TANJUNGBALAI − Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Tanjung Balai Karimun (TBK) berhasil membekuk 3 pelaku perompakan yang kerap beraksi di Selat Malaka dan Selat Singapura. Penangkapan ketiga perompak ini tergolong unik, karena berlangsung secara tidak sengaja.
“Tiga orang yang sudah diamankan di Lanal Tanjungbalai Karimun yakni TF, WN dan MS. “Sedangkan dua lainnya, JP dan AF masih dilakukan pengejaran karena sempat melarikan diri,” ujar Palaksa Lanal TBK, Mayor Laut (H) P Panjaitan dalam keterangan tertulis, Kamis (2/11).
Bermula saat kapal milik Basarnas KN. SAR Purworejo akan menyelamatkan lima orang yang sedang terdampar di perairan Malaysia pada Senin (30/10). Setelah diselamatkan, petugas justru menaruh curiga terhadap kelima orang yang mengaku nelayan itu.
Dalam jumpa pers di Mako Lanal, Palaksa Lanal TBK, Mayor Laut (H) P Panjaitan mengatakan, kecurigaan itu makin menguat setelah kelimanya diperiksa. Karena tidak ada tanda-tanda maupun bukti bahwa mereka adalah nelayan .
“Mereka juga tidak sedang mencari ikan di laut, ketika boat pancungnya pecah dihantam gelombang dan terdampar di perairan Malaysia,” kata Mayor Panjaitan .
Setelah berhasil diselamatkan, ketiganya sempat dipulangkan ke kampungnya di desa Pongkar. Namun personil Lanal TBK tetap melanjutkan penyelidikannya.
“Tim Siber Lanal TBK pun menyelidiki dengan mengakses data-data mereka melalui jejaring sosial dan lini masa. Dari situ kita ketahui bahwa ketiganya terindikasi sebagai pelaku kejahatan perompakan di Selat Malaka dan Selat Singapura,” ungkapnya.
Kemudian personil Lanal menjemput ketiganya di desa Pongkar untuk mendalami keterangan dari mereka. Sementara 2 orang lainnya yakni AF dan JP menghilang, dan masih dalam pengejaran.
“Dari pemeriksaan itu akhirnya mereka mengakui perbuatannya,” ucap Mayor Panjaitan.
Mereka juga mengaku saat akan beraksi, mereka menentukan kapal yang akan menjadi sasaran dengan menggunakan aplikasi ship info. Ini dipakai untuk mendapatkan data-data lengkap kapal , termasuk kecepatan kapal.
Mayor Panjaitan menjelaskan, para perompak itu akan memepet dan kemudian memanjat kapal yang melaju dengan kecepatan 12 Knot.
“Mereka memakai tali untuk memanjat kapal, ada empat orang yang naik ke kapal untuk menjarah. Dua orang lagi standby di boat, yaitu pengemudi dan pemegang tali,” terangnya.
Panjaitan juga menjelaskan, komplotan ini selalu merekrut warga lokal untuk ikut serta dalam aksinya. Tujuannya agar memudahkan mereka dalam mencari tempat tinggal tanpa harus menunjukkan identitasnya.
Para perompak itu menargetkan mencuri spare part di atas kapal yang melintas di Outer Port Limit (OPL) dan sekitarnya. Dan saat ini Lanal TBK masih melakukan penyidikan terhadap para pelaku untuk proses hukum lebih lanjut. [Aw]