JARI : Kalender dan Ramadhan Abadi

JARI : Kalender dan Ramadhan Abadi

 

Sebuah kedai kopi sederhana di kawasan 19 Ilir, Palembang. Sore hari setelah salat Ashar, suasananya teduh. Indra Darmawan dan Ade Indra Chaniago duduk berhadapan di ruang warung kopi sederhana menghadap Masjid Agung Palembang, ditemani dua cangkir kopi panas.

 

Indra Darmawan: (Membuka lembaran puisi kecil, lalu membacanya dengan lirih)

“Hidup adalah Pagi…
Hidup adalah Siang…
Hidup adalah Sore…
Hidup adalah dan juga Malam…

Hidup…
Hidup adalah Senin, Selasa…
Hidup adalah Rabu, Kamis…
Hidup adalah Jum’at, Sabtu…
Hidup adalah dan juga Minggu…

Hidup…
Hidup adalah Januari, Februari, Maret…
Hidup adalah April, Mei, Juni…
Hidup adalah Juli, Agustus, September…
Hidup adalah dan juga Oktober, November dan Desember…”

Indra meletakkan puisi itu, lalu menatap Uda Ade dengan mata penuh kegelisahan.

Indra Darmawan: “Uda, saya membaca puisi yang Uda tulis ini berulang kali. Saya merasa seperti sedang melihat daftar belanjaan. Kita berputar-putar dalam rutinitas waktu. Pagi, siang, sore. Senin sampai Minggu. Januari sampai Desember. Lantas, setelah semua ‘kertas kalender’ itu habis disobek, kemana kita? Apa yang sebenarnya kita cari dalam hidup ini? Maaf, Uda. Saya sedang berada di fase bertanya-tanya. Jangan-jangan selama ini saya hanya ‘Hidup’ karena takut mati?”

Ade Indra Chaniago: (Tersenyum bijak, membiarkan asap di gelas kopinya mengepul). “Bagus, Adinda. Itulah muhasabah; itu adalah tanda bahwa akal sehatmu sedang terjaga. Puisi itu seperti cermin. Banyak dari kita berlari di atas roda tikus itu: makan, kerja, tidur, ganti baju, ganti tahun, tapi ruhani jalan di tempat. Buya Hamka pernah mengingatkan kita dengan teguran yang sangat keras. Beliau berkata, ‘Kalau hidup hanya sekedar hidup, kera di rimba juga hidup. Kalau kerja hanya sekedar kerja, kerbau di sawah juga kerja.’ .”

Indra Darmawan: (Menyambar) “Itu yang saya takutkan, Uda! Menjadi ‘kerbau modern’. Sekolah, kuliah, cari kerja, cari pasangan, punya anak, pensiun… lalu mati. Seolah-olah hidup ini hanya program biologis belaka. Lalu menurut Uda, apa pembeda yang hakiki antara manusia yang ‘hidup’ dengan hewan yang ‘hidup’?”

Ade Indra Chaniago: “Tanyakan pada hatimu, Dinda. Apa yang kau cari? Harta? Jabatan? Kalau itu tujuan utama, kerbau juga punya ‘wilayah kekuasaan’ di sawahnya. Bedanya, manusia punya ‘Pribadi’. Buya Hamka menjelaskan bahwa nilai seseorang bukan pada gemuk tubuhnya seperti kerbau, tetapi pada pribadinya; kumpulan akal budi, kemauan, dan cita-cita . Kerbau tidak bertanya, ‘Untuk apa aku dilahirkan?’ Kerbau tidak gelisah mencari Tuhan. Tapi manusia, Indra, dilengkapi dengan Kalbu untuk mencari makna di balik semua perputaran waktu ini.”

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : “Jika Tuhan Ada, Kita Harus Menghapus-Nya?”

Indra Darmawan: “Berarti, merenungkan puisi itu adalah sebuah keharusan, bukan kemewahan?”

Ade Indra Chaniago: “Tepat. Itulah yang disebut Kontemplasi. Kita sedang berada di bulan Syawal, baru saja meninggalkan Ramadhan. Banyak orang merasa ‘gugur kewajiban’ setelah sebulan berpuasa. Mereka lebaran hanya sekedar pindah lokasi dari meja kantor ke meja makan sanak saudara. Padahal, hakikat puasa adalah untuk mencapai Taqwa; menjadi manusia yang sadar akan keberadaan Allah setiap saat . Jangan sampai ibadah kita menjadi ‘wisata religi’ tanpa perubahan batin. Jika puasa tidak membuat kita lebih manusiawi, apa bedanya dengan orang yang hanya sekedar menahan lapar?”

Indra Darmawan: (Menyelak dengan suara sedikit lebih bersemangat) “Uda, bicara tentang Ramadhan, saya jadi teringat sesuatu. Bukankah bulan Ramadhan itu adalah bulan di mana manusia menempah diri? Kita dilatih untuk mengendalikan apa yang kita senangi seperti makan, minum, dan berhubungan suami istri dan juga melatih diri terhadap apa yang tidak kita senangi, seperti menahan amarah, mengurangi gosip, dan bangun malam untuk sahur dan tarawih. Sebulan penuh kita dididik. Lalu ilmunya seharusnya kita terapkan di 11 bulan lainnya. Itu kan hakikatnya, Uda?”

Ade Indra Chaniago: (Mengangguk pelan, matanya menerawang ke arah Masjid Agung Palembang) “Tepat sekali, Dinda. Ramadhan adalah madrasah ruhani. Sebagaimana dikatakan oleh Jalaluddin Rumi‘Puasa adalah obor yang menerangi jalan menuju Tuhan.’ Dalam obor itu, kita belajar menahan hawa nafsu, bukan membunuhnya, tetapi melatihnya agar tunduk pada perintah Ilahi. Ilmu pengendalian diri itulah yang hendak kita bawa pulang.”

Indra Darmawan: (Menghela napas panjang) “Tapi faktanya, Uda… Hakikat satu bulan Ramadhan itu sangat susah diterapkan di 11 bulan lainnya. Begitu Syawal datang, banyak dari kita seperti melepas baju seragam. Makan kembali seenaknya, marah-marah lagi, malas-malasan shalat malam, bahkan lupa bahwa setan yang dibelenggu selama Ramadhan sebenarnya bukan musuh utama hawa nafsu kitalah yang tetap hidup. Kenapa begitu sulit, Uda?”

Ade Indra Chaniago: (Tersenyum miris) “Karena kebanyakan dari kita hanya menjalani Ramadhan secara jasmani, bukan rohani. Mereka puasa seperti ‘wisata religi’ yang indah selama sebulan, lalu pulang ke kehidupan lama tanpa membawa oleh-oleh perubahan. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pernah berkata, ‘Siapa yang puasanya tidak mampu mengendalikan lidah, telinga, mata, dan seluruh anggota tubuhnya, maka puasanya hanya sekadar menahan lapar dan dahaga.’ . Jika setelah Ramadhan kita kembali berbuat maksiat, itu tandanya kita hanya mendapatkan haus dan lapar, bukan ketakwaan.”

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : Menimbang Etika Kant di Serambi Masjid Agung Palembang

Indra Darmawan: “Lalu solusinya, Uda? Apakah kita harus puasa terus di bulan-bulan lain? Atau bagaimana caranya agar latihan sebulan itu tidak sia-sia?”

Ade Indra Chaniago: “Solusinya bukan dengan memaksakan diri berpuasa setiap hari, tetapi dengan istiqamah konsisten dalam amalan-amalan kecil yang sudah kita latih. Rasulullah menganjurkan puasa Syawal enam hari, puasa Senin-Kamis, dan puasa Ayyamul Bidh. Itu seperti ‘vitamin’ untuk menjaga kebugaran ruhani. Namun yang terpenting, Dinda, adalah mengubah niat. Jangan jadikan Ramadhan sebagai tujuan, tetapi sebagai batu loncatan. Jika selama Ramadhan kita belajar sabar, maka di 11 bulan berikutnya kita tetap berusaha sabar. Jika kita belajar sedekah, maka sedekah jangan hanya deras di Ramadhan. Buya Hamka mengingatkan, ‘Ibadah itu bukan untuk Tuhan, karena Tuhan tidak butuh ibadahmu. Ibadah itu untuk melatih jiwamu sendiri.’

Indra Darmawan: (Mengusap wajah) “Jadi, Uda… kegagalan kita menerapkan hakikat Ramadhan di bulan lain itu sebenarnya karena kita hanya fokus pada ritual Ramadhan, bukan pada nilai yang diajarkan?”

Ade Indra Chaniago: (Mengangguk tegas) “Dinding beton. Banyak dari kita sibuk menghitung berapa kali tarawih, berapa juz yang dibaca, berapa hari penuh puasa tapi lupa bertanya: ‘Apakah hatiku berubah?’ Allah tidak melihat gemuk pahalamu seperti kerbau melihat rumput, tetapi melihat ketulusan dan konsistensi hatimu. Mari kita simak nasihat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dari makam yang tidak jauh dari kita ini. Beliau berkata, ‘Jadikanlah setiap saat sebagai Ramadhan, karena hakikat puasa adalah menahan diri dari segala selain Allah, bukan hanya menahan lapar.’ Jika itu yang kau hidupi, maka Januari hingga Desember akan terasa seperti bulan penuh berkah.”

Indra Darmawan: (Mengambil kopinya, menyesap pelan) “Uda, saya baru sadar. Puisi tentang pagi, siang, senin, desember itu… kalau kita isi dengan kesadaran seperti itu, maka setiap hari adalah Ramadhan, setiap tempat adalah masjid, dan setiap napas adalah ibadah. Bukankah begitu?”

Ade Indra Chaniago: (Tersenyum sumringah) “Itulah ma’rifatullah mengenal Tuhan dalam setiap detak waktu. Selamat, Dinda. Kini engkau tidak lagi hidup seperti kerbau yang hanya gemuk di kandang. Engkau mulai menjadi manusia yang bertanya, merindu, dan berjalan pulang kepada-Nya. Jangan putus asa jika sering gagal. Teruslah latih dirimu. Sebab hakikat hidup adalah perjalanan, bukan tujuan instan.”

(Keduanya terdiam lagi. Azan Magrib mulai berkumandang dari Masjid Agung Palembang. Mereka bersiap menunaikan salat, membawa serta kesadaran baru: bahwa setiap bulan, setiap hari, setiap waktu adalah peluang untuk menempah diri menjadi hamba yang lebih baik.)

Indra Darmawan: (Menghela napas) “Jadi, Uda. Apa jawaban akhir dari pertanyaan ‘Lantas kemana kita setelah hidup?’ Saya butuh pegangan.”

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Pemberontakan Tak Bersuara

Ade Indra Chaniago: (Mengutip dengan khusyuk) “Wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun.” Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku . Tujuan hidup itu adalah ‘pulang’ kepada-Nya dalam keadaan diri yang suci (Fitri). Waktu (pagi, siang, senin, desember) hanyalah titian. Jika kau lihat kerbau, ia hanya melihat rumput. Jika kau lihat orang sufi seperti Ibrahim bin Adham, ia berkata: ‘Jika kamu tidur di malam hari, berkeliaran di siang hari, dan selalu bermaksiat, lalu bagaimana kau berharap ridha Tuhan yang mengurus urusanmu?’ . Itu artinya, setiap detik waktu harus diisi dengan kesadaran akan tujuan itu.

Indra Darmawan: “Saya rasa banyak dari kita lalai, Uda. Kita seringkali menjadikan ‘keberhasilan duniawi’ sebagai tuhan kecil.”

Ade Indra Chaniago: Betul. Dan itulah yang disebut krisis makna. Jika kita melihat pendapat Imam Al-Ghazali, tujuan hidup bukan sekadar mencari rezeki, tetapi fadhilah (keutamaan) yaitu mendekatkan diri kepada Allah. Jangan sampai hidup kita hanya seperti ‘sekadar menggugurkan kewajiban’ tanpa ruh. Mari kita simak pesan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (yang makamnya tidak jauh dari kita di Palembang ini). Beliau mengajarkan agar kita “fana” dari ego kita. Artinya, matikanlah sifat ‘aku, aku, aku’ itu. Karena dengan matinya ego, barulah kita bisa merasakan kehidupan yang sejati.

Indra Darmawan: (Mengangguk pelan) Jadi, Uda… untuk menjawab puisi tadi, tentang pergi setelah hidup… jawabannya bukanlah ‘pergi ke kuburan’, tetapi ‘kembali ke haribaan-Nya’?

Ade Indra Chaniago: (Tersenyum lebar) “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Kita milik Allah dan kembali kepada Allah. Itulah tujuan final. Maka, jangan biarkan waktu (pagi, siang, senin, desember) berlalu begitu saja tanpa kau isi dengan amal yang membawamu pulang. Jangan sampai kau menjadi kerbau yang gemuk, tetapi ruhani mati. Selamat merenung, Dinda. Hidup ini singkat, jadikan ia berarti dengan cinta kepada Sang Pencipta.

(Keduanya terdiam, menikmati senja Palembang yang mulai turun, membawa kesadaran baru bahwa setiap detik yang bergulir adalah kesempatan untuk kembali ke Fitrah).

 

Senin, 30 Maret 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan