JARI : Tentang Diri Sejati
“Dalam mengajar, saya menemukan ini. Saya menikmati berbagi pengetahuan, melihat mata mahasiswa berbinar. Itu adalah Wu Wei saya. Tetapi memaksakan sistem penilaian yang kaku, berdebat untuk pengakuan akademis semata—itu terasa seperti “ukiran”. Saya berusaha mengurangi yang terakhir dan fokus pada yang pertama. Alam dan pengetahuan adalah segalanya bagi saya karena di situlah saya merasa tidak terukir, selaras.” [ DR ( Cand) Ade Indra Chaniago ]
Indra : Dari diskusi kita tentang Lao Zi sebagai teks politik untuk penguasa, saya tertarik untuk menggali lebih dalam aspek personalnya. Anda menyebutkan bahwa kekuatan teks ini adalah “kebijaksanaannya untuk semua orang” dan tentang “menjadi apa yang sudah ada di dalam diri Anda.” Bisakah kita bahas itu? Bagaimana sebenarnya kita menjadi “diri sejati” menurut Lao Zi?
Ade : (Mengangguk perlahan, tersenyum) Pertanyaan yang indah, Indra. Ini adalah inti dari bagaimana Dao De Jing bisa diterapkan jauh melampaui politik. Menjadi diri sejati dalam Taoisme bukanlah tentang mencapai sesuatu yang baru, atau membentuk diri menjadi sosok ideal dari luar. Sebaliknya, itu adalah proses melepaskan.
Indra: Melepaskan? Bukan menambah?
Ade: Tepat. Lao Zi sering menggunakan metafora alam. Pikirkan sepotong kayu yang belum diukir. Ia memiliki potensi menjadi apa saja, tetapi begitu diukir menjadi cangkir, ia hanya bisa berfungsi sebagai cangkir. “Diri sejati” kita adalah seperti kayu yang belum diukir itu—murni, utuh, penuh dengan kemungkinan bawaan. Masalahnya, hidup dan masyarakat mengukir kita tanpa henti: “Jadilah ini, capailah itu, patuhi aturan ini, kejar kesuksesan itu.” Setiap ukiran itu, meski kadang perlu, seringkali menjauhkan kita dari sifat dasar kita yang alami.
Indra: Jadi, konsep “Wu Wei” — tindakan tanpa pemaksaan — yang sering dibahas untuk penguasa, juga berlaku untuk individu?
Ade: Sangat berlaku. Wu Wei bukanlah tidak bertindak sama sekali, melainkan bertindak selaras dengan Dao, dengan aliran alam dan bakat alamiah diri sendiri. Bayangkan seorang perenang di sungai. Melawan arus adalah tindakan penuh paksaan (wei), melelahkan dan sering sia-sia. Berenang mengikuti arus, sambil tetap mengarahkan diri dengan gerakan halus, adalah Wu Wei. Menjadi diri sejati berarti mengenali “arus” bakat dan kecenderungan alami kita sendiri, lalu bergerak di dalamnya, bukan melawannya.
Indra: Tapi bukankah itu bisa dianggap pasif? Dunia modern mendorong kita untuk ambisius, kompetitif, “mengukir” nasib kita sendiri.
Ade: (Menghela napas ringan) Di sinilah kontradiksi Taois yang indah itu muncul. Lao Zi berkata, “Dengan tidak bersaing, tidak ada di dunia ini yang dapat menandinginya.” Ambisi dan kompetisi yang dipaksakan seringkali berasal dari rasa kurang—kurang harta, kurang pengakuan, kurang status. Itu adalah “hal-hal di luar diri” yang tadi saya sebutkan. Fokus padanya justru membuat kita terombang-ambing oleh opini dan standar orang lain. Kita kehilangan pusat.
Menemukan kepuasan dalam apa yang sudah ada—baik dalam diri maupun situasi—bukan pasif. Itu adalah landasan kekuatan yang luar biasa. Dari sana, tindakan kita lahir bukan dari keinginan untuk membuktikan diri atau mengisi kekosongan, tetapi dari kelimpahan dan keselarasan. Seperti penguasa ideal yang memerintah dari belakang layar, diri sejati bertindak dari pusat ketenangannya, dan pengaruhnya menjadi otentik dan mendalam.
Indra: Lalu, bagaimana kita memulai proses “melepaskan” ini dalam kehidupan sehari-hari yang serba sibuk?
Ade: Dimulai dengan penyederhanaan dan pengamatan. Lao Zi menganjurkan untuk “mengurangi dan mengurangi lagi.” Kurangi keributan—baik eksternal maupun internal. Luangkan waktu untuk hening, merenung. Amati diri sendiri tanpa menghakimi: Kapan saya merasa terpaksa? Kapan saya bertindak hanya untuk pamer atau karena tekanan sosial? Kapan saya merasa paling mengalir dan alami? Itulah petunjuk menuju bakat bawaan Anda.
Dalam mengajar, saya menemukan ini. Saya menikmati berbagi pengetahuan, melihat mata mahasiswa berbinar. Itu adalah Wu Wei saya. Tetapi memaksakan sistem penilaian yang kaku, berdebat untuk pengakuan akademis semata—itu terasa seperti “ukiran”. Saya berusaha mengurangi yang terakhir dan fokus pada yang pertama. Alam dan pengetahuan adalah segalanya bagi saya karena di situlah saya merasa tidak terukir, selaras.
Indra: Jadi, menjadi diri sejati adalah perjalanan kembali ke diri, bukan perjalanan ke luar untuk menaklukkan?
Ade: Tepat sekali, Indra. Dao De Jing berkata, “Mengetahui orang lain adalah kebijaksanaan; mengenal diri sendiri adalah pencerahan.” Penguasa yang bijak memahami rakyatnya, tetapi kekuatannya yang sejati berasal dari penguasaan dirinya sendiri—dari bertindak sesuai dengan Dao. Begitu pula dengan kita. Kebahagiaan, kepuasan, dan pengaruh yang sejati terletak pada pengembangan bakat yang sudah ada di dalam, dan hidup selaras dengan irama alamiah kita sendiri. Itulah esensi menjadi diri sejati menurut Lao Zi: bukan sebuah pencapaian, tetapi sebuah penemuan kembali.
Indra: Terima kasih. Percakapan ini memberikan perspektif yang sangat dalam, tidak hanya tentang teks kuno, tetapi tentang hidup kita sekarang.
Ade: Terima kasih kembali. Dao adalah Jalan yang selalu hadir. Tinggal bagaimana kita memilih untuk berjalan di atasnya.
Minggu, 1 Februari 2026
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan