JARI : Dari Athena ke Palembang “Kebajikan dan Realitas Politik”

JARI : Dari Athena ke Palembang “Kebajikan dan Realitas Politik”

 

Sebuah kafe sederhana di tepi Sungai Musi, Palembang, sore hari. Indra Darmawan dan Ade Indra Chaniago duduk sambil menikmati kopi robusta lokal. Sebuah artikel tentang novel Alcibiades karya Ilja Leonard Pfeijffer terbentang di atas meja.

 

Ade Indra Chaniago: (Menyipitkan mata membaca judul) “Di manakah para filsuf?” Ini pertanyaan yang menggelitik, Dinda. Novel ini mengupas tuntas hubungan Socrates dan Alcibiades, tapi Pfeijffer berani membalikkan logika. Socrates yang biasanya selalu menang dalam dialog Plato, di sini justru “dikalahkan” oleh Alcibiades yang tua. Filsuf modern seperti Arendt dipakai untuk membantah sang guru besar.

Indra Darmawan: (Menghela napas, mengambil koran) Uda, ini bukan sekadar soal debat kuno di Athena. Bagi saya yang setiap hari berurusan dengan realitas jalanan, demo buruh, dan negosiasi di DPRD Palembang, kisah Alcibiades ini cermin pahit politik kita. Socrates bilang politik harus didasari “pengenalan diri” (know thyself) dan kebajikan. Alcibiades muda setuju, tapi kemudian mengkhianatinya. Ironisnya, Pfeijffer justru membela pengkhianatan itu dengan alasan realitas politik!

Ade Indra Chaniago: Nah, di situ letak pesonanya. Pfeijffer menggunakan Hannah Arendt, seorang filsuf modern, untuk membedahnya. Arendt membedakan homo faber (manusia sebagai perajin) dan homo politicus (warga negara). Socrates, dalam novel ini, dituduh memperlakukan politik seperti kerajinan: ada ukuran baku, ada kebenaran tunggal. Padahal, menurut Alcibiades versi Pfeijffer, politik itu soal opini, persuasi, dan keriuhan “sekumpulan katak” di majelis rakyat. Di Palembang hari ini, apakah kita punya ruang untuk opini itu? Atau kita terjebak pada “kebenaran” tunggal kelompok tertentu?

Indra Darmawan: Justru itu yang membuat saya gerah, Uda. Di Palembang ini, kita lihat sendiri. Politik kita masih didominasi oleh dinasti dan oligarki. “Sekumpulan katak yang berisik” yang dimaksud Socrates itu mungkin mirip dengan rakyat kecil yang suaranya tak pernah didengar di DPRD. Alcibiades dalam novel ini mengatakan, “tidak ada tempat untuk oposisi absolut antara kebenaran dan kebohongan.” Kalau diterjemahkan ke bahasa kita, ini bisa menjadi pembenaran atas pragmatisme politik.

Lihat saja Pilkada Palembang beberapa waktu lalu. Relasi kuasa, transaksional, dan “kebenaran” menjadi barang yang sangat elastis. Kalau Alcibiades ada di sini, dia mungkin akan bilang, “Saya membelot ke Sparta atau Persia demi menjaga kepentingan Athena.” Di sini, orang pindah partai atau mendukung calon lain bukan karena idealisme, tapi karena “itu politik, Uda.” Filsuf mana yang berani menyuarakan etika di tengah situasi ini?

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : “Menjinakkan Konflik, Merawat Perselisihan”

Ade Indra Chaniago: Tapi Dinda, kalau kita bicara soal “pengkhianatan” terhadap idealisme, saya justru melihat fenomena lain yang tak kalah mengkhawatirkan. Bukan hanya politisi, tapi juga sebagian aktivis. Alcibiades muda setuju pada Socrates lalu mengkhianatinya demi kekuasaan. Hari ini, kita saksikan sendiri bagaimana sebagian aktivis yang dulu lantang menyuarakan reformasi, turun ke jalan dengan penuh idealisme setelah mendapat posisi, akses, atau proyek, tiba-tiba bungkam. Bahkan, ada yang lebih sibuk mengurus proyek pribadi, memperkaya diri, atau membangun dinasti keluarga, sementara rakyat yang dulu dibelanya kini dilupakan. Mereka menjadi “Alcibiades-Alcibiades kecil” di Palembang. Bukankah itu bentuk pengkhianatan yang lebih halus namun sama merusaknya?

Indra Darmawan: (Menghela napas panjang, terdiam sejenak) Uda menyentuh luka paling dalam di gerakan kita. Saya akui, itu adalah ironi pahit. Dulu, kita sama-sama turun ke jalan tahun 1998, mendobrak tirani. Sekarang, sebagian kawan justru menjadi bagian dari sistem yang mereka lawan, bahkan melebihi ambisi Alcibiades. Alcibiades setidaknya punya argumen bahwa ia membelot demi “kepentingan Athena.

Ade Indra Chaniago: Begitulah kondisinya Dinda. Sebagian aktivis kita hari ini, apa argumennya? Jabatan komisaris, proyek reklamasi di Jakabaring, atau sekadar kursi di dewan. Mereka bukan lagi “perajin kebenaran” ala Socrates, tapi pedagang kekuasaan. Yang menyedihkan, mereka tetap menggunakan jargon perjuangan, padahal perutnya sudah kenyang. Rakyat menjadi korban utama. Inilah “pengkhianatan” versi Palembang.

Indra Darmawan: Nah, di sinilah letak pentingnya dialog kedua antara Socrates dan Alcibiades dalam novel itu. Socrates mengakui kesalahannya karena belum pernah turun ke majelis rakyat. Tapi Alcibiades juga harus mengakui bahwa tanpa kompas moral, realitas politik yang ia bela itu bisa menjadi jurang keserakahan. Dalam konteks kita, filsuf, ulama, dan aktivis sejati harus berani mengingatkan: bahwa membelot dari idealisme demi kepentingan pribadi adalah khianat, bukan sekadar real politik.

Ade Indra Chaniago: Saya teringat diskusi dengan seorang ulama kharismatik di Palembang, K.H. Muhammad Zen. Beliau sering mengingatkan tentang konsep amanah dalam kepemimpinan. Beliau bilang, “Politik itu mulia jika diniatkan sebagai ibadah. Tapi yang terjadi sekarang, politik dijadikan mesin pencari kekuasaan. Para filsuf dan ulama diam, sementara rakyat bingung membedakan mana yang hak dan batil.” Dalam perspektif Islam, hubungan Socrates (guru) dan Alcibiades (murid) itu rusak karena tidak adanya ittiba’ (mengikuti jejak kebaikan). Ketika nasihat ditinggalkan, yang muncul adalah khianat (pengkhianatan). Termasuk pengkhianatan aktivis terhadap perjuangan rakyat.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : Demokrasi Dipilih Agar Rakyat Berdaulat

Indra Darmawan: Setuju. Tapi tokoh agama dan filsuf juga harus jujur. Kondisi sosial ekonomi di Palembang sekarang sedang tertekan. Inflasi, lapangan kerja sempit, pemutusan hubungan kerja di kawasan industri. Rakyat butuh solusi konkret, bukan hanya nasihat filosofis. Ketika seorang Alcibiades modern (baca: politisi) atau aktivis yang telah berubah haluan datang memberikan bantuan sembako, rakyat akan lupa pada kebajikan Socrates. Pfeijffer melalui novel ini seperti mengingatkan bahwa kita tidak bisa mengabaikan “psikologi” dan “emosi” massa yang dibangun oleh realitas politik yang keras. Tapi itu bukan alasan bagi kita baik aktivis, akademisi, maupun ulama untuk ikut-ikutan pragmatis. Justru di sinilah letak ujian: apakah kita akan menjadi Socrates yang konsisten atau Alcibiades yang oportunis?

Ade Indra Chaniago: Maka kita harus balik lagi ke pertanyaan awal: “Di manakah para filsuf?” Bagi saya, filsuf jangan diam. Mereka harus hadir seperti Hannah Arendt yang menjadi “reinkarnasi modern” dari Timandra (istri Alcibiades) dalam novel itu. Arendt mengingatkan bahwa ada kebenaran faktual yang harus dipertahankan dalam politik, meskipun politik itu sendiri adalah ranah opini. Di Palembang hari ini, filsuf, akademisi, dan tokoh agama perlu bersatu untuk menjembatani kebajikan Socrates dan realitas politik.

Contoh kecil, kita bisa membuat ruang diskusi publik yang lebih terbuka, tidak hanya di kampus, tapi di ruang-ruang publik seperti kafe atau bahkan di balai warga. Kita harus berani mengatakan bahwa “membelot demi kepentingan pribadi” bukanlah real politik, tapi pengkhianatan pada amanat rakyat. Juga bahwa aktivis yang mengkhianati idealismenya adalah bentuk kemunafikan yang lebih berbahaya daripada politisi yang terang-terangan pragmatis.

Indra Darmawan: Saya setuju, Uda. Kita butuh jembatan. Saya harus jujur pada konstituen. Tapi saya juga perlu “Socrates” untuk mengingatkan saya bahwa kekuasaan itu bukan tujuan. Dialog kedua antara Socrates dan Alcibiades dalam novel itu seharusnya menjadi contoh. Bahwa meskipun mereka berbeda, mereka tetap berbicara. Di Palembang, ruang dialog itu mulai menyempit. Polarisasi masih terjadi. Kalau kita tidak membangun jembatan ini, yang menang bukanlah kebajikan atau realitas, tapi kehancuran bersama seperti yang dialami Athena setelah Alcibiades. Dan bagi saya, mengingatkan kawan-kawan aktivis yang mulai “Alcibiades-an” adalah bagian dari membangun jembatan itu.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : “Menjinakkan Konflik, Merawat Perselisihan”

Ade Indra Chaniago: (Mengangguk) Dengan kata lain, kita tidak boleh memilih antara menjadi Socrates yang naif atau Alcibiades yang sinis. Kita harus menjadi kombinasi keduanya: memiliki prinsip kebajikan Socrates, tapi dengan pemahaman realitas politik ala Alcibiades. Dan di tengah-tengah, ada peran aktif perempuan dan rakyat biasa (Timandra) serta pemikiran modern (Arendt) yang menggerakkan. Jangan sampai kita justru menjadi aktivis “karbitan” yang hanya mementingkan proyek pribadi—mereka adalah karikatur Alcibiades tanpa kecerdasan dan pengorbanan.

Mari kita renungkan penutup novel itu. Socrates yang kalah argumentasi justru menjadi lebih bijak karena bersedia mendengar riuh rendah suara rakyat. Mudah-mudahan para filsuf, aktivis, dan tokoh agama di Palembang tidak lagi “diam.” Mari kita turun, dengar, dan suarakan etika dalam politik. Dan bagi yang sudah tersesat, mari kita ingatkan dengan lembut tapi tegas: “Kembalilah ke jalan perjuangan rakyat, karena di sanalah berkah sejati.”

Indra Darmawan: Saya setuju. Kalau Socrates saja mau turun ke majelis rakyat, kenapa kita tidak? Mari kita buktikan bahwa di Palembang, filsafat dan aksi sosial politik bisa berjalan beriringan untuk keadilan. Dan mari kita tunjukkan bahwa aktivis sejati adalah yang tetap tegak pada idealismenya, bukan yang luntur dimakan proyek dan jabatan. (Mereka berdua menyesap kopi, menatap Sungai Musi yang mengalir tenang, menyiratkan refleksi yang mendalam.)

 

Senin, 23 Maret 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen

Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan
Dosen Ilmu Sosial Politik, Pengamat, aktivis 98 – Pengamat, Penulis, dan aktivis 98