JARI : “Sang Kaisar Filsuf dan Para Pemimpin Zaman Now”
“Sebuah kafe di sudut Kota Palembang. Indra Darmawan, seorang penulis lepas yang tertarik pada isu-isu kepemimpinan, bertemu dengan Dr. Ade Indra Chaniago, dosen Ilmu Sosial dan Politik di salah satu Universitas/Sekolah Tinggi Palembang. Suasana santai ditemani kopi dan jajanan khas Palembang.”
Indra Darmawan: “Uda, saya lagi kepikiran nih tentang pemimpin-pemimpin kita akhir-akhir ini. Rasanya hiruk-pikuk politik, pencitraan, dan perebutan kekuasaan itu luar biasa bising. Saya jadi ingat buku kecil yang sangat tenang, Meditations-nya Marcus Aurelius. Kaisar Romawi, seorang filsuf, tapi juga seorang penguasa dengan kekuasaan absolut. Kira-kira relevan enggak sih sosok dia dengan kondisi pemimpin kita sekarang?”
Ade Indra Chaniago: “Wah, menarik itu, Dra. Marcus Aurelius, sang Philosopher King (Raja Filsuf) yang jadi impian Plato. Sangat relevan, malah mungkin jadi cermin yang paling tajam buat melihat para pemimpin kita. Marcus itu lahir tahun 121 Masehi, dari kalangan elit Roma. Dia anak yang sangat berbakat dan tekun. Bayangkan, dari kecil dia sudah dipersiapkan jadi pemimpin, bahkan diadopsi oleh Kaisar Antoninus Pius. Pendidikan anak-anak bangsawan Romawi saat itu fokusnya pada seni bicara di depan umum—retorika, untuk karir di pemerintahan. Tapi Marcus punya ‘kecenderungan mencurigakan’, dia lebih tertarik pada filsafat.”
Indra Darmawan: “‘Kecenderungan mencurigakan’? Maksudnya, Uda? Masa belajar filsafat itu mencurigakan buat seorang calon pemimpin?”
Ade Indra Chaniago: “Iya, bagi kalangan elit Romawi saat itu, terlalu banyak filsafat dianggap bisa membuat seorang pemimpin jadi terlalu lembut atau perenung, kurang pragmatis dalam menghadapi kerasnya politik. Tapi Marcus kecil sudah menunjukkan itu. Ada cerita menarik: di usia 12 tahun, dia memutuskan untuk tidur di lantai sebagai bentuk asketisme atau pengendalian diri ala filsafat. Ibunya keberatan, akhirnya kompromi dengan tempat tidur yang keras. Itu kan analogi kecil dari pergulatan antara hasrat duniawi dan prinsip hidup.”
Indra Darmawan: “Menarik sekali. Jadi sejak muda dia sudah melatih ‘otot’ pengendalian dirinya. Lalu, guru mana yang paling memengaruhinya sampai dia kemudian dikenal sebagai Kaisar Filsuf?”
Ade Indra Chaniago: “Guru retorikanya, Fronto, pada awalnya sangat berpengaruh. Tapi kemudian ada Rusticus, seorang penganut Stoa, yang memperkenalkannya pada ajaran Epictetus. Nah, ini titik baliknya. Marcus kemudian secara definitif meninggalkan retorika yang ‘ambisius’ dan lebih memilih kesederhanaan filsafat. Dalam catatan pribadinya, dia berterima kasih pada Rusticus karena mengajarkannya untuk menjauhi ‘retorika, puisi, dan bahasa yang halus’ serta menghindari ‘kepura-puraan’.”
Indra Darmawan: “Jadi, intinya dia belajar untuk tidak terjebak dalam pencitraan ya, Uda? Padahal dia adalah kaisar, posisi yang paling berpotensi untuk dibuat terlena oleh pujian dan kemewahan.”
Ade Indra Chaniago: “Tepat sekali. Di sinilah letak relevansinya dengan politisi masa kini. Stoikisme yang dianut Marcus, terutama dari Epictetus, mengajarkan bahwa realitas itu terbagi dua: apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang tidak. Yang bisa kita kendalikan hanyalah pikiran dan tindakan kita. Kesehatan, harta, reputasi, itu semua netral, bukan baik atau buruk secara hakiki. Yang penting bukanlah peristiwa yang menimpa kita, tapi opini atau penilaian kita terhadap peristiwa itu. ‘Kamu telah dirugikan?’ itu hanya opini. Lepaskan penilaian itu, maka hilanglah perasaan dirugikan.”
Indra Darmawan: “Nah, ini nih yang susah. Coba kita lihat politisi sekarang, Uda. Begitu dikritik, langsung defensif, merasa dizalimi. Padahal, menurut Marcus, kritik itu di luar kendali mereka. Yang bisa mereka kendalikan adalah responsnya. Apakah mereka merespons dengan jernih dan berusaha memperbaiki diri, atau justru sibuk membangun narasi sebagai korban. Lalu soal kesederhanaan, Marcus itu rendah hati sekali, bahkan saat menjadi kaisar. Dia tidak tergiur kemewahan. Sementara kita lihat, ada pejabat yang baru dilantik, gaya hidupnya langsung berubah drastis.”
Ade Indra Chaniago: “Benar, Dra. Antoninus Pius, ayah angkatnya, sudah memberi teladan sebagai kaisar yang seimbang dan rendah hati, tidak membangun istana megah. Marcus menjalankan tugasnya dengan dedikasi tinggi, bahkan saat menonton pertandingan gladiator, dia sibuk membaca dokumen negara. Itu mungkin bikin publik jengkel, tapi menunjukkan prioritasnya: tugas, bukan hiburan. Dia percaya bahwa seseorang harus jujur tidak hanya dalam tindakan, tapi juga di lubuk hati yang paling dalam. ‘Kamu harus terbiasa hanya memikirkan hal-hal yang, jika seseorang tiba-tiba bertanya, “Apa yang sedang kamu pikirkan?” kamu bisa langsung menjawabnya,’ begitu tulisnya.”
Indra Darmawan: “Astaga, bayangkan kalau tiba-tiba kita bisa ‘membaca pikiran’ para politisi kita, Uda. Mungkin banyak yang panik. Ada yang mikirin proyek, mikirin cara menjatuhkan lawan, atau mikirin cara naik pangkat. Bukan mikirin rakyat. Marcus bahkan menganggap kebajikan sebagai satu-satunya hal yang layak dikejar, bukan pujian atau kekayaan. Karena pujian dan kekayaan itu pada akhirnya akan menguasai seseorang dan mengorbankan akal sehat serta ketenangan pikiran.”
Ade Indra Chaniago: “Ironisnya, justru karena dia tidak mengejar pujian, dia mendapatkannya. Meskipun pemerintahannya penuh masalah gagal panen, wabah, pemberontakan jenderal, dan ancaman perang di perbatasan dia tetap dianggap sebagai kaisar teladan. Karena rakyat melihat kerja keras, kesederhanaan, dan keadilannya. Kekuasaan absolut tidak merusaknya. Nah, coba bandingkan dengan sekarang. Begitu ada sedikit gejolak ekonomi atau masalah sosial, para pemimpin kita cenderung sibuk ‘panas dingin’ dan mencari kambing hitam, bukan dengan tenang mencari solusi seperti yang diajarkan Stoa.”
Indra Darmawan: “Tapi Uda, ada satu hal yang menarik. Walaupun dia seorang filsuf, kebijakannya tidak selalu ‘filosofis’. Dia tetap memimpin perang dengan kejam, bahkan menganiaya umat Kristen yang menolak dewa-dewa Roma. Apakah itu tidak kontradiktif?”
Ade Indra Chaniago: “Pertanyaan bagus. Di sinilah kompleksitasnya. Marcus memandang bahwa takdir telah menugaskannya sebagai Kaisar Roma. Perannya adalah memimpin dan melindungi kekaisaran, apa pun caranya. Filsafat Stoa membantunya menjalankan peran itu dengan tenang, tanpa dibutakan oleh amarah atau keserakahan, tapi bukan berarti dia harus menjadi pasifis atau mengubah tatanan sosial. Dia menerima realitas bahwa perang dan politik itu keras. Bedanya, dia menjalankannya dengan kesadaran penuh, bukan karena nafsu pribadi. Ini penting buat politisi kita: pahami peranmu, jalankan sebaik mungkin, tapi jangan sampai peran itu mendefinisikan dirimu sebagai manusia. Jangan sampai kekuasaan membuatmu lupa diri.”
Indra Darmawan: “Jadi, intinya, Uda, kita tidak perlu mencari pemimpin yang sempurna ala Marcus Aurelius. Tapi kita bisa belajar dari prinsipnya: tentang kejujuran terhadap diri sendiri, pengendalian diri, fokus pada hal yang bisa dikendalikan, dan menjalankan tugas dengan dedikasi tanpa tergiur gemerlap kekuasaan. Dia menulis, ‘Hidup ini adalah perjuangan dan persinggahan di negeri asing’. Mungkin itu pengingat bagi para pemimpin bahwa kekuasaan itu sementara, yang abadi adalah jejak kebajikan yang ditinggalkan.”
Ade Indra Chaniago: “Tepat, Adinda. Marcus Aurelius mungkin tidak peduli apakah reputasinya akan bertahan lama. Dia bilang, ‘Bahkan ketenaran terlama pun pada akhirnya akan terlupakan’. Tapi justru karena ketidakpeduliannya itulah, namanya abadi. Sebuah paradoks yang menarik. Untuk politisi masa kini, mungkin sudah saatnya berhenti sibuk membangun ‘monumen’ untuk diri sendiri, dan mulai fokus membangun fondasi yang kokoh untuk bangsa. Kopinya sudah habis, nih. Saya kira kita bisa simpulkan, bahwa para pemimpin kita butuh sedikit ‘ke-stoa-an’ Marcus Aurelius di tengah hiruk-pikuk politik ‘zaman now’.”
Indra Darmawan: “Setuju, Pak dosen. Terima kasih banyak atas diskusinya. Sangat mencerahkan. Saya jadi ingin membaca ulang Meditations dengan perspektif yang baru.”
Ade Indra Chaniago: “Sama-sama, Indra. Selamat membaca dan merenung.”
Selasa, 3 Maret 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan