JARI: Niat Suci dan Politik Kotor

JARI: Niat Suci dan Politik Kotor

 

Warung kopi sederhana milik Mang Kodrat, tepat di kolong Jembatan Ampera, Palembang. Atap seng gelombang, dinding terbuat dari bilik bambu yang sudah menguning karena asap. Meja-meja kayu tua diatur menghadap ke Sungai Musi. Dari sini, Jembatan Ampera yang megah menjulang tepat di atas kepala, suara kendaraan lalu lalang samar-samar terdengar. Aroma kopi tubruk bercampur dengan bau pempek yang baru digoreng dan asap rokok kretek. Waktu menunjukkan pukul 13.00 – usai salat zuhur. Matahari masih terik, tapi angin dari sungai membuat suasana teduh.

 

Mang Kodrat (kaus oblong lusuh, kopiah hitam, wajah kecokelatan, duduk di kursi plastik merah): Silakan, nikmati pempek buatan bini saya. Cukonya pedas, jangan kaget. Ini warung saya sejak 1998, sudah banyak orang ngobrol di sini dari supir truk, dosen, sampai aktivis. Tapi baru kali ini ada yang mau duduk lama.

Ferry Lesmana (kemeja batik cokelat lengan panjang, rokok di tangan kiri, menyandarkan punggung ke tiang bambu): Kita siang ini akan membahas sosok yang kontroversial: Niccolò Machiavelli. Banyak orang menganggapnya gurunya kejahatan, diktator, dan kelicikan. Tapi artikel yang saya bawa justru membela Machiavelli. Katanya, nilai besarnya adalah fokus pada kelayakan, bukan pada keindahan visi.

Juliansyah (kemeja putih lengan digulung, buku catatan di pangkuan): Saya sudah baca. Intinya: Machiavelli memperingatkan terhadap moralisme dalam politik. Niat baik seringkali berujung pada hasil buruk karena para pembuat kebijakan buta terhadap realitas kompleks. Mereka hanya sibuk dengan “perasaan benar” sendiri, tanpa mempertimbangkan apakah kebijakan itu efektif.

Ade Indra Chaniago (duduk di kursi kayu sandaran): Machiavelli hidup di abad ke-16, di Florence, Italia. Ia adalah Sekretaris Kanselir Kedua Republik Florentina. Ia menyaksikan langsung kekacauan politik: perang antar kota, invasi asing, pengkhianatan, dan intrik. Dari pengalaman itu, ia menyimpulkan bahwa para penguasa yang baik hati dan bermoral justru cepat jatuh. Yang bertahan adalah mereka yang memahami realitas kekuasaan – bahwa manusia pada dasarnya tidak berterima kasih, munafik, pengecut, dan serakah.

Indra Darmawan: Tapi jangan salah. Machiavelli bukan mengajarkan kejahatan. Ia mengajarkan Realpolitik – politik yang berangkat dari fakta, bukan dari angan-angan. Ia berkata: “Seorang penguasa yang bijaksana tidak boleh menepati janjinya jika hal itu merugikan dirinya dan alasan-alasan yang membuatnya berjanji sudah tidak ada lagi.” Ini kedengarannya sinis, tapi lihatlah dunia: berapa banyak perjanjian damai yang dilanggar karena situasi berubah? Berapa banyak intervensi kemanusiaan yang justru memperpanjang penderitaan?

Mang Kodrat menyeduh ulang kopi. Ferry memotong pempek kapal selam dengan gunting.

Ferry Lesmana: Artikel itu memberikan contoh konkret: bantuan pembangunan dan intervensi kemanusiaan di zona konflik. Tujuan mulia meringankan penderitaan. Tapi seringkali, bantuan itu justru memperpanjang konflik. Mengapa? Karena para politisi dan LSM internasional lebih fokus pada niat baik mereka sendiri daripada kelayakan di lapangan. Mereka tidak mau tahu bahwa bantuan pangan bisa jatuh ke tangan milisi, bahwa kamp pengungsi bisa menjadi sarang radikalisasi.

Juliansyah (mencatat): Contoh nyata: di Afghanistan selama dua dekade, AS dan sekutunya mengucurkan miliaran dolar untuk “membangun demokrasi” dan “hak-hak perempuan”. Hasilnya? Setelah mereka pergi pada 2021, Taliban kembali berkuasa dalam hitungan minggu. Banyak infrastruktur yang dibangun hancur atau dikuasai musuh. Bantuan yang diberikan malah memperkaya kontraktor dan koruptor lokal. Pertanyaannya: apakah intervensi itu layak? Apakah efektif? Machiavelli akan mengatakan: kalian terlalu sibuk dengan visi mulia, lupa menilai realitas bahwa Afghanistan adalah negara dengan struktur kesukuan yang kuat, yang tidak bisa diubah dengan paksaan asing.

Mang Kodrat (mengangguk-angguk, sambil mengelap gelas): Saya pernah baca di koran. Di Somalia juga sama. Pasukan penjaga perdamaian PBB malah dilecehkan, bantuan makanan dijarah. Akhirnya mereka mundur. Lalu masyarakat biasa yang paling menderita. Niat baik tidak cukup, harus ada akal sehat.

Ade Indra Chaniago (menghela napas): Machiavelli memisahkan politik dan moralitas. Bukan karena ia tidak bermoral, tapi karena ia sadar bahwa moralitas individual tidak bisa langsung diterjemahkan menjadi kebijakan publik. Contoh klasik: seorang Kristen sejati diminta memaafkan musuh dan memberikan pipi yang lain. Tapi jika seorang kepala negara memaafkan musuh bebuyutan yang masih mengancam keamanan rakyatnya, itu adalah kebodohan – bukan kebajikan. Dalam kasus ekstrem, membiarkan musuh hidup bisa menyebabkan ribuan rakyatnya tewas.

Indra Darmawan (menambahkan): Di Indonesia, kita punya pengalaman pahit dengan moralisme politik di masa lalu. Pada awal reformasi, banyak kebijakan diambil dengan semangat “bersih, transparan, akuntabel” tapi tanpa perhitungan matang tentang kelayakan. Contoh: kebijakan otonomi daerah yang digesa-gesakan. Niatnya baik – memberdayakan daerah, mengurangi sentralisasi. Tapi akibatnya? Banyak daerah kewalahan mengelola anggaran, korupsi justru merajalela di tingkat kabupaten, dan ketimpangan antardaerah makin lebar. Apakah itu efektif? Ternyata tidak.

Rokok Ferry habis. Ia mengambil sebatang lagi dari bungkus. Juliansyah memesan pisang goreng untuk camilan.

Juliansyah: Dalam Sang Pangeran, Machiavelli menggunakan istilah virtù. Ini sering diterjemahkan sebagai “kebajikan”, tapi berbeda dengan pengertian Kristen. Apa maksudnya?

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Mereka Lupa Ideologi Sendiri

Ade Indra Chaniago (bersemangat): Virtù bagi Machiavelli adalah kebijaksanaan pragmatis kemampuan seorang pemimpin untuk membaca situasi, mengambil keputusan sulit, dan menggunakan kekejaman jika perlu, tetapi dengan batas tertentu. Bukan kekejaman yang sadis, tapi kekejaman yang dihitung – dilakukan sekali, cepat, dan sedemikian rupa sehingga tidak memicu kebencian berkepanjangan. Contoh: Cesare Borgia, yang Machiavelli kagumi, menempatkan menteri kejam untuk menenangkan provinsi yang kacau, lalu setelah tugas selesai, ia memenggal menteri itu untuk menunjukkan bahwa kekejaman bukan atas namanya, tapi atas nama ketertiban.

Mang Kodrat (mengernyit): Wah, kejam sekali. Tapi saya mengerti logikanya. Kadang, untuk menyelamatkan banyak orang, kita harus mengorbankan satu atau dua. Dalam perang, itu biasa.

Indra Darmawan (menimpali): Tapi hati-hati. Machiavelli juga mengingatkan bahwa pemimpin yang baik harus menghindari kebencian rakyat. Jika rakyat membenci, tidak ada benteng yang bisa menyelamatkan. Jadi virtù bukan tentang sewenang-wenang, tapi tentang keseimbangan antara ketegasan dan popularitas. Ia lebih dekat dengan kearifan praktis (phronesis) dalam filsafat Yunani daripada “kebaikan” dalam agama.

Ferry Lesmana (menghela napas): Di OKI, kami punya contoh seorang camat yang terkenal “tegas”. Ia membersihkan preman pasar, memecat oknum pegawai nakal, dan memaksa pedagang mematuhi aturan. Banyak yang benci, tapi pasar menjadi tertib. Kemudian ia diganti karena banyak laporan ke bupati. Camat baru “baik hati”, mau mendengar semua keluhan, tapi pasar kembali kacau, pungli merajalela. Pertanyaannya: Camat pertama itu Machiavellian? Apakah ia benar atau salah?

Ade Indra Chaniago (tersenyum): Menurut Machiavelli, camat pertama adalah pemimpin yang efektif. Ia berhasil menciptakan ketertiban, meskipun dengan cara yang tidak populer. Camat kedua adalah pemimpin yang disukai tapi gagal. Pertanyaannya: apa tujuan utama? Ketertiban atau popularitas? Jika ketertiban, maka camat pertama lebih baik, meskipun ia dianggap “kejam”. Tapi Machiavelli juga akan mengatakan: camat pertama seharusnya mengkomunikasikan tujuannya dengan lebih baik, agar rakyat mengerti mengapa kekejaman diperlukan. Ia juga harus membangun aliansi agar tidak mudah digulingkan.

Mang Kodrat membawakan singkong rebus dan kelapa parut. Kopi diseduh ulang. Juliansyah meregangkan punggung.

Juliansyah: Kita sudah bicara teori. Sekarang, contoh nyata lain tentang moralisme dalam politik yang menghasilkan kebalikan dari yang diinginkan.

Indra Darmawan (membuka catatan tebal): Saya catat beberapa. Pertama, intervensi NATO di Libya (2011). Niatnya: melindungi warga sipil dari pembantaian oleh Muammar Khadafy, menjatuhkan diktator, membangun demokrasi. Hasilnya? Libya hancur. Negara itu kini terpecah antara dua pemerintahan yang saling bermusuhan, milisi bersenjata merajalela, perdagangan budak terjadi di pasar terbuka, dan ribuan migran tewas di laut karena mencoba kabur. Apakah intervensi itu layak? Apakah niat baik cukup membenarkan bencana kemanusiaan yang lebih besar? Machiavelli akan menjawab: para pemimpin Barat terlalu sibuk dengan gambar diri sebagai penyelamat dan lupa menghitung konsekuensi jangka panjang.

Ferry Lesmana (mengangguk): Kedua, invasi AS ke Irak (2003). Alasan: menghancurkan senjata pemusnah massal yang ternyata tidak ada, dan “membebaskan rakyat Irak” dari Saddam Hussein. Hasil: lebih dari 200.000 warga sipil tewas, negara koyak oleh perang saudara, dan muncullah ISIS yang kemudian meneror dunia. Apakah itu sepadan? Para politisi AS tidak pernah mengakui kesalahan mereka. Mereka terus berkata, “Kami punya niat baik.”

Mang Kodrat (menghela napas panjang): Saya ingat cerita teman yang pernah kerja di lembaga donor asing. Katanya, mereka sering memaksakan proyek yang tidak sesuai kebutuhan lokal, hanya karena itu sedang tren di kantor pusat. Contoh: membangun toilet umum di desa yang tidak punya air bersih. Toiletnya jadi tidak terpakai. Uang milyaran rupiah terbuang. Niatnya baik – meningkatkan sanitasi. Tapi tidak layak.

Ade Indra Chaniago (meneguk kopi hitam): Inilah yang disebut “the road to hell is paved with good intentions” – jalan menuju neraka dipenuhi dengan niat baik. Machiavelli sudah memperingatkan 500 tahun lalu. Moralisme tanpa perhitungan realitas adalah resep bencana. Politik harus dipisahkan dari moralitas personal, bukan karena kita ingin jahat, tapi karena tanggung jawab publik menuntut hasil, bukan perasaan.

Rokok terakhir dinyalakan. Asbak penuh. Mang Kodrat mengganti dengan asbak baru.

Juliansyah: Sekarang, dari perspektif Islam. Apakah ada tokoh yang memiliki pandangan mirip Machiavelli? Atau justru bertentangan?

Indra Darmawan (mengusap kumis): Dalam Islam, terdapat perdebatan panjang tentang hubungan moralitas dan kekuasaan. Saya mulai dari Al-Ghazali (1058-1111). Dalam kitab Nasihat untuk Para Penguasa (walaupun otentisitasnya diperdebatkan), Al-Ghazali menekankan bahwa seorang penguasa harus adil dan bermoral. Tapi ia juga pragmatis: ia mengakui bahwa kadang penguasa harus tegas, bahkan kejam, untuk menjaga ketertiban. Tujuan utama adalah maslahah (kebaikan umum). Jika kekejaman diperlukan untuk mencegah kerusakan yang lebih besar, maka itu dibolehkan. Ini mirip dengan prinsip dar’u al-mafasid muqaddam ‘ala jalbi al-mashalih (menolak kerusakan lebih utama daripada mendatangkan kebaikan). Dalam fiqih, ada konsep siyasah syar’iyyah – kebijakan pemerintahan yang didasarkan pada kemaslahatan, tidak harus kaku mengikuti teks.

Ferry Lesmana (mencatat): Tapi bukankah Al-Ghazali juga mengkritik para penguasa yang zalim? Ia mengatakan bahwa “sehari keadilan lebih baik daripada 60 tahun ibadah sunnah”.

Ade Indra Chaniago (mengangguk): Benar. Al-Ghazali tidak menganjurkan kezaliman. Ia menganjurkan keadilan pragmatis. Bedanya dengan Machiavelli: Machiavelli memisahkan politik dari moralitas Kristen karena ia skeptis pada moralitas itu sendiri. Al-Ghazali tetap berpegang pada moralitas Islam, tapi ia memberi ruang bagi darurat dan kemaslahatan. Ini nuansa yang berbeda.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Keadilan yang Tak Pernah Sampai

Juliansyah (bertanya): Bagaimana dengan Ibnu Taimiyah (1263-1328)? Ia dikenal keras.

Indra Darmawan (menjawab): Ibnu Taimiyah dalam As-Siyasah Asy-Syar’iyyah mengatakan bahwa tujuan negara adalah menegakkan keadilan dan mencegah kemungkaran. Ia juga pragmatis: ia mengakui bahwa penguasa yang tidak ideal pun harus dipatuhi selama ia tidak memerintahkan maksiat. Bahkan, ia mengatakan bahwa “Allah menegakkan keadilan melalui negara kafir, namun tidak menegakkannya melalui negara muslim yang zalim”. Ini menunjukkan bahwa hasil (keadilan) lebih penting daripada label (islam atau kafir). Sangat Machiavellian, tapi dalam bingkai tauhid.

Mang Kodrat (tiba-tiba bersemangat): Bagaimana dengan para sufi? Mereka kan biasanya menjauhi politik. Tapi ada yang bicara soal kekuasaan?

Ade Indra Chaniago (tersenyum): Ada. Jalaluddin Rumi (1207-1273) dalam Masnavi bercerita tentang seekor tikus dan katak. Tikus ingin menyeberangi sungai, katak menawarkan diri untuk menggendongnya, tapi katak punya niat jahat – ingin menenggelamkan tikus. Rumi berkata: “Jangan percaya pada musuh yang bersikap baik, tapi jangan juga membenci teman yang bersikap kasar.” Ini mengajarkan bahwa penampilan luar (baik hati, ramah) tidak selalu menunjukkan kebenaran. Kadang, orang yang keras di luar justru lebih tulus. Ini sejalan dengan Machiavelli yang mengingatkan agar pemimpin tidak terlalu percaya pada sanjungan.

Ferry Lesmana (menambahkan): Lalu Ibnu Arabi (1165-1240) dalam Fushush al-Hikam berbicara tentang “hukum rahmat” dan “hukum kebenaran”. Kadang, kebenaran yang keras diperlukan untuk menegakkan rahmat jangka panjang. Seorang ayah yang memukul anaknya yang nakal bukan karena benci, tapi karena cinta. Dalam politik, seorang pemimpin mungkin harus mengambil tindakan tidak populer demi kebaikan bersama. Ini mirip dengan virtù Machiavelli.

Juliansyah (menghela napas): Dan di Indonesia, Gus Dur (Abdurrahman Wahid) juga sering dianggap “Machiavellian” oleh lawan-lawannya. Ia membubarkan partai politik dan melarang ajaran sesat dengan tegas, di tengah tekanan besar. Ia juga membuka hubungan diplomatik dengan Israel – suatu keputusan yang sangat tidak populer di kalangan Islam Indonesia – karena ia menganggap itu demi kepentingan nasional. Gus Dur berkata: “Politik adalah soal kepentingan, bukan soal perasaan.” Apakah Gus Dur Machiavellian?

Ade Indra Chaniago (tertawa kecil): Gus Dur adalah Machiavellian dalam arti positif. Ia tidak bermoralis, ia pragmatis. Ia mengorbankan popularitasnya demi efektivitas. Banyak yang membencinya, tapi sejarah membuktikan bahwa ia adalah salah satu presiden paling berani dan visioner. Sayangnya, ia digulingkan oleh moralisme politik – oleh mereka yang mengaku “lebih Islam” dan “lebih demokratis”. Ironisnya, setelah Gus Dur jatuh, demokrasi Indonesia justru tidak menjadi lebih baik; malah korupsi merajalela.

Indra Darmawan (menambahkan): Buya Hamka juga pernah mengatakan: “Politik tanpa moral adalah biadab, tapi moral tanpa politik adalah omong kosong.” Ini keseimbangan. Buya Hamka mengakui bahwa politik memerlukan perhitungan dan kekuasaan, tapi tetap dalam bingkai akhlak. Bukan moralisme naif yang lupa realitas, tapi bukan juga sinisme yang mengabaikan nilai.

Pempek habis. Singkong rebus juga. Mang Kodrat membawakan es jeruk untuk menyegarkan. Matahari mulai condong ke barat, bayangan Jembatan Ampera memanjang ke arah sungai.

Ferry Lesmana (mengusap keringat di dahi): Kita butuh contoh dari Indonesia sendiri, khususnya Sumsel. Agar tidak terlalu abstrak.

Juliansyah (mengangguk): Saya mulai dari program konversi minyak tanah ke LPG (elpiji) tahun 2007-2010. Niatnya mulia: menghemat subsidi, lebih ramah lingkungan, dan lebih efisien. Tapi pelaksanaannya kacau. Kompor dan tabung LPG didistribusikan tanpa edukasi yang memadai. Banyak warga desa di Ogan Ilir dan OKI yang tidak tahu cara menggunakan kompor LPG dengan aman. Akibatnya, terjadi kebakaran di mana-mana. Ada yang meninggal. Pemerintah pusat hanya fokus pada target dan gambar baik di media, lupa kelayakan di lapangan. Machiavelli akan mengatakan: ini kegagalan karena para pembuat kebijakan tidak memikirkan efektivitas.

Mang Kodrat (menambahkan): Di Palembang, dulu ada program normalisasi sungai. Niatnya: membersihkan sungai dari sampah dan permukiman liar, agar banjir berkurang. Tapi eksekusinya: warga digusur tanpa kompensasi layak, mereka kehilangan tempat tinggal, dan sungai tetap kotor karena tidak ada sistem pengolahan sampah yang berkelanjutan. Para aktivis lingkungan dan politisi yang mengusulkan program itu sudah pindah tugas, tidak pernah bertanggung jawab atas hasilnya.

Ferry Lesmana (mengerutkan dahi): Contoh lain: bantuan sosial (bansos) selama pandemi Covid-19. Niatnya baik – meringankan beban rakyat. Tapi data penerima kacau. Banyak yang tidak layak mendapat bansos, sementara yang layak tidak kebagian. Ada yang mendapat bantuan berulang kali, ada yang tidak sama sekali. Korupsi terjadi di mana-mana. Akhirnya, bansos yang dianggarkan trilyunan rupiah tidak efektif mengurangi kemiskinan. Banyak warga justru frustasi dan kehilangan kepercayaan pada pemerintah.

Ade Indra Chaniago (menghela napas panjang): Ini semua adalah kegagalan moralisme. Para pembuat kebijakan sibuk dengan niat baik mereka sendiri, sibuk dengan press release dan foto op, lupa menguji kelayakan di lapangan. Machiavelli akan berkata: “Seorang pemimpin yang bijaksana tidak cukup hanya memiliki niat baik. Ia harus memiliki akal untuk mewujudkannya. Jika tidak, ia sama bodohnya dengan orang yang membangun istana di atas pasir.”

Indra Darmawan (menambahkan): Dan yang lebih parah, ketika kebijakan gagal, mereka tidak mau mengakui kesalahan. Mereka justru menyalahkan rakyat: “Masyarakat tidak kooperatif,” “Kurang sosialisasi,” atau “Anggaran terbatas.” Padahal akar masalahnya adalah kesombongan moral – perasaan bahwa karena niat kita baik, maka hasilnya pasti baik. Machiavelli mengatakan sebaliknya: dunia ini kejam, dan niat baik saja tidak cukup.

Matahari mulai tenggelam. Warna jingga kemerahan memantul di permukaan Sungai Musi. Lampu-lampu di Jembatan Ampera mulai menyala satu per satu. Mang Kodrat menyalakan lampu 40 watt di warung.

Juliansyah (meletakkan pulpen): Baiklah, setelah mendengar semua ini, apa yang bisa kita ajarkan kepada generasi muda kita? Mereka sering idealis, ingin mengubah dunia dengan niat baik, tapi buta terhadap realitas.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Jembatan Emas Tanpa Keadilan

Ade Indra Chaniago (berdiri sebentar, berjalan ke tepi sungai, lalu kembali):
Saya punya tiga nasihat ala Machiavelli untuk pemuda:

Pertama, jadilah pragmatis, bukan dogmatis. Jangan terpaku pada ideologi atau slogan. Tanyakan selalu: apakah ini berhasil? Apakah ini layak? Jika tidak, ubah strategi, meskipun itu berarti mengakui kesalahan. Keberanian untuk berubah lebih berharga daripada keteguhan pada kebodohan.

Kedua, pelajari kekuasaan, jangan hindari. Banyak aktivis muda yang anti-kekuasaan, anti-partai, anti-pemerintah. Mereka menganggap kekuasaan itu kotor. Padahal, tanpa kekuasaan, niat baik tidak akan pernah terwujud. Machiavelli mengajarkan bahwa untuk melakukan kebaikan, kadang kita harus memegang kekuasaan – dan itu berarti bermain dengan aturan yang ada, tidak selalu bersih, tidak selalu indah. Tapi jika kita tidak mau, maka orang lain – yang lebih kejam – yang akan memegangnya.

Ketiga, jangan pernah percaya bahwa niat baik cukup untuk membenarkan hasil buruk. Dalam politik, yang dinilai adalah hasilnya, bukan niatnya. Seorang komandan perang yang kalah perang namun berhati mulia tetap akan dikenang sebagai pecundang. Sebaliknya, pemimpin yang menang meskipun dengan cara kontroversial, akan dikenang sebagai pahlawan. Ini pahit, tapi ini realitas.

Ferry Lesmana (mengangguk perlahan): Tapi apakah itu tidak mengajarkan sinisme? Bahwa segala cara halal?

Indra Darmawan (menimpali): Tidak. Machiavelli tidak mengajarkan kejahatan untuk kejahatan. Ia mengajarkan perhitungan. Pertanyaan yang harus selalu diajukan: apakah tindakan ini, meskipun tidak populer atau kontroversial, akan menghasilkan lebih banyak kebaikan bagi lebih banyak orang? Jika ya, lakukan. Jika tidak, jangan. Ini adalah utilitarianisme sebelum Jeremy Bentham.

Mang Kodrat (mengangkat jari): Saya orang warung, tidak sekolah tinggi. Tapi saya lihat, tetangga saya yang paling sukses adalah yang berani mengambil risiko dan tidak terlalu peduli omongan orang. Mereka tetap menghormati orang lain, tapi mereka tidak membiarkan ketakutan akan penilaian menghalangi mereka. Mungkin itu Machiavellian versi rakyat kecil.

Juliansyah (tersenyum): Jadi, Machiavelli tidak seburuk yang digambarkan. Ia hanya jujur tentang bagaimana dunia bekerja. Dan kejujuran itu kadang menyakitkan.

Waktu Maghrib hampir tiba. Suara adzan mulai terdengar dari masjid-masjid sekitar Jembatan Ampera.

Ferry Lesmana (membereskan catatan): Mari kita simpulkan. Apa inti pesan Machiavelli untuk kita hari ini?

Ade Indra Chaniago (berdiri, merapikan bajunya): Intinya: jangan biarkan moralisme membutakanmu terhadap realitas. Niat baik itu indah, tapi tidak cukup. Dunia ini kompleks, penuh dengan kepentingan, tipu daya, dan kekerasan. Seorang pemimpin – dan setiap warga negara juga – harus belajar membaca situasimenghitung risiko, dan mengambil keputusan sulit. Kadang, keputusan itu akan membuatmu tidak populer, bahkan dibenci. Tapi jika itu untuk kebaikan bersama, lakukanlah.

Indra Darmawan (menutup buku catatan): Dan dalam perspektif Islam, para sufi mengajarkan bahwa amal tanpa ilmu adalah sia-sia, ilmu tanpa amal adalah hampa. Machiavelli menambahkan: ilmu dan amal tanpa perhitungan realitas adalah bencana. Maka, marilah kita menjadi pribadi yang tidak hanya baik hati, tapi juga cerdas. Karena kebaikan tanpa kecerdasan seringkali menjadi alat bagi kejahatan.

Juliansyah (berdiri, mengulurkan tangan): Terima kasih, Uda Ade. Hari ini saya belajar bahwa Machiavelli bukan guru setan, tapi guru realitas. Dan realitas itu pahit, tapi harus dihadapi.

Mang Kodrat (mulai membereskan meja, bersiap untuk salat Maghrib): Warung ini selalu terbuka untuk diskusi seperti ini. Besok, kalau mau, kita lanjutkan. Sekarang, mari kita salat.

Mereka berlima berjalan ke tempat wudhu. Suara adzan Maghrib bergema dari menara masjid Agung. Jembatan Ampera yang megah bercahaya lampu-lampu warna-warni. Sungai Musi mengalir tenang, seolah tidak peduli dengan perdebatan panjang tentang Machiavelli yang baru saja usai.

Di kejauhan, kapal-kapal tradisional mulai menyalakan lampu. Dan di warung kecil di kolong jembatan, enam gelas kopi kosong, piring pempek yang sudah ludes, dan asbak yang penuh dengan puntung rokok menjadi saksi bisu percakapan yang mengguncang pikiran.

 

Palembang, 21 Mei 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen