JARI: Menimbang Kaya – Miskin Pelaku Korupsi

JARI: Menimbang Kaya – Miskin Pelaku Korupsi

 

Warung kopi Kawan Lamo di kawasan Cineplex 21, Pasar Cinde Palembang. Pukul 09.00 pagi. Meja kayu sederhana di sudut ruangan, empat gelas kopi hitam pekat mengepul, sepiring pempek dan tekwan menemani. Di balik kaca, pasar Cinde yang megah atau lebih tepatnya, bekas megah yang mangkrak, terlihat dengan dinding-dindingnya yang kusam. Di meja itu duduk  Ade Indra Chaniago, Indra Darmawan, Juliansyah, dan Ferry Lesmana. Suara blender kopi dan obrolan pedagang menjadi latar.

 

Ferry Lesmana: (menunjuk ke luar jendela, ke arah gedung Pasar Cinde yang terbengkalai) Uda, lihat itu. Dulu waktu masih sekolah, pasar ini pusat ekonomi Palembang. Kini tinggal kerangka beton. Katanya proyek revitalisasi Rp1 triliun, tapi malah mangkrak. Saya baca di koran beberapa waktu lalu, mantan pejabat Sumatra Selatan jadi tersangka untuk ketiga kalinya gara-gara ini. Negara rugi Rp1 triliun. Sementara rakyat kecil kehilangan tempat cari nafkah. Ini yang saya sebut kekayaan palsu, uang negara dijarah, rakyat makin miskin.

Juliansyah: (menghela napas, menyesap kopi) mantan pejabat ini kasusnya sudah tiga kali, Ferry. Pertama korupsi pembangunan Masjid Sriwijaya, kedua pembelian gas bumi oleh BUMD PDPDE, ketiga Pasar Cinde. Tapi lihat, selama bertahun-tahun dia berkuasa, keluarganya hidup mewah, anak-anaknya sekolah di luar negeri. Itulah kekayaan yang dibangun di atas penderitaan rakyat.

Ade Indra Chaniago: (meletakkan gelas kopi, menatap ke luar jendela) Kalian berdua membawa saya pada sebuah pertanyaan tua, pertanyaan yang sudah ditanyakan Socrates 2.400 tahun lalu, dan ditulis oleh muridnya Xenophon dalam buku Oeconomicus. Dalam dialog itu, Socrates berbicara dengan Critobulus, seorang pemuda kaya raya. Socrates berkata: “Saya menganggap diri saya sebagai seseorang yang tidak membutuhkan kemakmuran lagi, tetapi Anda, Critobulus, tampak sangat miskin. Ada kalanya saya merasa kasihan kepada Anda.”

Ferry Lesmana: (mengernyit) Socrates yang berjalan tanpa alas kaki itu merasa kasihan pada orang kaya? Logika apa itu, Uda?

Indra Darmawan: (membuka buku catatan) Logika yang sangat dalam, Ferry. Socrates mendefinisikan ulang kekayaan. Bagi Socrates, kekayaan bukanlah jumlah uang yang Anda kumpulkan. Kekayaan adalah rasio antara apa yang Anda miliki dengan apa yang Anda butuhkan. Socrates memiliki kebutuhan yang sangat sedikit, makanan sederhana, pakaian biasa, waktu untuk berfilsafat. Kebutuhannya kecil dan terpenuhi, maka ia merasa kaya.

Ade Indra Chaniago: (menyambung) Sebaliknya, Critobulus memiliki ladang, budak, dan uang tunai melimpah, tapi hasratnya tak terbatas. Ia selalu ingin lebih: lebih banyak properti, lebih banyak pengaruh, lebih banyak kemewahan. Karena keinginannya selalu melampaui kepemilikannya, ia merasa miskin. Socrates berkata: “Bahkan uang bukanlah kekayaan jika pemiliknya tidak tahu cara menggunakannya”. Inilah yang disebut kekayaan fungsional, uang yang tidak bergerak produktif, yang hanya disimpan atau digunakan untuk hal-hal destruktif, adalah uang mati.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Menakar Politik, Kekuasaan, dan Keadilan di Negeri Omnivora

Juliansyah: (menepuk meja) Ini persis yang terjadi dengan para koruptor kita, Uda! mantan pejabat dan kawan-kawan mengumpulkan uang triliunan, tapi mereka tidak tahu cara menggunakannya untuk kebaikan. Mereka hanya menimbun, memamerkan, dan pada akhirnya… masuk penjara. Saya jadi ingat Imam Al-Ghazali. Beliau mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukanlah harta benda, melainkan kecukupan hati (qana’ah). Al-Ghazali berkata: “Kekayaan tidaklah berarti memiliki banyak harta, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan jiwa.” Orang yang punya qana’ah tidak akan pernah tergoda korupsi.

Ferry Lesmana: (mengangguk) Saya setuju. Tapi saya juga ingat kata Ibnu Athaillah As-Sakandari, tokoh sufi besar dalam Al-Hikam. Beliau berkata: “Janganlah engkau bergantung pada amalmu, karena amalmu takkan bisa menyelamatkanmu. Bergantunglah pada rahmat Allah.” Bagi saya, ini mengajarkan bahwa kekayaan materi bukanlah tujuan hidup. Tapi lihat para pejabat kita, mereka bergantung pada uang, pada kekuasaan, pada jabatan. Mereka lupa pada Tuhan.

Ade Indra Chaniago: (tersenyum) Dan di sinilah Xenophon memberikan solusi praktis. Dalam Oeconomicus, setelah “menghancurkan” kesombongan Critobulus, Socrates mengajarkan seni mengelola rumah tangga (oikonomia). Ini mencakup tiga hal:

Pertama, ketertiban dan organisasi, setiap alat harus diletakkan pada tempatnya. Kekayaan tercipta dari sistem dan efisiensi, bukan dari banyaknya uang.

Kedua, pertanian sebagai sumber kekayaan sejati, Xenophon sangat menjunjung tinggi pertanian karena ia mengajarkan kesabaran, kerja keras, dan keadilan. Tidak ada cara curang untuk memanen.

Ketiga, pengetahuan atas nilai, sebuah barang hanya berharga jika pemiliknya tahu untuk apa barang itu berguna.

Indra Darmawan: (menambahkan) Dan inilah yang hilang dari para penguasa kita. Mereka tidak tahu mengelola, mereka hanya tahu menjarah. Lihat kasus kredit macet bank pelat merah di Sumsel: enam tersangka, kerugian negara Rp1,18 triliun. Atau kasus korupsi semen Rp74,3 miliar yang melibatkan petinggi PT Semen Baturaja. Atau Wakil Bupati PALI yang diamankan atas dugaan suap fee proyek. Semua ini adalah bukti nyata bahwa mereka tidak paham oikonomia, mereka hanya paham korupsi.

Ferry Lesmana: (suara meninggi) Saya tambahkan satu lagi, Uda. Di tingkat nasional, kasus LPEI merugikan negara Rp1,06 triliun dan 49,88 juta dolar AS. Di tingkat internasional, kita lihat skandal 1MDB di Malaysia negara tetangga kita, di mana puluhan miliar dolar rakyat Malaysia menguap. Itu semua adalah contoh orang-orang yang menganggap uang sebagai kekayaan, padahal mereka tidak tahu cara menggunakannya.

Juliansyah: (mengusap wajah) Saya jadi ingat kata Rumi, penyair sufi terbesar. Dalam Matsnawi, beliau berkata: “Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” Maksudnya, bagi orang yang beriman, dunia dan kekayaannya hanyalah sementara ia tidak akan terperangkap oleh cinta harta. Tapi lihat para koruptor kita, mereka seolah-olah dunia ini adalah surga yang harus dinikmati sebanyak-banyaknya, tanpa peduli pada akhirat.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Demokrasi yang Hilang Akal

Ade Indra Chaniago: (mengangguk perlahan) Dan di sinilah saya ingin mengingatkan Bung Hatta. Dalam tulisannya tentang koperasi, Hatta mengatakan: “Memang koperasilah yang mesti dianjurkan untuk mendapat kemajuan yang tetap dalam medan ekonomi. Tidak ada lain jalan bagi rakyat kita yang lemah.” Hatta mengajarkan bahwa kekayaan harus dikelola secara kolektif dan adil, bukan ditimbun oleh segelintir orang. Hatta sendiri hidup sederhana, bahkan saat menjadi Wakil Presiden. Itulah contoh nyata dari filosofi Xenophon: kekayaan sejati adalah kecukupan.

Indra Darmawan: (membuka catatan lagi) Saya juga ingat Tan Malaka. Dalam Madilog, ia menulis bahwa rakyat harus punya kesadaran dan ilmu. Tanpa itu, mereka akan terus dieksploitasi. Tan Malaka juga mengkritik keras para penguasa yang menimbun kekayaan sementara rakyat kelaparan. Itu adalah bentuk alienasi, pekerja kehilangan hasil kerjanya, sementara segelintir orang menikmatinya.

Ferry Lesmana: (menunjuk ke arah Pasar Cinde lagi) Lihat lagi ke luar, Uda. Pasar Cinde ini adalah simbol dari kebalikan ajaran Xenophon. Seharusnya, pasar adalah tempat oikonomia, tempat rakyat mengelola ekonomi, tempat pedagang kecil mencari nafkah. Tapi karena korupsi, ia menjadi monumen keserakahan. Mantan pejabat dan kawan-kawan menganggap proyek ini sebagai “kekayaan” tapi bagi rakyat Palembang, ini adalah kutukan.

Suasana hening sejenak. Hanya suara mesin kopi dan obrolan dari meja sebelah. Ade Indra Chaniago menatap gelas kopinya, lalu berbicara pelan.

Ade Indra Chaniago: Saudara-saudara, Xenophon mengajarkan kita sesuatu yang sangat sederhana namun dalam: kekayaan bukanlah apa yang Anda miliki, melainkan apa yang Anda butuhkan dan bagaimana Anda mengelolanya. Socrates bisa berkata “cukup” karena ia mengendalikan keinginannya. Critobulus tidak pernah bisa berkata “cukup” karena ia dikuasai oleh keinginannya.

Para koruptor kita Almarhum, para tersangka kredit macet, para pejabat yang mencuri uang rakyat, adalah Critobulus-Critobulus modern. Mereka punya banyak, tapi selalu merasa kekurangan. Mereka tidak pernah puas. Dan dalam ketidakpuasan itu, mereka merusak diri sendiri dan menghancurkan orang lain.

Tapi ingat: Xenophon tidak hanya mengkritik. Ia memberi jalan keluar. Ia mengajarkan oikonomia seni mengelola. Di tingkat individu, kita belajar mengelola keinginan dan harta. Di tingkat masyarakat, kita belajar mengelola negara dengan adil. Di tingkat spiritual, kita belajar bahwa kekayaan sejati adalah ketenangan jiwa, seperti yang diajarkan Al-Ghazali, Rumi, dan para sufi.

Ade Indra Chaniago berhenti, menatap keempat gelas kopi di hadapannya.

Ade Indra Chaniago: (melanjutkan) Pesan kehidupan saya untuk kita semua sore ini:

Pertama, jangan pernah mengukur kekayaan dari rekening bank atau jabatan. Ukurlah dari seberapa besar Anda bisa berkata “cukup” dengan tulus. Karena orang yang bisa berkata “cukup” adalah orang yang benar-benar merdeka.

Kedua, belajarlah mengelola, bukan mengumpulkan. Xenophon mengajarkan bahwa uang yang tidak bergerak produktif adalah uang mati. Gunakan harta Anda untuk kebaikan, untuk membantu sesama, untuk membangun, bukan untuk memamerkan atau menindas.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Kami Bekerja, Mereka Korupsi

Ketiga, jangan pernah takut pada kemiskinan materi, tapi takutlah pada kemiskinan jiwa. Socrates, yang miskin secara materi, adalah orang yang paling kaya secara moral. Para koruptor, yang kaya secara materi, adalah orang-orang paling miskin secara moral dan spiritual.

Keempat, ingatlah bahwa segala kekayaan akan ditinggalkan. Rumi mengingatkan bahwa dunia ini adalah penjara bagi orang beriman artinya, jangan terperangkap oleh cinta dunia. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa kekayaan sejati adalah kekayaan jiwa. Dan Bung Hatta mengingatkan bahwa kekayaan harus dikelola secara adil untuk semua.

Kelima, mulailah dari yang kecil. Seperti kata Xenophon, kekayaan sejati dimulai dari oikos rumah tangga. Atur keuangan keluarga dengan bijak. Ajari anak-anak tentang nilai uang dan nilai kejujuran. Karena bangsa yang besar dibangun dari rumah tangga yang sehat.

Ia mengangkat gelas kopinya.

Ade Indra Chaniago: Mari kita minum kopi ini, pahit seperti realitas kita, tapi hangat seperti harapan yang masih tersisa. Dan mari kita berjanji: kita tidak akan menjadi Critobulus. Kita akan menjadi Socrates. Kita akan belajar berkata “cukup”. Dan kita akan mengajarkan oikonomia kepada generasi berikutnya bukan korupsi, bukan keserakahan, tapi pengelolaan yang bijaksana atas apa yang Tuhan titipkan kepada kita.

Semua mengangkat gelas. Di luar, Pasar Cinde berdiri megap-megap, sebuah monumen keserakahan yang mengajar kita semua tentang apa artinya kekayaan palsu. Tapi di dalam warung kopi Kawan Lamo, empat orang masih percaya pada kekayaan sejati: ketenangan, kejujuran, dan kecukupan.

Ferry Lesmana: (tersenyum pertama kali pagi itu) Uda, saya akan sampaikan ini ke saudara-saudara di Muba yang sawahnya hilang. Biar mereka tahu bahwa di Palembang, di Pasar Cinde yang mangkrak ini, masih ada yang percaya pada kekayaan yang tidak bisa dicuri.

Juliansyah: (mengangguk) Dan saya akan sampaikan ke teman -teman di Ogan Ilir. Biar mereka tahu bahwa Islam mengajarkan qana’ah, dan korupsi adalah pengkhianatan pada ajaran itu.

Indra Darmawan: (merapikan buku catatan) Saya akan tulis ini. Biar jadi catatan bahwa di pagi hari, di Kawan Lamo, empat orang masih merenungkan arti kekayaan sejati di tengah negara yang sedang sakit oleh keserakahan.

Ade Indra Chaniago: (berdiri, merapikan kemeja) Mari kita pulang. Tapi ingat: perjuangan melawan keserakahan dimulai dari diri sendiri. Seperti kata Socrates: “Kenalilah dirimu sendiri.” Karena hanya dengan mengenal diri, kita tahu apa yang benar-benar kita butuhkan dan apa yang hanya kita inginkan karena keserakahan.

Mereka melangkah keluar. Di belakang mereka, Pasar Cinde berdiri sunyi. Tapi di dalam hati mereka, ada cahaya yang tak bisa diredupkan oleh triliunan rupiah yang dicuri.

 

Palembang, 25 Juni 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen