JARI : Warung Demokrasi Ekonomi “ Ketika Kapitalis dan Pemerintah Gagal”
“Tirai besi gerbang Perumahan Griya Asri di Gandus baru saja ditutup. Jalan raya mulai sepi. Hanya sesekali truk pengangkut batu bara melintas, mengguncang bangunan semipermanen di tepi jalan itu. Warung Wak Dolah sebenarnya tidak besar hanya tiga meja kayu tak beralas, satu etalase kaca berisi camilan, dan di sampingnya ada tiga mesin cuci motor tekanan tinggi yang masih meneteskan air. Usai maghrib, Wak Dolah sudah menyiapkan laksan dan pempek pesanan khusus.”
Wak Dolah (mengusap tangan di celemek lusuh, menarik kursi plastik warna biru):
Ayolah, duduk kito semua. Laksan udah dingin, pempek anget-anget. Awak hanya orang warung, tapi tadi Dik Ade pesan, malam ini kita ngobrol panjang. Saya penasaran juga.
Juliansyah (tokoh masyarakat Ogan Ilir, batik lengan panjang dilipat ke siku): Penasaran soal apa, Wak Dolah?
Wak Dolah (tersenyum, menyodorkan kopi tubruk): Soal uang. Kok bisa orang punya uang banyak, orang lain susah. Saya buka warung dan cucian motor, setiap hari liat sendiri. Ada yang cuci motor, bayar cash. Ada yang ngutang, sampe tiga bulan. Ada juga yang jual motor buat bayar utang.
Ferry Lesmana (rokok sudah menyala di tangan kanan): Masalah ekonomi itu berat, Wak. Tapi bukan cuma soal uang habis kemana. Ini soal sistem. Marx bilang, kita ini kerja cuma buat hidup, bukan buat mengembangkan diri. Baca itu tadi, Uda Ade?
Ade Indra Chaniago (duduk di bangku kayu, wajah teduh tapi mata tajam): Saya bawa buku catatan dari artikel yang Dinda Ferry kirim. Marx menulis: “Arbeit ist das Wesen des Menschen” kerja itu kodrat manusia. Bukan sekadar cari makan. Tapi ketika kepemilikan pribadi dan pembagian kerja merajalela, kerja berubah jadi alat perbudakan. Pekerja merasa dirinya asing, yang Marx sebut Entfremdung (alienasi). Kita tidak lagi merasa nyaman saat kerja, malah sengsara.
Indra Darmawan (menyandarkan kursi ke dinding, menyusun catatan di pangkuan): Dari mana nilai surplus muncul? Marx bilang, itu misteri kapitalisme. Kapitalis membeli tenaga kerja, membayarnya sedikit, lalu tenaga kerja itu menghasilkan lebih dari yang dibayar. Selisihnya itulah surplus value. Di situlah eksploitasi. Marx katakan: “Bukan kesadaran yang menentukan keberadaan, tapi keberadaan sosial yang menentukan kesadaran.” Artinya, cara kita berpikir, termasuk keyakinan agama sekalipun, ikut terbentuk oleh struktur ekonomi yang menindas.
Wak Dolah (mengernyit, tangan mengaduk kuah laksan): Berarti orang miskin itu bukan salah dia malas, tapi salah sistem? Karena kalau begitu, saya punya tetangga, namanya Wak Amran. Sehari-hari jadi kuli angkut di Pasar Induk Gandus. Pulang-pulang badan remuk, upah cuma 80 ribu. Istri dan delapan anak di rumah. Kerjanya dari subuh sampai maghrib. Itu kerja atau perbudakan, Dik Ade?
Juliansyah (membuang puntung rokok ke asbak kaleng bekas susu): Wak Tohir itu tipikal proletarian Marx. Tapi Marx juga bilang, proletariat ini punya misi historis: memberontak, meruntuhkan sistem, lalu membebaskan umat manusia. Tapi di zaman kita, apakah itu mungkin? Saya ragu.
Indra Darmawan (menyesap kopi hitam): Jangan buru-buru skeptis. Pemikiran Marx tentang alienasi kerja sangat nyata. Coba lihat buruh pabrik di kawasan Tanjung Api-Api, itu di Banyuasin, di daerah kita sendiri. Mereka kerja shift 12 jam, upah sekitar UMK Palembang yang tahun 2025 ditetapkan Rp3,6 juta. Tapi biaya hidup naik terus. Mereka tak lagi punya waktu untuk keluarga, tak punya waktu untuk mengembangkan diri. Kerja hanya sarana bertahan. Marx menyebut ini sebagai manusia yang teralienasi.
Ferry Lesmana menyalakan rokok keempat. Indra Darmawan menambahkan kuah laksan. Sebuah mesin cuci motor otomatis berbunyi “suara selesai” tapi tidak ada yang menghiraukan.
Ferry Lesmana: Uda, tolong jelaskan. Dalam Islam, siapa tokoh yang paling lantang bicara soal keadilan ekonomi?
Ade Indra Chaniago (menghela napas, mata menerawang ke luar warung): Banyak, Dinda Ferry. Tapi saya mulai dari KH. Ahmad Dahlan dulu. Beliau mendirikan Muhammadiyah pada 1912, ketika Hindia Belanda masih mencekik rakyat. Kiai Dahlan mengajarkan bahwa ekonomi bukan sekadar halal-haram. Ia mendorong umatnya bekerja produktif, tapi bukan untuk menimbun kekayaan. Hasil kerja harus bermanfaat untuk orang lain. Dalam Dahlanomics, paham ekonomi puritan yang dipraktikkan warga Muhammadiyah, mereka menginvestasikan keuntungan ke dalam Amal Usaha yang dikelola kolektif, sepenuhnya untuk kepentingan masyarakat. Jadi konsepnya ta’awun tolong-menolong, bukan tabâru saling menghancurkan.
Juliansyah (mengangguk): Dulu di Ogan Ilir, warga Muhammadiyah punya koperasi simpan pinjam yang lumayan sehat. Tapi sekarang? Banyak yang mati karena pengurusnya korup.
Indra Darmawan (menekan puntung rokok): Itu masalahnya. Kiai Dahlan mengajarkan amanah, bukan korupsi. Tapi dari sisi lain, ada H.O.S. Tjokroaminoto pendiri Sarekat Islam. Tjokroaminoto dikenal sangat vokal melawan kapitalisme yang selalu mengeksploitasi rakyat. Dalam bukunya Islam dan Sosialisme, ia mengatakan bahwa eksploitasi dan ketimpangan ekonomi harus dihapuskan melalui kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil. Ia bahkan menyatakan bahwa pemerintah Hindia Belanda bertindak sebagai pelindung kapitalisme dan menghancurkan ekonomi kerakyatan. Bung Karno, murid Tjokroaminoto, banyak mengambil gagasan dari situ.
Ferry Lesmana (tersenyum sinis): Tapi lihat realitas kita sekarang, Bro Indra. Kapitalisme masih merajalela. Pinjaman online (pinjol) di Sumsel diprediksi meningkat tiga kali lipat jelang Nataru. Bahkan data OJK mencatat sekitar dua juta lebih masyarakat Sumsel terjebak pinjol. Sebagian dana bahkan dipakai untuk judi online! Ini “kapitalisme” versi modern yang makin biadab.
Wak Dolah (menambahkan pempek ke piring): Wah, itu betul, Dinda Ferry. Anak kost di komplek sebelah, namanya Benny. Dia minjam pinjol buat beli HP baru, padahal HP lamanya masih bagus. Sekarang tagihan numpuk, dia sampai stres. Marx bilang kerja jadi perbudakan, tapi sekarang yang jadi perbudakan adalah gaya hidup.
Ade Indra Chaniago (mengangkat jari telunjuk, bersemangat): Itulah yang disebut Marx sebagai fetisisme komoditas benda-benda seolah punya kekuatan magis yang membuat manusia kehilangan akal. Tapi Islam punya antitesis. KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU, sudah mengingatkan sejak 1919: pesantren harus menjadi poros ekonomi umat. Beliau mendeklarasikan Nahdlatut Tujjar kebangkitan para pedagang. “Wahai pemuda putra bangsa yang cerdik pandai dan para ustadz yang mulia,” seru Mbah Hasyim, usahakan agar badan-badan usaha bisa menghidupi para pendidik sekaligus mencegah kemaksiatan. Beliau bahkan membiarkan para pedagang kecil berjualan di lingkungan pesantren, tapi dengan aturan yang adil. Ini bentuk ekonomi berbasis komunitas yang sudah terbukti berabad-abad.
Juliansyah (tercengang): Jadi Marx dan Mbah Hasyim mirip, ya?
Indra Darmawan (tertawa kecil): Keduanya sama-sama mengkritik kapitalisme. Tapi solusi mereka berbeda. Marx menghendaki revolusi dan penghapusan kelas. Mbah Hasyim tetap dalam bingkai agama dan kearifan lokal. Nah, ada satu lagi tokoh: Buya Hamka. Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menegaskan bahwa harta itu hanya titipan. “Harta tidak dicintai karena dia harta,” katanya. Kekayaan hakiki adalah qana’ah merasa cukup. Beliau juga mengajarkan bahwa keadilan sosial dalam Islam jauh lebih dulu eksis daripada kapitalisme atau sosialisme buatan manusia. Ini penting: Islam punya sistem ekonomi yang mandiri, bukan sekadar meniru Barat.
Wak Dolah (menyodorkan laksan ke tengah meja): Saya orang warung, tapi saya ingat pesan Hamka: “Hidup jangan kepalang tanggung.” Di bisnis, rugi itu belum rugi, yang rugi adalah menjadi pengecut. Saya terapkan itu di warung ini. Kadang rugi, tapi saya tetap buka. Kalau takut rugi, ya nggak usah berdagang.
Lampu depan mulai dimatikan satu per satu. Hanya lampu dapur yang masih menyala. Warung hanya diterangi satu lampu neon 20 watt. Juliansyah menyeduh ulang kopi untuk semua.
Ferry Lesmana: Sekarang dari tokoh nasional. Siapa yang paling berjasa merumuskan ekonomi kerakyatan Indonesia?
Ade Indra Chaniago (dengan tegas): Mohammad Hatta Bapak Koperasi Indonesia. Hatta melihat bahwa kapitalisme adalah perpanjangan tangan kolonialisme. Ia mencari sistem ekonomi yang sesuai dengan budaya Indonesia: gotong royong. Hasilnya adalah koperasi, yang dijadikannya sokoguru dan tulang punggung ekonomi. Hatta bahkan menggelar Kongres Koperasi pertama di Tasikmalaya pada 1947, yang kemudian menetapkan 13 Juli sebagai Hari Koperasi.
Juliansyah (mengusap wajah): Tapi koperasi di Indonesia sekarang nyaris mati, Uda. Di Ogan Ilir, koperasi unit desa (KUD) tinggal nama. Yang hidup hanya koperasi simpan pinjam yang bunganya selangit. Itu pun rawan korupsi.
Indra Darmawan (menghela napas): Itu karena prakteknya tidak sesuai visi Hatta. Bung Hatta menghendaki koperasi sebagai komunitas usaha bersama di mana anggota punya kepentingan yang sama dan saling menolong. Bukan sekadar tempat meminjam uang. Tapi di lapangan, koperasi sering dikelola oleh orang yang tidak paham prinsip koperasi, atau bahkan sengaja dikorupsi.
Ferry Lesmana (membuka catatan kecil dari saku): Tapi ada secercah harapan. Di beberapa desa di Banyuasin, koperasi nelayan mulai bangkit lagi. Mereka menggunakan sistem arisan ala Palembang, dikelola digital, tapi prinsipnya tetap gotong royong. Bahkan Bank Indonesia Sumsel mendorong pengembangan ekonomi syariah di Palembang, dimulai dari sektor kuliner, fashion, hingga wisata halal. Itu langkah kecil tapi penting.
Wak Dolah (tersenyum tipis): Saya dulu ikut koperasi di kampung. Pinjam Rp500 ribu, balikin Rp600 ribu. Lumayan daripada pinjol yang bunganya ratusan persen. Tapi sekarang koperasinya tutup. Pengurusnya kabur. Ya sudah, saya urus warung dan cucian motor sendiri.
Ade Indra Chaniago (menimpali): Wak Dolah menyentuh inti masalah: kepercayaan. Marx tidak membahas kepercayaan secara eksplisit, tapi Hatta menyadarinya. Koperasi hanya mungkin berjalan jika anggota saling percaya. Di Minangkabau, ada tradisi batobo gotong royong dalam mengolah sawah. Semua warga bahu-membahu, tidak ada yang diupah. Mereka percaya bahwa hasil panen akan dinikmati bersama. Itu sumber otoritas ekonomi yang sehat, karena tumpuannya pada solidaritas komunal, bukan pada paksaan atau bujukan.
Angin malam berhembus dari arah sungai. Bau tanah basah dan aroma pisang goreng yang baru digoreng bercampur. Asbak sudah penuh. Rokok terakhir dinyalakan.
Juliansyah: Saya minta contoh yang lebih konkret dari Sumsel, Uda. Jangan terlalu abstrak.
Indra Darmawan (mengeluarkan lembaran catatan): Baik. Saya mulai dari petani sawit. Kabupaten Musi Rawas adalah sentra sawit. Seorang petani bernama Siti Marfuah penduduk asli Musi Rawas menginisiasi peremajaan kebun sawit sejak 2016. Hasilnya, pendapatan per rumah tangga petani mencapai Rp3,1 juta per bulan. Itu masih di bawah UMR, tapi sudah lebih baik dari sebelumnya. Namun di sisi lain, banyak petani yang tetap hidup di bawah garis kemiskinan karena harga sawit anjlok atau karena sistem tengkulak yang mencekik. Di OKI dan Ogan Ilir, banyak petani karet yang tanahnya dicaplok perusahaan. Pada 2010, warga Sembawa membakar balai penelitian kebun karet karena lahan adat mereka sudah tidak bisa lagi mereka kelola. Itu bentuk perlawanan kelas ala Marx.
Ferry Lesmana (mengangguk berat): Saya ingat peristiwa itu. Di Desa Pagar Batu, dua petani bahkan meninggal karena konflik lahan dengan perusahaan. Tanah adalah sumber kehidupan. Ketika tanah dikuasai kapital, petani kehilangan identitasnya. Marx menyebutnya alienasi dari alam manusia terputus dari tanah yang seharusnya menjadi “tubuh non-organik” nya.
Wak Dolah (duduk bersandar): Lalu bagaimana solusinya, Uda? Apakah kita harus balik ke komunisme?
Ade Indra Chaniago (tersenyum sabar): Bukan. Tapi kita harus melihat kearifan lokal yang sudah ada. Contohnya Sedekah Dusun di Muara Enim. Setiap tahun, petani menggelar acara syukuran atas hasil panen. Mereka potong kerbau, makan bersama, dan menguatkan solidaritas. Gubernur Sumsel, Herman Deru, bahkan mengatakan pembangunan tidak boleh menghilangkan akar budaya, justru nilai-nilai lokal harus menjadi pondasi. Ini bentuk ekonomi berbasis kebersamaan yang sangat Indonesia. Di Minangkabau, tradisi serupa disebut batagak gala saat mengangkat penghulu, seluruh kaum ikut menyumbang tenaga, waktu, dan materi. Itu adalah demokrasi ekonomi dalam skala mikro.
Juliansyah (mengangkat jari): Tapi apakah tradisi seperti itu masih bertahan? Anak muda sekarang lebih tertarik buka HP daripada ikut sedekah dusun.
Indra Darmawan (menjawab cepat): Itu tantangan kita. Namun ada bukti bahwa di beberapa desa di OKU Timur, generasi muda mulai kembali ke tradisi setelah menyadari bahwa ekonomi modern (pinjol, investasi bodong) justru merusak. Mereka mendirikan lumbung pangan desa ala pesantren, menggunakan sistem bagi hasil yang adil. Itu bentuk komunisme ala Indonesia, yang oleh Hatta disebut sebagai “sosialisme kooperatif”.
Piring hampir kosong. Laksan tersisa kuah. Kopi di gelas terakhir sudah dingin. Lampu neon berkedip cepat, menandakan akan segera mati.
Ferry Lesmana: Saya rasa semua setuju, sistem kapitalis yang ekstrem sudah merusak. Tapi Marx juga punya kelemahan. Dia terlalu optimis bahwa proletariat pasti menang. Kenyataannya? Uni Soviet runtuh, China malah jadi kapitalis negara. Lalu alternatif apa?
Ade Indra Chaniago (berdiri sebentar, meregangkan punggung): Alternatifnya sudah ada di depan mata kita, hanya saja tidak diberdayakan. Di Minangkabau, ada konsep “Bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mufakat” air menjadi bulat karena talang, bulat kata karena mufakat. Artinya, ekonomi harus berjalan di atas musyawarah dan gotong royong, bukan atas persaingan liar. Di Palembang, ada pepatah “Rajo adil rajo disembah, rajo lalim rajo disanggah” penguasa yang adil mendapat ketaatan, yang zalim dilawan. Ini bisa diterapkan pada ekonomi: sistem yang adil mendapat dukungan rakyat, sistem yang zalim harus diubah.
Indra Darmawan (menambahkan): Para tokoh Islam yang kita sebut tadi, Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, Tjokroaminoto, Hamka juga sudah merumuskan ekonomi kerakyatan yang berkeadilan. Mereka tidak menolak pasar, tapi pasar harus dikendalikan oleh nilai-nilai moral. Jalaluddin Rakhmat, cendekiawan asal Bandung, menegaskan bahwa kemiskinan di Indonesia bukan karena faktor kultural atau mental, melainkan karena sistem ekonomi yang belum mampu menyentuh masyarakat bawah. Moeslim Abdurrahman bahkan menciptakan teologi Kalibokong gagasan untuk membebaskan masyarakat marginal dari belenggu tengkulak dan kapitalis. Lalu KH. Sahal Mahfudh mengajarkan fiqih sosial bahwa ekonomi harus berorientasi pada perubahan sosial, bukan sekadar keuntungan individu.
Juliansyah (mengusap muka dengan sapu tangan): Semua gagasan itu bagus. Tapi di tingkat praktis, di Ogan Ilir, apa yang bisa kami lakukan?
Ade Indra Chaniago (duduk kembali, wajah berseri): Mulai dari hal kecil yang diabaikan. Misalnya: revitalisasi koperasi desa. Bukan koperasi yang dikelola oleh kepala desa dan kroninya, tapi koperasi yang anggotanya adalah petani, nelayan, buruh. Di Nagari Minangkabau, saya lihat langsung praktik bank sampah yang dijalankan oleh pemuda masjid. Mereka mengumpulkan sampah, mendaur ulang, lalu hasilnya untuk beasiswa anak yatim. Itu adalah ekonomi sirkular, tapi juga ekonomi keadilan. Di Sumsel, bisa dimulai dari lingkungan rukun tetangga.
Ferry Lesmana (mengangguk pelan): Saya akan coba di Tulung Selapan. Ajak pemuda desa bikin koperasi simpan pinjam yang bunganya rendah. Tapi harus diawasi bersama, tidak boleh ada yang korupsi.
Wak Dolah (bangkit dari kursi, membuka botol air dingin): Saya juga, Dik Ade. Cucian motor saya ini, saya kerjasamakan dengan tetangga. Mereka boleh pakai mesin cuci gratis, asal bantu operasional. Itu bentuk tolong-menolong. Marx bilang, “Dari setiap orang sesuai kemampuannya, kepada setiap orang sesuai kebutuhannya”. Tapi dalam Islam, ada tambahan: “Inna Allah yuhibbul muqsithin” sesungguhnya Allah mencintai orang yang berlaku adil. Jadi tidak perlu revolusi darah. Cukup keadilan yang bertahap.
Semua terdiam. Jam dinding di warung menunjukkan pukul 23.50.
Indra Darmawan (menutup catatan, tersenyum): Malam ini kita sudah menelusuri Marx, melintasi Hatta, Hamka, hingga pesantren Tebuireng. Kesimpulannya: manusia teralienasi karena kerja hanya sarana hidup. Tapi kita punya obat: kembalikan kerja sebagai ibadah dan pengembangan diri. Itu yang diajarkan oleh para ulama dan tokoh nasional.
Lampu neon terakhir mati. Hanya lampu depan dari rumah Wak Dolah yang masih menyala redup. Jangkrik di sawah samping warung berbunyi keras. Jarak ke gerbang Griya Asri hanya 50 meter, tapi gelap gulita.
Juliansyah (berdiri, meluruskan kaki yang semutan): Malam ini saya belajar satu hal. Marx benar soal alienasi. Tapi solusinya bukan sekadar revolusi kelas. Kita perlu revolusi moral seperti kata Kang Jalal: kembalikan ekonomi pada nilai-nilai keadilan, bukan pada nafsu konsumsi.
Ferry Lesmana (mengeluarkan dompet, membayar lebih dari harga yang seharusnya): Terima kasih, Wak Dolah. Untuk laksan dan pempeknya. Dan terima kasih Uda Ade, Bro Indra. Saya akan bawa semangat ini ke OKI. Mungkin kita buat lingkaran diskusi ekonomi di setiap kecamatan. Mulai dari membaca Marx, lalu mendiskusikannya dengan perspektif Islam dan adat.
Wak Dolah (mengusap mata yang mulai mengantuk): Kapan-kapan, awak bawa cerita dari warung ini ke desa-desa. Biar orang tahu, di warung kecil di Gandus pun, kita bisa bicara besar.
Ade Indra Chaniago (berdiri, mengulurkan tangan ke semua hadirin): Saya tutup dengan pesan Hatta: “Koperasi adalah usaha bersama untuk menolong diri sendiri secara bersama-sama”. Jika kita sungguh-sungguh mengamalkannya, maka tidak ada lagi petani yang kelaparan, tidak ada lagi buruh yang teralienasi. Selamat malam, semuanya. Dan ingat: “Alam takambang jadi guru” alam yang terbentang ini adalah guru kita. Dari tanah, dari sungai, dari gotong royong, kita belajar ekonomi yang sejati.
Indra Darmawan (mengambil jaket dari gantungan): Saya titip satu pesan untuk ibu-ibu di PKK Ogan Ilir: jangan remehkan arisan dan simpanan ibu-ibu. Itu adalah bentuk koperasi informal yang sudah terbukti lebih tahan terhadap krisis daripada bank. Marx mungkin tidak menyebutkannya, tapi nenek moyang kita sudah mempraktikkannya.
Mereka berlima berjalan keluar warung. Udara dingin mulai menusuk. Jalanan sepi. Hanya suara gemericik air sungai di kejauhan yang terdengar.
Wak Dolah menutup warungnya, mematikan semua lampu, lalu berbisik pada dirinya sendiri:
Palembang, 15 Mei 2026
Tadarus Politik & Ekonomi
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan