JARI : Pikiran versus Hati
“Filsafat muncul dari kekuatan religius yang tersembunyi…
Filsafat adalah akal, setidaknya begitulah awalnya. Dan di situlah letak tragedinya.”
Ade: Aku baru membaca esai tentang María Zambrano. Ada satu kutipan yang mengusik pikiranku: “Filsafat muncul dari kekuatan religius yang tersembunyi… Filsafat adalah akal, setidaknya begitulah awalnya. Dan di situlah letak tragedinya.” Tragedi? Kenapa akal disebut tragedi?
Indra: Menarik ya. Menurutku, Zambrano melihat akal itu seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, akal adalah alat kita untuk menata dunia, mencari kebenaran, membangun sistem pemikiran. Tapi di sisi lain, ketika akal menjadi satu-satunya raja, ia bisa menjadi tiran. Ia mengeringkan sumbernya sendiri.
Ade: Sumbernya sendiri?
Indra: Ya, rasa ingin tahu yang polos, kekaguman pada yang samar dan misterius — hal-hal yang memicu pertanyaan filosofis pertama kita. Plato bilang filsafat berawal dari thaumazein, kekaguman. Kalau segala sesuatu cuma kita dekati dengan logika instrumental — sarana dan tujuan — maka keajaiban itu mati. Dunia jadi sekadar masalah yang perlu dipecahkan, bukan misteri yang perlu dihayati.
Ade: Jadi, akal yang terlalu dominan justru membunuh ‘harapan’ yang disebutkan di awal kutipan itu? Harapan yang memberi makna?
Indra: Tepat! Zambrano mengalaminya langsung. Dia hidup di masa perang saudara Spanyol, lalu diasingkan oleh rezim Franco. Itu adalah era di mana akal yang dingin — dalam bentuk ideologi totaliter — digunakan untuk menghancurkan manusia. Akal jadi alat kontrol, bukan pencerahan. Tragedinya: akal yang seharusnya memahami, malah menghancurkan.
Ade: Tapi dia tidak menolak akal sama sekali, kan? Lalu apa obatnya?
Indra: Obatnya, menurut Zambrano, adalah ‘hati’. Bukan hati sebagai perasaan sentimentil, tapi sebagai kapasitas untuk merasakan kedalaman, kepekaan pada yang puitis, intuisi, dan keindahan. Dia menyebutnya ‘selain rasional’. Dalam terjemahan yang kubaca, jantung digambarkan sebagai “interior yang gelap, rahasia, dan misterius yang terbuka dari waktu ke waktu.”
Ade: Metafora yang kontras dengan ‘cahaya’ akal budi. Gelap vs. terang.
Indra: Iya, tapi ‘gelap’ di sini bukan negatif. Ini adalah ruang intim yang tidak bisa sepenuhnya diterangi oleh akal. Ruang yang melindungi misteri diri kita. Yang menarik, hati Zambrano itu punya dua sifat sekaligus: terbuka pada dunia, tapi juga menjaga ruang privat yang tak terjamah. Seperti detak jantung — terhubung dengan seluruh tubuh, tapi ritmenya sendiri adalah rahasia kehidupan.
Ade: Jadi, hidup ‘dari hati’ mencegah kita dari kesombongan akal? Akal cenderung merasa bisa memahami segalanya, menempatkan diri di atas waktu, seolah kita bisa menguasai realitas sepenuhnya.
Indra: Benar! Orang yang hidup dari hati tidak akan pernah menempatkan diri di atas waktu, karena detak jantungnya mengingatkannya bahwa dia adalah bagian dari ritme yang lebih besar, terikat pada waktu. Sedangkan akal murni sering berfantasi bisa melampaui waktu, menemukan kebenaran abadi yang mutlak. Hati mengajari kita kerendahan hati.
Ade: Jadi, filsafat yang sehat itu perlu turun dari singgasana kebenaran abstraknya, dan menyentuh tanah?
Indra: Menurut Zambrano, iya. Filsafat harus terhubung dengan jenis pengetahuan lain — pengetahuan tubuh, intuisi, seni, bahkan pengalaman religius yang tersembunyi itu. Bukan dengan kekerasan atau pendakian logika yang memaksa, tapi dengan kerendahan hati untuk menerima bahwa tidak semua hal bisa diterangkan. Bahwa ada realitas yang hanya bisa ‘dirasakan’ dalam keheningan hati.
Ade: Kalau begitu, kutipan awalnya seperti peringatan. Filsafat yang lahir dari harapan dan kekuatan religius, bisa dikhianati oleh anak kandungnya sendiri — yaitu akal yang menjadi terlalu angkuh. Tugas kita adalah menjaga keseimbangan: akal diterangi oleh hati, hati dijelaskan oleh akal.
Indra: Tepat sekali, Ade. Mungkin itu intinya. Agar tragedi tidak berulang, agar akal tidak menjadi kutukan yang menghancurkan harapan yang melahirkannya. Kita butuh cahaya akal, tapi juga perlu meresapi kegelapan yang bermakna dari ventrikel hati kita sendiri. Seperti kata Zambrano, di situlah ruang rahasia yang memberi transparansi, kekekalan, dan makna pada realitas yang samar tadi.
Ade: Jadi, berpikir dengan hati bukanlah berpikir dengan kurang akal. Tapi berpikir dengan lebih banyak kemanusiaan.
Indra: Dan itulah mungkin penyembuhan yang ditawarkan Zambrano. Setelah sekian lama di pengasingan, dia menawarkan filsafat yang bukan untuk menguasai, tapi untuk merawat. Dimulai dari merawat hati kita sendiri.
Kamis, 29 Januari 2026
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan