sejak saya tua, orang bilang saya hidup dua puluh persen dan sekarat delapan puluh persen. Saya bilang: saya hidup seratus persen dan sekarat seratus persen pada saat bersamaan.” Perbedaan hidup-mati adalah konstruksi objektivasi. Dari dalam, Anda hanya “ada”. Para sufi juga mengajarkan “matilah sebelum engkau mati” – lepaskan ego sekarang, maka kematian jasmani bukan lagi ketakutan.
Ferry Lesmana (menyela): Lalu Derrida dengan dekonstruksinya. Ia membongkar dikotomi biner (subjek-objek, ada-tiada, hidup-mati). Apakah itu mirip dengan Zen?
Ade Indra Chaniago (tertawa kecil): Derrida sangat dipengaruhi oleh Nietzsche dan Heidegger, dan juga membaca Zen. Konsep différance – bahwa makna tidak pernah stabil, selalu tertunda – memiliki kemiripan dengan sunyata: semua konstruksi adalah kosong. Tapi Derrida tidak menawarkan jalan spiritual. Ia hanya analisis teks. Zen dan tasawuf menawarkan praktik transformatif – zazen atau dzikir – untuk mengalami langsung ketiadaan absolut, tidak hanya memikirkannya.
Andi Wijaya (mengangguk): Jadi, filsafat Barat kering karena hanya di kepala. Zen dan tasawuf melibatkan hati dan raga.
Ferry Lesmana (menatap Ade): Apa pesan terakhir dari Masao Abe untuk kita?
Ade Indra Chaniago (berdiri dari kursi, berjalan ke jendela yang menghadap sungai. Suaranya lirih tapi tegas): Abe berkata: “Jangan pernah mencari Buddha di luar diri Anda. Yang ilahi bersemayam di dalam diri Anda. Bunuh Buddha jika engkau menemukannya.” Dalam Islam, ada hadis qudsi: “Aku adalah rahasia-Ku yang tidak diketahui. Aku menciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku.” Dan Nabi Muhammad bersabda: “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” – Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.
Maka pesan untuk kita: Jangan cari Tuhan hanya di langit atau di kitab suci sebagai teks mati. Cari Dia di kedalaman hati Anda, setelah Anda mengosongkan hati dari segala ego, identitas, dan prasangka. Itulah fana’. Itulah sunyata. Itulah zazen. Itulah Islam yang hakiki.
Indra Darmawan (menutup buku catatan): Saya tambahkan satu kisah. Seorang murid bertanya kepada Rabi’ah al-Adawiyah, “Wahai Rabi’ah, apakah engkau mencintai Allah?” Rabi’ah menjawab, “Ya.” Murid bertanya lagi, “Apakah engkau membenci setan?” Rabi’ah menjawab, “Cintaku kepada Allah tidak menyisakan ruang untuk membenci setan.” Artinya, ketika Anda telah tenggelam dalam cinta ilahi, dikotomi baik-buruk, diri-lain, musuh-teman – semua lenyap. Yang tersisa hanya cinta.
Juliansyah (menghela napas panjang): Malam ini saya belajar bahwa para sufi dan para biksu Zen sebenarnya sedang mendaki gunung yang sama dari lereng yang berbeda. Di puncak, mereka bertemu.
Andi Wijaya (tersenyum): Rumah kakek ini kembali menjadi saksi. Dulu banyak ulama dan sufi berkumpul di sini. Malam ini, semangat mereka hidup lagi.
Ferry Lesmana (berdiri, meluruskan kaki): Pukul dua belas lewat. Kita harus istirahat. Tapi sebelum itu, terima kasih untuk lakso, kopi, dan pencerahan. Saya akan bawa semangat “diri tanpa esensi” ini ke OKI. Mungkin kita akan kurang bertengkar soal identitas.
Ade Indra Chaniago (berbalik dari jendela, tersenyum): Itu harapan kita semua. Selamat malam, dan ingatlah: “Hanya berada, di sini dan sekarang.” Selebihnya, biarlah sungai Musi mengalir.
Mereka berlima berjalan ke luar rumah. Udara dingin menyapa. Sungai Musi tampak hitam legam, namun cahaya bulan memberi kilau perak di permukaannya. Lampu terakhir di rumah tua itu dimatikan.
Perjalanan pulang akan panjang, tapi perjalanan batin – menuju ketiadaan absolut – baru saja dimulai.
Palembang, 22 Mei 2026
Tadarus Spiritual
Jaringan Aliansi Rakyat Independen