JARI : Akal Budi yang Merdeka, Hati yang Bijaksana “Selamat Jalan Angku Yus”

JARI : Akal Budi yang Merdeka, Hati yang Bijaksana “Selamat Jalan Angku Yus”

 

Sebuah kafe tua di tepi Sungai Musi, Palembang. Sore hari. Indra Darmawan, aktivis pendidikan yang kritis dan energik, duduk bersama Ade Indra Chaniago, akademisi senior yang bijaksana dengan segudang pengalaman.

 

Indra Darmawan: (sambil menyeduh kopi) Uda, Simone de Beauvoir membuka tulisannya dengan pernyataan yang begitu menggugah sekaligus kontroversial: “Sebuah filsafat selalu arogan, dan memang harus demikian.” Menurutnya, ini karena filsafat berdiri di atas klaim kepemilikan kebenaran. Sampai di sini, saya setuju. Tapi, di Palembang ini, ketika kita berbicara soal “berpikir”, bukankah keangkuhan seperti itu justru yang sering kita hindari? Kita lebih suka musyawarah mufakat yang kadang membuat semua pikiran menjadi datar dan kehilangan ketajamannya.

Ade Indra Chaniago: (tersenyum tipis) Dinda, pertanyaanmu sudah mencerminkan sebuah pergulatan yang baik. De Beauvoir benar soal keberanian, tapi kita tidak boleh melupakan konteks. Di Sumatera Selatan, di Palembang ini, berpikir itu bukan soal “kepemilikan kebenaran” secara individual, tetapi soal “pencarian kebenaran” secara kolektif. Namun, saya setuju, terlalu banyak musyawarah tanpa keberanian untuk berbeda bisa melahirkan kebuntuan. De Beauvoir melanjutkan, bahwa filsafat harus dimulai dari kebebasan. Dan kebebasan, menurutnya, bukan sekadar tidak terhalang, tetapi sebuah proyek. Ia bilang, manusia yang ditinggalkan di padang pasir dan diberi tahu ia boleh ke mana saja, belum tentu bebas. Bebas adalah ketika ada kehendak untuk bergerak, ada proyek untuk mewujudkan diri.

Indra Darmawan: Nah, itu dia, Uda. Proyek mewujudkan diri. Dalam dunia pendidikan kita, seringkali murid tidak diajak untuk memiliki proyek berpikir sendiri. Mereka hanya diberi “padang pasir” materi tanpa peta. De Beauvoir menyebut, siapa pun yang menganggap kebebasannya serius pasti akan berfilsafat. Artinya, berpikir kritis adalah konsekuensi logis dari kebebasan. Tapi, bukankah di Indonesia, tokoh-tokoh kita juga sudah lama memikirkan hal ini? Tan Malaka, misalnya. Ia berbicara tentang aksi dan pikiran yang tak terpisahkan. Bagaimana kalau kita hubungkan dengan De Beauvoir, Uda?

Ade Indra Chaniago: Hubungan yang sangat tepat. De Beauvoir berbicara tentang kebebasan sebagai praktik, sebagai proyek. Tan Malaka, dalam “Madilog” (Materialisme, Dialektika, Logika), menekankan pentingnya berpikir secara logis dan dialektis untuk membebaskan diri dari takhayul dan penjajahan. Bagi Tan Malaka, “berpikir” adalah senjata paling utama. Kalau De Beauvoir mengatakan “manusia hanya menjadi manusia melalui penolakannya untuk bersikap pasif”, Tan Malaka akan mengatakan “manusia hanya menjadi manusia melalui akal budinya yang kritis yang diwujudkan dalam aksi”. Dia bahkan mengkritik kebudayaan yang hanya berhenti pada rasa tanpa ratio. Jadi, keangkuhan filsafat ala De Beauvoir itu, dalam konteks Indonesia, adalah keberanian untuk menggunakan akal sendiri, seperti yang diserukan oleh Tan Malaka dan juga Bung Hatta.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : Dendam Kemiskinan dan Dendam Kekuasaan dalam Kepemimpinan

Indra Darmawan: Ah, Bung Hatta. Proklamator yang juga seorang filsuf. Apa kata beliau, Uda? Saya ingat Hatta sangat terpengaruh oleh rasionalisme Barat, tetapi juga mendalami Islam.

Ade Indra Chaniago: Hatta, dalam esai-esainya, sering menekankan bahwa berpikir adalah inti dari kemerdekaan. Bagi Hatta, kemerdekaan tanpa kecerdasan akan sia-sia. Ia mengutip Descartes, “Aku berpikir, maka aku ada”. Tapi Hatta memodifikasinya dalam konteks Indonesia: kemerdekaan adalah syarat untuk berpikir, dan berpikir adalah syarat untuk mempertahankan kemerdekaan. De Beauvoir bilang, orang bebas mempertanyakan realitas yang ada. Hatta bilang, orang yang merdeka harus berani menjadi “penggerak” (motor) bukan sekadar “yang digerakkan”. Di sinilah letak kesamaan mereka: kebebasan adalah fondasi untuk bertindak secara rasional.

Indra Darmawan: Lalu bagaimana dengan Muhammad Yamin? Puisinya penuh imajinasi, tapi juga ia adalah seorang ahli sejarah dan filsafat kebudayaan. Apakah “berpikir” baginya juga tentang kebebasan?

Ade Indra Chaniago: Yamin menawarkan dimensi yang berbeda, Dinda. Ia menekankan pada kebebasan berkarya dan berimajinasi. De Beauvoir mempertanyakan mana yang lebih baik mewakili realitas, filsafat atau novel? Yamin menjawabnya dengan praktik: ia menjadi filsuf melalui puisi dan sejarah. Berpikir baginya bukan hanya analisis logis, tetapi juga kreasi dan penghayatan. Ia percaya bahwa sebuah bangsa besar harus memiliki “sistem berpikir” yang berakar pada sejarah dan bahasanya sendiri. Jadi, kalau De Beauvoir menekankan kebebasan sebagai proyek personal, Yamin menekankan kebebasan berpikir sebagai fondasi untuk membangun peradaban kebangsaan. Keangkuhan filsafat, dalam pandangan Yamin, adalah keberanian suatu bangsa untuk mendefinisikan dirinya sendiri, bukan ditentukan oleh bangsa lain.

Indra Darmawan: (mencatat di buku kecilnya) Ini menarik, Uda. Dari Barat kita dapatkan keberanian individual untuk mempertanyakan, dari Timur (Nusantara) kita dapatkan akar kolektif dan historis. Tapi, saya penasaran dengan satu tokoh lagi yang mungkin lebih “tradisional” tetapi sangat mendalam. Yaitu tokoh Minangkabau, Angku Yus Datuak Parpatiah Guguak. Beliau terkenal dengan falsafah alam takambang jadi guru. Bagaimana konsep berpikir dalam filsafat Minang itu?

Ade Indra Chaniago: (Terdiam sejenak, menunduk, lalu menghela napas panjang. Suaranya menjadi berat dan penuh haru.) Dinda… sebenarnya baru saja saya dapat kabar dari Koto Gadang. Hari Minggu kemarin, Angku Yus berpulang ke rahmatullah. Dan hari ini, Senin, 30 Maret 2026, beliau dikebumikan. Saya masih terasa getir ini di dada. Sebuah kehilangan besar bukan hanya bagi kaum Minangkabau, tetapi bagi seluruh dunia pemikiran Nusantara.

(Ade Indra Chaniago mengambil napas, matanya berkaca-kaca, kemudian menatap jauh ke arah Sungai Musi.)

Beliau adalah nan tuo nan bijaksana, tempat kami berguru. Falsafah alam takambang jadi guru yang beliau hidupkan bukan sekadar kata-kata, melainkan metode berpikir yang merendahkan hati sekaligus membebaskan. Hari ini, saya hanya bisa mengucapkan: Keluarga Besar Komunitas JARI : Selamat Jalan “Angku Yus”. Alam Takambang jadi Guru. Semoga almarhum ditempatkan di sisi-Nya yang terbaik, dan ilmu serta keteladanan beliau tetap mengalir di antara kita.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : “Jika Tuhan Ada, Kita Harus Menghapus-Nya?”

(Setelah hening sejenak, Ade Indra Chaniago menyesap kopinya, lalu melanjutkan dengan suara yang mulai stabil namun penuh penghormatan.)

Nah, pertanyaanmu tentang Angku Yus sangat tepat waktu. Di sinilah kita mendapat perspektif yang benar-benar berbeda namun saling melengkapi dengan De Beauvoir. Angku Yus, melalui falsafah alam takambang jadi guru (alam terkembang menjadi guru), mengajarkan bahwa sumber kebenaran bukan hanya dari akal manusia, tetapi dari alam semesta itu sendiri. Berpikir, dalam tradisi Minang, adalah proses “membaca” alam, baik alam makrokosmos (jagat raya) maupun mikrokosmos (manusia). De Beauvoir berbicara tentang “proyek pribadi” untuk melawan kepasifan. Angku Yus mengajarkan bahwa manusia adalah “pemain” di panggung alam yang memiliki aturan. Kebebasan bukanlah tanpa batas, tetapi kebebasan dalam memahami dan selaras dengan aturan alam (hukum alam).

Jika De Beauvoir mengatakan kebebasan harus dipraktikkan sebagai proyek, Angku Yus akan mengatakan: “Iya, tetapi proyek itu haruslah bijaksana. Seorang yang bebas adalah seorang yang alim (tidak hanya pintar agama, tapi juga paham alam) dan cendekia (menguasai ilmu). Keangkuhan tanpa kebijaksanaan hanya akan merusak alam dan sesama.” Di sinilah letak etika dalam berpikir. Filsafat boleh arogan dalam klaim kebenarannya, tetapi dalam adat Minang, kebenaran itu harus diuji dalam musyawarah dan selaras dengan alam. Ada ungkapan: duduak samo randah, tagak samo tinggi (duduk sama rendah, berdiri sama tinggi). Itu adalah manifestasi dari kebebasan demokratis dalam berpikir.

Indra Darmawan: (dengan nada haru dan hormat) Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya, Uda. Saya baru mendengar kabar ini. Semoga Amal dan ilmu Angku Yus menjadi penerang di alam kubur. Ternyata, di tengah diskusi kita tentang keangkuhan filsafat, Angku Yus mengingatkan bahwa keangkuhan itu harus berakar pada kearifan. Jadi, “keangkuhan” De Beauvoir perlu disandingkan dengan “kearifan” lokal? Apakah filsafat Islam juga memberikan pandangan yang serupa?

Ade Indra Chaniago: Tentu. Dalam filsafat Islam, misalnya Al-Ghazali, ia mengkritik kaum filsuf yang terlalu arogan dalam rasionalisme murni sampai melupakan aspek spiritual dan intuisi (dzauq). Bagi Al-Ghazali, kebebasan tertinggi adalah kebebasan jiwa dari keterikatan duniawi, dan puncak pengetahuan adalah ma’rifat (pengetahuan tentang Tuhan). De Beauvoir berbicara tentang kebebasan sebagai proyek personal untuk menjadi manusia seutuhnya. Al-Ghazali berbicara tentang kebebasan sebagai proses pensucian jiwa untuk mencapai kebahagiaan hakiki. Lalu ada Ibnu Rusyd (Averroes) yang justru membela filsafat, ia bilang bahwa berpikir secara rasional adalah kewajiban agama karena akal adalah karunia Tuhan. Jadi, dalam Islam, ada dialog yang intens antara arogansi rasio dan kerendahan hati iman.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : Kalender dan Ramadhan Abadi

Indra Darmawan: Saya jadi merenung, Uda. De Beauvoir di akhir tulisannya menyindir orang yang mendefinisikan kebahagiaan sebagai kehidupan borjuis yang stabil dan domestik. Ia bilang, jika Anda menunggu kematian dalam kenyamanan, bukankah Anda sudah sama saja dengan mati? Di Palembang ini, seringkali kita terjebak dalam zona nyaman, wong kito galo, sehingga keberanian untuk berbeda menjadi sesuatu yang “tidak sopan”. Bagaimana kita menanamkan “filsafat yang arogan” ini dalam pendidikan, tanpa kehilangan nilai-nilai kesopanan dan kearifan yang diajarkan oleh Angku Yus dan para filsuf Islam?

Ade Indra Chaniago: (menepuk meja pelan) Itulah tantangan kita, Adinda. Pendidikan harus mengajarkan bahwa “sopan” bukan berarti “pasif”. Seorang murid yang kritis dan berani mengajukan pertanyaan yang “arogan” terhadap status quo adalah wujud nyata dari kebebasan yang dipraktikkan. Namun, keangkuhan itu haruslah berpijak. Ia berpijak pada alam takambang jadi guru (berbasis realitas), pada musyawarah (berbasis dialog), dan pada akhlak (berbasis etika).

De Beauvoir memulai dari kebebasan personal. Kita di Indonesia, di Palembang, harus memulai dari kebebasan yang bertanggung jawab. Tanggung jawab kepada alam, kepada masyarakat, dan kepada Tuhan. Mari kita ajarkan pada anak-anak kita: “Berpikirlah seperti De Beauvoir, dengan keberanian dan hasrat untuk mempertanyakan segalanya. Tetapi hiduplah seperti Angku Yus, dengan kebijaksanaan untuk menyelaraskan diri dengan alam dan sesama. Dan berfilosofilah seperti Al-Ghazali, bahwa puncak pengetahuan adalah cinta dan kedekatan dengan yang Ilahi.”

Indra Darmawan: Jadi, “keangkuhan” yang dimaksud De Beauvoir bukanlah kesombongan, melainkan komitmen? Komitmen untuk tidak pasrah. Komitmen untuk terus bergerak. Seperti yang dikatakan Bung Hatta, menjadi motor bukan yang digerakkan.

Ade Indra Chaniago: Tepat sekali. Itulah esensi berpikir. Sebuah filosofi mungkin dimulai dengan klaim yang berlebihan, tetapi jika klaim itu adalah klaim atas hak untuk menjadi manusia seutuhnya yang bebas, yang kritis, dan yang bertanggung jawab—maka keangkuhan itu adalah sebuah keniscayaan. Seperti kata De Beauvoir, “manusia hanya menjadi manusia melalui penolakannya untuk bersikap pasif.” Dan penolakan itu, dimulai dari keberanian untuk berpikir.

Indra Darmawan: (Mengangkat gelas kopinya) Untuk keberanian berpikir, Uda. Dan untuk Palembang yang lebih merdeka.

Ade Indra Chaniago: (Mengangkat gelasnya) Untuk akal budi yang merdeka dan hati yang bijaksana. Untuk kepergian Angku Yus, semoga ilmunya tetap mengalir. Mari kita buktikan bahwa kita bukanlah manusia yang “menunggu kematian” di atas kursi nyaman, tetapi manusia yang terus menjadi.

 

Senin, 30 Maret 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan