JARI: “Hidup untuk Politik, Bukan Mencari Hidup dari Politik”

JARI: “Hidup untuk Politik, Bukan Mencari Hidup dari Politik”

 

Warung kopi “Kopi Takwa” di sisi Masjid Takwa, Palembang. Usai salat Ashar, matahari mulai condong ke barat, menerobos celah-celah daun pepohonan. Suara azan Ashar baru saja usai bergema. Di meja kayu sederhana, lima gelas kopi hitam pekat mengepul. Ade Indra Chaniago duduk di sisi barat, menghadap ke masjid. Indra Darmawan di sampingnya dengan buku catatan terbuka. Ferry Lesmana, Juliansyah, dan Andi Wijaya berjalan menghampiri Ade dan Indra. Di kejauhan, suara anak-anak mengaji terdengar dari masjid.

 

Andi Wijaya: (menunjuk ke arah masjid) Uda, lihat masjid ini. Tempat ibadah yang seharusnya menjadi pusat ketakwaan. Tapi saya jadi bertanya, di mana takwa dalam politik kita? Saya baru saja baca pidato Max Weber di Munich tahun 1919 “Politik sebagai Panggilan”. Katanya, politik adalah panggilan jiwa, bukan sekadar mencari nafkah. Tapi lihat politisi kita, mereka justru hidup dari politik, bukan hidup untuk politik.

Ade Indra Chaniago: (tersenyum, menyesap kopi) Pertanyaanmu itu, Andi, adalah pertanyaan yang tepat untuk kita renungkan di dekat masjid ini. Max Weber sosiolog besar Jerman memberikan pidato yang menjadi salah satu teks paling berpengaruh dalam sejarah pemikiran politik. Mari kita bedah bersama.

Indra Darmawan: Weber memulai pidatonya dengan peringatan: “Dalam beberapa hal, pidato ini pasti akan mengecewakan Anda.” Ia tidak memberikan jawaban praktis tentang kebijakan apa yang harus diambil. Yang ia tawarkan adalah analisis sosiologis dan etis tentang apa artinya politik sebagai panggilan.

Ferry Lesmana: (menghela napas) Tapi Uda, di Tulung Selapan, kami sudah kehabisan kesabaran dengan politisi. Mereka datang dengan janji manis, bagi-bagi amplop, lalu setelah terpilih… hilang. Weber bilang politisi harus hidup untuk politik. Tapi politisi kami hidup dari politik, mereka menjadikan politik sebagai sumber penghidupan, bukan panggilan jiwa.

Angin sore berhembus pelan, membawa bau khas masjid dan rempah-rempah. Ade Indra Chaniago menatap ke arah masjid.

Ade Indra Chaniago: Mari kita mulai dari definisi dasar. Weber mendefinisikan negara sebagai:

“Sebuah komunitas manusia yang, dalam suatu wilayah tertentu, mengklaim (dengan berhasil) monopoli penggunaan kekerasan fisik yang sah.”

Ini berarti, hanya negara yang berhak menggunakan kekerasan, termasuk polisi, tentara, dan aparat. Dari definisi ini, Weber menyimpulkan:

“Politik adalah perjuangan untuk berbagi kekuasaan, atau perjuangan untuk memengaruhi pembagian kekuasaan.”

Juliansyah: (mengangguk) Jadi, Uda, politik itu pada dasarnya soal kekuasaan? Tapi di Ogan Ilir, yang kami lihat adalah kekuasaan yang disalahgunakan. Sawah rakyat digusur, janji kampanye dilupakan, bantuan sosial dipotong. Itu kekuasaan yang melukai rakyat.

Ade Indra Chaniago: Dan di sinilah Weber memperkenalkan tiga tipe legitimasi kekuasaan:

Pertama, kekuasaan tradisional, berdasarkan kebiasaan dan tradisi. Contohnya: kekuasaan raja atau kepala suku.

Kedua, kekuasaan karismatik, berdasarkan pengabdian pribadi kepada seorang tokoh yang dianggap memiliki karisma luar biasa. Di Indonesia, kita sering melihat politisi yang membangun citra karismatik, tapi karisma tanpa tanggung jawab adalah bahaya.

Ketiga, kekuasaan legal-rasional, berdasarkan legalitas, aturan formal, dan prosedur yang sah. Inilah yang seharusnya menjadi fondasi negara modern.

Indra Darmawan: (menambahkan) Tapi di Indonesia, ketiga tipe ini sering bercampur aduk. Ada politisi yang memanfaatkan tradisi, membangun karisma, tapi mengabaikan legalitas dan rasionalitas. Mereka menggunakan kekuasaan bukan untuk melayani rakyat, tapi untuk memperkaya diri.

Ferry Lesmana menyesap kopinya, lalu meletakkan gelas dengan agak keras.

Ferry Lesmana: Uda, Weber juga membedakan dua tipe politikus: yang hidup untuk politik dan yang hidup dari politik. Di Tulung Selapan, kami punya contoh nyata—kepala desa yang membuka Pos Bantuan Hukum untuk rakyat miskin. Beliau tidak kaya, tidak punya mobil mewah, tapi beliau bekerja untuk rakyat. Itu hidup untuk politik. Tapi politisi yang lain? Mereka hidup dari politik, mobil mewah, rumah besar, anak sekolah di luar negeri. Itu dari uang rakyat!

Juliansyah: (menambahkan) Saya setuju, Kak Ferry. Di Ogan Ilir, program Makan Bergizi Gratis yang katanya untuk rakyat, anggarannya Rp223 triliun diambil dari anggaran pendidikan, melanggar amanat konstitusi 20% untuk pendidikan. Rakyat yang seharusnya mendapat makan gratis, malah kehilangan hak pendidikan. Itu contoh politisi yang hidup dari politik, mereka menghitung keuntungan, bukan kerugian rakyat.

Ade Indra Chaniago: (mengangguk) Weber juga merumuskan tiga kualitas seorang politisi sejati:

Pertama, gairah (Leidenschaft), pengabdian yang sungguh-sungguh kepada suatu “perkara”. Bukan gairah yang dangkal, tapi gairah yang berkomitmen.

Kedua, rasa tanggung jawab (Verantwortungsgefühl), kesediaan memikul tanggung jawab atas konsekuensi tindakan politik.

Ketiga, proporsionalitas (Augenmab), kemampuan menjaga jarak terhadap realitas, melihat hal-hal secara proporsional.

Weber memperingatkan: kesombongan (Eitelkeit) adalah kelemahan terbesar seorang politikus. Kesombongan membuat politikus kehilangan obyektivitas, ia tidak lagi melayani perkara, tapi melayani citra dirinya sendiri.

Andi Wijaya: (menyambar) Itu persis yang terjadi di Indonesia, Uda! Politisi kita sibuk membangun citra di medsos, poster, baliho. Mereka haus akan pengakuan, tapi tidak bertanggung jawab atas rakyat. Weber menyebut ini politik sebagai pertunjukan teater kosong tanpa substansi.

Suara azan Ashar dari masjid masih bergema di kejauhan. Ade Indra Chaniago menatap ke arah kubah masjid.

Ade Indra Chaniago: Dan bagian paling terkenal dari pidato Weber adalah dua etika politik:

Etika keyakinan (Gesinnungsethik), seorang politikus hanya peduli pada kesucian niat dan prinsipnya, tanpa memedulikan konsekuensi nyata. Ia berkata: “Saya sudah berniat baik, urusan akibat serahkan pada Tuhan.”

Etika tanggung jawab (Verantwortungsethik), seorang politikus harus memperhitungkan konsekuensi yang dapat diramalkan dan bersedia memikul tanggung jawab.

Weber menekankan: “Etika keyakinan dan etika tanggung jawab bukanlah kutub yang saling bertentangan, mereka saling melengkapi, dan bersama-sama mereka membentuk manusia sejati yang dapat memiliki panggilan untuk politik.”

Ferry Lesmana: (mengangguk) Jadi, Uda, seorang politikus tidak bisa hanya mengandalkan niat baik, ia juga harus bertanggung jawab atas akibat tindakannya. Tapi politisi kita sering berlindung di balik niat baik, sementara rakyat menderita.

Juliansyah: Saya teringat Buya Hamka. Dalam Tafsir Al-Azhar, beliau mengingatkan bahwa pemimpin adalah amanah, bukan hadiah. Beliau berkata: “Berani menegakkan keadilan walaupun mengenai diri sendiri, adalah puncak segala keberanian.” Buya Hamka juga mengajarkan bahwa musyawarah bukan formalitas, tapi harus melahirkan keadilan konkret. Jika pemimpin mengabaikan musyawarah, dia berdosa.

Indra Darmawan: (membuka catatan) Dan Nurcholish Madjid mengingatkan: “Kebenaran tidak boleh dikorbankan untuk kepentingan sesaat. Demokrasi harus didasari oleh akhlak dan integritas.” Cak Nur juga mengatakan: “Demokrasi bukanlah soal jumlah suara, tetapi soal kualitas keadilan yang dihasilkan.” Di Indonesia, demokrasi hanya soal jumlah suara—tapi keadilan? Masih jauh.

Andi Wijaya: (bersemangat) Dan jangan lupa KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Beliau mengajarkan bahwa musyawarah harus dilakukan dengan hati yang sabar, mencari kebenaran, tidak boleh jemu sampai mendapatkan kebenaran dan persatuan yang hakiki. Beliau juga mengkritik keras sikap egoisme. Tapi sekarang, musyawarah di DPR hanya formalitas, yang menang bukan kebenaran, tapi suara terbanyak, dan suara terbanyak itu sering dibeli.

Matahari mulai tenggelam. Lampu-lampu masjid mulai menyala. Empat gelas kopi hampir habis.

Ferry Lesmana: (menunjuk ke arah masjid) Uda, saya jadi teringat nasihat Buya Hamka yang lain: “Janganlah engkau menjadi seperti anjing yang selalu menyalak, tetapi jangan pula menjadi seperti tikus yang diam di lubang.” Artinya, kita harus bersuara, tapi dengan kebijaksanaan. Di Tulung Selapan, kami sudah terlalu lama diam. Kami sudah terlalu lama membiarkan politisi mempermainkan kami.

Ade Indra Chaniago: (tersenyum) Dan di sinilah kita sampai pada penutup pidato Weber—yang paling terkenal dan paling mengharukan:

“Politik berarti mengebor papan keras dengan perlahan dan penuh ketekunan. Ia membutuhkan gairah dan proporsionalitas… Mampu menatap fakta-fakta ini, dan secara batiniah mampu menanggungnya, itulah yang termasuk dalam ‘politik realistis’. Seseorang hanya dapat mendengar ‘panggilan’ politik jika ia memiliki kekuatan, di tengah semua ini, untuk tetap berkata: ‘Namun demikian!'”

Indra Darmawan: (menambahkan) Weber mengingatkan bahwa dunia politik adalah dunia yang dingin, keras, dan penuh kompromi. Namun, justru dalam menghadapi kenyataan pahit itulah seorang politikus sejati membuktikan panggilannya, bukan dengan romantisme kosong, tapi dengan ketekunan, tanggung jawab, dan keberanian untuk tetap berkata “namun demikian!” terhadap semua kepahitan.

Ade Indra Chaniago mengangkat gelas kopinya yang terakhir. Malam mulai turun. Lampu-lampu masjid menerangi wajah mereka.

Ade Indra Chaniago: Saudara-saudara, mari kita simpulkan sore ini di bawah bayang Masjid Takwa ini.

Pertama, Max Weber mengajarkan bahwa politik adalah panggilan jiwa, bukan sekadar profesi. Politisi sejati hidup untuk politik, bukan hidup dari politik. Mereka memiliki gairah, tanggung jawab, dan proporsionalitas, serta mereka menghindari kesombongan.

Kedua, Weber membedakan dua etika: etika keyakinan dan etika tanggung jawab. Seorang politikus sejati tidak bisa hanya mengandalkan niat baik, ia harus bertanggung jawab atas konsekuensi tindakannya.

Ketiga, para tokoh Islam Indonesia, Buya Hamka, Cak Nur, KH. Ahmad Dahlan, semua mengajarkan bahwa pemimpin adalah amanah, bahwa musyawarah adalah kewajiban, dan bahwa keadilan adalah tujuan negara. Politik tanpa moral adalah pengkhianatan terhadap agama dan rakyat.

Keempat, kita punya contoh nyata penggusuran di Ogan Ilir, kasus Lampung Selatan, program makan bergizi yang merampok anggaran pendidikan, semua ini adalah bukti bahwa politisi kita gagal dalam panggilan mereka. Mereka hidup dari politik, bukan hidup untuk politik.

Kelima, tapi kita tidak boleh menyerah. Seperti kata Weber: “Namun demikian!” (dennoch!). Di tengah semua kepahitan, kita harus tetap berkata: namun demikian, kami tetap berjuang. Namun demikian, kami tetap bersuara. Namun demikian, kami tetap percaya pada keadilan.

Ade Indra Chaniago berhenti, menatap keempat sahabatnya satu per satu. Angin malam membawa bau khas masjid dan rempah-rempah.

Ade Indra Chaniago: Pesan kehidupan saya untuk kita semua:

“Politik bukanlah soal siapa yang duduk di kursi kekuasaan. Politik adalah soal siapa yang berani menegakkan keadilan ketika tidak ada yang melihat. Politik adalah soal siapa yang tetap mendengar suara rakyat kecil ketika semua orang sibuk mendengar suara uang. Politik adalah soal siapa yang bersedia, seperti Max Weber mengebor papan keras dengan ketekunan, dan di tengah semua kekecewaan, tetap berkata: ‘Namun demikian!'”

“Mari kita mulai dari yang kecil, dari warung kopi ini, dari Masjid Takwa ini, dari Tulung Selapan, dari Ogan Ilir, dari 32 Ilir. Karena seperti kata Weber: ‘Politik berarti mengebor papan keras dengan perlahan dan penuh ketekunan.’ Dan seperti kata Buya Hamka: ‘Berani menegakkan keadilan walaupun mengenai diri sendiri, adalah puncak segala keberanian.'”

“Dan ingatlah: Masjid Takwa yang kita lihat ini adalah saksi bahwa di Palembang, masih ada yang percaya pada keadilan, pada amanah, dan pada panggilan politik yang sejati.”

Ferry, Juliansyah, dan Andi Wijaya mengangguk perlahan. Indra Darmawan menutup buku catatannya. Di kejauhan, suara anak-anak mengaji mulai terdengar lagi dari masjid.

Ferry Lesmana: (tersenyum) Uda, saya akan bawa ini ke Tulung Selapan. Saya akan mulai berbicara. Saya akan mengajak tetangga saya berdialog. Dan saya akan ingat kata Weber: “Namun demikian!”

Juliansyah: (mengangguk) Dan saya akan sampaikan ke masyarakat Ogan Ilir. Bahwa politisi yang hidup dari politik harus kita tolak. Kita harus memilih mereka yang hidup untuk politik, mereka yang memiliki gairah, tanggung jawab, dan proporsionalitas.

Andi Wijaya: (bersemangat) Saya akan tulis ini, Uda. Biar orang lain tahu bahwa di Masjid Takwa ini, ada percakapan tentang politik sebagai panggilan, dan bahwa panggilan itu belum mati di negeri ini.

Ade Indra Chaniago: (berdiri, merapikan kemeja) Mari kita pulang. Tapi ingat: perjuangan menegakkan politik sebagai panggilan tidak pernah usai. Ia hanya berganti bentuk. Seperti kopi di gelas ini pahit, tapi menghangatkan. Seperti politik di negeri ini rumit, tapi masih bisa diperbaiki. Dan seperti Masjid Takwa ini, ia mengingatkan kita bahwa politik harus dilandasi takwa, bukan keserakahan.

Mereka melangkah keluar dari warung kopi. Di belakang mereka, lampu-lampu Masjid Takwa menyala terang menyaksikan percakapan tentang panggilan politik, keadilan, dan amanah di negeri yang masih berjuang untuk menemukan jalannya.

Palembang, 7 Juli 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen