JARI : “Mentalitas Do-It-Yourself, Berpikirlah Seperti Pemberontak”
“Kafe Buku “Intelektual” di Palembang, sore hari. Dua sahabat karib duduk di sudut ruangan yang tenang dikelilingi rak-rak buku tua. Kopi hangat dan kue penganan khas Palembang tersaji di meja.”
Indra Darmawan: (membuka buku John Locke, lalu menatap lawan bicaranya dengan mata berbinar) Uda, akhir-akhir ini saya sedang merenungkan satu kalimat Locke yang cukup provokatif—”Berpikirlah seperti pemberontak” (Think like an outlaw). Bagaimana menurut Anda sebagai seorang ulama? Bukankah Islam mengajarkan ketaatan kepada pemimpin?
Ade Indra Chaniago: (tersenyum tipis sambil mengaduk kopinya) Dinda, kau tahu betul bahwa saya bukan seorang muslim yang alergi pada pemikiran kritis. Tapi mari kita bedah dulu apa maksud Locke sebenarnya. Dari bacaan saya, Locke tidak serta-merta menyuruh orang memberontak secara membabi buta. Dia justru menekankan pada tanggung jawab menggunakan akal sendiri—do-it-yourself mentality. Locke muak dengan skolastik abad pertengahan yang ia sebut sebagai “learned nonsense”—omong kosong yang dipelajari. Tapi apakah itu berarti membangkang tanpa aturan?
Indra Darmawan: (menyandarkan badan ke kursi) Nah, itu dia. Locke lahir di keluarga kelas menengah atas yang istimewa. Ayahnya punya koneksi sehingga ia bisa belajar di Oxford. Namun ironisnya, justru dari posisi istimewa itu ia menyadari bahwa monopoli pengetahuan oleh segelintir orang—baik ulama, pendeta, maupun raja—telah menciptakan “an odd and inexplicable web”, jaring yang aneh dan tak dapat dijelaskan, di mana kata-kata hanya merujuk pada kata-kata lain tanpa menyentuh realitas.
Ade Indra Chaniago: (mengangguk perlahan) Itulah keberanian Locke yang perlu diapresiasi. Tapi sebagai orang yang juga bergelut dengan tasawuf, saya ingatkan bahwa pemberontakan tanpa landasan spiritual bisa menjadi tirani baru. Para sufi seperti Jalaluddin Rumi mengajarkan “Kem kem zan”—berpikirlah, tapi jangan sampai akalmu menjadi tuhan. Rumi berkata, “Akal adalah bayangan, cahaya sejati datang dari hati yang telah dimurnikan.”
Indra Darmawan: (mengambil buku catatan kecil dari saku jaketnya) Justru itu yang menarik, Uda. Locke sebenarnya sejalan dengan Rumi dalam hal penolakan terhadap innate ideas—gagasan bawaan yang tidak perlu dipertanyakan. Locke menulis, “Ini membebaskan orang malas dari kesulitan mencari, dan menghentikan pertanyaan orang-orang ragu tentang segala sesuatu yang disebut bawaan.” Bukankah dalam Islam juga ada larangan taqlid buta?
Ade Indra Chaniago: (menghela napas) Tentu saja Dinda. Al-Qur’an dengan tegas mengecam mereka yang mengikuti nenek moyang tanpa berpikir—”Mengapa kamu tidak menggunakan akalmu?” (QS. Al-Baqarah: 44). Tapi ada perbedaan mendasar antara Locke dan Islam. Locke adalah empiris radikal: pengetahuan hanya dari observasi. Sementara Islam, terutama dalam tradisi sufi, mengakui adanya ‘ilm al-ladunni—pengetahuan yang diberikan langsung oleh Allah kepada hamba-Nya yang ikhlas, seperti yang dialami Nabi Khidir.
Indra Darmawan: (menajamkan pandangan) Tapi Locke juga tidak sepenuhnya menolak iman, Uda. Dalam An Essay Concerning Human Understanding, ia memberi batasan tegas: iman hanya boleh digunakan untuk hal-hal yang tak bisa diamati oleh akal. Namun bahkan wahyu pun harus diuji dengan akal. Menurut Locke, akal adalah anugerah Tuhan untuk memahami wahyu-Nya. Jadi tidak ada wahyu yang bertentangan dengan akal sehat.
Ade Indra Chaniago: (tertawa kecil) Itu argumen klasik kaum Mu’tazilah di abad ke-8 Masehi, Dinda! Mereka juga mengatakan bahwa akal adalah hakim atas wahyu. Tapi ulama Asy’ariyah seperti Al-Ghazali mengingatkan bahwa akal memiliki batas. Al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah menunjukkan bahwa para filsuf yang mengandalkan akal murni justru terjebak dalam kontradiksi. Coba ingat kritik Locke terhadap rasionalis seperti Descartes dan Spinoza yang membangun model realitas hanya dari prinsip-prinsip tanpa eksperimen—itu mirip dengan kritik Al-Ghazali terhadap Ibnu Sina!
Indra Darmawan: (bersemangat, menepuk meja pelan) Nah, di sinilah saya ingin membawa diskusi kita pada tokoh Athena: Socrates. Socrates, seperti Locke, dihukum mati karena mendorong orang Athena untuk berpikir sendiri. “The unexamined life is not worth living”—hidup yang tidak diuji tidak layak dijalani. Tapi Socrates tidak memberontak dengan kekerasan; ia memberontak dengan dialog dan ironi. Ia bahkan menolak rencana melarikan diri dari penjara karena menghormati hukum, meskipun hukum itu tidak adil baginya.
Ade Indra Chaniago: (mengangguk dalam) Socrates adalah guru moral sejati. Tapi saya ingin membawa kita pada tokoh idealisme yang jujur dan membela rakyat Indonesia: Tan Malaka. Kalau membaca Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika), Tan Malaka menulis bahwa rakyat Indonesia telah dibius oleh logika feodal dan mistis. Ia berkata, “Bangsa yang merdeka harus bangsa yang berpikir.” Tan Malaka bahkan mengkritik mereka yang hanya mengikuti propaganda tanpa menggunakan akal—mirip dengan kritik Locke terhadap innate ideas.
Indra Darmawan: (menghela napas panjang) Tan Malaka memang tokoh yang tragis sekaligus heroik. Ia dijuluki “Bapak Republik Indonesia yang dilupakan” karena keberaniannya berpikir out of the box. Dalam bukunya Islam dalam Tinjauan Madilog, ia berani menyatakan bahwa umat Islam harus membedakan antara esensi ajaran dan tradisi yang membelenggu. Ia bahkan mengkritik para kiai yang melarang rakyat berpikir kritis. Tapi sayangnya, pemikirannya dianggap terlalu kiri pada zamannya.
Ade Indra Chaniago: (dengan suara rendah) Tapi apakah Tan Malaka tidak terjebak dalam romantisme pemberontakan? Locke sendiri memperingatkan bahaya “bias”—keberpihakan. Ketika orang menyadari bahwa suatu opini populer di lingkungannya, mereka menganggap argumen terlemah yang mendukung opini itu meyakinkan, dan mengabaikan argumen tandingan. Locke menasihati: “Keluarlah dari gelembung Anda.”
Indra Darmawan: (menghela napas, mengusap kening) Jadi menurut Uda, “berpikir seperti pemberontak” versi Locke itu sebenarnya lebih tentang epistemic humility—kerendahan hati dalam berpikir—daripada anarki? Karena ia sendiri mengakui bahwa meskipun setiap orang bisa menggunakan akal, tidak semua bisa melakukannya dengan baik. Butuh latihan, butuh disiplin.
Ade Indra Chaniago: (tersenyum lega) Akhirnya kau sampai juga di sana, Dinda. Locke itu bukan pemberontak dalam arti perusak, melainkan pemberontak terhadap kemalasan intelektual. Mari saya bawa pandangan dari sufi besar lainnya, Ibn Arabi. Dalam Fusus al-Hikam, ia mengajarkan konsep “al-‘aql al-mustafad”—akal yang memperoleh cahaya dari Tuhan. Ibn Arabi berkata, “Barangsiapa mengenal dirinya, mengenal Tuhannya.” Ini bukan anti-akal, tetapi akal yang ditempa dengan kesadaran spiritual akan batas-batasnya.
Indra Darmawan: (mengeluarkan buku catatan lain, mulai menulis) Saya teringat tokoh dunia lain yang relevan: Mahatma Gandhi. Gandhi memberontak terhadap Imperium Britania bukan dengan senjata, tetapi dengan satyagraha—kebenaran yang gigih. Gandhi membaca Thoreau dan Tolstoy, tapi ia juga membaca Bhagavad Gita dan Al-Qur’an. Ia berkata, “Kebebasan tidak berarti membiarkan diri kita diperintah oleh siapa pun, termasuk oleh nafsu kita sendiri.” Bukankah itu sejalan dengan Locke yang menekankan tanggung jawab menggunakan akal dengan baik?
Ade Indra Chaniago: (mengangguk antusias) Tepat sekali! Dan di Indonesia, kita punya tokoh seperti Ki Hajar Dewantara. Beliau “memberontak” terhadap sistem pendidikan kolonial dengan mendirikan Taman Siswa. Ia berkata, “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”—di depan memberi teladan, di tengah membangun kemauan, di belakang memberi dorongan. Ini adalah filosofi kepemimpinan yang memberdayakan, bukan menindas. Ini adalah pemberontakan yang membebaskan, bukan yang merusak.
Indra Darmawan: (meletakkan pena, menatap Ade dalam-dalam) Kita belum membahas satu aspek penting dari Locke: teori kontrak sosial dan hak untuk melawan. Locke menulis dalam Two Treatises of Government bahwa jika pemerintah tidak melindungi hak-hak alamiah rakyat—hak hidup, kebebasan, dan harta benda—maka rakyat berhak bahkan wajib menggulingkan pemerintah itu. Bukankah ini sangat radikal untuk zamannya, bahkan sekarang?
Ade Indra Chaniago: (menghela napas, mengambil posisi lebih tegak) Ini memang titik kritis. Dalam Islam, konsep khuruj—keluar dari penguasa yang zalim—adalah perdebatan panjang. Mayoritas ulama Ahlus Sunnah, termasuk Imam Al-Ghazali dalam al-Iqtisad fi al-I’tiqad, cenderung sabar terhadap penguasa zalim demi menghindari fitnah yang lebih besar. Tapi ada juga pendapat dari Imam Ibnu Taimiyah yang membolehkan bahkan mewajibkan perlawanan jika penguasa secara terang-terangan meninggalkan syariat. Jadi Islam tidak seragam anti-pemberontakan.
Indra Darmawan: (menyela) Tapi Locke tidak mendasarkan argumennya pada wahyu, melainkan pada hukum alam—natural law yang dapat dipahami oleh akal setiap manusia. Ia berkata bahwa dalam keadaan alamiah (state of nature), manusia sudah memiliki hak-hak itu. Pemerintah dibentuk melalui kontrak sosial hanya untuk melindungi hak-hak tersebut. Jadi ketika kontrak dilanggar, kontrak batal demi hukum.
Ade Indra Chaniago: (menggeleng pelan) Di sinilah letak perbedaan fundamental antara Locke dan para sufi, Dinda. Bagi sufi seperti Al-Hallaj atau Rabi’ah al-Adawiyah, pemberontakan sejati bukanlah melawan penguasa, melainkan melawan nafsu (ego) sendiri. Al-Hallaj berkata, “Aku adalah Kebenaran” (Ana al-Haqq)—dan ia dihukum mati bukan karena melawan penguasa, tetapi karena dianggap mengklaim ketuhanan. Namun esensinya: pemberontakan spiritual adalah yang tertinggi. Tanpa itu, pemberontakan politik hanya akan mengganti tiran dengan tiran baru.
Indra Darmawan: (terdiam sejenak, lalu tersenyum) Saya paham maksud Uda. Tapi mari kita bawa diskusi ini pada konteks Indonesia sekarang. Lihatlah bagaimana para aktivis lingkungan di Palembang—anak-anak muda yang “memberontak” terhadap perusahaan raksasa yang membakar hutan. Mereka menggunakan nalar: mereka mengumpulkan data, melakukan observasi (seperti yang diajarkan Locke), lalu menyuarakan kebenaran. Mereka juga mendapat inspirasi dari tokoh idealis Indonesia seperti Munir, pejuang HAM yang jujur dan membela rakyat kecil. Munir berkata, “Ketakutan adalah musuh utama keadilan.” Bukankah itu semangat Locke?
Ade Indra Chaniago: (mengangguk dengan wajah serius) Munir adalah martir kemanusiaan. Tapi apakah pemberontakan ala Locke cukup? Mari saya bawa perspektif sufi kontemporer dari Indonesia, yakni Buya Hamka. Dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka sering mengutip ayat “La yukallifullahu nafsan illa wus’aha”—Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Hamka mengajarkan bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri, dari keluarga, dari masyarakat. Ia tidak anti-kritik terhadap penguasa—bukunya Dari Lembah Cita-Cita berisi banyak kritik tajam terhadap Orde Lama. Tapi ia melakukannya dengan adab dan ilmu, bukan dengan amarah buta.
Indra Darmawan: (menunjuk ke arah rak buku) Itulah yang saya temukan dalam buku Locke yang tidak banyak dibaca orang: Some Thoughts Concerning Education. Di sana Locke menekankan bahwa untuk melatih akal, seseorang harus belajar matematika, sejarah, hukum, dan bahkan kerja tangan. Locke percaya bahwa pendidikan harus membentuk karakter, bukan sekadar mengisi memori dengan dogma. Inilah yang hilang dari sistem pendidikan kita saat ini.
Ade Indra Chaniago: (tersenyum lebar) Sekarang kita berbicara! Pendidikan yang membebaskan, itulah pemberontakan sejati. Paulo Freire, filsuf pendidikan asal Brasil, dalam Pedagogy of the Oppressed menyebutnya conscientization—penyadaran kritis. Freire mengkritik “banking education”—pendidikan seperti menyimpan uang di bank, di mana guru hanya mentransfer informasi dan siswa pasif menerima. Locke, dengan mentalitas do-it-yourself-nya, adalah pelopor konsep ini. Tapi sayangnya, Locke masih elitis: ia tidak mendukung hak pilih universal.
Indra Darmawan: (menutup buku catatannya, merangkum) Jadi, mari kita simpulkan diskusi tujuh halaman ini, Uda. “Berpikirlah seperti pemberontak” versi John Locke berarti:
1. Menolak otoritas buta dan innate ideas.
2. Menggunakan akal berdasarkan observasi empiris.
3. Mengakui hak untuk melawan pemerintah yang zalim.
4. Bertanggung jawab melatih akal dengan disiplin.
5. Keluar dari gelembung bias dan keberpihakan.
Ade Indra Chaniago: (menambahkan dengan suara tegas) Tapi sebagai muslim, saya tambahkan koreksi Islam dan sufi:
1. Akal adalah anugerah, tetapi memiliki batas. Ada realitas yang hanya dapat dijangkau melalui hati yang bersih.
2. Pemberontakan sejati dimulai dari pemberontakan melawan ego (jihad an-nafs), baru kemudian melawan ketidakadilan struktural.
3. Perlawanan harus dilakukan dengan adab—etika, bukan dengan kebencian yang melahirkan tirani baru.
4. Tokoh-tokoh seperti Socrates, Gandhi, Tan Malaka, Ki Hajar Dewantara, Munir, dan Buya Hamka mengajarkan bahwa pemberontakan yang jujur adalah pemberontakan yang membela rakyat kecil, bukan kepentingan kelompok.
5. Akhirnya, seperti kata Locke sendiri: “Keluarlah dari gelembung Anda”—tapi bagi saya, keluarlah dari gelembung ego menuju kesadaran bahwa kebenaran tertinggi milik Allah semata.
Indra Darmawan: (berdiri dan menjabat tangan Ade) Terima kasih, Uda. Diskusi ini mengingatkan saya bahwa Palembang—kota yang dulu menjadi pusat perlawanan terhadap kolonialisme—masih layak menjadi tempat lahirnya pemikir-pemikir pemberontak yang bertanggung jawab. Bukan pemberontak yang merusak, tapi pemberontak yang membangun peradaban.
Ade Indra Chaniago: (juga berdiri, tersenyum hangat) Dan semoga generasi muda kita bisa menjadi “pemberontak” seperti Locke: berani berpikir sendiri, namun tetap rendah hati di hadapan Kebenaran Yang Maha Esa. Ayo, Ashar sudah hampir tiba. Kita ke masjid dulu?
Indra Darmawan: (tertawa) Setuju. Siapa tahu di masjid kita bisa memberontak terhadap kemalasan ibadah!
Keduanya beranjak meninggalkan kafe, meninggalkan meja dengan dua gelas kopi yang hampir habis dan secarik kertas penuh catatan—mungkin akan menginspirasi esok hari bagi siapa pun yang duduk di sana.
Rabu, 22 April 2026
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan