JARI : Ketika Politik Hilang Kebajikan
“Rumah sederhana namun hangat milik Ade Indra Chaniago di Perumahan Pemkot Gandus, Palembang. Ruang tamu berukuran sedang dengan sofa empuk bercorak batik, karpet tipis, dan rak buku penuh dengan kitab kuning, buku filsafat, serta novel-novel lama. Jendela kaca menghadap ke halaman depan yang ditumbuhi tanaman hias dan pohon mangga. Jam dinding menunjukkan pukul 19.40 WIB. Hujan gerimis di luar membuat suasana semakin adem. Empat orang duduk bersila di atas sofa dan lesehan. Di atas meja kayu jati terdapat empat gelas kopi hitam pekat yang masih mengepul, sepiring pempek lenjer dan pempek kulit, sepiring tekwan hangat, serta model dan laksan di mangkuk kecil. Aroma kopi bercampur dengan harum kuah tekwan yang segar.”
Ade Indra Chaniago menuangkan kopi ke empat gelas secara bergantian. Uap panas membumbung tipis. Juliansyah mengambil sepotong pempek dan mencelupkannya ke cuko (kuah asam manis pedas).
Ade Indra Chaniago: (sambil duduk kembali) Silakan, Dinda – dinda. Kopinya baru saya sangrai kemarin. Ini kopi robusta dari Lahat. Kebetulan istri saya juga baru masak tekwan untuk camilan. Santap dulu, jangan sungkan.
Ferry Lesmana: (mengusap wajah) Alhamdulillah, Uda. Di Tulung Selapan jarang saya dapat tekwan seenak ini. Ini pempek nya juga kenyal sekali.
Juliansyah: (tersenyum sambil mengunyah pempek) Mak bedaro, Uda Ade. Rumah Uda ini memang surga kecil bagi pecinta kuliner Palembang. Saya jadi kangen kampung halaman di Ogan Ilir.
Indra Darmawan: (mengambil gelas kopi, meniupnya pelan) Uda Ade memang terkenal dengan keramahannya. Saya sering mampir ke sini untuk diskusi. Rumah ini seperti perpustakaan berjalan.
Ade Indra Chaniago: (tertawa kecil) Ah, jangan lebay, Dinda Indra. Ini cuma tempat sederhana. Tapi memang saya sengaja mengundang Dinda sekalian hari ini. Bukan hanya untuk makan, tapi juga untuk merenung. Saya lihat akhir-akhir ini kita semua resah dengan keadaan.
Ferry Lesmana menghela napas panjang. Ia menatap gelas kopinya sejenak sebelum berbicara.
Ferry Lesmana: (membuka percakapan dengan suara berat) Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Saudara-saudaraku sekalian telah meluangkan waktu. Saya ingin mengajak kita merenungkan satu hal: mengapa politik kita hari ini terasa begitu kering dari kebajikan? Saya sebagai warga Tulung Selapan, setiap hari menyaksikan bagaimana kekuasaan sering kali berjalan tanpa hati nurani.
Juliansyah mengangguk-angguk. Ia menyandarkan badannya ke sofa dan mengambil sepotong model. Cuko menetes di ujung jarinya.
Juliansyah: (tersenyum tipis) Wa’alaikumsalam, Kanda Ferry. Saya setuju. Di Ogan Ilir, saya melihat sendiri bagaimana banyak politisi hanya mengejar kekuasaan. Tapi izinkan saya mengutip sebuah pemikiran: “Orang-orang tidak bahagia ketika segala sesuatunya berjalan buruk dan tidak puas ketika segala sesuatunya berjalan baik. Kebahagiaan tentu bukan tujuan politik, karena itu adalah sebuah hal yang sia-sia. Tujuan politik adalah kebebasan, artinya tidak tunduk pada kekuasaan sewenang-wenang pihak lain.”
Indra Darmawan: (mengangguk perlahan) Kutipan yang dalam, Dinda Juliansyah. Itu mengingatkan saya pada perdebatan klasik antara kaum liberal dan republik. Bagi kaum liberal, kebebasan adalah tentang tidak dihalangi selama tidak merugikan orang lain. Tapi bagi republik, kebebasan berarti tidak ada seorang pun yang mempunyai kekuasaan atas individu lain, dan setiap individu berhak bersuara dalam undang-undang. Nah, di sinilah kebajikan diperlukan.
Ade Indra Chaniago menyuap tekwan dengan hati-hati. Kuahnya yang hangat mengepul di sendok keramik.
Ade Indra Chaniago: (menyela dengan suara tenang) Subhanallah. Saya sebagai seorang pendidik yang belajar agama dan filsafat, melihat bahwa Islam sebenarnya memiliki konsep yang sangat kaya tentang kebajikan dalam politik. Imam Al-Ghazali pernah berkata, “Kekuasaan tanpa kebajikan adalah kezaliman, dan kebajikan tanpa kekuasaan adalah kelemahan.” Politik memerlukan keduanya. Tapi kita lupa pada kebajikan.
Ferry Lesmana meneguk kopinya sampai habis setengah gelas. Ia meletakkan gelas dengan pelan, lalu menatap Ade Indra Chaniago dengan mata penuh tanya.
Ferry Lesmana: Uda, saya ingin menggali lebih dalam. Di masyarakat kami, Tulung Selapan, tokoh adat dan ulama dulu memegang peran penting. Kini politisi lebih sering datang hanya saat kampanye. Mana kebajikan itu? Mana keteladanan?
Juliansyah menghela napas. Tangannya berhenti memegang pempek. Ia menatap jendela sejenak, melihat rintik hujan di luar.
Juliansyah: Kanda Ferry, itu sebabnya saya selalu menekankan pada aktivis-aktivis muda: politik identitas yang sedang populer sekarang justru memecah belah. “Membedakan warga negara bukanlah hal yang baik. Dalam hal ini, politik identitas sebagai contoh konflik yang buruk.” Kita butuh politik yang mempersatukan, bukan yang mengkotak-kotakkan.
Indra Darmawan: (menghela napas panjang, lalu mengusap kacamatanya) Saya ingin membawa diskusi ini ke akar permasalahan. “Seorang politisi harus dibimbing oleh kebajikan. Mengembangkan potensi, berusaha menjadi yang terbaik. Jadi kebajikan tidak ada hubungannya dengan menyangkal diri sendiri.” Ini penting. Banyak yang mengira kebajikan itu seperti menjadi biarawan yang menyiksa diri. Tidak! Kebajikan adalah cara untuk meredam keberuntungan, kekuatan atau kekuasaan membabi buta yang terus-menerus mengganggu semua rencana dan menindas orang.
Ade Indra Chaniago berdiri sejenak, berjalan ke rak buku, dan mengambil sebuah kitab kecil bersampul hijau tua. Ia membalik-balik halaman dengan jemari yang tampak terbiasa menyentuh kertas.
Ade Indra Chaniago: Saya ingat kata-kata Jalaluddin Rumi, sufi agung kita. Beliau berkata, “Kebaikan yang kau berikan kepada orang lain akan kembali kepadamu, tetapi kekuasaan yang kau gunakan untuk menindas akan menghancurkanmu sendiri.” Rumi mengajarkan bahwa kebajikan adalah cermin dari jiwa yang merdeka. Politisi yang bajik tidak takut kehilangan kekuasaan, karena ia tahu kekuasaan hanyalah amanah.
Juliansyah meletakkan pempek yang dipegangnya. Ia duduk tegak, mencondongkan badan ke depan.
Juliansyah: Uda Ade, izin menambahkan perspektif dari aktivisme. Saya sering berhadapan dengan birokrasi di Ogan Ilir. Sebagian baik, sebagian tidak. Yang membuat saya prihatin adalah ketika kebajikan dianggap remeh. Politisi lebih sibuk dengan proyek-proyek pencitraan daripada membangun karakter publik. Padahal, seperti yang kita sepakati, “Politik tidak hanya tentang perolehan dan pemeliharaan kekuasaan, namun menanam, memupuk dan menebarkan kebaikan.”
Ferry Lesmana menepuk meja kayu jati dengan pelan, cukup keras untuk membuat gelas-gelas kopi sedikit bergetar.
Ferry Lesmana: (suaranya meninggi sedikit) Nah, ini yang saya rasakan. Di Tulung Selapan, dulu ada pepatah: “Pemimpin itu pengayom, bukan penguasa.” Sekarang banyak yang lupa. Uda, bagaimana pandangan Islam tentang pemimpin yang bajik?
Indra Darmawan menyilangkan kaki. Ia mengambil laksan dan mengunyahnya perlahan sambil berpikir.
Indra Darmawan: Saya kutipkan sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik pemimpin adalah yang kalian cintai dan mencintai kalian, dan kalian doakan mereka dan mereka mendoakan kalian.” (HR. Muslim). Pemimpin yang bajik adalah yang merasa dirinya dilayani oleh rakyat, bukan sebaliknya. Sayyidina Umar bin Khattab pernah berkeliling malam hari memikul sendiri beras untuk janda tua. Itulah kebajikan dalam tindakan.
Ade Indra Chaniago menutup kitab di tangannya. Ia menatap Ferry dengan mata teduh.
Ade Indra Chaniago: Dan jangan lupakan Ali bin Abi Thalib. Dalam suratnya kepada Malik Al-Asytar, beliau menulis: “Jadikanlah hatimu sebagai rahmat bagi rakyat, jangan seperti binatang buas yang menjadikan memakan mereka sebagai kesempatan.” Kebajikan adalah fondasi. Tanpa kebajikan, politik hanyalah perebutan tulang berdarah.
Juliansyah menyandarkan badan ke kursi. Kedua tangannya meraih gelas kopi, lalu menyesapnya perlahan. Ia menutup mata sesaat, menikmati pahit yang menyegarkan.
Juliansyah: Sekarang saya ingin sedikit provokatif, jika boleh. Kita bicara kebajikan, tapi realitas politik kita penuh dengan konflik. Apakah konflik itu selalu buruk? Menurut saya, “Konflik adalah inti politik. Perjuangan antara elite dan rakyat mendorong kebebasan. Jadi ada kelompok yang punya kepentingan dan visi berbeda, dan itu bagus.” Yang penting legitimasi kelompok lain tidak dipertanyakan.
Ferry Lesmana mengerutkan dahi. Tangannya yang semula santai kini menggenggam erat sendok pempek.
Ferry Lesmana: Wah, Dinda Juliansyah, ini menarik. Di Tulung Selapan, konflik sering terjadi antar pendukung calon. Tapi kalau Dinda bilang konflik itu inti politik, bukankah itu membahayakan persatuan?
Juliansyah: Bukan konflik fisik, Kanda Ferry. Konflik ide, gagasan. “Contoh tradisional dari konflik yang baik adalah antara progresif politik dan konservatif.” Mereka saling kritik, saling menguji kebenaran. Tapi mereka tetap mengakui lawan sebagai warga negara yang sah. Di Indonesia, kita kehilangan seni berkonflik secara bermartabat.
Indra Darmawan tersenyum lebar. Pipinya yang sedikit berisi tampak mengembang. Ia mengacungkan jari telunjuk.
Indra Darmawan: Saya setuju dengan Dinda Juliansyah. Dalam Islam pun ada konsep shura atau musyawarah. Konflik pendapat itu sehat, selama tidak menjurus pada tadhalum (kezaliman). Imam Syafi’i berkata: “Pendapatku benar, namun mungkin salah. Pendapat orang lain salah, namun mungkin benar.” Itulah kebajikan intelektual yang hilang.
Ade Indra Chaniago: Tapi izinkan saya mengingatkan, konflik yang baik pun harus dibingkai oleh akhlak. Saya ingat kata-kata Ibnu Arabi, sang sufi agung: “Hati adalah tempat Tuhan bercermin. Jika hati kotor oleh kebencian, bagaimana Tuhan akan terlihat?” Politisi yang membenci lawannya secara personal sudah kehilangan kebajikan. Boleh berbeda visi, tapi jangan sampai menghilangkan rasa kemanusiaan.
Ferry Lesmana meneguk kopi lagi. Gelasnya kini nyaris kosong. Ia menuang sendiri kopi dari teko tanpa menunggu Ade.
Ferry Lesmana: Saya mulai menangkap benang merahnya. Kebajikan bukan berarti tidak ada konflik. Tapi konflik harus untuk kebaikan bersama, bukan untuk kepentingan segelintir orang. Di Tulung Selapan, kami punya kearifan lokal: “Bersilat lidah jangan sampai bersilat tangan.” Artinya, perbedaan boleh, asal tidak merusak.
Juliansyah: Nah, Kanda Ferry tepat sekali. Dan ini membawa kita pada pertanyaan besar: bagaimana mewujudkan politik yang bajik di era seperti sekarang?
Indra Darmawan meletakkan sendoknya. Ia mengatur posisi duduknya agar lebih nyaman. Kacamatanya digosok dengan ujung baju.
Indra Darmawan: Saya akan jawab dengan perspektif seorang yang bergelut di dunia pendidikan dan masih belajar di bidang lainnya. Pertama, kita harus merehabilitasi makna kekuasaan. Kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan alat untuk menebarkan rahmat. Saya kutip pesan Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Di depan memberi teladan, di tengah membangun kemauan, di belakang memberi dukungan. Itulah kebajikan seorang pemimpin.
Ade Indra Chaniago: Dan jangan lupakan ajaran Bung Hatta. Beliau berkata, “Kebajikan seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa banyak ia berbicara, tetapi dari seberapa banyak ia mendengarkan suara rakyatnya.” Itu sejalan dengan konsep Islam tentang tawadhu (kerendahan hati). Politisi yang sombong sudah gugur kebajikannya sebelum memimpin.
Juliansyah menghela napas. Ia memandangi pempek yang sudah tinggal dua potong di piring. Ada semacam kegelisahan di raut wajahnya.
Juliansyah: Saya ingin membawa suara dari lapangan. Sebagai aktivis yang sering turun ke desa-desa di Ogan Ilir, saya melihat banyak pemuda idealis. Tapi mereka frustrasi. Mengapa? Karena sistem politik kita tidak memberi ruang bagi kebajikan. Yang naik adalah yang punya uang, koneksi, dan berani main kotor. Padahal “politik memerlukan kebajikan” bukan hanya slogan, tapi keharusan.
Ferry Lesmana: Itu benar, Dinda Juliansyah. Saya sebagai tokoh masyarakat di Tulung Selapan sering didatangi politisi yang hanya mau kalau ada proyek. Tapi jarang yang bertanya, “Apa yang sebenarnya rakyat butuhkan?” Kebajikan itu sederhana: mendahulukan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan golongan.
Indra Darmawan menyentuh dada kirinya. Seperti sedang mengingat sesuatu yang berat.
Indra Darmawan: Saya teringat pesan Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid). Beliau berkata, “Politik itu untuk membela yang lemah, bukan untuk memperkuat yang sudah kuat. Kebajikan dalam politik adalah ketika kau rela kehilangan kursi demi memegang prinsip.” Gus Dur sendiri adalah teladan. Beliau dicopot dari kursi kepresidenan karena membela kebenaran, bukan karena ingin populer.
Ade Indra Chaniago mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Ada keharuan yang tak disembunyikan.
Ade Indra Chaniago: Tambahan dari saya. Buya Hamka pernah menulis dalam Tafsir Al-Azhar: “Kekuasaan tanpa kebajikan adalah seperti pisau di tangan monyet. Bisa melukai diri sendiri dan orang lain.” Maka politik yang bajik harus dimulai dari pendidikan karakter. Jangan heran jika politisi kita korup, karena sejak kecil tidak diajari bahwa amanah adalah beban, bukan keuntungan.
Juliansyah berdiri sebentar, berjalan ke jendela. Ia melihat ke luar. Hujan gerimis masih setia menemani sore itu. Ia lalu berbalik dan duduk kembali dengan semangat baru.
Juliansyah: Saya ingin membawa diskusi ke arah yang lebih konkret. Kanda-kanda sekalian, menurut saya ada tiga pilar kebajikan dalam politik yang harus kita perjuangkan. Pertama, integritas: politisi harus konsisten antara ucapan dan tindakan. Kedua, empati: mampu merasakan apa yang dirasakan rakyat kecil. Ketiga, keberanian: berani mengatakan tidak pada hal yang salah meskipun populer.
Ferry Lesmana mengangguk-angguk kuat. Matanya berbinar.
Ferry Lesmana: Setuju. Di Tulung Selapan, kami memiliki seorang kepala desa yang bajik. Beliau tidak kaya, rumahnya sederhana, tetapi setiap Jumat beliau mengundang anak-anak yatim makan bersama. Itu kebajikan. Dia tidak pernah berbicara tentang proyek megah, tapi warganya hidup rukun dan sejahtera. Itu bukti bahwa politik lokal bisa berjalan dengan kebajikan.
Indra Darmawan mengangkat gelas kopinya seolah hendak bersulang.
Indra Darmawan: Cerita Bro Ferry itu mengingatkan saya pada konsep ‘adalah (keadilan) dalam Islam. Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya Allah menegakkan urusan dunia yang adil meskipun dilakukan oleh orang kafir, dan tidak menegakkan urusan dunia yang zalim meskipun dilakukan oleh orang beriman.” Artinya, keadilan dan kebajikan lebih utama daripada sekadar label keagamaan atau kesukuan.
Ade Indra Chaniago: Saya ingin mengajak kita semua merenungkan dialog antara sufi terkenal, Rabi’ah Al-Adawiyah, dengan seseorang yang bertanya, “Mengapa engkau tidak marah kepada penguasa yang zalim?” Rabi’ah menjawab, “Aku tidak punya waktu untuk marah. Aku sibuk mencintai Tuhan dan hamba-hamba-Nya.” Bukan berarti kita tidak boleh mengkritik penguasa. Tapi kebajikan mengajarkan kita untuk mengkritik dengan cara yang membangun, bukan dengan kebencian.
Juliansyah menyilangkan tangan di dada. Ekspresinya serius, namun matanya tetap bersahabat.
Juliansyah: Uda, saya setuju. Tapi maaf, di dunia aktivis, terkadang kita harus bersuara keras melawan ketidakadilan. Apakah itu bertentangan dengan kebajikan?
Indra Darmawan tersenyum lagi. Tangannya meraih tekwan yang sudah agak dingin, lalu menyeruput kuahnya.
Indra Darmawan: Sekali lagi, kebajikan bukan berarti pasif. Nabi Musa AS bersuara keras melawan Firaun. Tapi perhatikan: beliau menggunakan kata-kata yang lembut di awal, “Innani lakum rasulun amin” (Sesungguhnya aku adalah utusan yang terpercaya). Kebajikan dalam perlawanan adalah tetap menjaga martabat, tidak merendahkan lawan secara personal, dan tujuan akhirnya adalah perbaikan, bukan kehancuran.
Ferry Lesmana berbicara dengan semangat. Tangannya bergerak-gerak mengiringi kata-kata.
Ferry Lesmana: Uda, Dinda Juliansyah, saya jadi ingat pesan Soekarno. Bung Karno berkata, “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Tapi Bung Karno juga mengajarkan bahwa revolusi tanpa kebajikan akan berakhir dengan tirani baru. Beliau mengatakan, “Kepemimpinan yang tidak disertai dengan pengabdian adalah penghianatan.”
Ade Indra Chaniago menghela napas panjang. Sorot matanya menerawang jauh.
Ade Indra Chaniago: Soekarno memang kontroversial, tapi beliau paham bahwa kekuasaan harus digunakan untuk membangun, bukan menghancurkan. Sekarang, politisi kita terlalu sibuk dengan pertarungan identitas. “Politik identitas sedang populer. Membedakan warga negara bukanlah hal yang baik.” Saya melihat ini sebagai penyakit. Agama, suku, ras dijadikan komoditas politik. Padahal Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang diukur dengan takwa, bukan dengan identitas kelompok.
Juliansyah mengangguk cepat. Ia seperti mendapat penegasan.
Juliansyah: Setuju, Uda. Saya sering mengingatkan teman-teman aktivis: jangan terjebak politik identitas. Di Ogan Ilir, kami hidup dalam keberagaman. Ada Melayu, Jawa, Bugis, Tionghoa. Kalau kami membeda-bedakan, hancur kami. Politik identitas adalah racun bagi kebajikan.
Indra Darmawan: Saya ingin menutup bagian ini dengan pesan dari Tan Malaka. Meskipun beliau seorang nasionalis sekuler, beliau berkata, “Pendidikan yang memberi kecakapan tanpa budi pekerti adalah lumpuh. Budi pekerti tanpa kecakapan adalah lemah. Politik tanpa kebajikan adalah buta.” Ini sejalan dengan ajaran Islam tentang tawazun (keseimbangan) antara kekuasaan dan moralitas.
Ferry Lesmana menunduk sejenak. Bahunya sedikit naik turun. Lalu ia menatap tajam satu per satu temannya.
Ferry Lesmana: Saudara-saudara, saya sebagai warga biasa merasa bahwa politik hari ini telah kehilangan ruhnya. Ruh itu adalah kebajikan. Di Tulung Selapan, kami belajar dari alam. Pohon yang tinggi tidak akan kokoh tanpa akar yang kuat. Akar kebajikan adalah kejujuran, keadilan, dan kasih sayang. Tanpa itu, pohon kekuasaan akan tumbang.
Juliansyah menyentuh pundak Ferry Lesmana. Ada isyarat persahabatan yang dalam.
Juliansyah: Puitis sekali, Kanda Ferry. Saya setuju. Tapi bagaimana kita memulainya? Saran saya, kita harus membangun gerakan kesadaran dari bawah. Sekolah-sekolah, kampus-kampus, majelis taklim, semua harus diajarkan bahwa politik itu mulia jika dilakukan dengan kebajikan. Jangan biarkan politik hanya menjadi milik para predator kekuasaan.
Indra Darmawan mengambil napas panjang. Dadanya mengembang.
Indra Darmawan: Baiklah, izinkan saya merangkum diskusi kita yang sangat berharga ini. “Politik memerlukan kebajikan” bukanlah sekadar judul diskusi, tetapi sebuah keniscayaan. Kebajikan adalah satu-satunya tameng melawan kekuasaan yang membabi buta. Kebajikan adalah yang membedakan antara pemimpin dan tiran.
Ade Indra Chaniago menutup kitab hijau yang tadi dibukanya. Ia meletakkannya di pangkuan.
Ade Indra Chaniago: Saya akan menambahkan dari perspektif sufi. Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari dalam Al-Hikam berkata: “Tuhan melindungi seorang hamba bukan dengan memberinya kekuasaan, tetapi dengan memberinya kebajikan dalam hati.” Mari kita doakan para politisi kita diberi hati yang bajik. Dan mari kita sebagai rakyat juga belajar bajik dalam berpolitik, setidaknya dalam memilih.
Juliansyah berdiri. Ia menjabat tangan Ade Indra Chaniago, lalu tangan Indra Darmawan, dan terakhir Ferry Lesmana. Jabatannya erat.
Juliansyah: Saya merasa segar setelah diskusi ini. Di tengah hiruk-pikuk politik identitas dan konflik yang merusak, kita menemukan kembali bahwa kebajikan adalah jalan tengah. Kebajikan bukan kelemahan. Kebajikan adalah kekuatan untuk mengatakan kebenaran kepada kekuasaan. Saya akan bawa pesan ini ke Ogan Ilir, ke kampus-kampus, ke ruang-ruang aktivis.
Ferry Lesmana tersenyum lebar. Gigi depannya yang sedikit maju tampak jelas.
Ferry Lesmana: Terima kasih Saudara-saudaraku. Tulung Selapan mungkin desa kecil, tapi kami punya hati yang besar untuk kebajikan. Saya akan sampaikan hasil diskusi ini kepada masyarakat. Bahwa politik bukanlah untuk menjadi kaya atau terkenal. Politik adalah pengabdian. Dan pengabdian memerlukan kebajikan. Saya kutip satu pesan terakhir dari Cak Nur (Nurcholish Madjid): “Islam yes, partai Islam no. Kebajikan yes, politik identitas no.”
Ade Indra Chaniago mengangkat gelas kopinya. Gelas keramik putih dengan motif bunga melati. Tiga gelas lain ikut terangkat.
Ade Indra Chaniago: Mari kita akhiri dengan doa. Ya Allah, jadikanlah para pemimpin kami orang-orang yang bajik. Jadikanlah politik di negeri ini sebagai ladang kebajikan, bukan ladang dosa. Berilah kami keberanian untuk memilih yang benar dan menolak yang salah. Aamiin.
Indra Darmawan: Aamiin.
Juliansyah: Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Ferry Lesmana: Aamiin. Mari kita wujudkan politik yang bajik, dimulai dari diri kita sendiri.
Mereka berempat berdiri. Hujan di luar sudah reda. Sinar Bulan menembus awan, menciptakan bias keemasan di ruang tamu. Ade Indra Chaniago membuka pintu. Udara segar setelah hujan masuk menyapa.
Ade Indra Chaniago: (sambil memandang ke halaman) Alhamdulillah, hujan berhenti tepat waktu. Semoga ini pertanda baik untuk negeri kita.
Indra Darmawan merapikan baju.
Indra Darmawan: Saya pamit pulang, Uda. Terima kasih untuk kopi dan tekwan-nya. Tapi lebih dari itu, terima kasih untuk pengingat bahwa kebajikan masih mungkin kita hidupkan.
Juliansyah: Saya juga pamit, Kanda, Uda. Diskusi ini akan saya tulis menjadi catatan kecil. Mungkin saya bagikan ke teman-teman aktivis di Ogan Ilir.
Ferry Lesmana: Saya ikut pamit, Uda Ade. Doakan saya semoga bisa menjadi perpanjangan tangan kebajikan di Tulung Selapan.
Ade Indra Chaniago: (menjabat tangan mereka satu per satu) Saya doakan semuanya. Mari kita jaga api kebajikan ini. Jangan biarkan padam. Siapa tahu, dari diskusi empat orang di ruang tamu sederhana ini, lahir gerakan yang lebih besar.
Mereka berjalan keluar. Mobil dan motor di halaman mulai dipanaskan. Lambaian tangan terlihat. Senyuman mengembang di wajah masing-masing.
Ferry Lesmana: (dari dalam mobil, melambaikan tangan) Assalamu’alaikum!
Ade Indra Chaniago: (tersenyum sambil membalas lambaian) Wa’alaikumsalam!
Pintu rumah ditutup perlahan. Empat gelas kopi kosong masih setia di atas meja. Sepiring pempek tinggal remah. Malam itu, di Perum Pemkot Gandus, Palembang, sebuah percakapan kecil meninggalkan gema besar: politik memerlukan kebajikan. Dan kebajikan dimulai dari hati yang bersih.
Kamis, 23 April 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan