JAKARTA – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim mendorong kalangan profesional menggunakan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif Merdeka. Karena menurutnya, UKBI sudah setara dengan tes kemahiran berbahasa lainnya di dunia.
Nadiem mengatakan, bahasa Indonesia juga telah mendapatkan salah satu capaian terbesarnya. Yakni, saat bahasa Indonesia digunakan pada sidang UNESCO pada akhir tahun 2023.
“Prestasi luar biasa ini menguatkan semangat kami di Kemendikudristek untuk terus berinovasi. Utamanya, dalam pemajuan kebahasaan dan kesastraan Indonesia,” kata Nadiem pada Diseminasi Nasional Kemahiran Berbahasa Indonesia, dikutip Minggu (3/3/2024).
Nadiem menjelaskan, UKBI dirancang untuk mengikuti perkembangan teori uji bahasa dengan tingkat keandalan yang tinggi. Platform ini juga dapat dipakai oleh penutur asli dan penutur asing, baik yang ada di Indonesia maupun luar negeri.
“Berkat pembaruan ini peserta Peserta UKBI dari tahun ke tahun terus meningkat. Saat ini UKBI telah diujikan pada lebih dari 650 ribu peserta dari berbagai kalangan, diantaranya pelajar, mahasiswa, pejabat fungsional, pejabat struktural, dan juga warga negara asing,” katanya, mengungkapkan.
Sebagai tes kemahiran berbahasa, UKBI dapat disetarakan dengan tes kemahiran berbahasa lainnya yang telah dikenal di dunia. Oleh karena itu, pemanfaatan UKBI harus lebih dioptimalkan lagi untuk berbagai keperluan, berbagai kalangan.
“Besar harapan saya agar UKBI dapat dimanfaatkan oleh kalangan profesional yang pekerjaannya membutuhkan kemahiran berbahasa. Misalnya seperti wartawan, editor, penulis, penyuluh, peneliti, penerjemah, pewarat, sampai pengacara,” ujarnya.
Nadiem mengatakan, semua penutur dapat memanfatkan UKBI untuk memetakan kemahiran berbahasanya. Skor dan predikat dalam sertifikat UKBI dapat menjadi landasan pemetaan, penapisan, dan peningkatan kompetensi SDM Indonesia di berbagai bidang kerja dan jenjang pendidikan. [Rh]