JARI : Menimbang Kepemimpinan Bijak

JARI : Menimbang Kepemimpinan Bijak

 

Ade Indra Chaniago: (Sambil menyeduh kopi) Kopi Palembang ini, Dinda, mirip dengan pemimpin yang bijak. Rasanya pahit di awal, tapi meninggalkan kesegaran di akhir. Tidak pernah berlebihan, tidak pernah manis semu. Kabarnya kau baru saja dari lapangan? Bagaimana perasaanmu?

Indra Darmawan: (Menghela napas panjang) Jujur, Uda, saya gerah. Gerah melihat perilaku para pemimpin di negeri ini. Saya baru saja dari daerah yang infrastrukturnya hancur, tapi pejabatnya sibuk membangun istana pribadi. Bukannya memikirkan kesejahteraan rakyat, mereka malah berlomba-lomba mengejar kekayaan. Saya jadi teringat Adam Smith, Uda. Selama ini kita tahu beliau sebagai bapak ekonomi kapitalis, tapi pemikirannya tentang self-command atau pengendalian diri itu absurd sekaligus menarik jika kita kaitkan dengan para pemimpin korup.

Ade Indra Chaniago: (Tersenyum tipis) Adam Smith? Kau membaca The Theory of Moral Sentiments-nya? Ya, banyak yang lupa bahwa sebelum menulis The Wealth of Nations, Smith adalah filsuf moral. Kau bilang absurd, maksudmu tentang cerita kaki putus karena meriam itu?

Indra Darmawan: Tepat sekali, Uda. Smith bilang, jika kaki Anda putus akibat bola meriam, Anda harus tetap tenang dan sabar, melanjutkan bicara seolah tak terjadi apa-apa. Di satu sisi, ini absurd karena seolah mengingkari rasa sakit fisik. Tapi di sisi lain, ini kritik pedas untuk para pemimpin kita yang “lebay” soal kekayaan. Mereka kehilangan kaki moral, kehilangan integritas, bukannya tenang memperbaiki sistem, malah heboh cari sensasi dan mengeruk untung. Smith bilang kerakusan itu tanda tidak sopan, tidak halus. Pemimpin yang rakus itu tidak punya kehormatan.

Ade Indra Chaniago: Smith memang mengajarkan equanimity  ketenangan batin. Tapi hati-hati, Indra. Smith bukan bilang kita tidak boleh merasakan sakit. Dia bilang kita harus mengendalikan reaksi agar bisa berpikir jernih. Bayangkan jika Bung Hatta mengikuti logika “tangan tak terlihat” Smith secara mentah-mentah. Hatta justru berkata, “Saya tidak mau memikirkan kekayaan, karena kekayaan adalah sesuatu yang fana. Yang saya pikirkan adalah bagaimana rakyat bisa berdiri di atas kaki sendiri.”

Indra Darmawan: Nah, itu dia, Uda! Bung Hatta adalah contoh nyata pemimpin bijak yang tidak mengejar kekayaan. Saat menjabat, beliau hidup sederhana. Bahkan saat ditawari hadiah atau fasilitas mewah, beliau tolak. Bagi Hatta, kemerdekaan adalah syarat mutlak untuk kesejahteraan, dan kemerdekaan itu bukan untuk memperkaya diri sendiri.

Ade Indra Chaniago: (Menghela napas, lalu tersenyum penuh makna) Bicara tentang Hatta dan kesederhanaannya, aku jadi teringat satu kisah yang jarang diungkap. Kisah ini menunjukkan betapa dalam self-command yang dimiliki beliau. Sebuah kendali diri yang mungkin, dalam istilah Smith, bahkan melampaui sekadar tenang menghadapi penderitaan ini adalah ketenangan dalam menghadapi hasrat.

Tahukah kau, Dinda? Bung Hatta sebenarnya mendambakan sepasang sepatu Bally. Bukan sembarang sepatu, merek asal Swiss yang terkenal eksklusif itu. Beliau melihat iklannya di sebuah surat kabar. Dan tahukah kau apa yang beliau lakukan? Beliau menggunting iklan itu.

Indra Darmawan: (Mengernyitkan dahi) Menggunting iklan?

Ade Indra Chaniago: Iya. Iklan sepatu Bally itu beliau gunting dengan rapi. Lalu beliau simpan di dalam sebuah buku. Bukan sebagai daftar belanja, tapi mungkin sebagai sebuah catatan hati kecil, sebuah keinginan yang beliau akui ada di sana, tapi beliau pilih untuk tidak penuhi.

Indra Darmawan: (Tercengang) Lalu… apakah beliau akhirnya membelinya?

Ade Indra Chaniago: (Menggeleng pelan, suaranya melembut) Tidak pernah. Hingga beliau wafat pada tahun 1980, sepatu Bally itu tidak pernah terbeli. Iklan guntingan itu tetap setia tersimpan di antara lembaran-lembaran buku, menemani perjalanan hidup seorang proklamator yang memilih untuk tidak memanjakan dirinya sendiri, sementara pikirannya terus tercurah untuk membangun ekonomi rakyat.

Indra Darmawan: (Diam beberapa saat, matanya berkaca-kaca) Masya Allah, Uda… Itu… itu lebih absurd dari cerita kaki putusnya Adam Smith. Adam Smith bicara tentang ketenangan dalam penderitaan yang menimpa. Tapi Bung Hatta… beliau menunjukkan ketenangan dalam menghadapi penderitaan yang tidak perlu dia alami. Beliau bisa membelinya. Sebagai wakil presiden, sebagai seorang intelektual terkemuka, tidak ada yang akan melarang. Tapi beliau memilih untuk tidak. Beliau mengendalikan keinginan yang sah itu, karena mungkin beliau berpikir, “Untuk apa? Uang ini lebih berguna untuk yang lain.”

Ade Indra Chaniago: Tepat sekali. Di sinilah kita melihat perbedaan antara self-command ala Smith yang filosofis dan zuhud ala para pemimpin kita yang dilandasi kesadaran moral dan tanggung jawab. Bung Hatta adalah contoh nyata dari apa yang Smith sebut sebagai orang bijak yang tidak terobsesi kekayaan. Beliau tidak terjebak pada apa yang Smith gambarkan sebagai “tipuan alam” ilusi bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kemewahan. Sepatu Bally itu mungkin akan membuatnya senak jadi sebentar, tapi beliau tahu kebahagiaan sejati ada pada hati nurani yang bersih dan melihat rakyatnya bisa berdiri di atas kaki sendiri. Sepatu itu tidak pernah terbeli, tetapi teladannya terus berjalan hingga kini, menginjak-injak keserakahan zaman.

Indra Darmawan: (Mengusap pelan sudut mata) Saya jadi malu, Uda. Saya baru saja mengeluh soal pejabat yang membangun istana pribadi, tapi di sisi lain, kadang saya sendiri masih tergoda untuk membeli barang mewah yang sebenarnya tidak butuh. Kisah Hatta ini seperti cermin. Beliau menunjukkan bahwa kepemimpinan bijak dimulai dari kemampuan mengendalikan diri atas hal-hal yang paling personal sekalipun. Kalau beliau bisa mengendalikan keinginan untuk sepasang sepatu demi menjaga integritas dan kesederhanaan, mengapa kita tidak?

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : Menimbang Etika Kant di Serambi Masjid Agung Palembang

Ade Indra Chaniago: (Mengangguk perlahan) Itulah mengapa, Dinda, kita tidak pernah bosan menceritakan kisah-kisah seperti ini. Bukan untuk membuat mereka jadi pahlawan yang tak terjangkau, tapi untuk menunjukkan bahwa pengendalian diri itu nyata dan mungkin dilakukan. Smith mengajarkan tentang impartial spectator. Nah, bagi Bung Hatta, mungkin spectator itu adalah rakyat Indonesia yang saat itu masih bergulat dengan kemiskinan. Setiap kali beliau ingin memanjakan diri, bayangan rakyatnya yang kekurangan menjadi hakim internal yang paling adil. Dan beliau dengan tenang, tanpa drama, memilih untuk menggunting iklan dan menyimpannya sebagai diam-diam sebagai pengingat akan sebuah keinginan yang rela dikorbankan untuk hal yang lebih besar.

Ade Indra Chaniago: (Tertawa kecil) Tangan tak terlihat versi Indonesia mungkin sedang sibuk main poker di belakang layar. Tapi kau harus lihat konteksnya. Smith itu ambivalen. Dia memang bilang ambisi individu menggerakkan ekonomi, tapi dia juga bilang bahwa orang bijak tahu lebih baik. Orang bijak tidak terobsesi kekayaan. Bahkan, Smith sendiri meninggal dalam kesederhanaan dan diam-diam menyumbangkan hartanya untuk amal. Dia tahu, seperti kisah raja yang ingin menaklukkan wilayah hanya untuk akhirnya duduk minum anggur, bahwa tujuan ambisius seringkali hanya ilusi. Di sinilah kita bisa menarik benang merah ke pemikiran K.H. Ahmad Dahlan.

Indra Darmawan: K.H. Ahmad Dahlan? Yang mendirikan Muhammadiyah?

Ade Indra Chaniago: Benar. Dahlan mengajarkan bahwa pemimpin itu bukan yang duduk di singgasana, tapi yang melayani. Beliau mendirikan organisasi, sekolah, dan rumah sakit bukan untuk mengumpulkan aset, tapi untuk mencerdaskan dan menyehatkan rakyat. Kalau bicara self-command versi Smith, Dahlan melampauinya. Dahlan tidak hanya tenang dalam penderitaan, tapi juga aktif mengubah struktur sosial. Bagi Dahlan, ketenangan bukan sekadar menerima nasib (seperti kaki putus), tapi ketenangan dalam bergerak. Dia tidak membiarkan dirinya larut dalam kesedihan melihat pribumi terbelakang; dia bergerak dengan amal usaha. Smith menyebut kita butuh impartial spectator penonton tidak memihak di dalam diri. Bagi Dahlan, penonton itu adalah keikhlasan karena Allah. Bukan demi penilaian orang, tapi demi nilai kebaikan itu sendiri.

Indra Darmawan: Jadi, pengendalian diri ala Smith itu bisa jadi alat untuk kepentingan rakyat jika disinari dengan semangat keikhlasan ala Dahlan atau nasionalisme ala Bung Hatta? Tapi bagaimana dengan Dr. Sutomo? Beliau kan dikenal dengan gerakan berapi-api, bukan dengan ketenangan stoik.

Ade Indra Chaniago: (Mengangguk) Sutomo atau Bung Tomo adalah contoh menarik. Smith bilang, di saat berduka, kita justru harus mencari teman di luar lingkaran atau bahkan musuh untuk menunjukkan bahwa nasib buruk tidak mengganggu kita. Bung Tomo mungkin tidak membaca Smith, tapi beliau menunjukkan self-command yang berbeda: pengendalian diri dalam membangkitkan semangat massa. Beliau tidak histeris meskipun saat itu Surabaya dihujani meriam. Beliau menggunakan api pidato untuk membakar semangat, tapi api itu terkendali. Bung Tomo paham bahwa jika ia menyerah pada amarah tanpa kontrol, perlawanan akan kacau. Beliau membuktikan bahwa ketenangan tidak selalu diam; ketenangan bisa berupa energi yang difokuskan.

Indra Darmawan: Saya jadi ingat Prof. Soemantri Praptokoesoemo, Uda. Dekan Fakultas Teknik UGM yang juga panglima perang gerilya. Beliau adalah intelektual militer yang luar biasa. Dalam menghadapi agresi Belanda, beliau tidak serta-merta mengambil keputusan berdasarkan emosi. Beliau tenang, menghitung logistik, mengatur strategi. Itu bentuk pengendalian diri yang luar biasa. Smith bilang kita harus mengembangkan impartial spectator dalam diri. Prof. Soemantri mungkin tidak menyebutnya seperti itu, tapi beliau punya “hakim internal” yang memisahkan ego pribadi dari kepentingan bangsa. Padahal, dengan posisinya, beliau bisa saja hidup nyaman di balik meja, tapi beliau memilih ikut bergerilya.

Ade Indra Chaniago: Tepat sekali Dinda. Para pendiri bangsa ini, dari berbagai latar nasionalis, agamawan, intelektual memiliki kesamaan: mereka tidak membiarkan keinginan akan kekayaan menguasai diri. Mereka paham apa yang disebut Smith sebagai overrating the difference antara satu situasi dengan situasi lain. Mereka tahu bahwa menjadi kaya tidak akan membuat mereka lebih bahagia daripada bisa melihat rakyat sejahtera. Smith menggambarkan bagaimana seorang raja yang ingin menaklukkan banyak wilayah pada akhirnya hanya ingin duduk minum anggur bersama teman. Para pemimpin kita yang korup itu seperti raja tersebut: mereka mengejar kekayaan tanpa batas, lupa bahwa kebahagiaan sejati ada pada hal-hal sederhana: kepercayaan rakyat, hati nurani yang bersih, dan waktu untuk keluarga.

Indra Darmawan: Tapi Uda, bukankah Smith juga punya konsep “tangan tak terlihat” yang sering dipakai untuk membenarkan kejar-kejaran keuntungan? Kapitalisme modern kan sering menggunakan Smith untuk mengatakan bahwa egoisme individu pada akhirnya akan menyejahterakan masyarakat.

Ade Indra Chaniago: Itu penyederhanaan berbahaya, Dinda. Smith tidak pernah membenarkan korupsi atau keserakahan tanpa batas. Dalam Theory of Moral Sentiments, dia dengan tegas mengatakan bahwa orang bijak tidak akan membiarkan dirinya didorong oleh keinginan akan kekayaan. Tangan tak terlihat adalah mekanisme, bukan justifikasi moral. Artinya, walaupun alam telah “menipu” kita dengan membuat kekayaan tampak luar biasa sehingga kita mau bekerja keras, seorang pemimpin yang bijak harus sadar akan “tipuan” itu. Dia tidak terjebak. Di sinilah saya melihat relevansi pemikiran tokoh-tokoh kita. Bung Hatta misalnya, beliau paham betul ekonomi pasar, tapi beliau juga menekankan koperasi dan demokrasi ekonomi. Beliau tidak ingin Indonesia menjadi taman sari bagi kaum rentenir atau kapitalis nakal. Beliau ingin pemimpin yang memikirkan kesejahteraan rakyat, bukan mengejar kekayaan pribadi.

Indra Darmawan: (Menyela, dengan mata berbinar) Uda, kalau kita bicara soal pengendalian diri dan tidak mengejar kekayaan, sebenarnya ajaran Islam sudah sangat gamblang, bahkan jauh sebelum Adam Smith lahir. Saya jadi ingat teladan Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah pemimpin yang mengurus umat, tapi ketika beliau wafat, baju besinya masih digadaikan kepada seorang Yahudi untuk satu takar gandum. Beliau punya kekuasaan penuh atas Madinah dan harta rampasan perang, tapi beliau memilih hidup sederhana. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda: “Apa hubunganku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak ubahnya seperti seorang pengendara di tengah terik matahari yang berteduh di bawah pohon, lalu ia pergi meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi). Dunia hanya tempat singgah, bukan tujuan.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : Akal Budi yang Merdeka, Hati yang Bijaksana “Selamat Jalan Angku Yus"

Ade Indra Chaniago: (Mengangguk dengan senyum lebar) Nah, itu dia! Smith bicara soal self-command dan ketenangan menghadapi penderitaan, tapi Nabi Muhammad SAW mengajarkan zuhud bukan berarti miskin, tapi hati yang tidak terikat pada harta. Ketika Abdullah bin Mas’ud membaca ayat tentang peringatan kekayaan, Nabi SAW mengajarkan bahwa “setiap umat memiliki ujian, dan ujian umatku adalah harta.” Maka seorang pemimpin yang bijak justru melihat kekayaan sebagai ujian, bukan kebanggaan. Jika kita lihat Umar bin Khattab, beliau adalah khalifah yang sangat tegas. Suatu malam beliau berkeliling Madinah sendirian untuk memastikan tidak ada rakyatnya yang kelaparan. Beliau pernah berkata: “Seandainya seekor kambing mati di tepi sungai Eufrat, aku takut Allah akan memintaku bertanggung jawab.” Itulah bentuk impartial spectator yang sangat dalam pengawasan internal yang didasari rasa takut kepada Allah, bukan sekadar takut dicela orang.

Indra Darmawan: (Tersentak) Subhanallah, Uda. Itu level pengendalian diri yang jauh melampaui konsep Smith. Smith bilang kita mengembangkan hakim internal karena kita peduli pada penilaian orang lain, lalu lambat laun menjadi independen. Tapi Umar bin Khattab bahkan sebelum tidur pun sudah mengawasi dirinya sendiri karena sadar bahwa Allah Maha Melihat. Lalu bagaimana dengan Abu Bakar ash-Shiddiq? Beliau ketika menjabat sebagai khalifah justru memotong tunjangan keluarganya sendiri dan berkata, “Aku dipilih untuk melayani, bukan untuk diistimewakan.”

Ade Indra Chaniago: Tepat. Abu Bakar adalah contoh bagaimana seorang pemimpin justru menyusutkan hak pribadinya demi rakyat. Ini kebalikan dari pemimpin kita sekarang yang membengkakkan hak dan fasilitas. Dalam Islam, konsep kepemimpinan adalah amanah titipan. Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang pemimpin adalah penggembala, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya.” (HR. Bukhari). Bayangkan, jika seorang pemimpin sadar bahwa harta dan jabatan adalah titipan yang kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah, apakah ia akan berani korupsi? Sedangkan Adam Smith hanya bicara tentang penilaian sosial dan hakim internal yang bersifat rasional. Dalam Islam, hakim internal itu diperkuat dengan keimanan dan kesadaran metafisik.

Indra Darmawan: Jadi, kalau Adam Smith mengajarkan pengendalian diri supaya kita nyaman dengan diri sendiri dan tidak membuat orang lain tidak nyaman, maka Islam mengajarkan pengendalian diri karena Allah Maha Melihat, dan kekayaan adalah ujian. Lalu soal “kaki putus” yang harus tetap tenang, bagaimana perspektif Islam, Pak? Apakah kita harus seperti Smith yang mengatakan bahwa pada dasarnya tidak ada perbedaan antara punya kaki dan tidak, lalu kita menerima dengan tenang?

Ade Indra Chaniago: (Merenung) Menarik. Dalam Islam, ada konsep rida dan sabar. Nabi SAW pernah bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah kebaikan baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, itu pun baik baginya.” (HR. Muslim). Jadi, sabar bukan berarti tidak merasakan sakit, tapi menerima ketentuan Allah sambil tetap berusaha. Tapi bedanya, Smith bicara tentang ketenangan yang bersifat filosofis-Stoik, hampir seperti meniadakan rasa. Sementara dalam Islam, kesedihan itu diakui—Nabi SAW sendiri menangis saat putranya Ibrahim wafat, dan beliau bersabda: “Ini adalah rahmat yang Allah tanamkan di hati hamba-Nya. Allah merahmati hamba-Nya yang penuh kasih.” Jadi, tidak ada tuntutan untuk pura-pura tidak sakit. Yang dilarang adalah meratap berlebihan yang menunjukkan ketidakridaan.

Indra Darmawan: Jadi, sebenarnya Islam memiliki konsep pengendalian diri yang lebih seimbang: kita boleh merasakan sakit, tapi kita tidak hanyut. Dan dalam hal kepemimpinan, ada konsep khalifah yang berarti pemelihara bumi, bukan penguasa yang menguasai. Lalu kalau Adam Smith bicara impartial spectator, dalam Islam kita punya konsep muhasabah—introspeksi diri. Umar bin Khattab sangat terkenal dengan sabdanya: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.” Itu jauh lebih dalam dari sekadar impartial spectator, karena ini adalah pengadilan internal yang terus-menerus berjalan.

Ade Indra Chaniago: Nah, sekarang kau sudah mulai menemukan sintesisnya, Adinda. Pemimpin bijak bukan hanya yang punya self-command ala Smith, tapi juga memiliki zuhud ala Nabi, tawadhu’ ala Abu Bakar, keadilan ala Umar, dan muhasabah yang terus-menerus. Mereka tidak mengejar kekayaan karena mereka tahu bahwa harta adalah ujian, dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap rupiah yang dikelola. Bahkan Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Hakim yang adil lebih baik di sisi Allah daripada ibadah tujuh puluh tahun yang diselingi dengan ketidakadilan.” Maka, keadilan dan kesejahteraan rakyat adalah bentuk ibadah tertinggi bagi seorang pemimpin.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Pemberontakan Tak Bersuara

Indra Darmawan: (Menghela napas) Jadi, kalau kita reka ulang, Uda, seorang pemimpin bijak itu harus punya self-command ala Adam Smith: tenang dalam penderitaan, tidak histeris, tidak rakus, bisa membedakan antara pujian dan kelayakan dipuji. Tapi dia juga harus punya keikhlasan ala K.H. Ahmad Dahlan, kesederhanaan ala Bung Hatta, zuhud ala Nabi Muhammad SAW, keadilan ala Umar bin Khattab, dan muhasabah yang terus-menerus. Ia harus punya ketegasan berapi-api ala Bung Tomo, namun tetap rasional dan strategis ala Prof. Soemantri. Gabungan itu yang menghasilkan pemimpin yang tidak tergoda oleh kursi dan harta.

Ade Indra Chaniago: (Menepuk meja pelan) Ya! Dan satu lagi: pemimpin itu harus mengembangkan impartial spectator hakim internal yang mandiri, tidak bergantung pada pujian massa atau tekanan elite. Smith bilang, pada akhirnya, kita menyatu dengan “mata asing” itu, sehingga menjadi sifat kedua. Dalam Islam, kita menyebutnya muraqabah merasa diawasi oleh Allah setiap saat. Ketika muraqabah sudah menjadi sifat kedua, seorang pemimpin tidak akan korupsi bukan karena takut KPK atau takut dicela orang, tapi karena takut kepada Allah dan sadar bahwa setiap amanah akan dipertanggungjawabkan. Sayangnya, di negeri kita, banyak yang belum sampai ke tahap itu. Mereka masih terjebak di tahap awal: membentuk moral hanya berdasarkan tatapan orang lain, bukan karena keyakinan internal.

Indra Darmawan: Lalu, apa solusinya, Uda? Kita sudah punya banyak contoh teladan, tapi mengapa masih banyak yang sebaliknya?

Ade Indra Chaniago: (Diam sejenak) Mungkin karena kita terlalu sering mengajari kecerdasan, tapi lupa mengajari pengendalian diri dan kesadaran spiritual. Smith mengajarkan bahwa untuk membentuk moral, kita butuh orang lain yang memberi contoh. Nabi Muhammad SAW pun diutus untuk menyempurnakan akhlak. Karena itu, kita harus terus menceritakan kisah para nabi, sahabat, Hatta, Dahlan, Sutomo, Soemantri. Bukan hanya sebagai sejarah, tapi sebagai metode pembentukan karakter. Jika setiap aktivis, setiap mahasiswa, setiap pejabat di Palembang ini rajin membaca biografi mereka dan merenungkan bagaimana mereka mengendalikan diri dalam situasi sulit, mungkin perlahan kita akan punya lebih banyak pemimpin yang tenang dalam menghadapi godaan.

Indra Darmawan: Dan bagi yang sudah kehilangan “kaki moral” seperti para koruptor itu, apakah masih ada harapan?

Ade Indra Chaniago: Adam Smith sendiri, dalam contoh absurd tentang kaki putus, mengatakan bahwa meskipun awalnya sulit, pada akhirnya kita akan mampu mendapatkan kembali ketenangan. Situasi baru yang stabil akan menyusul. Dalam Islam, pintu taubat selalu terbuka. Nabi SAW bersabda: “Setiap anak Adam pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi). Maksudnya, meskipun seseorang telah terlanjur korupsi (kehilangan integritas), masih ada kesempatan untuk berhenti, menerima kenyataan, bertaubat, dan membangun situasi baru yang lebih baik—meski harus melalui proses pemasyarakatan atau pengembalian uang negara. Tapi tentu lebih baik jika kita tidak pernah sampai kehilangan kaki itu. “Obat-obatan dokter seringkali merupakan siksaan terbesar bagi pasien yang sakit parah dan tidak dapat disembuhkan,” kata Smith. Maka lebih baik kita mencegah agar tidak sakit, mencegah agar tidak korupsi.

Indra Darmawan: (Tersenyum) Saya jadi punya PR besar, Uda. Tidak hanya mengkritik, tapi juga membangun narasi tentang kepemimpinan bijak ini. Mengenalkan lagi sosok-sosok teladan itu pada generasi muda. Supaya mereka punya impartial spectator dalam diri sebelum mereka memegang kekuasaan. Dan juga mengajak mereka mempelajari sirah Nabi dan para sahabat sebagai rujukan utama.

Ade Indra Chaniago: Itu langkah awal yang baik, Dinda. Mulailah dari hal sederhana. Seperti Adam Smith yang diam-diam menyumbangkan hartanya, seperti Hatta yang hidup sederhana, seperti Dahlan yang melayani tanpa pamrih, seperti Nabi yang baju besinya digadaikan demi rakyat, dan seperti Umar yang tidur dengan waswas akan tanggung jawabnya. Pemimpin bijak itu bukan yang banyak janji, tapi yang tenang dalam bertindak, teguh dalam prinsip, dan tulus dalam melayani. Kalau itu sudah tertanam, kekayaan bukan lagi tujuan, melainkan sekadar alat untuk kesejahteraan rakyat. Sekarang, mari kita habiskan kopi ini sebelum dingin. Ini juga bentuk pengendalian diri: menikmati yang ada, tidak serakah minta tambah gula. (Tersenyum)

Indra Darmawan: (Tersenyum dan mengangkat cangkir) Setuju, Uda. Untuk para pemimpin yang memilih kehilangan selera akan harta demi mendapatkan kembali hati rakyat. Semoga Allah memberikan kita pemimpin yang memiliki hati nurani seperti Umar, kesederhanaan seperti Abu Bakar, dan akhlak seperti Muhammad SAW.

Ade Indra Chaniago: Amin. Dan untuk Adam Smith, yang mungkin di surga sedang tersenyum melihat kita menyalahgunakan teorinya untuk mengkritik koruptor. Cheers.

 

Kamis, 26 Maret 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen

Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan