JARI : Kebenaran Kian Menghilang
“Diagnosis Akar Krisis: Dari sudut pandang Islam, akar krisis kebenaran adalah spiritual dan moral: penyimpangan dari sifat jujur (shiddiq), mengikuti hawa nafsu, dan lemahnya ketakwaan. Teknologi dan media hanyalah alat yang memperbesar penyakit yang sudah ada di dalam hati manusia.” [ DR (Cand) Ade Indra Chaniago ]
AIC: Indra, artikel tentang analisis Prange soal krisis kebenaran ini menarik sekali. Dia bilang kita bukan sekadar di era “pasca-kebenaran,” tapi ada proses sistematis: pembanjiran omong kosong (flooding of bullshit) untuk membuat kebenaran jadi tidak berharga dan kritik menjadi bungkam. Ini strategi politik populisme-fasisme.
ID: Betul, Ade. Itu yang mengerikan. Kebenaran diserang bukan dengan debat, tapi dengan noise yang begitu massif sehingga publik menjadi apatis dan skeptis pada semua klaim kebenaran. Prange lalu menawarkan solusi dari Yunani kuno: parrhesia, keberanian berbicara benar meski berisiko. Tapi, seberapa efektif itu di era digital sekarang?
AIC: Menurut Prange, parrhesia bukan cuma jujur, tapi punya muatan moral dan sosial. Ini tentang menyampaikan kebenaran untuk keadilan, bukan sekadar provokasi. Tapi saya ingin kita lihat dari kacamata Islam. Bukankah konsep parrhesia ini sangat sejalan dengan perintah Amar Ma’ruf Nahi Munkar?
ID: Tepat sekali! Dalam Islam, kebenaran (al-haqq) adalah salah satu nama Allah. Menyampaikan kebenaran dengan ilmu dan keberanian adalah kewajiban. Rasulullah SAW bersabda, “Sampaikan kebenaran meski pahit.” Ini parrhesia dengan dasar tauhid. Tapi, ada catatan penting: dalam Islam, kebenaran bukan sekadar perspektif. Prange mengkritik yang menyalahkan postmodernisme, dan dia membela pluralisme kebenaran bahwa kebenaran itu banyak, tergantung konteks sejarah dan budaya. Di sini mungkin kita perlu hati-hati.
AIC: Iya, ini titik krusial. Pandangan Prange tentang pluralisme kebenaran itu dekat dengan relativisme, meski dia membedakannya. Dalam Islam, ada kebenaran absolut yang bersumber dari wahyu (haqq al-yaqin), dan ada kebenaran empiris-historis yang bisa beragam penafsiran. Krisis terjadi ketika kebenaran absolut diingkari, dan kebenaran empiris dibenamkan dalam lautan informasi palsu. Prange menyalahkan media dan teknologi komunikasi. Menurutmu?
ID: Teknologi mempercepat dan memperdalam krisis, tapi akarnya adalah moral. Al-Qur’an sudah mengingatkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 tentang verifikasi informasi (tabayun). Dalam Islam, menyebarkan kabar tanpa klarifikasi adalah dosa. Ini prinsip yang hilang di media sosial. Tapi, Ade, bisakah parrhesia ala Prange dan amar ma’ruf nahi munkar dalam Islam benar-benar menjadi solusi di tengah banjir bullshit?
AIC: Solusinya harus integratif. Parrhesia butuh institusi yang mendukung. Dalam Islam, ada konsep syura (musyawarah) dan hisbah (pengawasan publik) yang institusional. Kebenaran tidak hanya disampaikan oleh individu pemberani, tapi juga dibangun dalam sistem yang transparan. Prange fokus pada kritik media, tapi lupa bahwa media juga bisa diatur dengan etika. Etika jurnalisme Islam misalnya, mengutamakan akurasi, niat baik (husnuzzan), dan menghindari fitnah.
ID: Jadi, kesimpulannya, krisis kebenaran ini multidimensi: politik, media, dan filsafat. Analisis Prange tentang inflasi kebenaran dan strategi flooding of bullshit sangat relevan diamati di Indonesia. Sebagai Muslim, kita punya modal konseptual yang kuat: kebenaran dari Allah, kewajiban menyampaikannya dengan bijak dan berani, serta kewajiban verifikasi. Tapi, ini harus diterjemahkan dalam aksi kolektif, bukan individual.
AIC: Benar. Mungkin kita perlu gerakan parrhesia Islami: komunitas ilmuwan, ulama, dan masyarakat sipil yang berani bersuara benar dengan data dan integritas, sekaligus membangun sistem tabayun digital. Prange menginspirasi dari filsafat Yunani, kita punya warisan peradaban Islam yang kaya. Krisis kebenaran adalah ujian iman dan akal. Seperti kata Ali bin Abi Thalib, “Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.”
ID: Diskusi kita ini adalah langkah kecil untuk mengorganisir kebenaran. Mari kita teruskan dengan menulis dan bertindak. Syukran, Ade.
AIC: Syukran juga, Indra. Diagnosis Akar Krisis: Dari sudut pandang Islam, akar krisis kebenaran adalah spiritual dan moral: penyimpangan dari sifat jujur (shiddiq), mengikuti hawa nafsu, dan lemahnya ketakwaan. Teknologi dan media hanyalah alat yang memperbesar penyakit yang sudah ada di dalam hati manusia. Semoga kita termasuk al-ladzina yubayyiun (orang-orang yang menjelaskan kebenaran). Aamiin.
Minggu, 8 Februari 2026
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan