JARI : Mengasah Cinta dan Spiritualitas

JARI : Mengasah Cinta dan Spiritualitas

“Jika kita sintesiskan: Menurut Herder, kemanusiaan adalah cita-cita menjadi manusia seutuhnya melalui pengakuan atas keunikan dan kesetaraan setiap orang, pembelajaran dari yang lain, dan komunikasi dalam bahasa. Sementara, para sufi mengajarkan bahwa kemanusiaan sejati adalah menjadi insan kamil (manusia sempurna) dengan menyadari asal-usul ketuhanannya.” [ DR (Cand) Ade Indra Chaniago ]

ID : Aku baru membaca tentang Johann Gottfried Herder, seorang filsuf Pencerahan Jerman. Pandangannya tentang kemanusiaan sangat menarik. Menurutnya, kemanusiaan itu adalah cita-cita tertinggi, sebuah proses menjadi manusia seutuhnya.

AIC : (Mengangguk, meletakkan buku Jalaluddin Rumi) Benar. Yang menarik bagiku, Herder menekankan bahwa kita menjadi lebih manusiawi justru dengan mengamati dan belajar dari orang lain, bahkan dari sejarah dan budaya yang berbeda. Bukan dengan merasa lebih tinggi. Dia menentang keras perbudakan dan kolonialisme.

ID : Itu yang membuatku terkesan. Dia percaya setiap orang punya inti yang autentik yang harus bisa berkembang. Tapi dia juga realis, bahwa sejarah itu penuh konflik. Lalu, dia bilang kita bisa belajar dari siapa saja, bahkan dari masyarakat yang dianggap “primitif” bisa lebih dekat dengan kemanusiaan daripada bangsawan Eropa berwig mewah.

AIC : Konsep itu mengingatkanku pada Dzu Nun Al-Mishri, sufi Mesir. Dia berkata, “Aku mengenal Tuhan melalui hati yang hancur.” Bukan melalui gelar atau penampilan luar. Pengakuan atas keautentikan dan kerendahan hati itu inti. Herder menolak superioritas budaya, Dzu Nun menolak superioritas spiritual semu.

ID : Tapi, menurut Herder, bahasa adalah sarana utama untuk mencapai kemanusiaan itu. Melalui bahasa konseptual, kita belajar, bernalar, dan berbagi nilai.

AIC : Ya, dan dalam tasawuf, bahasa cinta-lah yang menjadi sarana tertinggi. Seperti yang dirayakan oleh Ibnu Farid dalam Nazham As-Suluk (Syair Perjalanan Spiritual)-nya. Cinta transendental itu yang memanusiakan, yang menyatukan. Tapi, ini bukan bahasa verbal biasa, melainkan bahasa simbolik yang mengajak kita memahami esensi di balik bentuk. Mirip dengan cara Herder melihat setiap budaya punya Volksgeist (semangat bangsa) yang unik, yang harus dipahami dalam konteksnya, bukan dihakimi dari luar.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Hujan dan Hikmah yang Terlupakan

ID : Jadi, proses menjadi manusiawi itu bukan kemajuan linear yang naif?

AIC : Tepat. Herder mengingatkan, kemanusiaan itu bisa rusak jika kita menindas. Ini mengingatkan kita pada Sabda Nabi Muhammad Saw.: “Semua manusia adalah anak-anak Adam, dan Adam diciptakan dari tanah.” (HR. Tirmidzi). Fondasinya adalah kesetaraan asal-usul. Menindas orang lain berarti mengingkari hakikat itu. Nabi juga bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” Itulah puncak etika kemanusiaan.

ID : Lalu, bagaimana dengan peran komunitas? Herder bilang kita tak bisa berkembang sendirian. Kita makhluk lemah yang saling butuh.

AIC : Ini sangat selaras dengan konsep ummah dalam Islam, tetapi dalam makna spiritual yang lebih luas. Al-Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin, banyak membahas tentang bahaya kesendirian dan pentingnya bergaul untuk saling mengingatkan dalam kebaikan (nasihat). Tapi, dia juga mengingatkan agar pertemanan tidak membuat kita lupa pada Tuhan. Komunitas harus menjadi ladang untuk saling menyempurnakan, bukan saling menindas.

ID : Sisi individualisme autentik Herder itu menarik. Setiap orang punya jalan unik.

AIC : Di sinilah kita bertemu Rabi’ah al-Adawiyah. Ketika dia berjalan dengan obor di satu tangan dan ember air di tangan lain, dan ditanya, dia menjawab: “Aku ingin membakar surga dan memadamkan neraka agar aku menyembah-Nya bukan karena takut atau harap, semata-mata karena cinta.” Itulah puncak keautentikan spiritual. Dia menolak dikotomi imbalan dan hukuman duniawi untuk menemukan esensi ibadah yang murni. Ini adalah pengembangan “inti autentik” hingga level tertinggi.

ID : Jadi, kesimpulannya, menurutmu ?

AIC : Jika kita sintesiskan: Menurut Herder, kemanusiaan adalah cita-cita menjadi manusia seutuhnya melalui pengakuan atas keunikan dan kesetaraan setiap orang, pembelajaran dari yang lain, dan komunikasi dalam bahasa. Sementara, para sufi mengajarkan bahwa kemanusiaan sejati adalah menjadi insan kamil (manusia sempurna) dengan menyadari asal-usul ketuhanannya (seperti dari tanah, menurut Nabi), mengasah cinta dan spiritualitas autentik (Rumi, Rabi’ah, Ibnu Farid), serta hidup dalam komunitas yang saling mengangkat (Al-Ghazali, konsep ummah), bukan saling memperbudak.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Rakyat Bukan Konsumen, Demokrasi Bukan Pasar

ID : Jadi, perbudakan dan kolonialisme yang ditentang Herder, dalam pandangan sufi, adalah bentuk ekstrem dari lupa diri – lupa bahwa kita berasal dari sumber yang sama dan bahwa setiap jiwa memiliki potensi autentik untuk kembali kepada-Nya dengan caranya sendiri. Menghalangi potensi itu adalah dosa terhadap kemanusiaan dan terhadap Sang Pemberi Potensi.

AIC : (Tersenyum) Benar sekali. Seperti kata Rumi: “Engkau bukan setetes di samudra. Engkau adalah samudra itu sendiri dalam setetes.” Menjadi manusiawi adalah menyadari samudra kemanusiaan yang kita wakili dalam keunikan kita, sekaligus mengakui samudra yang sama dalam diri setiap orang lain. Herder membangun jalur sejarah dan budaya untuk mencapainya, para sufi membangun jalur hati dan cinta. Keduanya bertemu di puncak: penghormatan mutlak pada martabat setiap insan.

ID : Dialog yang indah, bro. Terima kasih.

AIC : Sama-sama. Mari kita terus belajar, mengamati, dan merasakan, untuk menjadi lebih manusiawi.

(Mereka terdiam, memandang cahaya senja yang semakin redup, merenung dalam kedalaman dialog kemanusiaan yang menyatukan timur dan barat, akal dan hati.)

 

Rabu, 11 Februari 2026

Jaringan Aliansi Rakyat Independen

Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan