JARI: Perlukah Empati Pemimpin?

JARI: Perlukah Empati Pemimpin?

 

Sore yang gerimis di belakang Pasar 16 Palembang. Di sebuah warung sederhana berdinding kayu lapuk, lima orang duduk lesehan di tikar plastik. Aroma kopi tubruk bercampur dengan harum pempek lenjer dan tekwan. Suara tawar-menawar pasar terdengar samar.

 

Ferry Lesmana: (menggigit pempek sambil berkata) “Uda Ade, saya habis baca sinopsis tentang film Okja. Lucu juga, babi super hasil rekayasa yang punya teman manusia. Tapi yang menarik, si Mija cuma selamatkan Okja-nya, bukan babi-babi lainnya. Artikel itu bilang, empati itu bias. Apakah kita butuh lebih banyak empati di masyarakat?”

Ade Indra Chaniago: “Ferry, pertanyaanmu itu inti dari debat filsafat moral kontemporer. Martha Nussbaum menyebut empati sebagai ‘imajinasi naratif, kemampuan membayangkan posisi orang lain. Adam Smith dengan ‘simpati’-nya juga memuji itu. Tapi kritikus seperti Paul Bloom bilang, empati itu buta dan tidak rasional. Lihat saja, di Indonesia, kita mudah berempati pada korban bencana yang viral di TV, tapi lupa pada penderitaan kronis di daerah terpencil. Empati kita selektif.”

Indra Darmawan: (menyeduh kopi) “Saya setuju, Uda. Di Palembang ini dulu waktu banjir besar 2015, semua orang kirim bantuan ke Plaju dan Seberang Ulu. Tapi di kampung-kampung di hulu Ogan yang banjir setiap tahun? Sepi. Itu bias spasial. Empati kita hanya pada yang dekat, yang kita lihat, yang kita dengar tangisannya. Seperti kata artikel, empati berevolusi untuk kerja sama di dalam kelompok, bukan untuk kemanusiaan universal.”

Juliansyah: (mencatat di buku) “Tapi jangan lupa, para pendukung empati bilang itu bisa dilatih. Nussbaum sendiri mengajarkan bahwa ‘penonton yang tidak memihak’ harus aktif membayangkan penderitaan orang asing. Contoh nyata? Gerakan #BlackLivesMatter setelah video George Floyd. Dunia yang tadinya acuh tiba-tiba berempati. Sayangnya, setelah kamera mati, empati itu surut. Itu problemnya.”

Andi Wijaya: (mencicipi tekwan) “Secara psikologis, empati memang terbatas. Kita hanya bisa ‘merasakan’ untuk sekitar 150 orang menurut teori Dunbar. Di media sosial, kita dibanjiri video sedih dari Palestina, Ukraina, Kanjuruhan dan otak kita mati rasa. Inilah yang disebut compassion fatigue. Justru saya setuju dengan Ignaas Devisch dalam “masyarakat adil butuh ‘ketidakacuhan yang terlembagakan. Artinya, sistem yang adil, bukan hati yang iba. Hukum, kebijakan publik, bukan air mata.”

Ferry Lesmana: “Uda Ade, bagaimana pandangan tokoh Islam tentang empati? Apakah para pemimpin Islam mengajarkan empati tanpa batas?”

Ade Indra Chaniago: (meneguk kopi pahit) “Ada beberapa. Imam Ali bin Abi Thalib pernah berkata, ‘Hatimu adalah kendaraan bagi hatimu sendiri, maka jangan engkau gunakan untuk perjalanan selain Allah.’ Maksudnya, empati harus dilandasi keadilan ilahi, bukan sentimen sesaat. Jalaluddin Rumi justru sangat mengagungkan empati: ‘Kamu bukan setetes air di lautan, kamu adalah seluruh lautan dalam setetes air.’ Rumi mengajarkan bahwa batas antara diri dan orang lain adalah ilusi. Tapi Rumi juga sufi yang sangat personal, tidak berbicara soal kebijakan publik.”

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Ketika Anak Lebih Percaya AI daripada Akalnya Sendiri

Indra Darmawan: “Saya ingat KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Beliau berkali-kali bilang, ‘Empati tanpa keberpihakan pada keadilan hanya sentimentalitas.’ Gus Dur melindungi minoritas, gereja, bahkan kelompok Ahmadiyah, bukan karena dia berempati secara emosional, tapi karena prinsip konstitusi dan kemanusiaan. Itu yang disebut Nussbaum sebagai ‘empati yang diperluas secara kognitif’. Contoh nyata: saat Gus Dur mencabut Inpres Tionghoa/Imlek, beliau tidak hanya merasa kasihan, tapi bertindak struktural.”

Andi Wijaya: “Jangan lupa Muhammad Abduh, reformis Mesir. Dia bilang, ‘Empati adalah fondasi peradaban, tapi tanpa ijtihad dan akal, empati akan menjadi alat propaganda.’ Di Indonesia, Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar sering menekankan bahwa rahmah (kasih sayang) Allah itu lil ‘alamin (untuk semesta). Tapi hamka juga kritis: orang yang hanya menangis melihat anak yatim tapi tidak membangun panti asuhan atau mengubah kebijakan, itu empati palsu.”

Juliansyah: “Contoh konkret? Saya liput Pondok Pesantren Al-Muayyad di Solo. Kiai-nya dulu mengajarkan santri untuk berempati pada korban kekerasan di Papua. Mereka tidak hanya mendoakan, tapi juga mengirimkan tim advokasi hukum. Itu empati yang diterjemahkan ke aksi. Namun, sayangnya banyak juga pemimpin agama yang menggunakan empati selektif cuma untuk umatnya sendiri, bahkan menghalalkan kebencian pada yang lain.”

Ferry Lesmana: “Nah, artikel ini juga menyindir bahwa banyak pemimpin justru kurang empati. Siapa contoh pemimpin internasional dan Indonesia yang tidak berempati pada rakyatnya?”

Ade Indra Chaniago: (menyandarkan punggung ke dinding bambu) “Internasional: Vladimir Putin dalam perang Ukraina. Ribuan warga sipil tewas, rumah sakit dibom, anak-anak mengungsi. Putin tidak pernah menunjukkan setitik empati. Sebaliknya, dia bicara tentang ‘operasi militer khusus’ dengan dingin. Hasilnya? Ukraina hancur, jutaan pengungsi, dan dunia terpolarisasi. Contoh lain: Duterte di Filipina dalam perang narkoba. Ratusan ribu warga miskin dieksekusi tanpa pengadilan. Duterte bercanda tentang pembunuhan itu. Empatinya nol.”

Juliansyah: “Di Indonesia, kita punya contoh Soeharto di akhir rezim Orde Baru. Saat krisis moneter 1997-1998, rakyat kelaparan, mahasiswa ditembak di Trisakti dan Semanggi. Soeharto tetap tenang main golf. Bahkan setelah turun, beliau tidak pernah minta maaf secara sungguh-sungguh. Itu contoh klasik ketidakempatian seorang pemimpin. Atau Gubernur DKI Jakarta tertentu yang menggusur warga bantaran sungai di tengah malam tanpa relokasi layak. Mereka berempati pada investor properti, bukan pada rakyat.”

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Kekuasaan di Secangkir Kopi

Ade Indra Chaniago: (menghela napas) “Jangan lupa pemimpin daerah di Sumsel yang dulu membiarkan penambangan liar di Ogan Ilir. Masyarakat adat kehilangan sumber air, anak-anak terkena penyakit kulit. Para bupati itu tidak pernah turun ke lapangan, hanya nerima laporan di atas kertas. Empati mereka adalah angka APBD. Atau kasus Kapolda Jambi yang bilang ‘korban kebakaran hutan biarlah mengungsi sementara’ tanpa memberi solusi. Itu contoh pemimpin yang acuh.”

Andi Wijaya: “Secara psikologis, pemimpin yang tidak empati biasanya memiliki sifat Machiavellian atau narcissistic. Mereka melihat rakyat sebagai alat. Di tingkat global, Kim Jong-un di Korea Utara rakyatnya kelaparan, dia membangun rudal. Atau Bashar al-Assad di Suriah, dia menggunakan gas beracun untuk rakyatnya sendiri. Empati adalah kelemahan bagi mereka.”

Ferry Lesmana: “Tapi apakah kita butuh pemimpin yang sangat empati? Artikel tadi mengingatkan, terlalu banyak empati bisa membuat keputusan tidak adil. Contoh: presiden yang terlalu iba pada kasus tertentu bisa mengabaikan kasus lain.”

Indra Darmawan: “Ferry tepat sekali. Paul Bloom dalam bukunya Against Empathy menegaskan bahwa kita butuh compassion (kasih sayang) dan reason (akal), bukan empathy yang membuat kita lumpuh oleh penderitaan orang satu per satu. Seorang hakim yang berempati pada terdakwa mungkin akan membebaskannya meski ia bersalah. Seorang menteri yang berempati pada demo buruh mungkin langsung menaikkan upah tanpa menghitung inflasi. Itu bahaya.”

Juliansyah: “Tapi saya duga, saya melihat sebaliknya. Di Indonesia, kebijakan sering tidak berempati pada akar masalah. Misalnya, UU Cipta Kerja Omnibus Law dibuat tanpa cukup mendengar keluhan buruh dan aktivis lingkungan. Pemerintah lebih berempati pada investor. Jadi, jangan-jangan kita justru kekurangan empati, bukan kelebihan. Ada ketidakseimbangan.”

Andi Wijaya: “Kita perlu membedakan empati afektif (merasakan sakit orang lain) dan empati kognitif (memahami perspektif orang lain). Yang membahayakan adalah afektif berlebihan. Yang kita butuhkan adalah kognitif yang kuat. Adam Smith sendiri dalam Theory of Moral Sentiments mengajarkan bahwa kita harus menggunakan ‘penonton yang tidak memihak’ (impartial spectator) yang menggunakan simpati namun juga nalar. Contoh nyata: Negara-negara Skandinavia. Mereka memiliki sistem kesejahteraan yang sangat empatik secara struktural, tapi tidak bergantung pada belas kasihan politikus. Pajak tinggi, layanan publik merata. Itulah ‘ketidakacuhan yang terlembagakan’ yang disebut Devisch.”

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Madu dan Racun Demokrasi

Indra Darmawan: “Di Indonesia, contoh baiknya adalah BPJS Kesehatan meskipun bermasalah, ide dasarnya empati struktural: semua warga berhak dirawat tanpa pandang bulu. Tapi implementasinya sering gagal karena korupsi dan birokrasi lambat. Contoh lain: Program Makan Siang Gratis yang diwacanakan beberapa calon presiden. Itu bentuk empati kognitif yang diterjemahkan ke kebijakan, bukan sekadar bagi-bagi sembako saat kampanye. Meskipun hingga kini belum terealisasi”

Ferry Lesmana: “Jadi, masyarakat butuh lebih banyak empati? Atau butuh sistem yang adil?”

Ade Indra Chaniago: (mengangkat cangkir kopi) “Saya akan menjawab: masyarakat butuh keduanya, tapi dengan proporsi yang tepat. Tanpa empati, sistem menjadi dingin dan tirani. Tanpa sistem, empati menjadi anekdot dan tidak berkelanjutan. Filsuf Emmanuel Levinas mengatakan bahwa wajah orang lain adalah panggilan etis pertama. Itu empati. Tapi Levinas juga butuh hukum. Di Indonesia, kita kekurangan implementasi dari keduanya.”

Indra Darmawan: “Saya setuju. Di Palembang, kita punya pepatah: Seberat-berat padi, masih juga ditanam. Artinya, walau sulit, kita harus terus berbuat. Maka, pemimpin harus berempati secara kognitif, mendengar keluhan rakyat kecil, lalu menerjemahkannya ke dalam kebijakan publik yang adil.”

Andi Wijaya: “Tapi jangan lupa contoh gagal. Gubernur Sumsel periode lalu yang tidak pernah turun ke lokasi tambang ilegal. Ibaratnya, dia berempati pada laporan tim sukses, bukan pada ibu-ibu yang anaknya batuk karena debu batubara. Jadi, rakyat perlu memilih pemimpin yang terbukti memiliki riwayat turun ke bawah, bukan sekadar jago retorika empati di TV.”

Juliansyah: “Kesimpulan psikologis saya: Masyarakat tidak butuh lebih banyak empati dalam volume, tapi lebih baik empati dalam kualitas. Kita perlu latihan empati kognitif: membayangkan posisi orang yang sangat berbeda dari kita, bahkan musuh. Tokoh seperti Nelson Mandela berempati pada penjajahnya, lalu mampu membangun rekonsiliasi. Di Indonesia, Gus Dur berempati pada korban G30S sekaligus pada keluarga PKI. Itu jenius.”

Ferry Lesmana: (tersenyum, menatap pempek yang tinggal satu) “Baiklah. Saya akan membawa pulang pelajaran dari warung ini: Empati itu seperti pempek. Kalau kebanyakan cuka, asem; kalau kurang, hambar. Takarannya harus pas. Dan pemimpin yang baik adalah yang tahu resepnya. Sekarang, siapa yang mau nambah tekwan?”

Mereka tertawa. Gerimis berhenti. Pasar 16 mulai sepi. Sore itu, mereka pulang dengan pikiran bahwa empati bukanlah jawaban final, tapi juga bukan musuh. Empati adalah bahan mentah; kebijakan adalah api yang memasaknya.

 Palembang, 03 Juni 2026

Tadarus Politik

Jaringan Aliansi Rakyat Independen