JARI : Locke, Hatta dan Buya Hamka

JARI : Locke, Hatta dan Buya Hamka

 

“Beranda rumah Ade Indra Chaniago, kawasan Perum Pemkot Gandus, Palembang. Usai salat Isya’, terdengar suara salawatan dari masjid tetangga. Secangkir kopi dan pisang goreng menemani perbincangan. Tertata hiasan batik Palembang di dinding ruang tamu, rak buku penuh dengan koleksi filsafat dan politik. Seekor kucing sedang tidur di kursi dekat jendela.”

 

Indra Darmawan (mengetuk pintu pagar): “Assalamu’alaikum, Uda.

Ade Indra Chaniago (membukakan pintu dengan senyum khasnya): “Wa’alaikumsalam. Silakan masuk, Bro. Saya baru selesai Isya’. Apa kita lanjutkan diskusi membahas John Locke?

Indra Darmawan: “Siap, Uda. Saya sudah membaca biografi intelektual Locke dan tertarik dengan konsep ‘berpikir seperti pemberontak’ mentalitas ‘lakukan sendiri’ yang ia tawarkan. Tapi saya juga ingin melihat relevansinya dengan Indonesia, terutama pemikiran Bung Hatta dan Buya Hamka.”

Ade Indra Chaniago (mempersilakan duduk): “Wah, topik yang menarik. Tapi sebelum kita bicara soal pemberontakan, kita harus pahami dulu bahwa Locke itu sebenarnya seorang pemberontak dalam cara berpikir, bukan cuma dalam politik. Ia memberontak terhadap skolastisisme abad pertengahan yang disebutnya ‘omong kosong terpelajar’ .”

Indra Darmawan: “Maksud Uda, Locke memberontak terhadap cara berpikir yang mapan? Tapi bukankah ia produk Oxford, universitas paling bergengsi saat itu?”

Ade Indra Chaniago (tertawa kecil): “Nah, justru itu ironinya. Ia kuliah di Oxford, tapi tidak terkesan. Ia melihat bahwa para skolastik hanya memutar-mutar kata, membuat ‘jaringan aneh dan tak dapat dijelaskan’ di mana kata-kata hanya merujuk pada kata-kata lain, bukan pada realitas . Karena itu ia bergabung dengan Royal Society yang mottonya Nullius in verba tidak ada apa pun dalam kata-kata.”

Indra Darmawan: “Apakah ini yang kemudian melahirkan empirismenya? Bahwa pengetahuan harus berasal dari pengamatan?”

Ade Indra Chaniago: “Tepat. Locke adalah bapak empirisme modern. Ia percaya bahwa semua ide berasal dari pengalaman tidak ada ide bawaan. Ini serangan langsung terhadap otoritas gereja dan tradisi yang mengklaim memiliki kebenaran absolut. Bayangkan, di zamannya, mengatakan bahwa rakyat biasa bisa memahami kebenaran tanpa perantara pendeta adalah tindakan revolusioner .”

Indra Darmawan: “Tapi Locke tidak serta-merta menolak akal, kan? Ia tetap memberi peran pada rasio.”

Ade Indra Chaniago: “Benar. Adinda kita ibarat bahan mentah, akal adalah pengolahnya. Locke mencontohkan apel: kita melihat merah, bulat, merasakan manis—indra memberi data, lalu akal menyimpulkan bahwa semua sifat itu berasal dari satu objek bernama apel . Jadi akal tanpa indra kosong, indra tanpa akal buta.”

Indra Darmawan: “Saya jadi ingat Bung Hatta. Dalam pidatonya ‘Demokrasi Kita’, Hatta menekankan pentingnya rasionalitas dalam berdemokrasi. Ia khawatir demokrasi tanpa pendidikan akan melahirkan demagog. Tapi apakah Hatta sejalan dengan Locke dalam soal sumber pengetahuan?”

Ade Indra Chaniago (mengangguk): “Hatta itu pengagum empirisme juga, tapi dengan sentuhan berbeda. Ia menulis dalam Alam Pikiran Yunani bahwa filsafat Barat tak bisa ditelan mentah-mentah. Hatta justru ingin memadukan rasionalitas Barat dengan kolektivisme Timur. Ia menyebut demokrasi Indonesia harus berakar pada gotong royong, bukan individualisme ala Locke .”

Indra Darmawan: “Nah, soal individualisme ini menarik, Uda. Locke terkenal dengan teori hak miliknya—bahwa kepemilikan pribadi adalah hak alamiah yang harus dilindungi negara. Tapi di Indonesia, konsep ini sering berbenturan dengan semangat kolektivisme.”

Ade Indra Chaniago: “Locke berargumen bahwa seseorang berhak atas hasil jerih payahnya. Ketika ia mencampurkan tenaganya dengan benda alam, benda itu menjadi miliknya . Tapi ada batasnya: ia hanya boleh mengambil sebanyak yang bisa ia gunakan sebelum rusak, dan harus menyisakan cukup untuk orang lain.”

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : “Menjinakkan Konflik, Merawat Perselisihan”

Indra Darmawan: “Apakah Buya Hamka memiliki pandangan tentang ini?”

Ade Indra Chaniago (mengambil buku dari rak): “Hamka dalam Tafsir Al-Azhar banyak membahas soal kepemilikan. Ia mengutip QS Al-Baqarah: 188 jangan memakan harta sesama dengan cara batil. Tapi Hamka juga menekankan bahwa harta adalah amanah, ada hak orang miskin di dalamnya. Ini berbeda dengan Locke yang lebih individualistis. Bagi Hamka, kepemilikan pribadi diakui, tapi terikat kewajiban sosial .”

Indra Darmawan: “Jadi semacam sintesis antara hak individu dan tanggung jawab kolektif?”

Ade Indra Chaniago: “Tepat. Hatta juga berpikir demikian. Ia mengkritik liberalisme Barat yang menurutnya terlalu individualistis, tapi juga menolak komunisme yang meniadakan individu. Karena itu ia merumuskan ‘Demokrasi Ekonomi’ produksi dikerjakan oleh semua, diawasi oleh rakyat, tapi hasilnya dibagi secara adil. Ini lebih dekat ke sosialisme religius daripada Locke.”

Indra Darmawan: “Sekarang soal yang paling kontroversial dari Locke: hak perlawanan. Ia mengatakan bahwa ketika pemerintah melanggar hak alamiah rakyat, pemerintah itu tidak sah dan rakyat berhak menggulingkannya . Apakah ini bisa diterapkan di Indonesia?”

Ade Indra Chaniago (merenung): “Locke menulis Two Treatises dalam situasi politik yang genting. Temannya, Anthony Ashley Cooper, sedang berjuang melawan kecenderungan absolutisme raja. Locke sendiri harus melarikan diri ke Belanda karena dikejar mata-mata raja . Jadi teori perlawanannya lahir dari pengalaman pahit.”

Indra Darmawan: “Di Indonesia, kita punya konsep ‘mufakat’ dan ‘musyawarah’ yang justru menghindari konflik. Apakah ini bertentangan dengan semangat Locke?”

Ade Indra Chaniago: “Tidak selalu. Hatta dalam tulisannya tentang demokrasi desa menyebut ada ‘hak protes bersama’ dalam tradisi Indonesia. Kalau rakyat tidak puas dengan kebijakan pembesar, mereka bisa duduk diam di alun-alun bentuk perlawanan damai. Ada juga ‘hak menyingkir’ menarik dukungan dari penguasa yang dianggap tidak adil .”

Indra Darmawan: “Jadi ada padanannya, tapi dengan cara yang berbeda?”

Ade Indra Chaniago: “Benar. Locke membayangkan perlawanan bisa berarti mengganti pemerintah. Tapi di tradisi desa, lebih bersifat recall menarik mandat. Yang menarik, Hatta juga mewanti-wanti bahaya demokrasi yang berlebihan. Ia mengatakan bahwa kebebasan tanpa batas bisa melahirkan anarki, lalu muncul penguasa otoriter seperti Napoleon atau Hitler .”

Indra Darmawan: “Apakah Buya Hamka pernah membahas soal perlawanan terhadap penguasa zalim?”

Ade Indra Chaniago: “Hamka hidup di era Orde Lama dan Orde Baru, jadi ia paham betul tekanan kekuasaan. Dalam Pribadi ia menulis bahwa ulama punya kewajiban untuk menyuarakan kebenaran di hadapan penguasa. Tapi ia juga mengingatkan bahwa perlawanan harus dalam koridor etika, tidak boleh merusak. Ini mirip dengan Locke yang menekankan bahwa perlawanan harus didasari nalar, bukan emosi belaka .”

Indra Darmawan: “Locke juga menulis A Letter Concerning Toleration yang sangat berpengaruh. Ia berargumen bahwa negara tidak boleh campur tangan dalam urusan agama karena iman adalah urusan pribadi antara manusia dengan Tuhan . Bagaimana dengan Indonesia yang tidak memisahkan agama dan negara secara ketat?”

Ade Indra Chaniago: “Ini titik kritis, Adindaku. Locke menulis surat itu saat menyaksikan gelombang pengungsi Huguenot di Belanda 70.000 orang datang ke negeri yang penduduknya kurang dari 2 juta . Ia melihat sendiri bagaimana fanatisme agama bisa menghancurkan. Tapi solusi Lockean pemisahan gereja dan negara tidak bisa begitu saja diterapkan di Indonesia.”

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : Demokrasi Dipilih Agar Rakyat Berdaulat

Indra Darmawan: “Mengapa demikian, Uda?”

Ade Indra Chaniago: “Karena bagi sebagian besar muslim Indonesia, agama bukan hanya urusan pribadi, tapi juga sumber nilai publik. Hamka, misalnya, menolak sekularisme ala Barat. Tapi ia juga menolak teokrasi. Dalam Islam dan Demokrasi, Hamka berargumen bahwa Islam memberi ruang bagi musyawarah dan menghormati perbedaan .”

Indra Darmawan: “Jadi ada titik temu?”

Ade Indra Chaniago: “Tentu. Locke sendiri sebenarnya tidak menolak agama. Ia hanya menolak pemaksaan. Ia percaya bahwa akal adalah anugerah Tuhan untuk memahami wahyu. Bahkan ia mengatakan bahwa siapa pun bisa menegur pendeta yang berkhotbah tidak masuk akal . Ini sejalan dengan tradisi Islam yang menghargai ijtihad.”

Indra Darmawan: “Nurcholish Madjid dalam Islam, Doktrin, dan Peradaban juga membahas soal ini. Ia mengatakan bahwa demokrasi membutuhkan landasan etis, dan Islam bisa menyediakannya tanpa harus menjadi negara agama.”

Ade Indra Chaniago: “Cak Nur itu murid Hamka juga secara pemikiran. Ia mengembangkan gagasan tentang ‘sekularisasi’ bukan pemisahan agama dari dunia, tapi pembebasan nilai-nilai agama dari kungkungan tradisi agar bisa berfungsi dalam konteks modern. Ini lebih dekat ke Locke daripada yang kita kira.”

Indra Darmawan: “Locke berbicara tentang kontrak sosial bahwa pemerintah dibentuk untuk melindungi hak-hak alamiah rakyat . Apakah ada konsep serupa dalam tradisi Nusantara?”

Ade Indra Chaniago: “Menariknya, ada. Dalam tradisi Minangkabau, misalnya, ada konsep ‘aka’ (akal) dan ‘mufakat’ yang menjadi dasar pemerintahan. Hatta, sebagai orang Minang, sangat dipengaruhi ini. Ia mengatakan bahwa demokrasi Indonesia bukan tiruan Barat, tapi berakar pada tradisi desa yang sudah berabad-abad mempraktikkan musyawarah .”

Indra Darmawan: “Tapi Hatta juga mengakui pengaruh Locke dan Rousseau, kan?”

Ade Indra Chaniago: “Ya, ia tidak menafikan itu. Hatta adalah seorang intelektual kosmopolitan. Ia membaca Locke, Mill, Marx, dan kemudian memadukannya dengan nilai-nilai Islam dan tradisi Nusantara. Inilah yang membuat pemikirannya kaya ia tidak terjebak dalam dikotomi Barat-Timur.”

Indra Darmawan: “Locke juga menekankan pentingnya pelatihan akal. Ia tidak percaya bahwa orang bisa berpikir benar tanpa latihan. Dalam Of the Conduct of the Understanding, ia memberi nasihat untuk tidak cepat puas dengan pendapat populer, dan selalu mencari argumen tandingan .”

Ade Indra Chaniago: “Nasihat yang sangat relevan untuk era media sosial saat ini. Locke menyebut jebakan paling berbahaya adalah ‘keberpihakan’ ketika kita menerima kebenaran hanya karena populer di lingkungan kita, tanpa mau mendengar argumen lawan . Ia menyuruh kita keluar dari gelembung.”

Indra Darmawan: “Seperti yang terjadi sekarang, Uda. Orang hanya baca berita yang sealiran, hanya dengar pendapat yang sehaluan.”

Ade Indra Chaniago: “Nah, Locke sudah memperingatkan itu 300 tahun lalu. Ia mengatakan bahwa orang yang hanya bergaul dengan kelompoknya sendiri akan sulit melihat kebenaran. Karena itu ia menganjurkan untuk mendengarkan semua argumen secara adil sebelum memutuskan .”

Indra Darmawan: “Uda, kalau Uda diminta merangkum, apa warisan terpenting Locke untuk Indonesia?”

Ade Indra Chaniago (merenung sambil menyeruput kopi): “Pertama, semangat untuk berpikir sendiri dare to know. Locke mengajarkan bahwa kita tidak perlu bergantung pada otoritas mana pun untuk menentukan apa yang benar. Tapi ini bukan kebebasan tanpa tanggung jawab; kita harus melatih akal.”

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : “Menjinakkan Konflik, Merawat Perselisihan”

Indra Darmawan: “Kedua?”

Ade Indra Chaniago: “Kedua, bahwa kekuasaan itu terbatas. Pemerintah hanya sarana untuk mencapai kesejahteraan rakyat. Ketika pemerintah melampaui batas, rakyat punya hak untuk mengingatkan, bahkan mengganti. Ini sejalan dengan Hatta yang mengingatkan bahaya ‘negara kekuasaan’.”

Indra Darmawan: “Dan ketiga?”

Ade Indra Chaniago: “Ketiga, toleransi. Locke mengajarkan bahwa kita tidak perlu sepakat dalam semua hal untuk bisa hidup bersama. Negara tidak boleh memaksakan keyakinan. Tapi toleransi bukan berarti relativisme kita tetap harus menggunakan akal untuk menilai mana yang benar.”

Indra Darmawan: “Tapi semua ini harus dikontekstualisasikan dengan nilai-nilai Indonesia?”

Ade Indra Chaniago: “Tentu. Seperti Hatta dan Hamka, kita perlu mengambil yang baik dari Locke, lalu memadukannya dengan kearifan lokal. Individualisme Locke perlu diimbangi gotong royong. Rasionalismenya perlu diimbangi spiritualitas. Tapi semangat dasarnya bahwa manusia punya martabat, bahwa kekuasaan harus dikontrol, bahwa kebebasan berpikir adalah hak itu universal.”

Indra Darmawan (tersenyum): “Jadi ‘berpikir seperti pemberontak’ ala Locke bukan berarti memberontak tanpa arah, tapi memberontak terhadap kemalasan berpikir?”

Ade Indra Chaniago: “Tepat sekali. Locke ingin kita menjadi ‘pemberontak yang bertanggung jawab’. Ia menolak ide bawaan, tapi ia juga menekankan pelatihan akal. Ia memberi hak perlawanan, tapi ia juga mengingatkan bahwa perlawanan harus didasari nalar. Ia mempromosikan kebebasan, tapi ia juga mengingatkan bahaya keberpihakan.”

Indra Darmawan: “Seperti kata motto Royal Society: Nullius in verba jangan percaya begitu saja pada kata-kata.”

Ade Indra Chaniago: “Ya, uji semuanya dengan pengalaman dan akal. Tapi lakukan dengan rendah hati, karena Locke juga mengakui bahwa kita bisa salah. Yang penting adalah prosesnya terus belajar, terus menguji, terus keluar dari gelembung.”

Indra Darmawan (berdiri hendak pamit): “Terima kasih banyak, Uda. Diskusi ini membuka wawasan saya. Locke ternyata tidak serumit yang saya bayangkan, tapi juga tidak sesederhana yang sering digambarkan.”

Ade Indra Chaniago (ikut berdiri): “Itulah gunanya membaca sumber primer, Bro. Jangan hanya baca buku teks. Locke sendiri memperingatkan bahaya ‘jaringan kata-kata’ yang hanya merujuk pada kata-kata lain. Kembalilah pada realitas, pada pengalaman, pada akal yang terlatih. Itulah pesan terbesarnya.”

Indra Darmawan: “Saya akan coba baca Essay Concerning Human Understanding langsung, Uda. Tapi mungkin butuh waktu bertahun-tahun.”

Ade Indra Chaniago (tertawa): “Mulailah dari A Letter Concerning Toleration dulu, lebih pendek. Atau baca Hatta dan Hamka dulu, lalu lihat bagaimana mereka berdialog dengan Locke secara tidak langsung. Itu juga cara belajar yang baik.”

Indra Darmawan: “Siap, Uda. Sekali lagi terima kasih. Lain kali saya bawakan kopi dari Pagar Alam.”

Ade Indra Chaniago: “Saya tunggu. Dan jangan lupa juga bawa diskusi baru.

Indra Darmawan: “Siap, Uda. Assalamu’alaikum.”

Ade Indra Chaniago: “Wa’alaikumsalam.”

 

Di kejauhan cahaya bintang-bintang mulai benderang di langit pekat. Indra melangkah pulang dengan kepala penuh pertanyaan baru. Locke, Hatta, Hamka tiga dunia berbeda yang ternyata bisa berdialog dalam satu sore menjemput malam di Palembang.

 

Rabu, 18 Maret 2026

Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan

Dosen Ilmu Sosial Politik, Pengamat, aktivis 98 – Pengamat, Penulis, dan aktivis 98