JARI : Krisis Kebenaran di Era Pasca-Kebenaran
“Krisis kebenaran pada akhirnya adalah juga krisis spiritual. Ketika manusia kehilangan kompas transcenden, maka ia akan mudah tersesat di hutan.” [ DR (C) Ade Indra Chaniago ]
Indra Darmawan: (Sambil menyeruput kopi) “Uda, baru saja aku selesai membaca esai Martine Prange, The Crisis of Truth. Cogok benar rasanya dengan situasi kita sekarang, terutama setelah pemilu kemarin. Udara politik di Palembang ini saja masih terasa panas oleh hoaks. Prange bilang, kita hidup di era pasca-kebenaran, di mana fakta objektif kalah pamor oleh emosi dan keyakinan pribadi. Tapi pertanyaannya, bagaimana kita bisa sampai di titik ini?”
Ade Indra Chaniago: “Pertanyaan bagus, Bro. Prange memang menawarkan diagnosis yang tajam. Menurutku, kita perlu membedahnya dari tiga lapis tesis yang dia ajukan. Pertama, dia mengaitkan pasca-kebenaran dengan kebangkitan populisme dan fasisme modern. Politikus membanjiri ruang publik dengan omong kosong, membuat kebenaran mengalami inflasi. Strategi ini membungkam kritik karena publik terlalu sibuk memilah tumpukan informasi yang simpang siur. Di Indonesia, fenomena ‘bilik gema’ atau echo chamber di media sosial memperparah ini. Seperti yang dikatakan Wakil Menteri Komunikasi, Nezar Patria, algoritma media sosial membuat kita hidup dalam gelembung informasi sendiri, di mana sentimen lebih tinggi pengaruhnya daripada fakta .”
Indra Darmawan: “Benar itu. Kita lihat sendiri bagaimana debu hoaks beterbangan di grup-grup keluarga. Lalu tesis keduanya, Prange membela postmodernisme dari tuduhan sebagai biang kerok. Banyak yang menyalahkan pemikir seperti Foucault atau Derrida karena dianggap mengusung relativisme, bahwa semua kebenaran itu setara. Prange membantah keras. Menurutnya, postmodernisme itu soal pluralisme, bukan relativisme. Mereka hanya mengingatkan bahwa kebenaran selalu terbingkai oleh konteks sejarah, budaya, dan bahasa. Ini bukan berarti lantas semua opini sama benarnya.”
Ade Indra Chaniago: “Nah, di sinilah menariknya. Prange justru menunjuk ke arah yang berbeda. Tesis ketiganya, krisis ini lebih disebabkan oleh media, khususnya teknologi komunikasi. Dia bilang, pukulan terhadap kebenaran dari teknologi jauh lebih dahsyat daripada dari filsafat postmodern. Kecepatan, viralitas, dan algoritma telah menciptakan apa yang disebut Jean Baudrillard sebagai hiperrealitas di mana simulasi menjadi lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri . Tapi Bro, sebagai orang yang akrab dengan studi sosial dan politik juga keislaman, aku jadi bertanya-tanya: dari perspektif Islam, bagaimana seharusnya kita memandang ‘krisis kebenaran’ ini?”
Indra Darmawan: “Pertanyaan mendasar, Uda. Dalam tradisi Islam, konsep kebenaran bersifat tegas dan hirarkis. Ada kebenaran mutlak yang berasal dari Allah Swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Proses turunnya wahyu ini, seperti dijelaskan oleh Ibnul Qayyim, memiliki tujuh tingkatan. Mulai dari mimpi yang benar (ru’ya shadiqah), inspirasi dalam hati (nafts fi ar-ru‘), hingga puncaknya ketika Allah berfirman langsung tanpa perantara, seperti yang dialami Nabi Musa As . Wahyu adalah al-Haqq, kebenaran tertinggi yang menjadi referensi utama. Di luar itu, ada kebenaran interpretatif hasil ijtihad manusia yang bersifat relatif.”
Ade Indra Chaniago: “Jadi, dalam Islam, kebenaran transcenden itu kokoh. Lalu bagaimana dengan realitas sosial yang cair seperti sekarang? Apakah ada pintu masuk dari tradisi spiritual Islam untuk memahami kebenaran di tengah kekacauan informasi?”
Indra Darmawan: “Di sinilah kita bisa melihat dari kacamata tasawuf. Tokoh sufi besar, Junayd al-Baghdadi, mengajarkan bahwa tasawuf adalah upaya pemurnian jiwa agar bisa berinteraksi dengan Allah secara murni. Bagi seorang sufi, kebenaran tidak hanya ditemukan lewat teks, tetapi juga lewat ‘kasyaf’ atau tersingkapnya tabir realitas oleh Allah . Namun, ini bukan berarti relativisme liar. Justru, seorang sufi ketika menghadapi perbedaan makna dalil, ia akan memilih sikap yang paling hati-hati (ihtiyath) dan paling mendekatkan diri kepada Allah . Ini adalah filter internal, sebuah ‘literasi batin’ untuk membedakan mana bisikan kebenaran ilahi dan mana bisikan hawa nafsu. Dalam era pasca-kebenaran, kita mungkin kehilangan filter internal semacam ini. Kita lebih percaya pada sentimen dan hawa nafsu kelompok daripada suara hati yang terdalam.”
Ade Indra Chaniago: “Literasi batin… konsep yang menarik. Prange sendiri menawarkan solusi klasik: parrhesia. Konsep Yunani kuno tentang berbicara benar dengan berani di ruang publik. Seorang parrhesiastes tidak takut menyuarakan kebenaran untuk perubahan sosial meski harus menghadapi risiko, bahkan kematian . Ini adalah sikap berani, tapi juga rendah hati karena ia tahu kebenaran yang ia suarakan adalah demi kepentingan bersama, bukan kepentingan pribadi atau kelompoknya semata. Bukankah ini mirip dengan sikap seorang nabi atau seorang ulama kharismatik di masa lalu?”
“Krisis kebenaran pada akhirnya adalah juga krisis spiritual. Ketika manusia kehilangan kompas transcenden, maka ia akan mudah tersesat di hutan informasi yang ia ciptakan sendiri. Kita harus berani jadi parrhesiastes, tapi juga harus memiliki hati yang bersih untuk mengenali mana suara kebenaran yang hakiki di tengah hiruk-pikuk dunia.”
Indra Darmawan: (Menyandarkan punggung di kursi, mengambil napas dalam) “Nah, Uda, berbicara tentang ‘literasi batin’ dan hati yang bersih, saya jadi teringat sebuah elaborasi menarik dari seorang teman tentang bagaimana seharusnya kita memandang krisis ini dari kacamata yang lebih dalam lagi. Izinkan saya membacakan sekilas catatan yang saya bawa. Ini tentang pandangan seorang tokoh sufi besar, Junayd al-Baghdadi. Menurut catatan ini, Uda, naskah dialog kita ini secara brilian telah mengidentifikasi bahwa akar krisis kebenaran tidak hanya terletak pada faktor eksternal seperti teknologi atau politik, tetapi juga pada keruntuhan filter internal manusia, yang kita sepakati sebut sebagai ‘literasi batin.’ Di sinilah pandangan tokoh sufi seperti Junayd al-Baghdadi menemukan relevansinya yang paling fundamental.
Jika para filsuf seperti Prange, Nietzsche, atau Habermas menawarkan diagnosis dan resep dari ranah sosial-filosofis, Junayd al-Baghdadi membawa kita pada ranah ontologis dan epistemologis-spiritual. Beliau memberikan tiga poin penting yang relevan dengan diskusi kita.
Pertama, Kebenaran Sebagai Penyaksian, Bukan Sekadar Informasi. Junayd al-Baghdadi adalah tokoh sentral dalam tradisi tasawuf yang dikenal karena ajarannya tentang tawhid yang sangat ketat dan penekanannya pada fana’ dan baqa’. Bagi Junayd, kebenaran tertinggi (al-Haqq) bukanlah sebuah proposisi atau fakta objektif yang bisa diperdebatkan di ruang publik, melainkan Realitas Tertinggi yang hanya dapat disaksikan (musyahadah) melalui penyucian jiwa yang mendalam. Dalam konteks ‘krisis kebenaran’ kita, problem utama manusia modern bukan hanya ketidakmampuan membedakan fakta dan hoaks, tetapi lebih dalam dari itu: hilangnya kapasitas untuk ‘menyaksikan’ realitas secara jernih. Pikiran manusia dikaburkan oleh hawa nafsu, prasangka kelompok (asabiyyah), dan kecintaan berlebihan pada ilusi duniawi. Akibatnya, ia mudah menerima ‘kebenaran’ yang paling sesuai dengan keinginannya, persis seperti yang dikatakan Nietzsche, bahwa orang tidak mau ilusinya dihancurkan.
Kedua, Tazkiyat al-Nafs sebagai Fondasi Pencarian Kebenaran. Junayd mengajarkan bahwa jalan menuju pengetahuan tentang Allah (makrifat) dimulai dengan tajarrud (pengosongan diri) dan tazkiyat al-nafs (penyucian jiwa). Proses ini adalah upaya membersihkan ‘cermin hati’ dari karat hawa nafsu agar mampu memantulkan cahaya kebenaran ilahi. Nah, Uda, proses inilah yang kita sebut sebagai pembangunan ‘literasi batin.’ Literasi batin bukanlah sekadar kemampuan membaca teks, tetapi kemampuan ‘membaca’ sinyal-sinyal kebenaran di dalam hati. Ini adalah filter internal yang membedakan bisikan malaikat (ilham) dari bisikan setan (was-was). Tanpa filter ini, manusia akan mudah terombang-ambing oleh emosi dan sentimen yang sengaja digelembungkan oleh algoritma media sosial. Kebenaran yang datang dari luar (fakta) tidak akan pernah bisa diresapi dengan benar jika ruang batin—hati kita—sedang kacau dan dipenuhi debu prasangka.
Ketiga, Ihtiyath di Tengah Simulakra Kebenaran. Catatan ini juga mengingatkan bahwa dalam naskah kita tadi, kita sempat menyinggung seorang sufi yang ketika berhadapan dengan perbedaan makna dalil, akan memilih sikap paling hati-hati (ihtiyath) dan paling mendekatkan diri kepada Allah. Prinsip ini sangat relevan di era hiperrealitas Baudrillard, di mana batas antara realitas dan simulasi, antara fakta dan hoaks, menjadi kabur. Di tengah banjir informasi yang simpang siur, di mana setiap orang merasa paling benar, ajaran Junayd tentang ihtiyath mengajak kita untuk tidak tergesa-gesa mengklaim kepemilikan atas kebenaran. Sikap ini lahir dari kesadaran bahwa kebenaran mutlak hanya milik Allah. Bagi manusia, kebenaran yang diraihnya selalu bersifat parsial dan interpretatif. Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati intelektual dan spiritual, yang merupakan antitesis dari sikap arogan para penyebar hoaks dan kebencian yang mengklaim diri sebagai ‘pembawa kebenaran’ padahal hanya menyebarkan ilusi.”
Ade Indra Chaniago: (Meresapi dengan seksama) “Lengkap sekali analisis itu, Bro. Dia berhasil menjembatani konsep parrhesia yang kita bicarakan dengan tradisi spiritual Islam.”
Indra Darmawan: “Betul, Uda. Dan ini kesimpulannya, yang menurutku sangat kuat. Catatan ini mengatakan bahwa naskah dialog kita ini pada akhirnya menjembatani Parrhesia dan Tazkiyah. Junayd al-Baghdadi memberikan fondasi bagi sintesis ini. Parrhesia tanpa tazkiyah bisa berubah menjadi keberanian yang brutal dan arogan, karena ia berbicara ‘atas nama kebenaran’ namun hatinya masih dipenuhi kepentingan diri atau kelompok. Sebaliknya, tazkiyah tanpa parrhesia bisa jatuh pada spiritualitas pasif yang acuh pada kerusakan sosial di sekitarnya.
Dengan menggabungkan keduanya, seorang Muslim diajak untuk menjadi parrhesiastes sejati di ruang publik, yang keberaniannya lahir dari hati yang telah dibersihkan. Ia adalah pribadi yang tidak takut menyuarakan kebenaran (haqq) untuk kemaslahatan bersama, karena ia telah memiliki kompas transcenden di dalam dirinya, sehingga tidak mudah tersesat di hutan simalakama informasi era digital. Inilah sumbangan pemikiran Junayd al-Baghdadi dalam menjawab krisis kebenaran yang sedang kita hadapi.”
Ade Indra Chaniago: “Nah, ini dia intinya. Kompas transcenden itu harus kita rawat. Diskusi kita hari ini benar-benar mengingatkan bahwa melawan hoaks tidak cukup dengan literasi digital semata, tapi juga harus dibarengi dengan literasi batin. Kalau hati kotor, data secanggih apa pun bisa kita putar balikkan untuk membenarkan kebencian kita.”
Indra Darmawan: “Setuju, Uda. Mudah-mudahan obrolan Tadarus Politik kita ini bisa jadi salah satu oase kecil di tengah hiruk-pikuk politik pasca-pemilu yang masih panas ini.”
“Tepat sekali! Parrhesia itu keberanian yang lahir dari integritas moral. Tapi tantangannya, di era media sosial sekarang, semua orang merasa bisa menjadi ‘pembawa kebenaran’ dengan berteriak di linimasa. Bedanya, parrhesiastes sejati itu seperti yang digambarkan Michel Foucault, ia mengambil risiko. Sementara ‘pembawa kebenaran’ di medsos sering kali hanya berlindung di balik akun anonim tanpa risiko apa pun.”
Ade Indra Chaniago: “Lalu, selain Prange, Nietzsche juga punya pandangan profetik. Jauh hari dia sudah bilang, ‘People don’t want to hear the truth because they don’t want their illusions destroyed’ (orang tidak mau mendengar kebenaran karena mereka tidak mau ilusinya dihancurkan) . Manusia lebih nyaman dengan ilusi yang menenangkan daripada fakta yang mengganggu. Ini menjelaskan mengapa hoaks yang meneguhkan keyakinan politik kita lebih mudah ditelan daripada fakta pahit yang menantangnya.”
Indra Darmawan: “Nah, kalau para filsuf lain seperti Jurgen Habermas, pasti akan menyesali hilangnya ruang publik yang rasional. Baginya, kebenaran seharusnya lahir dari diskursus dan argumen terbaik, bukan dari kekuatan algoritma atau popularitas. Sementara Slavoj Zizek mungkin akan menyindir bahwa kita butuh ‘kekerasan’ kebenaran yang mampu membangunkan kita dari mimpi buruk ideologi kita.”
Ade Indra Chaniago: “Jadi, untuk menjawab pertanyaan awalmu, Bro, ‘Bagaimana kita bisa sampai di era pasca-kebenaran?’ Jawabannya multidimensional. Bukan hanya karena media sosial, bukan hanya karena postmodernisme, dan bukan hanya karena populisme. Tapi kombinasi semuanya: teknologi yang mengamplifikasi emosi, politisi yang mengeksploitasi fragmentasi itu, dan kita sendiri manusia yang secara psikologis cenderung memilih kenyamanan ilusi daripada kegelisahan kebenaran .”
Indra Darmawan: (Mengangguk-angguk) “Dan solusi yang ditawarkan pun harus multidimensional. Prange menawarkan parrhesia, keberanian untuk berbicara benar. Kita butuh literasi digital yang kritis, seperti usulan pengamat media Ignatius Haryanto, yang mengibaratkan hoaks sebagai debu dan kita perlu ‘masker’ berupa kemampuan berpikir kritis . Namun dari perspektif tasawuf, yang tak kalah penting adalah membangun kembali ‘literasi batin’ kepekaan moral dan spiritual agar kita tidak mudah terombang-ambing oleh hiruk-pikuk kebenaran semu di dunia maya.”
Ade Indra Chaniago: “Setuju. Krisis kebenaran pada akhirnya adalah juga krisis spiritual. Ketika manusia kehilangan kompas transcenden, maka ia akan mudah tersesat di hutan informasi yang ia ciptakan sendiri. Kita harus berani jadi parrhesiastes, tapi juga harus memiliki hati yang bersih untuk mengenali mana suara kebenaran yang hakiki di tengah hiruk-pikuk dunia.”
Rabu, 11 Maret 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan