JARI : Pembentukan Opini Publik dalam Kondisi yang Sangat Buruk
“Masyarakat harus diajak kritis lagi. Bukan sekadar menerima informasi, tapi menanyakan, “Mengapa informasi ini disebar? Apa kepentingan di baliknya? Apa buktinya?” Dan yang paling sulit: perlu komitmen dari elit politik sendiri untuk mengembalikan politik pada khittahnya.”
Indra: (Menghela napas sambil meletakkan ponselnya) Baca lagi berita soal pelanggaran kampanye di Pilkada kemarin. Rasanya… lelah. Tapi karena caranya. Semuanya terasa begitu… kotor.
Ade: (Mengangguk pelan) Itu yang bikin muak. Dulu kita berdemo menuntut reformasi, membayangkan demokrasi yang bermartabat. Sekarang? Seperti yang kamu bilas tadi, yang terjadi bukan lagi “apa yang kita diskusikan”, tapi “bagaimana kita melakukannya” sudah benar-benar bobrok.
Indra: Benar! Lihat saja “bagaimana”-nya. Money politic yang dulu kita anggap aib, sekarang jadi SOP. Bukan sembunyi-sembunyi lagi, tapi terbuka. Bantuan sembako, paket “sembrani”, sampai transfer langsung. Pemilih seolah-olah dikonversi jadi angka di kalkulator tim sukses.
Ade: Dan yang paling berbahaya, itu bekerja. Itu paradoks yang mematikan. Banyak pemilih, dalam hati tahu itu salah, tapi memilih calon yang memberi mereka uang atau sembako. Dalam kondisi ekonomi sulit dan persepsi “politikus mana pun sama”, iming-iming langsung itu jadi “rasional”. Kita menghargai pelaku yang merusak sistem. Sistem sakit itu lalu dianggap normal.
Indra: Proses pembentukan opininya juga hancur. Ruang diskursus kita mengalami dekomposisi. Debat kandidat kemarin, ingat? Bukan adu visi soal transformasi ekonomi daerah atau pengelolaan sungai yang tercemar. Tapi saling serang isu SARA, hoaks, dan janji-janji populis tanpa peta jalan. Opini publik dibentuk bukan oleh deliberasi, tapi oleh banjir iklan, buzzer, dan konten emosional di media sosial.
Ade: Itu yang bikin muak. Dulu kita berdemo menuntut reformasi, membayangkan demokrasi yang bermartabat. Sekarang? Seperti yang kamu bilas tadi, yang terjadi bukan lagi “apa yang kita diskusikan”, tapi “bagaimana kita melakukannya” sudah benar-benar bobrok.
Indra: Implikasinya dalam. Kalau opini publik, yang seharusnya jadi fondasi kedaulatan rakyat, dibentuk dengan cara korup dan manipulatif, maka hasil pemilu bukan lagi cermin kehendak rasional. Itu cermin ketimpangan dan kegagalan pendidikan politik. Demokrasi tinggal kulitnya, ritual pencoblosan tanpa jiwa.
Ade: Pilkada 2025 ini cermin buram. Kita menyaksikan bukan pertarungan gagasan, tapi pertarungan kantong dan pertarungan narasi kotor. Lalu bagaimana memutus siklus ini?
Indra: Harus ada penegakan hukum yang benar-benar tegas dan tanpa tebang pilih oleh KPU dan Bawaslu. Pelaku money politic, penyebar hoaks, harus ditindak hingga jadi efek jera. Tapi itu reaktif.
Ade: Ya, yang preventif lebih penting: literasi media dan politik yang masif. Masyarakat harus diajak kritis lagi. Bukan sekadar menerima informasi, tapi menanyakan, “Mengapa informasi ini disebar? Apa kepentingan di baliknya? Apa buktinya?” Dan yang paling sulit: perlu komitmen dari elit politik sendiri untuk mengembalikan politik pada khittahnya.
Indra: Itu ilusi, Ade. Elite yang sekarang banyak terlibat dalam sistem rusak ini.
Ade: Mungkin bukan dari yang lama. Tapi tekanan publik yang terinformasi bisa memunculkan wajah-wajah baru. Atau memaksa yang lama berubah. Soalnya, kalau tidak kita perbaiki “bagaimana” kita membentuk opini dan berdemokrasi ini, kita akan sampai di titik di mana pertanyaan besarnya bukan lagi “mengapa kita berdemokrasi”, tapi “apakah ini masih pantas disebut demokrasi?”
Indra: (Diam sejenak) Jadi, tugas kita sekarang lebih berat dari sekadar memilih. Tapi membersihkan seluruh proses yang mengarah ke sana. Memulihkan cara kita berdiskusi, cara kita menilai, cara kita membentuk opini bersama. Kalau tidak…
Ade: Kalau tidak, kedaulatan rakyat hanya akan jadi jargon kosong lain yang diperjualbelikan. Kopinya sudah habis, tapi obrolan kita, sepertinya baru mulai.
Indra: (Tersenyum getir) Mari kita bayar kopinya. Lalu lanjutkan obrolan ini di ruang yang lain. Perbaikan itu harus dimulai, sekecil apa pun.
(Mereka berdiri, meninggalkan kedai dengan beban pemikiran yang berat, tetapi juga tekad yang mulai mengkristal.)
Rabu, 4 Februari 2026
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Indra Darmawan – Ade Indra Chaniago