JARI: “Badai, Api, dan Air Mata di Pasar Cinde”
Warung Kopi Kawan Lamo, tepat di seberang pusat perbelanjaan Pasar Cinde dan tak jauh dari Cineplex 21, Palembang. Sore mulai merona usai Salat Ashar. Dari dalam warung, terdengar suara riuh rendah pedagang yang masih bertahan, diselingi suara pengeras suara dari proyek mangkrak di depan mata. Aroma kopi dan rokok kretek bercampur dengan debu proyek yang bertebaran. Kelima tokoh duduk di meja panjang kayu jati. Seorang pedagang tua menarik kursi dan duduk di sebelah mereka.
Andi Wijaya: Machiavelli, tentang Il Principe, menguraikan seorang pemimpin dengan virtù yang bisa membengkokkan takdir yang ia sebut Fortuna, seorang wanita. Ada kutipan menarik dari Petruchio dalam The Taming of the Shrew: “Angin sepoi-sepoi mengipasi api yang redup, tetapi badai dahsyat memadamkan api dan segalanya. Begitu pula aku, dan begitu pula aku akan menjinakkannya, karena aku kasar dan bebas.”
Ferry Lesmana: (tertawa kecil) Saya suka analoginya. Api, angin, badai. Maksudnya, pemimpin itu harus tegas, bahkan keras, untuk bisa mengendalikan keadaan? Seperti yang Machiavelli bilang: takdir itu wanita yang harus ditaklukkan dengan keberanian dan kekerasan?
Juliansyah: (menyela) Tapi, Kak Ferry, Machiavelli hidup di Italia abad ke-16 yang porak-poranda. Bangsa barbar menyerbu, penyakit merebak. Dia ingin menyelamatkan Italia dari perpecahan politik. Frank Ankersmit menjelaskan bahwa Machiavelli melihat pemimpin harus punya kreativitas di luar tatanan biasa, tidak sekadar mematuhi hukum ilahi atau alam. Ada arcanum imperium, rahasia pemerintahan, yang harus dijalankan dalam situasi ekstrem.
Indra Darmawan: (menyeruput kopi) Dan di sanalah konsep Machiavellianisme sering disalahartikan. Banyak yang bilang “tujuan menghalalkan segala cara”. Tapi Ankersmit mengingatkan: pemimpin Machiavellian bertindak melampaui moralitas biasa, tapi tidak selalu melanggarnya. Pertanyaan etis seperti “bolehkah menyiksa untuk mencegah kematian jutaan orang?” tidak bisa dijawab dengan aturan sederhana. Namun sedikit orang yang akan kesulitan memilih dalam situasi seperti itu.
Ade Indra Chaniago: (menghela napas) Tapi di situlah bahayanya, Dindo Indra. Ketegasan bisa berubah menjadi kekejaman. Kreativitas bisa berubah menjadi korupsi. Di Indonesia, kita melihat banyak pemimpin yang mengaku “tegas” tapi lupa bahwa rakyat adalah tuan, bukan objek. Mari kita lihat di depan mata kita ini, Pasar Cinde. Proyek revitalisasi yang seharusnya membawa kemakmuran, malah menjadi puing dan air mata.
Wak Syukur (Pedagang Pasar Cinde): (mendekat, wajah letih) Permisi, Adek-adek. Saya Wak Syukur, berjualan di sini sejak 1990. Sebelum dibongkar, saya punya kios yang lumayan. Sekarang? (menunjuk ke luar) Lihat sendiri. Saya jualan di lapak sementara yang sempit, di pinggir jalan, panas terik, hujan banjir. Omzet turun 75%. Anak saya yang masih sekolah kadang harus makan nasi sama garam.
Indra Darmawan: (membalikkan badan ke arah Wak Syukur) Tolong ceritakan, Wak. Apa yang terjadi?
Wak Syukur: (menarik napas) Pasar Cinde ini cagar budaya, Pak. Tapi tahun 2016, Pemkot Palembang resmi membongkarnya, katanya mau direvitalisasi. Ratusan pedagang diusir, kami dipindah ke lapak darurat. Lokasinya di pinggir jalan, sempit, tidak layak. Dulu ada lapak di dalam gedung yang nyaman, sekarang kena panas dan hujan. Dan yang paling parah: proyeknya mangkrak! Bangunan baru tidak kunjung selesai. Lantainya jadi danau di tengah kota.
Ferry Lesmana: (gelisah) Saya dengar ada kasus korupsi juga, Wak?
Wak Syukur: Tentu! Akhirnya proyek ini terjerat korupsi. Mantan Wali Kota Palembang Harnojoyo divonis dua tahun empat bulan penjara. Ada mantan gubernur, juga terseret tapi beliau meninggal. Ada lima tersangka total. Tapi kami, pedagang, yang jadi korban. Proyek mangkrak, lapak darurat menyiksa, dan sekarang kami juga harus bayar sewa kios per hari yang lebih mahal dari sebelumnya.
Andi Wijaya: (memukul meja) Wak Syukur, apa yang pemimpin lakukan untuk membantu?
Wak Syukur: (tertawa pahit) Bantuan? Ada. Tapi ya itu. Bantuan langsung tunai sekali-sekali. Tidak menyelesaikan akar masalah. Yang kaya makin kaya, yang miskin begini terus. Harnojoyo di penjara sekarang, tapi nasib kami tetap begini. (menunjuk ke luar jendela) Kami ingin keadilan. Bukan sekadar janji. Kami ingin pemimpin yang benar-benar peduli, seperti para khalifah dulu yang adil dan sederhana.
Juliansyah: (beralih ke para senior) Uda Ade dan Kak Indra, Wak Syukur menyebut soal khalifah yang adil. Saya teringat Umar bin Abdul Aziz Khalifah Bani Umayyah yang sering disebut “Khalifah Rasyidin kelima”. Apa saja yang ia lakukan?
Indra Darmawan: (mengangguk) Umar bin Abdul Aziz memerintah hanya dua setengah tahun (717-720 M), namun dampaknya luar biasa. Ia pemimpin yang adil, jujur, sederhana, bijaksana, dan selalu mementingkan kehidupan rakyat. Apa yang ia lakukan? Pertama, ia mengembalikan hak-hak rakyat yang dirampas. Ia mengumumkan secara terbuka: siapa pun yang memiliki bukti tanah atau harta mereka diambil secara zalim oleh gubernur atau keluarga Bani Umayyah, silakan menghadap untuk dikembalikan.
Ferry Lesmana: Itu luar biasa seorang pemimpin yang justru membuka pintu bagi rakyat yang dirugikan oleh pendahulunya. Di Indonesia sekarang, siapa yang berani melakukan itu?
Indra Darmawan: Kedua, Umar bin Abdul Aziz memberlakukan kesetaraan antara Arab dan non-Arab (mawali). Pada masanya, rakyat yang baru masuk Islam dari Persia, Mesir, dan lain-lain, sering diperlakukan sebagai warga kelas dua. Umar mengubah itu. Ketiga, ia mengurangi kemewahan istana dan mengalihkan dana untuk kesejahteraan rakyat. Ia hidup sederhana, tidak seperti kebanyakan khalifah Bani Umayyah.
Ade Indra Chaniago: (menambahkan) Dan ia mendengarkan langsung keluhan rakyat. Ia tidak hanya menerima laporan dari bawahannya yang mungkin sudah disaring. Ia minta informasi akurat tentang kebutuhan rakyat, memastikan bantuan sampai ke yang paling membutuhkan. Bayangkan jika pemimpin Palembang dulu seperti itu, proyek Pasar Cinde mungkin tidak akan mangkrak dan pedagang tidak akan menderita.
Wak Syukur: (mengusap mata) Saya ingin pemimpin begitu, Adek-adek. Saya ingin ada yang berani menegur aparatnya yang sewenang-wenang seperti Khalifah Umar dulu.
Andi Wijaya: (membalik catatan) Selain Umar bin Abdul Aziz, ada tokoh kepemimpinan Islam dari Nusantara. Misalnya Sunan Drajat, anggota Walisongo. Kisahnya unik karena ia sangat memperhatikan fakir miskin. Ia bahkan membuka dapur umum, memberikan sandang pangan, merawat orang sakit tanpa memandang latar belakang atau status sosial. Metodenya: menyejahterakan masyarakat miskin terlebih dahulu sebelum mengajarkan agama.
Ferry Lesmana: Artinya, keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat adalah fondasi, bukan sekadar pelengkap agama?
Indra Darmawan: Tepat. Sunan Drajat mengajarkan bahwa agama bukan hanya ibadah personal, tetapi kewajiban sosial. Ia mengutuk kemewahan di tengah kemiskinan. Ini prinsip yang juga dipegang para pemimpin adil dalam Islam bahwa pemimpin adalah “bendahara rakyat”, bertanggung jawab penuh atas kebutuhan rakyatnya.
Juliansyah: Contoh konkret di Indonesia modern? Saya kira KH. Wahid Hasyim adalah contoh yang baik. Beliau bukan hanya ulama, tetapi juga pejuang kemerdekaan yang menggerakkan kekuatan rakyat. Perjuangannya tidak terlepas dari rakyat Indonesia. Ia turun langsung ke daerah-daerah, membangun kesadaran bahwa membebaskan rakyat dari penjajahan adalah kewajiban agama. Ia juga berjuang agar umat Islam tidak kehilangan hak-haknya secara politis pasca kemerdekaan.
Ade Indra Chaniago: KH. Wahid Hasyim adalah tipe pemimpin yang tidak hanya duduk di balik meja. Ia memilih bergerak, mendengar, dan berjuang bersama rakyat. Inilah virtù yang berbeda dari Machiavelli bukan untuk menundukkan takdir atau mempertahankan kekuasaan, tetapi untuk menegakkan keadilan bagi yang tertindas.
Ferry Lesmana: (mengangkat tangan) Kita belum menyentuh pandangan sufi. Bagaimana mereka melihat kepemimpinan yang adil?
Indra Darmawan: Imam Al-Ghazali (1058-1111) dalam Ihya’ Ulumuddin memberikan nasihat tegas: seorang penguasa yang zalim, meskipun ia menguasai dunia, ia akan hancur di akhirat. Ia juga menulis Nasihat al-Muluk yang khusus untuk para raja. Al-Ghazali menekankan bahwa keadilan adalah kewajiban paling mendasar seorang pemimpin. Tanpa keadilan, kekuasaan hanyalah tirani. Dan menurut Al-Ghazali, keadilan adalah poros segala kebajikan.
Andi Wijaya: Di Indonesia, Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar menguraikan delapan kualifikasi pemimpin yang adil. Beliau mengatakan: pemimpin harus mampu menyeimbangkan antara memberikan hak-hak rakyat dan memastikan keadilan ditegakkan. Keadilan adalah prinsip utama. Buya Hamka juga mengatakan, lawan dari adil adalah zalim berbuat sewenang-wenang pada orang lain demi memuaskan nafsu dan syahwat.
Juliansyah: Dan KH. Hasyim Asy’ari? Beliau pendiri NU, juga seorang sufi tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah. Apa pandangannya?
Indra Darmawan: KH. Hasyim Asy’ari adalah pemimpin spiritual yang sangat berpengaruh. Para tokoh militer, termasuk Jenderal Sudirman, sering mengirim kurator untuk berhubungan dengan beliau. Ia tidak hanya mengkritik penjajah, tetapi juga tegas terhadap pemimpin muslim yang zalim. Saat pendudukan Jepang, ia dijebloskan ke penjara karena dianggap menjadi dalang kerusuhan di pabrik gula Jombang. Ia menunjukkan bahwa pemimpin yang bijaksana tidak tunduk pada kekuasaan yang zalim, sekalipun itu mengaku Islam.
Wak Syukur: (mengangguk) Jadi, dari dulu sampai sekarang, ulama dan sufi selalu ingatkan: pemimpin itu harus adil. Tidak boleh curang. Tidak boleh makan hak rakyat. Tapi kenapa masih banyak yang korupsi?
Ade Indra Chaniago: (tersenyum) Itulah pertanyaan yang membuat kita semua frustrasi, Wak Syukur. Teori kadang jauh dari praktik. Tapi setidaknya, kita punya standar. Kita tahu seperti apa pemimpin yang adil, dari Umar bin Abdul Aziz, Sunan Drajat, KH. Wahid Hasyim, hingga KH. Hasyim Asy’ari. Kini, kita yang hidup di masa sekarang harus berani menuntut agar standar itu ditegakkan.
Ferry Lesmana: (memandang ke luar jendela ke arah Pasar Cinde yang mangkrak) Tapi Machiavelli juga bicara soal takdir Fortuna. Ia mengatakan bahwa seorang pemimpin harus berani bertindak, bahkan brutal, melampaui moralitas biasa, demi menyelamatkan negaranya. Ankersmit berargumen bahwa Machiavelli bukan sekadar “licik dan tidak bermoral”, tetapi seorang yang menyadari bahwa kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan sering kali bertentangan satu sama lain.
Juliansyah: Contohnya, untuk mencapai kesetaraan, mungkin kita perlu membatasi kebebasan segelintir orang kaya. Tapi apakah itu berarti kita bisa membenarkan kekerasan?
Indra Darmawan: Inilah dilema etika yang tidak mudah. Namun, Machiavelli juga menulis bahwa jika seseorang ingin mengendalikan takdir, ia harus menyerangnya. Tapi konteksnya penting, ia berbicara tentang penyelamatan Italia dari kehancuran. Pertanyaannya: apakah pembongkaran Pasar Cinde adalah bagian dari “penyelamatan” atau justru kezaliman yang dibungkus dengan jargon “pembangunan”?
Andi Wijaya: (menghela napas) Di kasus Cinde, jelas tidak ada virtù yang mulia. Yang terjadi adalah korupsi, kesewenang-wenangan, dan pengabaian nasib rakyat kecil. Ini bukan Machiavellianisme yang kreatif melampaui moralitas; ini adalah pelanggaran hak asasi dan pengkhianatan kepercayaan publik.
Wak Syukur: (menyeka keringat) Saya tidak paham filsafat tinggi-tinggi, Dek. Tapi yang saya tahu: pemimpin itu kalau bicara proyek untuk rakyat, harus jujur. Jangan pakai uang rakyat untuk kepentingan pribadi. Dan jangan bongkar pasar kalau belum siap tempat gantinya. Itu saja.
Ferry Lesmana: (mencatat) Sekarang perspektif dari tokoh idealis Indonesia. Siapa yang paling vokal membela rakyat?
Ade Indra Chaniago: Soedjatmoko (1922-1989) adalah salah satu intelektual yang paling konsisten membela rakyat kecil. Dalam berbagai pidato dan tulisannya, ia mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh hanya mengukur pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pemerataan. Ia mengkritik pembangunan yang mengabaikan nasib petani, buruh, dan pedagang kecil. Bahkan, ia sering menyebut bahwa “keadilan sosial adalah fondasi stabilitas nasional”.
Andi Wijaya: Lalu Pramoedya Ananta Toer? Meskipun ia sastrawan, ia juga idealis yang membela rakyat melalui tetralogi Bumi Manusia, ia menggambarkan bagaimana pribumi diinjak-injak oleh kekuasaan kolonial dan kapitalis. Pesannya: rakyat harus berani bersuara dan bersatu.
Juliansyah: Dan Tan Malaka dalam Madilog? Ia mengajukan alternatif yang lebih radikal: pembebasan dari kapitalisme dan imperialisme. Tapi ia juga mengkritik feodalisme dan monarki sistem yang menempatkan satu orang di atas hukum.
Indra Darmawan: Semua tokoh ini sepakat: keadilan tidak bisa ditunda. Rakyat tidak bisa terus diabaikan. Pasar Cinde adalah contoh nyata janji revitalisasi berubah menjadi penderitaan panjang. Ratusan pedagang kehilangan mata pencaharian. Inilah yang terjadi ketika pemimpin kehilangan virtù dan ketika takdir “Fortuna” lebih berkuasa daripada kebijaksanaan manusia.
Andi Wijaya: (melihat jam ponsel) Pukul 17.20. Sebentar lagi Magrib. Mari kita simpulkan.
Ferry Lesmana: (berdiri) Machiavelli mengajarkan bahwa pemimpin harus berani, kreatif, dan tegas. Namun, ketegasan tanpa keadilan hanya melahirkan tirani. Pemimpin yang adil seperti Umar bin Abdul Aziz, Sunan Drajat, KH. Wahid Hasyim menunjukkan bahwa virtù sejati adalah keberanian untuk melayani rakyat, bukan menundukkan mereka.
Juliansyah: Pasar Cinde adalah peringatan bagi kita semua. Ketika pemimpin lebih sibuk dengan proyek megah dan kepentingan pribadi, rakyat kecil yang membayar mahal. Pedagang kehilangan lapak, anak-anak kehilangan harapan. Ini bukan sekadar kasus korupsi; ini adalah kegagalan moral kepemimpinan.
Ade Indra Chaniago: (mengangkat gelas kopi) Mari kita akhiri sore ini dengan doa: semoga muncul pemimpin-pemimpin dengan virtù yang benar, bukan untuk menaklukkan Fortuna, tetapi untuk menegakkan keadilan bagi yang paling lemah. Seperti yang diajarkan Al-Ghazali, seperti yang diteladankan Umar bin Abdul Aziz, dan seperti yang diperjuangkan KH. Wahid Hasyim dan Soedjatmoko.
Wak Syukur: (berdiri, menggulung tikar) Saya hanya pedagang kecil. Tapi saya percaya, kalau pemimpin adil, rakyat akan sejahtera. Kalau tidak… (menunjuk ke luar jendela) ya beginilah jadinya. Saya mau pulang, siap-siap salat Magrib.
Andi Wijaya: (menepuk pundak Wak Syukur) Semoga ada jalan keluar, Wak. Dan semoga suara wak Syukur didengar.
Palembang, 09 Juni 2026
Tadarus Politik Jaringan Aliansi Rakyat Independen