JARI: Kami Bekerja, Mereka Korupsi

JARI: Kami Bekerja, Mereka Korupsi

 

Pasar Tengkuruk Palembang mulai hidup sejak subuh. Warung kopi “Kopi Mangcik” di sudut pasar, meja-meja kayu sederhana, kursi plastik, asap rokok dan kopi bercampur. Di salah satu meja, empat sosok duduk sejak pukul 08.00: Ade Indra Chaniago, Indra Darmawan, Ferry Lesmana, dan Juliansyah. Di atas meja tersaji lima gelas kopi hitam pekat dan 4 piring model.

 

Ferry Lesmana: (menunjuk koran di atas meja) Uda, saya baca ini dari semalam. Artikel tentang Karl Marx. Katanya, kerja itu esensi manusia. Tapi sekarang, kerja malah jadi perbudakan. “Manusia hanya merasa bebas dalam fungsi-fungsi hewani: makan, minum, bereproduksi” itu kutipan persis dari artikel ini. Saya jadi ingat teman saya, buruh pabrik di Tangerang. Lembur setiap hari, gaji UMR, tapi hidupnya hanya untuk bertahan. Itu yang disebut Marx alienasi, ya?

Ade Indra Chaniago: (mengangguk, menyesap kopi) Tepat, Ferry. Marx menulis bahwa dalam sistem kapitalis, pekerja terasing dari produk kerjanya, dari dirinya sendiri, dan dari sesamanya. Buruh yang membuat sepatu tidak pernah memakai sepatu itu. Buruh yang membangun rumah tinggal di gubuk. Itu ironi kapitalisme. Tapi perlu diingat, Marx bukan sekadar pengkritik. Ia ingin mengubah dunia, bukan hanya menafsirkannya.

Indra Darmawan: (membuka buku catatan) Marx juga mengatakan bahwa “bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaan mereka, melainkan sebaliknya: keberadaan sosial mereka menentukan kesadaran mereka.” Artinya, cara kita berpikir termasuk politik kita ditentukan oleh posisi ekonomi kita. Politisi yang korup bukan karena mereka jahat secara alami, tapi karena sistem mendorong mereka untuk korup.

Juliansyah: (mengusap kumis) Saya ingat Bung Hatta. Beliau bilang, koperasi adalah perwujudan demokrasi ekonomi. “Memang koperasilah yang mesti dianjurkan untuk mendapat kemajuan yang tetap dalam medan ekonomi. Tidak ada lain jalan bagi rakyat kita yang lemah”. Tapi sekarang, koperasi mati, yang hidup kredit macet LPEI yang merugikan negara triliunan rupiah. Itu bukti nyata, Bang. Negara rugi Rp1,06 triliun dan 49,88 juta dolar AS uang rakyat, habis dimakan segelintir orang.

Ferry Lesmana: (menepuk meja) Jul, kamu bicara LPEI saya tambahkan kasus MBG! Program makan bergizi gratis untuk rakyat miskin, malah jadi lahan korupsi. Dadan Hindayana, mantan Kepala BGN, jadi tersangka. Harga sepeda motor listrik digelembungkan, yayasan-yayasan afiliasi ditunjuk secara melawan hukum. Ini bukan cuma korupsi ini alienasi versi Marx! Rakyat yang seharusnya mendapat makan gratis, malah kehilangan haknya. Sementara pejabat sibuk mengembalikan modal kampanye.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Manusia Dilahirkan di Indonesia Terbelenggu?

Ade Indra Chaniago: (tersenyum pahit) Dan di sinilah Rosa Luxemburg mengingatkan kita: “Kebebasan hanya untuk pendukung pemerintah, betapapun banyaknya mereka bukanlah kebebasan sama sekali. Kebebasan selalu dan secara eksklusif adalah kebebasan bagi mereka yang berpikir berbeda”. Di Indonesia, kebebasan hanya untuk yang sejalan dengan kekuasaan. Kritik dibungkam UU ITE. Rakyat yang demo digusur. Itu bukan demokrasi.

Indra Darmawan: (menambahkan) Saya tambahkan Noam Chomsky. Beliau berkata: “Cara paling efektif untuk membatasi demokrasi adalah dengan mengalihkan pengambilan keputusan dari ruang publik ke institusi yang tidak bertanggung jawab”. Lihat saja DPR kita, keputusan diambil di belakang pintu tertutup, lobi-lobi pengusaha, bukan musyawarah rakyat. Chomsky juga bilang bahwa “selama institusi-institusi utama masyarakat tidak berada di bawah kendali populer para peserta dan komunitas, tidak ada gunanya berbicara tentang demokrasi”.

Juliansyah: (menghela napas) Saya teringat Allama Muhammad Iqbal. Beliau berkata: “Jika agama dipisahkan dari politik, maka yang tersisa adalah kedespotan” (Juda ho deen siyasat se to reh jaati hai changezi). Artinya, politik tanpa moral hanya akan melahirkan tiran. Dan kita lihat sekarang, politik kita kehilangan moral. Politisi tidak takut pada Tuhan, tidak takut pada rakyat, hanya takut pada kekuasaan dan uang.

Ferry Lesmana: (menyambar) Dan jangan lupa Sayyid Qutb! Beliau menekankan keadilan absolut (al-‘adl al-muṭlaq) keadilan tanpa memandang warna kulit, jenis kelamin, ras, atau keyakinan. Tapi di Indonesia, keadilan hanya untuk yang punya uang. Petani karet di OKI digusur tanpa ganti rugi layak. Nelayan di pesisir kehilangan laut karena tambak udang. Itu keadilan versi siapa?

Ade Indra Chaniago: (mengangkat jari) Dan mari kita ingat Ali Shariati. Beliau mengatakan bahwa kebebasan tidak akan terwujud tanpa tingkat keadilan dan standar hidup yang minimum. Seorang yang kelaparan tidak bisa bebas, ia hanya bisa bertahan. Di Indonesia, 26 juta orang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Bagaimana mereka bisa berdemokrasi kalau perut mereka kosong?

Indra Darmawan: (membuka catatan lagi) Saya ingin kembali ke Marx. Dalam Manifesto Komunis, ia menulis: “Sejarah setiap masyarakat hingga saat ini adalah sejarah perjuangan kelas” penindas dan tertindas selalu bertentangan. Di Indonesia, perjuangan kelas itu nyata. Buruh vs pengusaha. Petani vs korporasi. Rakyat kecil vs oligarki. Tapi yang tragis, perjuangan itu tidak pernah dimenangkan rakyat kecil karena sistem politik telah dimanipulasi.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Ketika Negara Melahirkan Koruptor

Ferry Lesmana: (suara lirih) Lalu apa solusinya, Uda? Marx bilang revolusi. Tapi revolusi di Indonesia sudah dicoba, PKI 1965, Reformasi 1998. Hasilnya? Yang berkuasa berganti, tapi strukturnya tetap sama. Yang miskin tetap miskin. Yang kaya makin kaya.

Ade Indra Chaniago: (diam sejenak, menatap kelima gelas kopi) Marx memang menawarkan revolusi. Tapi Eduardo Galeano mengingatkan: “Demokrasi adalah kemewahan Utara. Di Selatan, yang diizinkan hanyalah pertunjukan demokrasi”. Indonesia adalah Selatan. Kita hanya diberi pertunjukan demokrasi, Pemilu setiap lima tahun, tapi ekonomi tetap dikuasai segelintir orang. Galeano juga berkata: “Tidak ada yang terlalu terganggu bahwa politik itu demokratis, selama ekonomi tidak demikian”.

Juliansyah: (mengangguk) Saya setuju. Tapi sebagai Muslim, saya juga ingat Imam Al-Ghazali. Beliau mengatakan kekuasaan adalah amanah dari Allah. Pemimpin yang adil akan mendapat kebahagiaan, yang zalim akan celaka. Tapi sekarang, pemimpin kita tidak takut pada Allah. Mereka lebih takut pada kehilangan kursi.

Indra Darmawan: (menambahkan) Dan jangan lupa Tan Malaka. Dalam Aksi Massa, ia menulis bahwa aksi massa berasal dari orang banyak untuk memenuhi kehendak ekonomi dan politik mereka, disebabkan oleh kemelaratan yang besar. Tapi Tan Malaka juga mengingatkan bahwa aksi massa bukanlah tindakan seorang pahlawan, ia adalah gerakan kolektif yang terorganisir. Kita butuh gerakan kolektif, bukan sekadar demo sporadis.

Ferry Lesmana: (menunjuk ke arah luar warung) Uda, lihat pasar ini. Pedagang kecil, tukang ojek, buruh angkut. Mereka adalah proletariat yang Marx bicarakan. Tapi mereka tidak sadar akan kekuatan mereka. Mereka sibuk bertahan hidup. Marx bilang kerja adalah esensi manusia, tapi kerja mereka hanya untuk bertahan, bukan untuk mengembangkan diri. Itu alienasi yang nyata.

Ade Indra Chaniago: (menatap jam pukul 11.25) Saudara-saudara, kita hampir memasuki waktu Zuhur. Mari saya simpulkan.

Ia menarik napas panjang.

Ade Indra Chaniago: Marx mengajarkan bahwa kerja adalah esensi manusia, dan kapitalisme telah merampas esensi itu melalui alienasi. Tapi Marx juga mengajarkan bahwa manusia bisa mengubah dunianya. Di Indonesia, kita melihat alienasi itu nyata dalam kasus MBG, dalam skandal LPEI, dalam penggusuran di Rempang dan OKI. Rakyat dipaksa bekerja untuk bertahan, sementara segelintir orang menikmati hasilnya.

Tapi ingat: Marx bukanlah nabi. Soekarno sendiri berkata: “Marx dan Engels bukanlah nabi-nabi yang dapat mengadakan aturan-aturan yang dapat terpakai segala zaman”. Kita perlu mengambil inspirasi dari Marx, tapi juga dari Bung Hatta yang mengajarkan koperasi, dari Buya Hamka yang mengajarkan musyawarah dan keadilan, dari Iqbal yang mengajarkan bahwa politik tanpa moral adalah kedespotan, dari Ali Shariati yang mengajarkan bahwa kebebasan membutuhkan keadilan, dan dari Rosa Luxemburg yang mengajarkan bahwa kebebasan adalah hak bagi mereka yang berpikir berbeda.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Demokrasi yang Hilang Akal

Pesan kehidupan saya sore ini: Jangan pernah menyerah pada keputusasaan. Marx menulis Das Kapital di tengah kemiskinan, ia kehilangan tiga anak, tinggal di London yang suram. Tapi ia tidak berhenti menulis. Kita juga tidak boleh berhenti. Mulailah dari yang kecil: dari warung kopi ini, dari pasar ini, dari percakapan dengan tetangga. Karena seperti kata Galeano: “Yang penting bagi saya bukanlah apa yang akan terjadi, tetapi apa yang sedang dalam proses terjadi”.

Ia mengangkat gelas kopinya.

Ade Indra Chaniago: Mari kita akhiri dengan doa. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk terus memperjuangkan keadilan, bukan dengan kekerasan, tapi dengan kesadaran, organisasi, dan keberanian. Karena seperti kata Marx: “Para filsuf sampai saat ini hanya menafsirkan dunia; yang penting adalah mengubahnya.” Mari kita ubah dunia dimulai dari diri kita sendiri, dari lingkungan kita, dari pasar Tengkuruk ini.

Jam menunjukkan 11.30. Azan Zuhur mulai berkumandang dari masjid dekat pasar. Empat orang itu berdiri. Kopi hampir habis. Model tinggal remah-remah. Di luar, pasar masih hidup, pedagang, pembeli, ojek, semua melanjutkan perjuangan harian mereka.

Ferry Lesmana: (tersenyum pertama kali pagi itu) Uda, saya akan bawa ini ke Tulung Selapan. Ceritakan ke tetangga saya. Mungkin mereka juga perlu tahu bahwa di Palembang, masih ada yang percaya pada keadilan.

Juliansyah: (mengangguk) Dan saya akan sampaikan ke teman, saudara, dan tetangga di Ogan Ilir. Biar mereka tahu bahwa Islam mengajarkan keadilan, dan politik tanpa moral adalah pengkhianatan pada agama.

Indra Darmawan: (merapikan buku catatan) Saya akan tulis ini. Biar jadi catatan sejarah bahwa di pagi hari, di pasar Tengkuruk, empat orang masih peduli pada nasib bangsanya.

Ade Indra Chaniago: (berdiri, merapikan kemeja) Mari kita salat. Dan setelah itu, kita lanjutkan perjuangan dengan cara kita masing-masing. Karena perjuangan tidak pernah usai. Ia hanya berganti bentuk.

Mereka melangkah keluar warung, menuju masjid Agung. Di belakang mereka, empat  gelas kopi kosong saksi bisu percakapan tentang Marx, alienasi, dan harapan yang masih menyala.

 

Palembang, 24 Juni 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen