JARI : Menolak Mediokritas dan Elitisme ” Menemukan Jalan Tengah ala Ahmad Dahlan di Tepi Musi”
Sebuah kafe sederhana di tepian Sungai Musi, Palembang, sore hari. Suasana teduh dengan latar Jembatan Ampera yang megah.
Ade Indra Chaniago: (menyeruput kopi manis, lalu menyandarkan diri) Bro, akhir-akhir ini aku sering merenung. Dunia pendidikan kita sedang berada di persimpangan jalan. Kurikulum berganti, metode diperbarui, tetapi pertanyaan paling mendasar seakan terus menghindar: pendidikan sejatinya berpusat pada apa?
Indra Darmawan: (tersenyum tipis) Pertanyaan klasik, Uda. Tapi tepat sekali. Aku jadi teringat diskusi di sebuah pesta yang kuhadiri baru-baru ini. Orang-orang di sana memperdebatkan satu hal: apakah mahasiswa filsafat di universitas hanya belajar mereproduksi argumen para filsuf, atau mereka benar-benar didorong untuk berpikir sendiri?
Ade Indra Chaniago: Wah, itu pertanyaan yang sudah berusia 150 tahun lebih. Friedrich Nietzsche, dalam kuliah-kuliahnya yang kemudian dibukukan menjadi On the Future of Our Educational Institutions, sudah melontarkan kegelisahan serupa pada tahun 1872. Nietzsche murka melihat sistem pendidikan Jerman saat itu. Dan yang menarik, ia juga menyasar gymnasium sekolah elit yang masih mempertahankan bahasa Latin dan Yunani sebagai ciri khas.
Indra Darmawan: (mengangguk sambil memainkan sendok kopi) Itulah yang membuat Nietzsche kontroversial. Baginya, pendidikan bukan untuk massa, melainkan hanya untuk individu jenius. Mempelajari bahasa Latin dan Yunani, menurut Nietzsche, bukanlah sekadar romantisme klasik. Di dalamnya, seorang murid belajar untuk menghormati bahasa dengan aturan yang ketat, tata bahasa, dan kosakata. Dalam salah satu aforismenya yang terkenal, ia berkata:
“Semua pendidikan dimulai dengan kebalikan dari apa yang saat ini dipuji sebagai kebebasan akademis: dengan kepatuhan, dengan ketundukan, dengan disiplin, dan dengan pengabdian.”
Nietzsche menegaskan bahwa seseorang harus membaca karya-karya klasik dan dalam bahasa aslinya sebelum ia berhak mengklaim apa pun sebagai miliknya sendiri.
Ade Indra Chaniago: (menyilangkan tangan, berpikir sejenak) Tapi, Dinda, bukankah itu sangat elitis? Nietzsche benar-benar menganggap pendidikan hanya untuk segelintir orang jenius?
Indra Darmawan: Memang, itulah posisi radikal Nietzsche. Ia membenci mediocrity kualitas rata-rata dengan segenap jiwanya. Ia bahkan mengkritik bahwa saat ini ada begitu banyak lembaga pendidikan tinggi sehingga dibutuhkan jauh lebih banyak guru daripada yang bisa dihasilkan oleh suatu negara. Akibatnya, menurut Nietzsche, sebagian besar guru sendiri tidak bisa melakukan apa yang seharusnya mereka ajarkan kepada siswanya. Dan ketidakmampuan itu hanya memperbanyak kemandulan intelektual.
Ade Indra Chaniago: (menghela napas panjang) Nietzsche memang radikal. Tapi kita hidup di Indonesia, Dinda. Kita tidak bisa sekadar mengadopsi pemikiran Nietzsche tanpa menyaringnya dengan nilai-nilai kepribadian kita. Di sinilah aku ingin mengajakmu merenungkan pemikiran para tokoh pendidikan kita sendiri.
Indra Darmawan: Mari. Aku setuju. Siapa yang ingin kau angkat pertama?
Ade Indra Chaniago: (menegakkan badan, matanya berbinar) Ki Hajar Dewantara, tentu saja. Bapak Pendidikan Nasional kita. Baginya, pendidikan tidak pernah berpusat pada guru, apalagi pada kurikulum. Pendidikan berpusat pada kodrat anak. Dalam konsep yang dikenal sebagai Among Sistem, ia menegaskan bahwa pendidikan sejatinya adalah upaya menuntun kodrat anak-anak agar dapat mengembangkan kehidupan lahir dan batin menurut kodratnya masing-masing. Tiga semboyannya yang masyhur Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan), Ing madya mangun karsa (di tengah membangun semangat), dan Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan) mencerminkan bahwa seorang pendidik bukanlah komandan yang memerintah, melainkan pemandu yang membebaskan.
Indra Darmawan: (tersenyum, menimpali) Dan bagi Ki Hajar, pengetahuan bukanlah tujuan akhir pendidikan. Pengetahuan hanyalah alat, perkakas untuk mencapai sesuatu yang lebih luhur: kematangan jiwa. Ia pernah berkata bahwa pengetahuan ibarat bunga yang akan berbuah pada kematangan jiwa. Buah itulah yang paling penting: lahirnya manusia yang hidup dengan tertib, suci, dan bermanfaat bagi orang lain.
Ade Indra Chaniago: Nah, di sinilah letak perbedaan mendasar dengan Nietzsche. Nietzsche mendidik untuk melahirkan Übermensch manusia unggul yang melampaui dirinya sendiri, yang menciptakan nilai-nilai baru dan tidak tunduk pada moralitas budak. Ki Hajar juga ingin memerdekakan, tetapi dalam bingkai kemanusiaan yang kolektif manusia yang merdeka lahir dan batin, yang berpikir bebas tetapi tetap berakar pada nilai-nilai kebaikan.
Indra Darmawan: (mengangkat alis, sedikit provokatif) Tapi Uda, jangan lupa: Nietzsche juga bicara tentang kepatuhan. Ia percaya bahwa pembentukan dimulai dari kepatuhan kepatuhan pada disiplin, pada tata bahasa, pada tradisi klasik. Baru setelah itu, seseorang bisa melampaui batas-batas itu. Bukankah ada kemiripan dengan tradisi pesantren kita?
Ade Indra Chaniago: (tertawa kecil, lalu serius) Kau tepat. Aku jadi ingat K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Dalam kitabnya Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, ia menekankan bahwa pendidikan harus dimulai dengan adab kesopanan dan kepatuhan pada guru sebelum ilmu. Prinsip adab sebelum ilmu ini sangat kuat dalam tradisi pesantren. Bahkan Hasyim Asy’ari menegaskan urgensi moral dan spiritual dalam pendidikan, di mana guru tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi teladan dalam kesalehan.
Indra Darmawan: Jadi dalam hal ini, Nietzsche dan Hasyim Asy’ari memiliki titik temu: kepatuhan dan disiplin adalah fondasi.
Ade Indra Chaniago: (menggeleng pelan) Sayangnya, di sanalah juga perbedaannya. Bagi Hasyim Asy’ari, tujuan akhir pendidikan bukanlah melahirkan individu jenius yang menciptakan nilai-nilai barunya sendiri. Tujuan akhirnya adalah meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat, membentuk pribadi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Ada dimensi transendental yang tidak disentuh Nietzsche.
Indra Darmawan: Jadi dalam hal ini, Nietzsche dan Hasyim Asy’ari memiliki titik temu: kepatuhan dan disiplin adalah fondasi.
Ade Indra Chaniago: (menggeleng pelan) Sayangnya, di sanalah juga perbedaannya. Bagi Hasyim Asy’ari, tujuan akhir pendidikan bukanlah melahirkan individu jenius yang menciptakan nilai-nilai barunya sendiri. Tujuan akhirnya adalah meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat, membentuk pribadi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Ada dimensi transendental yang tidak disentuh Nietzsche.
Indra Darmawan: (mengangguk, lalu bersemangat) Tapi Uda, bicara tentang pembaruan pendidikan Islam, kita tidak bisa melupakan satu nama besar dari ranah kita sendiri Palembang berdekatan dengan Yogyakarta, tempat KH Ahmad Dahlan menggagas Muhammadiyah. Bagaimana pandangan pendiri Muhammadiyah itu tentang hakikat pendidikan?
Ade Indra Chaniago: (matanya berbinar, menyentuh meja) Wah, tepat sekali, Dinda! KH Ahmad Dahlan adalah sosok yang sering luput dalam diskusi filsafat pendidikan padahal pemikirannya sangat relevan untuk menjawab kebuntuan antara Nietzsche dan Ki Hajar.
Bagi Ahmad Dahlan, pendidikan tidak berpusat pada guru, tidak berpusat pada murid secara individualis, juga tidak berpusat pada kepentingan negara semata. Pendidikan berpusat pada Tauhid pengesaan Allah yang diwujudkan dalam amal saleh dan kemajuan umat. Ia sangat mengkritik praktik pendidikan tradisional Islam yang hanya berkutat pada fiqih dan teologi tanpa membekali peserta didik dengan ilmu-ilmu modern seperti matematika, fisika, biologi, dan bahasa asing.
Indra Darmawan: (menyilangkan tangan) Itulah yang membedakannya dari banyak kyai tradisional saat itu. Ia mendirikan sekolah-sekolah yang mengajarkan Al-Qur’an dan hadits bersamaan dengan ilmu bumi, ilmu hayat, dan bahasa Belanda. Luar biasa berani untuk zamannya.
Ade Indra Chaniago: Benar, Dinda. Dan di sinilah letak kritik Ahmad Dahlan terhadap pendidikan kolonial Belanda sekaligus terhadap pendidikan pesantren tradisional. Ia melihat bahwa pendidikan Belanda hanya mencetak pegawai rendahan yang terampil teknis tetapi kosong nilai seperti yang Nietzsche sebut sebagai “learned men” (orang-orang terpelajar) tanpa jiwa besar. Sementara pendidikan pesantren tradisional terlalu mengagungkan kitab kuning sehingga umat Islam tertinggal dalam sains dan teknologi.
Indra Darmawan: (mengangkat alis) Jadi Ahmad Dahlan sebenarnya melakukan sintesis? Bukan sekadar kepatuhan buta pada tradisi klasik seperti yang dikehendaki Nietzsche, juga bukan kebebasan tanpa disiplin?
Ade Indra Chaniago: Tepat sekali. Ahmad Dahlan justru menawarkan konsep pendidikan yang memerdekakan tetapi terikat pada nilai ilahi. Ia mengajarkan bahwa taqlid (mengikuti tanpa kritik) adalah musuh kemajuan. Setiap muslim wajib berijtihad menalar sendiri berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Namun ijtihad itu tidak boleh liar, ia harus berlandaskan pada dua sumber utama Islam dan dilakukan oleh mereka yang telah menguasai ilmu-ilmu keislaman secara mendalam.
Indra Darmawan: Jadi kepatuhan bagi Ahmad Dahlan bukanlah kepatuhan pada teks-teks klasik Yunani-Latin seperti Nietzsche, melainkan kepatuhan pada prinsip tauhid dan metode ijtihad. Setelah itu, barulah kebebasan berpikir diberikan dalam bingkai kemaslahatan umat.
Ade Indra Chaniago: (mengangguk tegas) Betul, Dinda. Dan yang tidak kalah penting: Ahmad Dahlan juga menekankan pendidikan karakter dalam bentuk al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar (menyeru kebaikan, mencegah kemungkaran). Baginya, seorang yang berilmu tetapi tidak memiliki keberanian moral untuk membela kebenaran dan melawan ketidakadilan adalah manusia yang gagal. Di sini Ahmad Dahlan sejalan dengan Ki Hajar keduanya ingin melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain.
Indra Darmawan: (tersenyum) Aku jadi ingat kata-kata Ahmad Dahlan yang terkenal: “Orang yang beriman itu hidupnya untuk beribadah dan beramal, bukan untuk bersenang-senang dan bermalas-malasan.” Pendidikan, baginya, adalah jalan untuk mengabdikan diri pada kebaikan publik, bukan untuk mengumpulkan gelar atau kekayaan pribadi.
Ade Indra Chaniago: Nah, di sinilah letak keberanian Ahmad Dahlan melawan kem mediocrity (kualitas rata-rata) yang juga dibenci Nietzsche. Tapi bedanya, Nietzsche membenci kem mediocrity karena ia ingin melahirkan superman yang berdiri di atas kesusilaan biasa. Sedangkan Ahmad Dahlan membenci kem mediocrity karena ia ingin melahirkan umat yang unggul secara iman, ilmu, dan amal bukan untuk meninggikan diri sendiri, melainkan untuk meninggikan kalimat Allah dan memajukan peradaban.
Indra Darmawan: (menghela napas kagum) Jadi Ahmad Dahlan menawarkan jalan tengah yang sangat khas Indonesia. Ia tidak elitis seperti Nietzsche, tetapi juga tidak anti-intelektual. Ia tidak mematikan kebebasan berpikir, tetapi juga tidak membiarkan manusia berkreasi tanpa arah. Pendidikannya berpusat pada tauhid yang membebaskan membebaskan manusia dari kebodohan, dari keterbelakangan, dan dari penyembahan kepada hal-hal selain Allah, termasuk penyembahan pada hawa nafsu dan kekuasaan.
Ade Indra Chaniago: (tersenyum puas) Itulah warisan Ahmad Dahlan, Dinda. Dan hari ini, gagasannya tentang integrasi ilmu agama dan umum, tentang kewajiban ijtihad, serta tentang pendidikan sebagai gerakan dakwah dan kemajuan umat, masih sangat relevan. Muhammadiyah telah mendirikan ribuan sekolah dan puluhan universitas dengan semangat tajdid—pembaruan yang terus-menerus.
Indra Darmawan: Kalau begitu, mari kita lanjutkan ke tokoh lain yang juga tak kalah penting… Buya Hamka, misalnya.
Ade Indra Chaniago: (mengangguk) Silakan, Dinda. Buya Hamka adalah murid dari semangat Ahmad Dahlan, meskipun ia lebih banyak berkutat pada tasawuf modern dan sastra…
Indra Darmawan: (mengangguk, lalu melanjutkan) Mari kita angkat juga Buya Hamka. Bagaimana pandangannya?
Ade Indra Chaniago: Buya Hamka memandang pendidikan Islam sebagai proses yang mencakup tiga makna: ta’lim (penyaluran ilmu pengetahuan), tarbiyah (pengasuhan), dan ta’dib (pembentukan adab serta pengembangan potensi). Bagi Buya Hamka, pendidikan harus membentuk watak pribadi yang berani, memiliki integritas, dan empati. Ia sangat menekankan kontribusi maksimal terhadap pembinaan dan penguatan individu. Bedanya dengan Nietzsche, Buya Hamka membingkai semua itu dalam nilai-nilai ketuhanan. Manusia tidak bebas menciptakan nilai dari kekosongan; ia berkreasi dalam koridor ilahi.
Indra Darmawan: (menyandarkan kursi) Lalu, bagaimana dengan Bung Hatta? Ia juga dikenal sebagai intelektual yang sangat serius dalam soal pendidikan.
Ade Indra Chaniago: Bung Hatta adalah sosok yang menarik. Ia memandang bahwa pendidikan bertujuan untuk memerdekakan manusia. Dalam pemikirannya, pendidikan tidak boleh sekadar mencetak pegawai pemerintahan kritik yang ia lontarkan sejak masa kolonial. Ia menginginkan pendidikan yang membentuk karakter peserta didik, memunculkan sikap kritis, dan keberanian berpendapat. Bahkan, Bung Hatta mengkoherensikan agama dengan ilmu umum filsafat, sejarah, sosiologi untuk menghasilkan pemimpin Muslim yang berpikiran merdeka, tidak hanya berfokus pada satu bidang.
Indra Darmawan: Bung Hatta juga dikenal sebagai pribadi yang gemar membaca. Ada cerita bahwa ia rela dipenjara asal berteman dengan buku. Semangat merdeka belajar itu — menurutku sangat relevan dengan konsep merdeka belajar yang kita gaungkan sekarang.
Ade Indra Chaniago: (menghela napas, sedikit ironis) Sayangnya, Dinda, semangat merdeka belajar itu sering kali hanya menjadi slogan. Di banyak sekolah dan kampus, peserta didik masih diperlakukan seperti konsumen, dan pendidikan direduksi menjadi sekadar transfer ilmu untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja.
Kita lupa pada peringatan Tan Malaka. Ia mengatakan bahwa pendidikan adalah dasar untuk melepaskan bangsa dari keterbelakangan dan kebodohan. Tan Malaka bahkan menawarkan pedagogik transformatif proses memanusiakan manusia untuk membentuk masyarakat baru, membongkar relasi sosial yang tidak adil, dan mengembalikan kemanusiaan manusia. Pendidikan, dalam pandangan Tan Malaka, adalah alat perjuangan pembebasan.
Indra Darmawan: (menyentuh dagu, merenung) Nah, ini menarik, Uda. Nietzsche ingin membebaskan individu jenius dari kungkungan moralitas budak. Tan Malaka ingin membebaskan seluruh rakyat dari penindasan. Dua kutub yang berbeda, tetapi sama-sama menginginkan pembebasan. Pendidikan Indonesia, menurut Uda, seharusnya berpusat pada apa?
Ade Indra Chaniago: (berdiri sejenak, menatap Sungai Musi yang berkilau diterpa matahari sore, lalu duduk kembali) Aku akan menjawab dengan jujur, Indra. Pendidikan kita tidak bisa hanya berpusat pada individu jenius ala Nietzsche itu elitis dan tidak berkeadilan. Tapi juga tidak bisa hanya berpusat pada kepentingan kolektif secara membabi buta karena itu bisa mematikan kreativitas dan kebebasan berpikir.
Pendidikan Indonesia, menurutku, harus berpusat pada manusia yang merdeka secara lahir dan batin, seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara. Manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara jiwa; yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga memiliki adab dan akhlak; yang berani berpikir kritis, tetapi juga bertanggung jawab pada sesama.
Indra Darmawan: (mengangguk perlahan) Jadi, Nietzsche kita tempatkan sebagai provokasi yang sehat. Ia mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak boleh menjadi mesin pencetak manusia-manusia rata yang penurut dan tanpa orisinalitas. Ia mengingatkan bahwa kepatuhan pada disiplin pada tata bahasa, pada tradisi keilmuan adalah pangkal dari segala pembentukan. Tapi tanpa nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan yang dibawa oleh Ki Hajar, Buya Hamka, Hasyim Asy’ari, Bung Hatta, dan Tan Malaka, pendidikan Nietzschean bisa berubah menjadi kompetisi siapa yang paling kuat dan paling berkuasa yang mungkin tidak kita kehendaki di bumi Nusantara ini.
Ade Indra Chaniago: (tersenyum lebar) Kesimpulan yang bijak, Uda. Maka, pekerjaan rumah kita sebagai pendidik adalah: bagaimana menciptakan sistem pendidikan yang disiplin dan menuntut kepatuhan pada tradisi keilmuan, tetapi tidak mematikan jiwa merdeka; yang menghargai kejeniusan individu, tetapi tidak melupakan tanggung jawab sosial; yang membekali peserta didik dengan ilmu, tetapi tidak mengabaikan budi pekerti.
Indra Darmawan: (mengangkat gelas kopinya) Untuk itu, Uda. Pekerjaan yang tidak pernah selesai.
Ade Indra Chaniago: (mengangkat gelas kopinya, menyentuh gelas Indra perlahan) Untuk Indonesia.
Sore semakin merambat ke senja. Jembatan Ampera mulai menyala. Dua profesor itu masih terus berbincang, tentang filsafat, tentang sekolah, tentang masa depan sementara Sungai Musi mengalir tenang, menyaksikan pergulatan pemikiran yang tak pernah lekang oleh waktu.
Rabu, 08 April 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan