JARI : Meruntuhkan Kebodohan, Membangun Peradaban Ilmu
“Jangan takut pada buku. Takutlah pada kebodohan yang lahir dari ketiadaan bacaan. Obatnya adalah ilmu, bukan sensor.” [ DR (C) Ade Indra Chaniago ]
Indra Darmawan: Bro, beberapa waktu lalu saya membaca berita yang cukup kontroversi. Di Universitas Texas A&M, seorang profesor filsafat, Martin Peterson, dilarang mengajarkan sebagian dari karya Plato, tepatnya Symposium (Perjamuan). Universitas menganggap bagian tertentu dari dialog Plato itu perlu disensor. Saya pikir ini ironis sekali.
Ade Indra Chaniago: Ironis dan berbahaya, Bro. Plato adalah fondasi filsafat Barat. Melarangnya karena membahas cinta dan gender sama saja dengan membakar jembatan menuju pemikiran kritis itu sendiri. Menurut saya ini bukan insiden kecil, tapi “filsafat itu sendiri dipertaruhkan.”
Indra Darmawan: Benar. Reaksi Peterson dan PEN America menunjukkan betapa absurdnya keputusan ini. Mereka bilang, tidak masuk akal seorang profesor dilarang mengajar pemikir fundamental seperti Plato hanya karena tulisannya membahas cinta, gender, dan identitas manusia. Padahal, itulah justru inti dari eksplorasi filosofis.
Ade Indra Chaniago: Menarik Bro, semestinya tidak demikian. Kebebasan akademik bukan tanpa batas. Misalnya, guru biologi tidak boleh mengklaim otak laki-laki lebih unggul karena itu adalah kebohongan ilmiah. Tapi, sensor terhadap Plato berbeda level. Di sini, universitas bertindak seperti sensor moral, bukan pengawal metodologi keilmuan.
Indra Darmawan: Ya, titik kritisnya ada di sana. Dalam Symposium Plato mempromosikan “ideologi gender”. Padahal, Plato tidak sedang berkata “beginilah seharusnya kamu mencintai”. Dalam diskusi, sebuah simposium, di mana para pemikir Yunani kuno seperti Aristophanes dan Socrates berbicara dari sudut pandang berbeda tentang eros. Siswa diajak untuk menilai sendiri.
Ade Indra Chaniago: Seorang filsuf Alicja Gescinska menyebut filsafat itu harus “keras”. Menurut saya ini poin penting. Berpikir keras berarti berhadapan dengan ide-ide yang tidak kita sukai. Dia memberi contoh: jika Anda ateis, Anda harus membaca Agustinus. Saya sebagai seorang Muslim setuju dengan itu. Untuk memahami rasionalitas iman, kita perlu membaca Hume atau Nietzsche. Tanpa konfrontasi ide, iman atau keyakinan kita tidak akan teruji dan matang.
Indra Darmawan: Tepat sekali. Filsafat bukanlah tempat yang nyaman. Ia adalah ruang discomfort yang produktif. Solusi untuk ide yang salah, menurut Gescinska, bukanlah sensor, tapi membaca lebih banyak buku. Obat untuk pendapat yang salah bukanlah lebih sedikit buku, melainkan lebih banyak. Slogan ini sangat kuat. Sayangnya, pemerintah atau institusi tertentu di AS saat ini, seperti yang dikritik Gescinska, sepertinya lebih takut pada buku daripada senjata.
Ade Indra Chaniago: Fenomena ini sebenarnya adalah bukti kegagalan berpikir dialektis. Dalam Republik sendiri, Plato membela suatu bentuk kediktatoran (filsuf raja) yang hari ini pasti dianggap “bermasalah”. Tapi apakah lalu kita sensor Republik? Tidak. Justru kita harus membacanya untuk memahami mengapa Plato sampai pada kesimpulan itu, lalu kita kritik. Jika kita menyensor Symposium, kita kehilangan kesempatan untuk berdialog dengan masa lalu tentang bagaimana mereka mengkonstruksi konsep cinta, yang mungkin saja berbeda dengan kita, tapi justru memperkaya kita.
Indra Darmawan: Nah, Bro, sebagai orang yang mendalami teologi Islam, bagaimana pandanganmu melihat kasus ini dari sudut pandang Islam? Apakah sensor seperti ini bisa dibenarkan dalam tradisi intelektual Islam? Atau justru Islam punya cara pandang lain tentang bagaimana menghadapi teks-teks “kontroversial” dari masa lalu?
Ade Indra Chaniago: Pertanyaan bagus, Bro. Dalam pandangan teologi Islam, khususnya dalam tradisi intelektualnya yang kaya, kita harus membedakan antara teks suci (Al-Qur’an dan Hadits) dan teks produk pemikiran manusia seperti karya Plato. Dalam menghadapi produk pemikiran manusia, tradisi Islam klasik sangat terbuka, bahkan terhadap gagasan dari luar.
Indra Darmawan: Bisa dijelaskan lebih lanjut? Mungkin dengan contoh konkret?
Ade Indra Chaniago: Tentu. Puncak peradaban Islam abad pertengahan, era para filsuf seperti Al-Farabi, Ibnu Sina (Avicenna), atau Ibnu Rusyd (Averroes), adalah era di mana mereka dengan antusias menerjemahkan, membaca, dan mengomentari karya-karya Plato dan Aristoteles. Mereka tidak menyensor Plato meskipun Plato adalah seorang pagan (penyembah berhala) yang hidup sebelum Islam datang. Mengapa? Karena mereka percaya pada konsep Hikmah (kebijaksanaan).
Indra Darmawan: Hikmah? Maksudnya?
Ade Indra Chaniago: Dalam Islam, hikmah dianggap sebagai sesuatu yang hilang dari diri mukmin, di mana pun ia menemukannya, ia lebih berhak untuk mengambilnya. Artinya, kebenaran dan kearifan bisa datang dari mana saja, bahkan dari seorang filsuf Yunani non-Muslim. Al-Farabi, misalnya, dalam karyanya Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadhilah (Pendapat Penduduk Kota Utama), sangat terinspirasi oleh Republik-nya Plato. Ia tidak lantas menjadi pendukung kediktatoran, tapi ia menggunakan konsep “filsuf raja” untuk dirumuskan ulang dalam kerangka kenabian dalam Islam.
Indra Darmawan: Jadi, mereka tidak takut pada ide asing, justru mengolahnya?
Ade Indra Chaniago: Tepat sekali. Ada juga prinsip Al-Muhafazhah ‘ala al-Qadim al-Salih wa al-Akhdz bi al-Jadid al-Ashlah (memelihara warisan lama yang baik dan mengambil warisan baru yang lebih baik). Para ulama dan filsuf Islam klasik melihat filsafat Yunani sebagai “warisan lama” yang berisi kebenaran universal. Tugas mereka adalah menyaringnya, mengkritiknya, dan mengintegrasikannya dengan ajaran Islam. Mereka tidak perlu menyensor Plato karena iman mereka cukup kuat untuk membedakan mana yang sejalan dengan Islam dan mana yang tidak. Mereka berani berkonfrontasi dengan ide-ide Plato, dan dari situlah lahir pemikiran Islam yang brilian.
Indra Darmawan: Sangat kontras dengan sikap universitas di Texas itu. Mereka justru bersikap defensif dan ketakutan.
Ade Indra Chaniago: Nah, ini masalahnya. Sensor terhadap Symposium menunjukkan lemahnya kepercayaan diri intelektual. Mereka takut siswa-siswa mereka tidak mampu membedakan antara deskripsi (apa yang dikatakan Plato tentang cinta) dan preskripsi (apa yang harus kita lakukan sekarang). Dalam tradisi keilmuan Islam, ada adab dalam belajar, termasuk adab dalam membaca karya orang lain, bahkan karya yang keliru sekalipun. Tujuannya bukan untuk mengadopsinya mentah-mentah, tapi untuk memahami struktur argumennya, lalu membangun sanggahan yang lebih kokoh.
Indra Darmawan: Dalam pandanganmu, apakah ada aspek lain dalam teologi Islam yang relevan dengan diskusi tentang kebebasan berpikir ini?
Ade Indra Chaniago: Ada konsep tentang Fitrah. Manusia diciptakan dengan fitrah (potensi bawaan) untuk mencari kebenaran. Sensor, dalam skala luas, merusak fitrah ini. Ia membuat manusia terbiasa diberi “makanan siap saji” secara intelektual, tanpa diajak mengunyah ide-ide sulit. Akibatnya, manusia menjadi dewasa sebelum waktunya secara kognitif, mudah terprovokasi, dan tidak toleran terhadap perbedaan.
Indra Darmawan: Jadi, sensor adalah bentuk ketidakpercayaan terhadap akal manusia?
Ade Indra Chaniago: Ya kurang lebih begitu. Ini adalah ketakutan epistemologis. Mereka yang menyensor tidak percaya bahwa akal dan dialog bisa menjadi filter yang lebih baik daripada larangan. Dalam Al-Qur’an, Allah sering menantang manusia untuk berpikir (tafakkur), merenung (tadabbur), dan menggunakan akalnya (ulil albab). Tantangan ini tidak akan berarti jika teks-teks yang “menantang” pemikiran disingkirkan.
Indra Darmawan: Kembali ke kasus Plato, bagaimana jika ada teks dalam Symposium yang secara eksplisit bertentangan dengan nilai-nilai agama tertentu?
Ade Indra Chaniago: Justru di situlah gunanya pendidikan. Guru yang baik, seperti Martin Peterson, seharusnya tidak hanya menyajikan teks, tapi juga menyediakan konteks, analisis kritis, dan bahkan menyediakan bacaan tandingan. Jika ada siswa yang merasa terganggu, itu adalah titik awal diskusi yang luar biasa. Dalam tradisi pesantren di Indonesia, kita mengenal istilah “membedah buku” (menganalisis buku secara kritis), bukan “membakar buku”. Sensor adalah bentuk “pembunuhan diam-diam” terhadap gagasan. Sedangkan Islam, dengan tradisi ijtihadnya, adalah agama yang hidup karena gagasan-gagasan diperdebatkan, bukan dimatikan.
Indra Darmawan: Jadi, kesimpulan kita, baik dari perspektif filsafat universal maupun teologi Islam, sensor terhadap karya klasik seperti Plato adalah langkah mundur. Filsafat mengajarkan kita untuk berani menghadapi ketidaknyamanan, sementara Islam, dalam tradisi emasnya, mengajarkan kita untuk mengambil hikmah dari mana pun datangnya.
Ade Indra Chaniago: Tepat sekali, Bro. Alicja Gescinska benar. Solusi untuk pendapat yang salah bukanlah dengan membaca lebih sedikit buku, melainkan lebih banyak. Dan dari perspektif teologi Islam, kita bisa menambahkan: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190). Orang-orang yang berakal (ulil albab) adalah mereka yang tidak takut pada kompleksitas, mereka yang merenung, membaca, dan menyimpulkan. Sensor adalah musuh dari perenungan itu.
Indra Darmawan: Kasus di Texas ini mungkin hanya sebuah gejala. Tapi jika dibiarkan, ini bisa menjadi epidemi yang merusak fondasi pendidikan dan kebebasan berpikir di seluruh dunia. Kita harus melawannya dengan cara kita sendiri: dengan terus membaca, berdiskusi, dan mengajarkan keberanian intelektual.
Ade Indra Chaniago: Setuju. Mari kita akhiri dengan pesan: Jangan takut pada buku. Takutlah pada kebodohan yang lahir dari ketiadaan bacaan. Obatnya adalah ilmu, bukan sensor. Wallahu a’lam bish-shawab.
Sabtu, 21 Februari 2026
aringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan