JARI: Ketika Amanah Rakyat Dikhianati, Negara Kehilangan Ruhnya
Warung kopi “Kopi Rindu” di sudut Pasar 16 Palembang. Usai salat Ashar, matahari mulai condong ke barat. Empat gelas kopi hitam pekat mengepul di atas meja. Ade Indra Chaniago duduk menyilangkan kaki, Indra Darmawan di sampingnya dengan buku catatan terbuka. Di hadapan mereka, Ferry Lesmana dan Juliansyah tampak serius menyimak. Suara pasar yang riuh menjadi latar perbincangan.
Ferry Lesmana: (menunjuk ke arah luar warung) Uda, lihat pasar ini. Ribuan orang lalu-lalang. Mereka berjualan, bekerja, mencari nafkah. Tapi saya bertanya-tanya, negara ini sebenarnya ada untuk siapa? Saya di Tulung Selapan, sawah dan karet kami digusur, ganti rugi tak jelas. Jul di Ogan Ilir, sawah rakyatnya hilang ditelan proyek. Negara kok seperti tidak punya hati?
Ade Indra Chaniago: (menyesap kopi, menatap Ferry dengan teduh) Pertanyaanmu itu, Ferry, adalah pertanyaan fundamental tentang apa itu negara dan mengapa negara ada. Mari kita mulai dari dasar. Para ahli dari Mac Iver hingga Prof. Miriam Budiarjo sepakat bahwa sebuah negara berdiri di atas tiga unsur pokok: wilayah (tanah dan air), rakyat (masyarakat yang mendiaminya), dan pemerintahan yang berdaulat.
Indra Darmawan: Tiga unsur itu wilayah, rakyat, pemerintahan adalah unsur konstitutif mutlak. Tanpa salah satu, negara itu tidak ada. Dan yang penting, Ferry, negara tidak lahir begitu saja. Ia lahir dari kesepakatan, dari musyawarah rakyat. Dalam tradisi kita, seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, negara berdiri di atas kedaulatan rakyat dan permusyawaratan perwakilan. Rakyatlah yang punya kuasa. Pemerintah hanya alat untuk menjalankan amanah rakyat.
Juliansyah: (mengangguk) Itu teori, Kak Indra. Tapi di Ogan Ilir, saya saksikan sendiri, rakyat sudah bersepakat, sudah bermusyawarah, tapi keputusan musyawarah diabaikan. Sawah kami yang menjadi sumber hidup, digusur. Bantuan yang seharusnya untuk petani, malah menguap. Di mana amanah itu?
Ade Indra Chaniago: (menatap Juliansyah dalam-dalam) Amanah, Jul. Kata itu adalah kunci. Dalam Islam, amanah adalah beban berat. Imam Al-Ghazali sufi besar yang kita kenal menulis dalam Ihya’ Ulumuddin: “Sesungguhnya kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan pemimpin, dan kerusakan pemimpin disebabkan oleh kerusakan para ulamanya, dan kerusakan ulamanya disebabkan oleh cinta harta dan kedudukan”. Al-Ghazali juga memberi 10 wejangan bagi pemimpin: berlaku adil, sederhana, rendah hati, mendengar rakyat, serta menjaga amanah kepemimpinan. Pemimpin adalah pembawa dan pengemban amanat rakyat. Ketika amanah itu dikhianati, maka negara kehilangan ruhnya.
Suasana hening sejenak. Ferry menuang kopi ke gelasnya yang hampir habis.
Ferry Lesmana: (suara lirih) Tapi Uda, pengkhianatan amanah itu bukan cuma omongan. Saya lihat sendiri. Di Tulung Selapan, ada 56 warga di Lampung Selatan yang sudah menang di pengadilan sampai tingkat Peninjauan Kembali Mahkamah Agung hak mereka atas ganti rugi tanah tol senilai Rp20 miliar sudah jelas. Tapi Pejabat Pembuat Komitmen dari Kementerian PUPR mengabaikan kewajiban hukum itu. Ombudsman menyebut ini kelalaian negara. Negara yang seharusnya melindungi rakyat, justru mengabaikan putusan pengadilan. Itu pengkhianatan!
Juliansyah: (menyambung) Itu baru satu, Ferry. Di Ogan Ilir, kami juga merasakan. Janji kampanye dilupakan. Bantuan sosial yang seharusnya untuk yang miskin, yang dapat malah yang dekat dengan penguasa. Program Makan Bergizi Gratis yang katanya untuk rakyat anggarannya Rp223 triliun diambil dari anggaran pendidikan, melanggar amanat konstitusi yang mewajibkan 20% APBN untuk pendidikan. Negara memprioritaskan program citra, bukan pendidikan anak-anak kita. Itu pengkhianatan terhadap masa depan bangsa!
Indra Darmawan: (menambahkan) Dan contoh lain Rempang Eco City di Kepulauan Riau. Pemerintah mengumumkan proyek ini dan mewajibkan 7.500 orang di 16 kampung tua untuk meninggalkan rumah mereka dalam waktu satu bulan. Mereka menolak digusur, bentrok dengan aparat. Alasannya? Warga tidak punya sertifikat tanah, meskipun sebagian keluarga sudah tinggal di sana sejak abad ke-19. Mereka menyebutnya “transmigrasi lokal” padahal itu adalah pengusiran paksa yang menghilangkan hak masyarakat adat. Seorang warga bernama Ishaka berkata: “Mereka menyebutnya kota ramah lingkungan, tapi hal pertama yang mereka lakukan adalah mengambil tanah yang ditinggalkan leluhur kami, mengambil ruang di mana anak-anak kami seharusnya tumbuh dan berkembang”.
Ade Indra Chaniago: (menghela napas panjang) Saudara-saudara, apa yang kalian ceritakan, Rempang, Lampung Selatan, Ogan Ilir adalah bukti nyata bahwa negara telah mengkhianati amanah rakyat. Padahal, para filsuf sudah mengingatkan kita sejak ribuan tahun lalu.
Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah zoon politikon makhluk sosial yang secara kodrati hidup dalam politik. Warga negara mengambil bagian dalam kehidupan negara. Negara berkewajiban memberikan apa yang menjadi hak warga negaranya. Tapi di sini, hak warga dirampas, kewajiban negara diabaikan.
John Locke, dalam teori kontrak sosialnya, mengatakan bahwa ketika negara berdiri di atas kontrak, penguasa harus memenuhi bagiannya dari perjanjian—ia harus menjamin kesejahteraan, keamanan, dan kedamaian rakyat. Tidak seorang pun dapat memiliki kekuatan politik tanpa persetujuan rakyat. Tapi di Indonesia, persetujuan rakyat hanya diminta saat pemilu. Setelah itu, rakyat dilupakan.
Jean-Jacques Rousseau bahkan lebih tegas. Negara adalah produk dari kontrak sosial. Kedaulatan ada di tangan rakyat. Pemerintah adalah alat rakyat, bukan tuan atas rakyat. Ketika pemerintah melanggar kontrak, rakyat berhak menuntut.
Matahari mulai tenggelam. Lampu-lampu pasar mulai menyala. Ade Indra Chaniago mengangkat gelas kopinya.
Ferry Lesmana: (menatap Ade Indra dengan penuh tanya) Tapi Uda, kalau negara sudah mengkhianati amanah, apa yang harus kami lakukan? Kami rakyat kecil, kami tidak punya kuasa.
Ade Indra Chaniago: (tersenyum) Ferry, dalam Islam, Ibnu Taimiyah ulama besar yang sangat memperhatikan keadilan, menyatakan bahwa tugas utama pemimpin adalah menegakkan keadilan, bukan hanya menjaga keamanan atau menjalankan hukum secara kaku. Tegaknya keadilan tidak mungkin dicapai tanpa kerja sama. Manusia berkumpul membentuk komunitas politik, kemudian menunjuk pemimpin untuk mewujudkan keadilan dan kebermanfaatan bersama.
Juliansyah: (mengangguk) Dan pemimpin tidak boleh menetapkan tujuan mereka sendiri—mereka harus mewujudkan keadilan untuk semua.
Ade Indra Chaniago: (melanjutkan) Tapi ingat, Jul, Ibnu Taimiyah juga mengingatkan bahwa pemimpin yang adil adalah yang memiliki kapabilitas menegakkan keadilan duniawi dan ukhrawi. Pemimpin yang hanya sibuk dengan kekuasaan duniawi, tanpa memikirkan pertanggungjawaban di hadapan Tuhan, adalah pemimpin yang zalim.
Indra Darmawan: (menambahkan) Saya ingin menambahkan Jalaluddin Rumi, penyair sufi terbesar. Rumi menentang segala bentuk kediktatoran. Beliau berkata: “Ketika senjata dan kebodohan bersatu, para Firaun muncul untuk menghancurkan dunia dengan kekejaman mereka”. Rumi juga mengajarkan bahwa sumber keadilan adalah ilahi, bukan duniawi. Keadilan di dunia adalah cerminan keadilan ilahi. Seorang pemimpin harus berlaku adil terhadap pengikutnya dan menjaga keluarganya serta stafnya di jalan keadilan.
Ferry Lesmana: (tertegun) Rumi sudah mengingatkan 700 tahun lalu, tapi kita masih belum belajar.
Ade Indra Chaniago: (mengangguk) Dan jangan lupa Fazlur Rahman, pemikir Islam kontemporer. Beliau menekankan bahwa negara yang baik tidak terlepas dari konsep Syura—musyawarah. Wakil rakyat harus bermusyawarah merumuskan kebijakan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan umat. Kekuasaan tertinggi dalam negara ada pada rakyat, kemudian secara musyawarah diserahkan kepada pimpinan negara. Ketika musyawarah diabaikan, ketika suara rakyat tidak didengar, maka negara telah kehilangan legitimasinya.
Malam mulai turun. Lampu-lampu Pasar 16 menyala terang. Empat gelas kopi hampir habis.
Juliansyah: (menunduk) Uda, kami di Ogan Ilir dan Tulung Selapan, kami hanya rakyat kecil. Tapi kami ingin negara ini kembali kepada fitrahnya. Negara yang melindungi, bukan menindas. Negara yang mendengar, bukan membungkam.
Ade Indra Chaniago: (berdiri, merapikan kemeja) Maka pesan saya malam ini, Saudara-saudara:
Pertama, ingatlah bahwa negara ada karena rakyat, bukan rakyat ada karena negara. Wilayah, rakyat, dan pemerintahan adalah tiga pilar, tapi pilar yang paling utama adalah rakyat. Tanpa rakyat, wilayah hanya tanah kosong, pemerintahan hanya gedung kosong.
Kedua, amanah adalah jantung kepemimpinan. Al-Ghazali, Rumi, Ibnu Taimiyah, Fazlur Rahman, semua sepakat: pemimpin adalah pengemban amanat rakyat, bukan penguasa atas rakyat. Ketika amanah dikhianati, maka keadilan runtuh, dan negara kehilangan ruhnya.
Ketiga, jangan pernah diam. Seperti kata Aristoteles, manusia adalah makhluk politik, kita tidak bisa lepas dari politik. Tapi kita bisa memilih: menjadi bagian dari politik yang korup, atau menjadi bagian dari politik yang melayani. Mulailah dari yang kecil, dari warung kopi ini, dari desa-desa kita, dari suara kita yang tidak pernah boleh padam.
Keempat, keadilan adalah cerminan ketuhanan. Rumi mengajarkan bahwa keadilan di dunia adalah bayangan keadilan ilahi. Maka menegakkan keadilan adalah ibadah. Mengkhianati amanah adalah dosa besar.
Ade Indra Chaniago berhenti, menatap keempat sahabatnya satu per satu.
Ade Indra Chaniago: Pesan terakhir saya:
“Negara yang lahir dari musyawarah rakyat, yang berdiri di atas tiga pilar wilayah, rakyat, dan pemerintahan adalah amanah terbesar yang dititipkan kepada para pemimpin. Ketika amanah itu dikhianati, ketika hak rakyat dirampas, ketika kewajiban negara diabaikan, maka negara itu telah mati. Yang tersisa hanyalah kerangka tanpa ruh. Tapi selama masih ada rakyat yang bersuara, selama masih ada yang berani mengingatkan selama itu pula negara bisa hidup kembali.”
Mari kita hidupkan kembali negara ini dari warung kopi ini, dari Pasar 16 ini, dari desa-desa kita di OKI dan Ogan Ilir. Karena seperti kata Rumi: “Ketika senjata dan kebodohan bersatu, para Firaun muncul”. Tapi ketika kebenaran dan keberanian bersatu, para Firaun akan runtuh.
Ferry dan Juliansyah mengangguk perlahan. Indra Darmawan menutup buku catatannya. Di kejauhan, azan Maghrib mulai berkumandang. Lampu-lampu Pasar 16 menyala terang seperti harapan yang masih menyala di hati mereka.
Ferry Lesmana: (tersenyum pertama kali sore itu) Uda, saya akan bawa ini ke Tulung Selapan. Ceritakan ke tetangga saya. Bahwa negara ini masih bisa diselamatkan kalau kita semua mau bersuara.
Juliansyah: (mengangguk) Dan saya akan sampaikan ke masyarakat Ogan Ilir. Bahwa amanah itu harus dijaga dan kita harus berani menagih janji para pemimpin.
Ade Indra Chaniago: (berdiri, merapikan kemeja) Mari kita pulang. Tapi ingat: perjuangan menegakkan keadilan tidak pernah usai. Ia hanya berganti bentuk. Seperti kopi di gelas ini pahit, tapi menghangatkan. Seperti amanah di pundak pemimpin itu berat, tapi harus dijalankan.
Mereka melangkah keluar. Di belakang mereka, gelas-gelas kopi kosong menjadi saksi bisu percakapan tentang negara, amanah, dan keadilan di negeri yang masih berjuang untuk menemukan kembali ruhnya.
Palembang, 01 Juli 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen