JAKARTA − Budi Santoso diberhentikan dari jabatan sebagai dekan fakultas kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) setelah menyuarakan menolak rencana terkait dokter asing.
Kabar dipecatnya Budi tersebar di pesan berantai di WhatsApp.
“Assalamualaikum wr wb, Bapak ibu Dosen FK. Unair, per hari ini saya diberhentikan sebagai Dekan FK Unair. Saya menerima dengan lapang dada dan ikhlas. Mohon maaf selama saya memimpin FK Unair ada salah dan khilaf, mari terus kita perjuangkan FK Unair tercinta untuk terus maju dan berkembang. Amin..amin..amin. Salam hormat untuk guru, semior dan sejawat semuanya,” begitu pesan dari WhatApp yang beredar.
Saat dikonfirmasi Budi membenarkan hal tersebut. Perihal pencopotannya dikarenakan penolakan terhadap rencana Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin tersebut.
“Iya, diberhentikan dan iya [soal penolakan dokter asing],” kata Budi Santoso kepada Bloomberg Technoz, Rabu (4/7).
Sebelumnya, disebutkan Dekan FK Unair Prof Dr Budi Santoso dr SPOG (K) menilai sebanyak 92 fakultas kedokteran di Indonesia masih mampu meluluskan dokter-dokter berkuliatas dan tidak kalah dengan dokter-dokter asing.
Pihaknya pun menegaskan akan terus memperjuangkan agar Kemenkes membatalkan rencana mendatangkan tenaga medis asing ke Indonesia.
Menanggapi hal itu, Menkes Budi pun memiliki alasan kuat mengapa ia harus menghadirkan tenaga medis asing di Indonesia. Kata dia, salah satunya saat ini Indonesia memiliki 12 ribu bayi yang mengidap kelainan jantung bawaan. Sehingga dengan adanya dokter asing diharapkan bisa menekan angka kematian.
“Itu karena pada saat sekarang kita punya lebih 12 ribu bayi yang punya kelainan jantung bawaan. Itu harus di operasi cepet. kalo nggak meninggalnya tinggi,”ujar Budi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (2/7/2024).
“Dan sampai sekarang kapasitas kita melakukan operasi itu 6 ribu per tahun. Jadi, 6 ribu bayi tidak tertangani. Ini bayi-bayi ini memiliki risiko tinggi untuk meninggal. Kalau kita tunggu risikonya makin tinggi. Nah kedatangan dokter asing itu itu sebenarnya untuk menyelamatkan 6 ribu nyawa ini,” jelasnya.
Budi pun menegaskan bahwa rencanannya mendatangkan dokter asing bukan untuk merendahkan kemampuan dokter di Indonesia.
“Kita datangkan dokter-dokter asing itu untuk menyelamatkan nyawa 6 ribu bayi ini dan 12 ribu ibu-ibu yang akan sedih kalo bayinya kemudian cacat jantung bawaan. Jadi gak ada hubungannya dengan kualitas dokter gak ada hubungannya dengan kemampuan dokter kita. Itu ya mungkin agak tersentuh secara emosional. Tapi sebenernya masalah menyelamatkan nyawa,” terang Budi. [Dec/Bb]