JARI : Berkacalah Indonesia “Kemunduran Romawi”
“Pagi itu, di sebuah kafe sederhana di tepian Sungai Musi, Palembang, dua orang akademisi duduk bersandar di kursi bambu. Di atas meja, di samping tumpukan artikel, terdapat sebuah dokumen yang baru saja dicetak, artikel tentang Cicero. Hujan rintik-rintik mengguyur atap seng, sementara kedua sahabat itu memulai diskusi mereka.”
Ade Indra Chaniago: (Membaca judul artikel itu) “Cicero dan Kemunduran Republik Romawi.” Ini bacaan yang pas dengan situasi kita sekarang, Bro. Ceritanya, Cicero, seorang orator ulung yang pernah dijuluki Pater Patriae, akhirnya harus terusir dari Roma.
Indra Darmawan: (Menyeduh kopi) Saya sudah baca itu. Kisah yang tragis, Uda. Cicero terusir lewat sebuah hukum yang sengaja dibuat untuk menjeratnya. Dalam artikel ini disebutkan, Clodius, sang demagog, memperkenalkan undang-undang yang mengancam siapa pun yang pernah menjatuhkan hukuman mati pada warga negara Romawi tanpa pengadilan.
Ade Indra Chaniago: (Mengangguk paham) Itu terjadi karena Cicero, demi menyelamatkan Republik dari kudeta Catilina, menjatuhkan hukuman mati pada para konspirator tanpa melalui proses peradilan yang semestinya. Akibatnya, dia diasingkan. Ironisnya, dia diasingkan oleh sebuah republik yang dulu mengaguminya. Setelah kembali, dia melihat Caesar mulai merusak sendi-sendi republik dari dalam.
Indra Darmawan: (Menghela napas) Di artikel itu, Caesar disebut-sebut menggunakan kekerasan sebagai konsul, bahkan memulai perang yang tidak sah di Galia. Namun Senat tetap membiarkannya.
Ade Indra Chaniago: (Memutar gelas) Dan kemudian, ketika Senat memerintahkan Caesar untuk membubarkan pasukan, dia justru menyerang, melancarkan perang saudara, dan pada akhirnya menyatakan diri sebagai diktator seumur hidup.
Indra Darmawan: Persis seperti yang kita lihat sekarang ini, Uda.
Ade Indra Chaniago: (Dengan ekspresi serius) Memang ada kemiripan yang mengerikan. Cicero percaya pada hukum alam—bahwa keadilan adalah perintah moral tertinggi yang harus ditegakkan di mana pun dan kapan pun. Keadilan baginya bukan perlakuan sama rata, tetapi proporsional: yang sakit harus lebih diutamakan dalam perawatan medis. Sayangnya, Republik Romawi saat itu sudah digerogoti oleh oligarki dan populisme.
Indra Darmawan: (Mengeluarkan koran) Bacalah ini, Uda. Kondisi bangsa kita hari ini benar-benar karut-marut. Hukum kehilangan wibawanya, keadilan terasa tumpul ke bawah dan tajam ke atas, serta kebijakan ekonomi semakin menjauh dari kepentingan rakyat. Ini bukan sekadar keluhan masyarakat bawah, tetapi pernyataan resmi dari Ketua Umum Gerakan Muda Nasional.
Ade Indra Chaniago: (Membaca dengan seksama) Saya sudah mendengar hal ini, Bro. Bahkan Bivitri Susanti, pakar tata negara, menilai adanya penurunan signifikan terhadap kualitas rule of law, ditandai oleh praktik populisme hukum dan munculnya kebijakan yang mengarah pada autocratic legalism.
Indra Darmawan: Di Palembang sendiri, kasus korupsi Kolam Retensi Simpang Bandara merugikan keuangan negara hingga Rp39,8 miliar. Ini duit negara, uang rakyat, tetapi hingga kini belum ada satu pun tersangka yang ditetapkan. Sampai-sampai uda sendiri, sebagai Direktur Pusat Studi Kebijakan dan Politik, dihadapkan teka -teki yang seolah tak ada jawaban.
Ade Indra Chaniago: (Mendesah) Itulah realitas pahit yang kita hadapi. Cicero menolak demokrasi langsung seperti di Athena, karena menurutnya tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam politik. Namun, dia justru melihat dua ancaman utama terhadap republik: kaum populis seperti Clodius, dan politik kekuasaan yang kejam seperti Caesar.
Indra Darmawan: (Mengangguk) Di sini juga sama. Kita dihadapkan pada dua ekstrem: politik dinasti dan oligarki di satu sisi, serta populisme yang mengabaikan etika di sisi lain. Bukankah para pendiri bangsa kita sudah memikirkan hal ini?
Ade Indra Chaniago: (Menyesap kopi) Mereka sudah merumuskan gagasan yang jauh lebih matang. Soekarno, misalnya, dengan konsep negara gotong royong. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh sekadar meniru sistem demokrasi-liberal Barat, melainkan membangun sistem politik sendiri yang berakar pada budaya lokal. Ia juga menekankan bahwa hukum tidak boleh netral, melainkan harus berpihak kepada semangat kemerdekaan, keadilan sosial, dan pembebasan rakyat dari struktur kolonial lama.
Indra Darmawan: Itu berbeda dengan konsep Cicero yang mengandalkan hukum alam sebagai landasan universal.
Ade Indra Chaniago: Tepat. Soekarno justru mengkritik demokrasi-liberal Barat yang individualistis. Namun dia juga menolak sistem otoritarian. Dia mengajukan Pancasila sebagai jalan tengah. Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, adalah cerminan dari demokrasi kekeluargaan yang dia sebut sebagai socio-democracy.
Indra Darmawan: (Tersenyum) Lalu bagaimana dengan Bung Hatta?
Ade Indra Chaniago: (Bersemangat) Bung Hatta lebih menekankan pada dimensi moral demokrasi. Bagi Hatta, demokrasi sejati adalah kedaulatan moral rakyat, bukan sekadar ritual politik lima tahunan. Dia juga mengidamkan demokrasi ekonomi yang diwujudkan melalui koperasi sebuah ideologi “jalan tengah” yang menanggapi kegagalan komunisme dan liberalisme.
Indra Darmawan: Itu berarti demokrasi tidak hanya soal kebebasan politik, tetapi juga keadilan sosial dan ekonomi.
Ade Indra Chaniago: Persis. Hatta mengatakan bahwa demokrasi di dunia barat mengalami kepincangan. Di sana, kaum kapitalis yang terkecil menguasai kehidupan orang banyak. Golongan yang kuat itulah yang memberi rupa pada demokrasi. Di Indonesia, kita harus membangun demokrasi yang berakar pada budaya kita sendiri, yang tidak hanya melibatkan politik tetapi juga aspek ekonomi.
Indra Darmawan: (Menghela napas) Tapi lihatlah realitas kita sekarang. Menurut Uda, mengapa cita-cita mulia itu begitu sulit diwujudkan?
Ade Indra Chaniago: Karena ada penyimpangan dari cita-cita awal pendirian bangsa. Banyak pihak yang menilai bahwa amandemen UUD 1945 pascareformasi telah mengubah secara fundamental arah sistem bernegara, melahirkan ketimpangan kekuasaan, lemahnya kedaulatan rakyat, serta terbukanya ruang bagi praktik-praktik oligarki.
Indra Darmawan: Cicero sendiri pada akhirnya gagal menyelamatkan republik. Dia dibunuh pada tanggal 7 Desember 43 SM, setelah tangan dan kepalanya dipotong dan dipaku di mimbar Senat sebagai peringatan.
Ade Indra Chaniago: (Dengan nada rendah) Itulah harga yang harus dibayar oleh mereka yang terlalu vokal melawan tirani. Namun, warisan pemikirannya tentang hukum alam dan republik tetap hidup. Paul Cliteur, filsuf Belanda, bahkan mengangkat kembali pemikiran Cicero dalam konteks modern. Cliteur mengkritik pencampuran bidang kekuasaan di Belanda, misalnya, walikota yang mensubsidi masjid untuk mendorong integrasi, yang dinilainya sebagai pelanggaran terhadap prinsip pemisahan gereja dan negara.
Indra Darmawan: (Mengusap kening) Di Indonesia, pencampuran kekuasaan juga terjadi di mana-mana. Politik uang, nepotisme, dan kolusi antar elit masih merajalela. Bahkan ada usulan agar Pilkada dikembalikan ke DPRD, yang menurut pakar tata negara UGM justru akan mengancam kedaulatan rakyat.
Ade Indra Chaniago: (Tersenyum getir) Kita berada di persimpangan jalan. Cicero memilih untuk melawan kemunduran republik dengan cara menulis De Republica dan De Legibus. Karyanya itu menjadi fondasi bagi pemikiran hukum alam hingga saat ini.
Indra Darmawan: Kita mungkin tidak bisa menulis buku setebal itu, Uda, tetapi kita bisa terus menyuarakan kebenaran dan keadilan, persis seperti yang dilakukan oleh para pendiri bangsa kita.
Ade Indra Chaniago: (Mengangkat gelas kopi) Mari kita minum untuk Cicero, yang meskipun gagal menyelamatkan republik, berhasil menyelamatkan gagasan tentang keadilan dan hukum alam.
Indra Darmawan: (Tersenyum sambil menyentuhkan gelas) Dan untuk Indonesia, semoga kita tidak perlu mengulangi tragedi yang sama.
Ade Indra Chaniago: Amin.
Hujan rintik-rintik di tepi Sungai Musi mulai reda. Kedua sahabat itu masih duduk, asyik berdiskusi tentang masa depan bangsa sambil menikmati kopi yang sudah dingin. Di kejauhan, suara adzan Magrib mulai berkumandang, mengingatkan bahwa malam akan segera tiba. Namun bagi mereka, perjuangan untuk menegakkan keadilan dan melawan kemunduran republik masih akan terus berlanjut, persis seperti yang dilakukan Cicero dua ribu tahun lalu.
14 April 2026
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan