Jalan Cinta Rumi

Jalan Cinta Rumi

Ingatlah bahwa Nabi Muhammad pernah berkata: “Satu penglihatan tentang-Nya adalah suatu berkah yang tak terhingga”. Setiap daun dari sebatang pohon membawa seuntai firman dari dunia yang tak terlihat. Lihatlah, tiap-tiap daun yang jatuh ke tanah sebagai suatu berkah dari-Nya. Segala sesuatu di alam ini senantiasa menari dalam harmoni, bernyanyi tanpa lidah, dan mendengar tanpa telinga, ya, semua itu adalah berkah yang tak terhingga dari-Nya.”

 ungguhpun tasawuf lebih menekankan pada aspek hakikat, tetapi dua dimensi lainnya; syari’at dan thariqat (ilmu dan amal) menjadi sangat penting sebagai entery point kepada kesadaran spiritual (hakikat).

Dalam ajaran Rumi, mengenai tiga dimensi ini dapat dilihat bagaimana ketiganya memiliki wilayah kerja dan fungsinya masing-masing:

“Syari’at ibarat pelita, ia menerangi jalan. Tanpa pelita, kalian tidak dapat berjalan. Ketika sedang menapaki jalan, kalian sedang menempuh thariqat, dan ketika telah sampai pada tujuan itulah hakikat”. Syari’at ibarat ilmu tentang obat. Thariqat adalah pengobatan. Hakikat adalah kesehatan yang tak lagi memerlukan keduanya”.

“Manakala seseorang telah melepaskan diri dari kehidupan dunia ini, terlepaslah ia dari thariqat, dan hanya hakikat. Syari’at adalah ilmu, thariqat adalah amal, dan hakikat mencapai Tuhan”.

Dari penjelasan Rumi tentang integritas dimensi tasawuf, maka sesungguhnya Rumi sedang menegaskan pentingnya ilmu (syari’at), amal (thariqat), dan kesadaran spiritual (hakikat). Mengenai paham tentang tiga dimensi dalam tasawuf juga dapat ditemukan pada tokoh-tokoh lain dalam sejarah pemikiran Islam.

Dia menggunakan dasar tauhid sebagai pijakan dalam menerangkan hakikat Tuhan. Manusia dan keterciptaan alam. Dan pentingnya pengetahuan teoritis, pengamalan dan kesadaran batin. Yang lebih spesifik dari Rumi adalah bahwa, ia menerangkan pesan-pesan al-Qur’an, Hadis, dan ajaran sufi sebelumnya dengan lantunan puisi dan syair. Dimana tidak setiap orang dapat memahami secara langsung sebagaimana memahami tafsir al-Qur’an yang ditulis secara sistematis. Dan justru di sinilah banyak orang yang keliru memahami dunia Rumi.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : Kesenjangan Warga dan Politisi di Palembang

Dalam konsepsi Jalaluddin Rumi, manusia pada dasarnya adalah maKhluk dua dimensi yang berada di antara hewan dan malaikat, diantara dunia material dan spiritual. Akan tetapi manusia diberkati dengan anugrah kemampuan memilih, sehingga berpotensi untuk menempatkan dirinya pada posisi yang lebih rendah dari hewan atau pada posisi yang lebih mulia dari malaikat karena anugrah kebebasan memilih yang dianugrahkan oleh Allah.

Rumi juga mengajarkan bahwa hakikat atau esensi manusia yang sebenarnya terletak pada aspek spiritualnya, yang merupakan amanah Allah SWT yang hanya diberikan kepada makhluk manusia yang berpotensi menjadi sempurna. Esensi spiritual ini harus dicari dalam diri setiap manusia dengan cara menyucikan diri dari hasrat-hasrat material yang rendah, melakukan amal kebaikan, dan dengan cinta.

Cinta dalam Diam

Aku memilih mencintaimu dalam diam.
Karena dalam diam tak akan ada penolakan.
Aku memilih mencintaimu dalam kesepian.
Karena dalam kesepian tidak ada orang lain yang memilikimu, kecuali aku.
Aku memilih memujamu dari kejauhan.
Karena kejauhan melindungiku dari rasa sakit.
Aku memilih menciummu dalam angin.
Bukankah bibirku juga akan merasakan kelembutan dari angin?
Aku memilih memilikimu dalam mimpi.
Karena dalam mimpiku, kamu tidak akan pernah mati.

Aku bukanlah orang Nasrani, Aku bukanlah orang Yahudi, Aku bukanlah orang Majusi, dan Aku bukanlah orang Islam. Keluarlah, lampaui gagasan sempitmu tentang benar dan salah. Sehingga kita dapat bertemu dalam “Suatu Ruang Murni” tanpa dibatasi berbagai prasangka atau pikiran yang gelisah.

Dengarkan suara dalam dirimu. Kau yang telah menutup rapat bibirku. Tariklah misaiku ke dekat-Mu. Sehingga kita dapat bertemu dalam Suatu Ruang Murni tanpa dibatasi berbagai prasangka atau pikiran yang gelisah.

Kita melampaui setiap kata-kata. Di dalam cahaya-Mu aku belajar. Keluarlah lampaui gagasan sempitmu tentang benar dan salah. Sampai raga mencair ke dalam hati hati mencair ke dalam jiwa dan jiwa ke dalam cinta itu sendiri.

Ketika aku mati sebagai manusia, maka para malaikat akan datang dan mengajakku terbang ke langit tertinggi. Dan ketika aku mati sebagai malaikat, maka siapa yang akan mendatangiku?
Kau tak akan pernah dapat membayangkannya!

Hari ini, seperti hari lainnya, kita terjaga dengan perasaan hampa dan ketakutan.
Namun, janganlah tergesa melarikan diri dari kenyataan pahit ini dengan pergi berdoa atau membaca kitab suci. Lepaskan semua tindakan mekanis yang berasal ketaksadaran diri.
Biarkan keindahan Sang Kekasih menjelma dalam setiap tindakan kita. Ada beratus jalan untuk berlutut dan bersujud kepada-Nya.

Tak ada pilihan lain bagi jiwa, selain untuk mengasihi. Namun, pertama kali jiwa harus merangkak dan merayap di antara kaki para pecinta. Hanya para pecinta yang dapat lepas dari perangkap dunia dan akhirat. Hanya hati yang dipenuhi dengan cinta yang dapat menjangkau langit tertinggi. Bunga mawar kemuliaan hanya dapat bersemi di dalam hati para pecinta.

Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata Kusimpan kasih-Mu dalam dada. Salah satunya adalah bab cinta dan harapan dalam kitab Samudra Rubayyat. Keluarlah lampaui gagasan sempitmu tentang benar dan salah.

Aku kehilangan duniaku, ketenaranku, dan pikiranku. Ketika matahari terbit, maka semua bayang-bayang lenyap. Aku berlari mendahului bayang-bayang tubuhku yang lenyap saat aku berlari. Namun, cahaya matahari itu berlari mendahuluiku dan memburuku, hingga aku pun terjatuh dan bersujud pasrah ditelan samudera kilau-Nya yang mempesona.

Ingatlah bahwa Nabi Muhammad pernah berkata: “Satu penglihatan tentang-Nya adalah suatu berkah yang tak terhingga”. Setiap daun dari sebatang pohon membawa seuntai firman dari dunia yang tak terlihat. Lihatlah, tiap-tiap daun yang jatuh ke tanah sebagai suatu berkah dari-Nya. Segala sesuatu di alam ini senantiasa menari dalam harmoni, bernyanyi tanpa lidah, dan mendengar tanpa telinga, ya, semua itu adalah berkah yang tak terhingga dari-Nya.

Sumber : Dirangkum dari berbagai sumber di Alam Terkembang

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : Filsafat Yunani dan Ma'rifatullah