JARI : Keadilan Tereleminasi untuk Berkuasa
“Ruangan sederhana beraroma kopi tubruk. Tiga sahabat lama duduk bersila di ruang tamu di rumah Ade Indra Chaniago di sebuah kawasan perumahan kecamatan Gandus Palembang. Di atas meja kayu jati, nampan berisi gelas-gelas kopi menemani obrolan yang sedari tadi asyik mereka tekuni.”
Ade Indra Chaniago: (sambil menutup buku tipis yang baru saja dibacanya) Nah, jadi soal “Keadilan Tereleminasi untuk Berkuasa” ini menarik sekali. Dalam filsafat politik, ranah kekuasaan itu luas. Bukan hanya soal parlemen, tapi juga relasi-relasi sosial yang kita jalani sehari-hari. Bahkan lembaga pendidikan pun politis. Karena di sanalah distribusi kekuasaan itu terjadi.
Sri Bintang Pamungkas: (tersenyum, menyesap kopinya pelan-pelan) Keadilan dan kekuasaan itu, Ade, seperti dua sisi mata uang. Kalian ingat Thrasymachus dalam Republic-nya Plato? Dia bilang keadilan itu tak lain adalah kepentingan yang lebih kuat. Siapa yang berkuasa, dialah yang menentukan apa itu adil. Tapi bagi saya, keadilan yang tereleminasi itu justru ketika yang lemah tidak lagi punya ruang untuk bersuara. Di zaman Soeharto dulu, saya merasakan sendiri bagaimana keadilan bisa dengan mudah tersingkirkan demi kekuasaan. Saya mendeklarasikan diri sebagai calon presiden tahun 1996. Soeharto murka. Saya dijebloskan ke penjara hanya karena berani bicara. Itu contoh nyata bagaimana keadilan bisa “tereleminsi” alias tersingkirkan begitu saja karena melawan arus kekuasaan.
Indra Darmawan: (menghela napas) Betul, Bang Bintang. Keadilan yang tereleminasi itu seperti udara yang terus-menerus dipaksa keluar dari sebuah ruangan. Di era tanpa oposisi sekarang ini, konflik bergeser ke media sosial. Orang-orang saling serang, beda pendapat langsung dianggap musuh. Saya sangat terpukau dengan pemikiran Chantal Mouffe, bahwa jika kita tidak belajar menciptakan ruang untuk konflik, demokrasi kita akan menjadi konsep yang tidak bermakna. Dan di situlah keadilan bisa hilang—karena tidak ada lagi ruang untuk perbedaan.
Sri Bintang Pamungkas: (mengangguk-angguk) Betul. Di jaman saya dulu, yang namanya keadilan itu harus diperjuangkan dengan risiko penjara. Saya dipenjara hanya karena bicara soal demokrasi dan kesejahteraan rakyat. Tapi lihat sekarang—korupsi merajalela, hukum tumpul ke bawah dan tajam ke atas. Bung Hatta dulu sudah mengingatkan: hukum harus didasarkan pada moral yang tinggi dan keadilan yang sejati. Undang-undang yang tidak bermoral akan kehilangan dukungan rakyat. Itu kata Bung Hatta. Sayangnya, hari-hari ini, nasihat itu seakan terlupakan.
Ade Indra Chaniago: (menyela, suaranya sedikit meninggi) Nah, bicara soal keadilan yang tersingkir di tingkat lokal, saya punya contoh nyata dari Sumatera Selatan. Baru-baru ini, saya menyoroti proyek revitalisasi SMP negeri di Banyuasin. Anggaran sudah cair seratus persen, tapi pekerjaan fisik di lapangan belum selesai. Itu artinya ada ketidaksesuaian yang sangat mencolok. Lalu ada pula kasus Kolam Retensi Simpang Bandara Palembang. Hasil audit BPKP sudah jelas—total loss—tapi penetapan tersangka molor terus. Ini gambaran nyata bagaimana keadilan bisa “tereleminsi” oleh birokrasi yang lamban dan sistem yang tak berpihak pada publik.
Indra Darmawan: (memotong, matanya tajam) Bukan hanya itu, Uda. Ada juga OTT dana desa di Lahat baru-baru ini. Para kepala desa diduga menyetorkan dana desa ke oknum penegak hukum demi “pengamanan” proyek. Dana desa yang seharusnya untuk pembangunan warga, malah disedot oleh segelintir orang. Ini adalah bentuk keadilan yang tereleminasi dalam skala paling mikro sekaligus paling menyakitkan. Rakyat kecil di desa-desa kehilangan hak mereka atas pembangunan, sementara para penguasa lokal bermain aman dengan setoran-setoran itu.
Sri Bintang Pamungkas: (mengepalkan tangan) Itulah gunanya kita punya tokoh nasional yang benar-benar menjunjung keadilan. Adnan Buyung Nasution sang Bapak Advokat Indonesia. Beliau mendirikan LBH pada 1970 di tengah rezim yang represif. Beliau berkata: “Sebagai kaum terdidik, kita semua merasa terpanggil untuk mendorong rakyat memiliki kesadaran hukum yang tinggi, sehingga hukum bisa menjadi budaya.” Itu pesan yang luar biasa. Keadilan tidak akan pernah tereleminasi jika rakyat sadar hukum dan para tokoh bangsa berani bersuara.
Ade Indra Chaniago: (mengangguk) Betul, Bang Bintang. Dan saya selalu ingat pesan Gus Dur—hukum jangan tajam ke bawah, tumpul ke atas. Gus Dur adalah simbol keberanian moral. Beliau tidak pernah takut berpihak pada yang lemah. Di Sumsel, kami mencoba meneruskan semangat itu: mendesak penegak hukum bertindak, menyuarakan ketimpangan di proyek-proyek publik, dan terus mengingatkan bahwa keadilan harus hadir untuk semua, tanpa pandang bulu.
Indra Darmawan: (mengusap keningnya) Jadi, kalau kita refleksikan, keadilan yang tereleminasi untuk berkuasa adalah kondisi ketika kekuasaan begitu absolutnya sehingga keadilan dikorbankan. Namun, ketika kita terus bersuara—seperti yang dilakukan Bang Bintang dulu, seperti yang dilakukan Bung Hatta, Buyung Nasution, dan Gus Dur—maka keadilan itu bisa kembali ditegakkan.
Sri Bintang Pamungkas: (meletakkan gelas kopinya, menatap kedua sahabatnya dengan mata berbinar, lalu berkata dengan suara yang teduh tapi tegas)
Saya ingin meluruskan satu hal, Ade, Indra. Saya ini seorang Muslim. Dan bagi saya, konsep keadilan yang selama ini saya perjuangkan—sampai rela masuk penjara—itu tidak lepas dari ajaran Islam. Justru ketika kekuasaan itu ‘mengeleminasi’ keadilan, kita harus ingat teladan dari pemimpin terbaik umat manusia, yaitu Nabi Muhammad ﷺ.
Rasulullah itu tegas banget dalam soal keadilan. Nabi tidak pernah pandang bulu. Beliau bersabda: “Sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti akan aku potong tangannya.” Coba bayangkan, putrinya sendiri, kalau bersalah, tetap dihukum. Itulah keadilan yang hakiki, yang tidak kenal relasi kekuasaan atau hubungan darah. Ketika saya bicara soal keadilan yang tereleminasi, di zaman sekarang ini justru sebaliknya: kalau keluarga pejabat atau anak penguasa yang korupsi, hukumnya bisa ‘dihilangkan’. Ini kontras seratus delapan puluh derajat dengan teladan Rasulullah.
Lalu lihat Umar bin Khattab. Beliau adalah ‘pintu’ setelah Rasulullah. Saya kagum pada pernyataan beliau yang tegas: “Adil itu tidak mengenal dispensasi bagi keluarga dekat ataupun yang jauh.” Bahkan, Umar pernah berkata pada gubernurnya: “Lurus, adil, jangan bengkok. Sebab kalau kamu bengkok, nanti aku yang akan luruskan dengan pedangku.” Nah, ini yang hilang dari kepemimpinan kita sekarang. Para pejabat begitu ‘bengkok’ karena korupsi, tetapi tidak ada figur pemimpin yang berani ‘meluruskan dengan pedang’—dalam arti, menindak tegas tanpa pandang bulu. Umar juga memulai kodifikasi hukum dan memisahkan kekuasaan kehakiman agar independen. Beliau paham bahwa kekuasaan tanpa kontrol akan membunuh keadilan. Di republik ini, kekuasaan kehakiman malah sering tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Itu kebalikan dari apa yang diajarkan Umar.
Untuk rakyat, Nabi punya hadis yang sangat gamblang. Beliau bersabda: “Barangsiapa yang menyelamatkan orang tertindas dari orang zalim, maka ia akan bersama saya di surga.” Dan “Penguasa terbaik adalah yang menghancurkan ketidakadilan dan menghidupkan kembali keadilan.” Ini berarti kewajiban membela keadilan tidak hanya di pundak pemimpin, tetapi juga di pundak rakyat. Saya dulu waktu dipenjara karena melawan Soeharto, saya merasa melakukan persis apa yang disabdakan Nabi: menyelamatkan rakyat dari kezaliman kekuasaan.
Kisah Umar juga mengajarkan kita bahwa keadilan harus dirasakan oleh semua orang, tanpa memandang agama. Umar pernah memenangkan perkara seorang Yahudi atas gubernurnya sendiri, Amr bin Ash. Itu luar biasa! Di republik ini, coba kita lihat kasus-kasus yang merugikan rakyat kecil, penegakan hukum sering lambat dan setengah hati. Keadilan ‘tereleminsi’ karena kekuasaan dan uang. Umar membalik logika itu: kekuasaan dan jabatan justru harus menjadi alat untuk menegakkan keadilan, bukan mengeleminasinya.
Ade Indra Chaniago: (terdiam sejenak, lalu mengangguk dalam-dalam) Jadi, Bang Bintang, pesannya adalah kita harus kembali ke teladan kepemimpinan Islam yang sejati?
Sri Bintang Pamungkas: (tersenyum lebar) Tepat sekali, Ade. Pesan saya sederhana: jadilah seperti Umar dalam ketegasan, jadilah seperti Rasulullah dalam keteladanan. Jangan biarkan kekuasaan mematikan keadilan. Dan jangan pernah takut bersuara. Saya sudah membuktikannya—meski dipenjara, keadilan akhirnya tetap menang. Karena keadilan bukan milik penguasa. Keadilan adalah amanah dari Allah yang harus ditegakkan oleh siapapun, baik ia penguasa maupun rakyat biasa.
Itulah pentingnya kita terus belajar dari filsafat politik—dan dari ajaran agama kita sendiri. Jangan biarkan kekuasaan mematikan keadilan. Dan jangan pernah takut bersuara. Saya sudah membuktikannya—meski dipenjara, keadilan akhirnya tetap menang. Karena keadilan bukan milik penguasa. Keadilan milik rakyat.
Ade Indra Chaniago: (mengangkat gelas kopinya) Untuk keadilan yang tak pernah mati. Untuk perjuangan yang tak kenal lelah.
Indra Darmawan dan Sri Bintang Pamungkas: (serempak mengangkat gelas) Untuk keadilan.
Suasana hening sejenak, hanya suara dentingan gelas yang terdengar. Di luar, hujan mulai rintik-rintik, membasahi bumi yang lama kehausan.
Palembang, 17 April 2026
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan