JARI: Menjadi Jembatan Bukan Tembok
Senja hari di kawasan Kampung Pempek Pasar 26 Ilir. Aroma ikan tenggiri dan adonan pempek yang digoreng menyeruak. Di sebuah warung pempek legendaris, lima orang duduk mengelilingi meja kayu sederhana. Sepiring pempek kapal selam, tekwan, dan model tersaji di hadapan mereka.
Ferry Lesmana: (mengusap keringat di dahi sambil mengunyah pempek) Coba baca lagi artikelnya, Jul. Tentang “pesan dalam botol” itu. Menarik banget. Adorno bilang tulisannya kayak pesan dalam botol dilempar ke laut, nggak tahu siapa yang bakal nemuin.
Juliansyah: (menyandarkan badan ke kursi bambu) Iya, Kak Ferry. Ini intinya gini: Sekolah Frankfurt bingung menentukan buat siapa mereka nulis. Dulu Marx punya kaum buruh yang jelas. Tapi abad 20, buruh jadi “ditenangkan” sama kapitalisme mereka bisa beli mobil, nonton bioskop. Jadi nggak gerindra lagi. Lalu Marcuse bilang, yang tertindas sekarang orang kulit berwarna, pengangguran, yang nggak bisa ikut sistem.
Andi Wijaya: (menyela sambil mencelupkan pempek ke kuah cuka) Nah lho, itu masalah klasik kita juga. Gerakan mahasiswa 98 dulu heboh, tapi setelah reformasi… ya gitu. Banyak yang lalu masuk sistem, jadi pejabat, jadi pengusaha. Jadi kayak buruh yang “terintegrasi” itu.
Indra Darmawan: (mengangguk pelan) Tapi yang bikin saya mikir, Andi, adalah pertanyaan ini: kalau sistem kapitalisme sudah mengatur hidup kita sampai ke hasrat erotis sekalipun seperti kata Marcuse dalam One Dimensional Man lalu dari mana kritik itu bisa muncul? Bukankah kita semua sudah “satu dimensi”?
Ade Indra Chaniago: (memotong pempek dengan garpu) Nah, itu guntingan rambut-nya. Adorno dan Horkheimer bicara soal “industri budaya” kita semua dicuci otak. Tapi kalau semua dicuci otak, kenapa mereka berdua nggak ikut tercuci? Ini yang disebut Lukács sebagai Grand Hotel Abgrund hotel mewah di puncak gunung, para intelektual minum sampanye sambil lihat ke bawah, “Duh, dunia ini parah ya.”
Semua tertawa kecil.
Juliansyah: (menyandarkan kepala) Jadi kayak aktivis Jaksel yang nge-post “save Gaza” sambil ngopi di coffee shop kekinian gitu, Uda Ade?
Ade Indra Chaniago: (tersenyum) Persis, Jul. Tapi jangan buru-buru judge. Karena ini masalah yang nyata. Kita semua berada di dalam sistem. Bahkan yang mengkritik sistem pun masih pakai HP buatan pabrik kapitalis, masih beli bensin dari Pertamina yang juga bagian dari struktur itu.
Ferry Lesmana: Tapi Marcuse akhirnya optimis sama gerakan mahasiswa 68-an, kan? Sementara Adorno malah anti. Adorno bilang, jangan asal turun ke jalan dan lempar batu. Teori itu penting, bukan cuma aksi.
Andi Wijaya: (menyandarkan badan ke belakang) Ini relevan banget sama demo yang marak akhir-akhir ini. Saya kadang mikir, ada aksi yang cuma aksi tanpa teori. Turun ke jalan, bentrok, pulang. Besoknya lupa. Nggak ada perubahan struktural. Tapi di sisi lain… (menghela napas) kalau cuma duduk dan baca buku terus, kapan berubahnya?
Indra Darmawan: Itu dilema klasik, Andi. Marx bilang, “Para filsuf cuma menafsirkan dunia, sekarang saatnya mengubahnya.” Tapi Sekolah Frankfurt balik lagi ke teori. Menurut mereka, ketika praktik revolusioner nggak mungkin kayak sekarang ini, teori itu berharga dengan sendirinya. Teori nggak butuh massa yang dibebaskan.
Suasana hening sejenak. Terdengar suara penjual pempek di kejauhan menawarkan dagangannya. Seorang bapak mengayuh sepeda tua lewat di depan warung.
Juliansyah: (menghela napas panjang) Maaf, Uda Ade, tapi saya agak risi. Teori nggak butuh massa? Lalu buat apa? Jadi kayang-kayangan intelektual gitu? Mending kita ngobrolin harga pempek yang naik terus karena harga minyak goreng dan tepung naik. Itu nyata. Tetangga saya, Pak Muchtar, pengusaha pempek kecil, sekarang gulung tikar karena nggak bisa bersaing dengan pempek frozen dari pabrik.
Ferry Lesmana: Nih, contoh nyata. Sistem kapitalisme nggak cuma bikin kita beli mobil dan bioskop, tapi juga bikin pempek rumahan mati. Marcuse bilang, mereka yang “nggak bisa partisipasi” itu yang tertindas. Pak Muchtar, buruh pabrik yang di-PHK, ojek online yang pendapatannya dipotong algoritma itu “orang-orang yang tidak dapat berpartisipasi” dalam sistem yang menguntungkan segelintir orang.
Ade Indra Chaniago: (meletakkan sendok) Saya ingin menambahkan perspektif dari filsuf dan sufi. Mari kita panggil dua “tamu tak terlihat” di meja kita ini.
Semua mencondongkan badan.
Ade Indra Chaniago: Seorang filsuf Muslim, Ibnu Sina atau Avicenna di dunia Barat punya konsep tentang intuisi intelektual. Dia bilang, ilmu itu tidak selalu turun ke massa secara langsung. Terkadang, pengetahuan tertinggi hanya bisa diakses oleh mereka yang sudah “melatih” jiwanya. Ini mirip banget dengan “pesan dalam botol” Adorno. Hanya yang “layak” yang bisa menemukan dan memahami pesan itu. Tapi bedanya, Ibnu Sina optimis: pengetahuan itu pada akhirnya akan menyebar, seperti cahaya yang menerangi dari satu lentera ke lentera lain.
Indra Darmawan: (mengangkat alis) Jadi bukan soal siapa massanya, tapi soal siapa yang “siap” menerima?
Ade Indra Chaniago: Tepat. Sekarang dari sufi. Saya ingat kata Jalaluddin Rumi dalam Masnawi-nya: “Air kehidupan itu ada di lembah kegelapan. Siapa yang mau mencarinya? Bukan yang duduk di istana.”
Juliansyah: Maksudnya?
Ade Indra Chaniago: Rumi bilang, kritik sejati tidak datang dari hotel mewah di gunung. Kritik sejati datang dari mereka yang masuk ke lembah, yang merasakan pahitnya langsung. Tapi Rumi juga bilang, jangan terjebak dalam aksi tanpa makrifat. Jangan jadi seperti orang yang berteriak-teriak di pasar tapi hatinya kosong. Kombinasikan zauq (rasa) dengan ‘ilm (ilmu).
Andi Wijaya: (bersemangat) Jadi, Uda Ade, contoh di masyarakat kita sekarang: ada petani sawit di Riau yang tanahnya diambil korporasi. Mereka protes, ditekan. Lalu ada aktivis dan akademisi yang menulis tentang mereka. Tapi kadang tulisannya terlalu rumit. Petani nggak ngerti. Itu “pesan dalam botol” yang nggak pernah sampai ke alamat.
Ferry Lesmana: Atau contoh lain, Uda. Teman saya guru honorer di OKU Selatan. Gajinya tiga ratus ribu sebulan. Dia ngerti bahwa sistem pendidikan kita kapitalistik. Tapi dia nggak punya waktu buat baca Adorno atau Marcuse. Dia sibuk mikirin besok makan apa. Ketika ada aksi guru honorer, dia ikut. Tapi di mata aktivis kampus, aksinya “nggak punya teori.” Lalu siapa yang salah? Massa yang “nggak kritis” atau intelektual yang terlalu tinggi melayang?
Indra Darmawan: (menepuk meja perlahan) Ini poin luar biasa, Fer. Di Palembang sendiri, berapa banyak buruh pabrik karet dan sawit yang tahu soal “satu dimensi”? Tapi mereka merasakan penindasan. Nafas mereka sesak setiap hari. Mereka punya rasa. Tapi para teoretikus sering lupa bahwa rasa itu adalah bentuk pengetahuan juga.
Juliansyah: (menyilangkan tangan) Lalu jawabannya apa, Uda? Apakah teori kritis itu gagal? Nggak pernah sampai ke audiens?
Ade Indra Chaniago: (tersenyum, menyeduh teh panas) Saya ingin cerita. Di tahun 1970-an, seorang filsuf bernama Paulo Freire datang ke daerah kumuh di Brasil. Dia nggak membawa buku tebal. Dia duduk di tanah, mendengarkan petani buta huruf berbicara. Dia belajar dari mereka. Lalu dia menulis Pedagogy of the Oppressed. Buku itu sekarang dibaca di seluruh dunia. Pesan dalam botol itu akhirnya sampai, tapi bukan karena botolnya yang mewah, bukan karena tulisannya rumit. Tapi karena dia masuk ke laut, merasakan ombak, dan berteriak dengan suara yang bisa didengar.
Semua terdiam.
Ade Indra Chaniago: Marcuse benar tentang satu hal: mereka yang “tidak bisa berpartisipasi” adalah yang tertindas. Tapi kesalahan Sekolah Frankfurt adalah mereka terlalu lama tinggal di hotel mewah. Mereka lupa bahwa teori harus menggandakan diri dalam aksi yang membumi. Bukan aksi asal lempar batu ala mahasiswa protes yang Adorno benci itu. Tapi aksi yang lahir dari dialog, dari mendengarkan, dari “berjalan bersama”.
Andi Wijaya: (mengangguk-angguk) Jadi yang kita butuhkan bukan pilih antara teori atau aksi. Tapi…
Ade Indra Chaniago: Tapi teori yang berjalan. Seperti yang dikatakan sufi agung Ibn Arabi: “Ilmu tanpa amal adalah kesombongan. Amal tanpa ilmu adalah kesesatan.” Dan seperti kata filsuf eksistensialis Søren Kierkegaard: “Kehidupan hanya bisa dipahami ke belakang, tapi harus dijalani ke depan.”
Ferry Lesmana: (menghela napas) Jadi, Uda Ade, bagaimana dengan Pak Muchtar, tetangga Jul yang gulung tikar itu? Teori kritis bisa berbuat apa buat dia?
Ade Indra Chaniago: (menatap Ferry dengan serius) Ini bukan tentang menyelamatkan Pak Muchtar dengan teori. Ini tentang bertanya: mengapa kita membiarkan sistem di mana Pak Muchtar yang membuat pempek dengan resep turun-temurun kalah oleh pempek pabrik yang terbuat dari bahan kimia? Itu pertanyaan kritis. Lalu, kita turunkan ke level praktis: advokasi kebijakan, koperasi pempek, pasar rakyat yang dilindungi. Itu teori yang berjalan.
Juliansyah: (mengusap wajah) Uda Ade, saya jadi ingat kejadian di Pasar 26 Ilir ini bulan lalu. Pedagang kecil dipaksa keluar karena ada investor mau bangun mal. Mereka demo, tapi dibilang “anarkis.” Aktivis kampus datang bantu, tapi cara komunikasinya terlalu menggurui. Akhirnya pedagang malah nggak percaya sama aktivis. Itu contoh nyata, kan, dari “pesan yang nggak sampai”?
Ade Indra Chaniago: (menghela napas panjang) Itu, Jul. Itu tragedi kritis kita. Teori yang tidak turun ke akar rumput bukan teori pembebasan, tapi bentuk lain dari dominasi-dominasi intelektual. Ini yang dilupakan Adorno. Dia terlalu takut pada aksi spontan, sampai lupa bahwa tindakan mendengarkan adalah aksi paling revolusioner yang pernah ada.
Indra Darmawan: (mengangkat cangkir teh) Setuju. Di kampus saya ngajar, saya lihat mahasiswa cerdas membaca Foucault, Deleuze, tapi nggak bisa ngobrol dengan tukang bakso di depan kampus. Itu masalah besar. Kita butuh apa yang dulu disebut Gramsci sebagai intelektual organik yang hidup bersama rakyat, bukan di atas rakyat.
Matahari mulai terbenam di ujung Pasar 26 Ilir. Warna jingga menyapu langit Palembang. Suara azan Magrib mulai terdengar dari kejauhan.
Ferry Lesmana: (menatap Ade Indra Chaniago) Uda Ade, sepertinya Uda mau menyampaikan sesuatu untuk menutup diskusi kita malam ini.
Ade Indra Chaniago: (tersenyum, membereskan piring pempek di hadapannya) Baiklah. Sebagai penutup, izinkan saya menyampaikan nasihat bijak, bukan sebagai pakar, bukan sebagai filsuf, tapi sebagai orang yang juga masih belajar.
Semua diam memperhatikan. Ade Indra menyesap tehnya perlahan.
Ade Indra Chaniago: “Adik-adikku, para pejuang pemikiran di meja sederhana ini.
Kritik budaya itu seperti air sungai Musi, ia mengalir, membawa kebaikan, tapi juga bisa tenggelam jika kita hanya melihatnya dari jembatan tanpa pernah menyentuhnya. Theodor Adorno benar bahwa tulisannya seperti pesan dalam botol. Tapi jangan lupa: botol itu akan hanyut sia-sia jika tidak pernah ada tangan yang membukanya.
Tapi siapa yang akan membuka botol itu? Bukan para intelektual yang duduk nyaman di menara gading. Bukan juga aktivis yang hanya pandai berteriak tapi hatinya kosong. Mereka yang membuka botol itu adalah orang-orang seperti Pak Muchtar yang jatuh bangun mempertahankan hidupnya di tengah mesin kapitalisme yang tak pernah puas. Mereka yang membuka botol itu adalah guru honorer yang meski perutnya keroncongan, masih mengajarkan anak-anak desa tentang mimpi. Mereka yang membuka botol itu adalah para petani sawit yang tanahnya direnggut, namun masih percaya bahwa keadilan itu ada.
Maka kepada para teoretikus: Turunlah dari hotel mewahmu. Jangan hanya jadi penonton yang minum sampanye sambil bergidik melihat penderitaan dunia. Teorimu tidak berharga jika tidak membuat tanganmu kotor oleh debu jalanan.
Kepada para aktivis: Jangan tinggalkan teori. Karena aksi tanpa peta hanya akan berputar-putar dalam labirin yang sama. Bacalah buku, tapi jangan sampai buku itu menjadi tembok yang memisahkanmu dari rakyat.
Kepada kita semua: Ingatlah pesan sufi agung, bahwa ‘ilmu tanpa amal adalah kesombongan, amal tanpa ilmu adalah kesesatan. Dan ingatlah pesan para filsuf, bahwa hidangan pemikiran terbaik adalah yang dimakan bersama, bukan yang dipajang di atas meja untuk dikagumi saja.
Apakah kritik budaya akan mencapai audiens yang tepat? Jawabannya tergantung pada kita. Apakah kita mau menjadi jembatan, atau menjadi tembok? Apakah kita mau membuka botol itu, membaca pesannya, lalu melakukannya atau kita biarkan botol itu hanyut terbawa arus Sungai Musi, sampai akhirnya pecah di muara, tanpa pernah dibaca siapa pun.
Mari kita pulang malam ini, dan besok pagi kita mulai lagi dengan telinga yang lebih terbuka, dengan hati yang lebih rendah, dan dengan tangan yang siap membantu, bukan sekadar menunjuk.”
Suasana hening. Azan Magrib berkumandang. Ferry, Jul, Andi, dan Indra Darmawan terdiam, meresapi setiap kata. Di kejauhan, asap dapur pempek masih mengepul. Hidup di Pasar 26 Ilir terus berjalan dengan segala kritisnya, dengan segala harapnya.
Juliansyah: (menyeka sudut mata) Makasih, Uda Ade. Saya… saya mau besok temui Pak Muchtar. Nggak pakai teori-teori aneh. Cuma mau dengar ceritanya dulu.
Ade Indra Chaniago: (tersenyum, mengangguk) Itulah permulaan dari segalanya, Jul. Mendengar. Selamat jalan pulang. Jangan lupa bungkus pempek untuk keluarga.
Semua tertawa kecil. Satu per satu bangkit dari kursi bambu. Senja di Palembang semakin gelap, tapi di hati kelima orang itu, ada lampu kecil yang menyala menerangi pertanyaan yang masih perlu dijawab bersama.
Palembang, 13 Juni 2026
Tadarus Politik
Jaruingan Aliansi Rakyat Independen