Gelitik JARI : Phenomenology of The Spirit

Gelitik JARI : Phenomenology of The Spirit

“Apa yang masuk akal adalah nyata dan apa yang nyata adalah masuk akal.”

eorg Wilhelm Friedrich Hegel adalah filsuf terpenting idealisme Jerman abad ke-19. Inti dari hal ini adalah gagasan bahwa yang menjadi dasar realitas bukanlah materi, melainkan gagasan.

Fenomenologi Roh
Hegel adalah seorang idealis mutlak. Artinya dia percaya bahwa realitas sepenuhnya disusun oleh persepsi dan pikiran kita. Dalam bukunya yang sulit diakses, Phenomenology of the Spirit (1807), Hegel menyajikan sejarah akal sebagai suatu proses dialektis, suatu perkembangan yang didasarkan pada kontradiksi.

‘Tesis’ dan negasinya (‘antitesis’) selalu didamaikan dalam ‘sintesis’ yang lebih tinggi. Sintesis tersebut pada gilirannya membentuk titik awal bagi negasi-negasi baru menuju sintesis yang lebih tinggi, dan seterusnya. Dengan cara ini kita semakin dekat dengan gagasan tertinggi, yang oleh Hegel secara bergantian disebut Yang Absolut, Roh, atau Akal.

Menurut Hegel, adalah mungkin untuk mengetahui segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal kita. Oleh karena itu, dengan Fenomenologi ia tidak hanya ingin memahami sejarah akal secara lengkap, tetapi juga melengkapinya. Ia percaya bahwa tugas filsuf adalah ‘menunjukkan’ bagaimana akal berkembang. Hal ini juga terlihat dari struktur Fenomenologi yang ketat : dimulai dengan persepsi objek, dan kemudian, melalui metode dialektis, berakhir pada bab-bab tentang kesadaran diri, alam, budaya, agama, dan akhirnya ‘Pengetahuan Absolut’.

Pengakuan
Georg Hegel juga mendasarkan filsafat sosial dan politiknya pada metode dialektis. Kata kunci penting adalah ‘pengakuan’: kita bergantung pada pengakuan orang lain untuk menganggap diri kita sebagai individu. Hal ini mengakibatkan perebutan pengakuan antara apa yang disebut Hegel sebagai ‘penguasa’ dan ‘pelayan’. Oleh karena itu, menurut Hegel, penting agar masyarakat ideal memfasilitasi pengakuan timbal balik sebanyak mungkin.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : Filsafat Yunani dan Ma'rifatullah

Dalam Garis Besar Filsafat Hukum (1821), Hegel menjelaskan tiga tingkatan di mana pengakuan terjadi: keluarga, masyarakat sipil, dan negara. Hegel percaya bahwa pada masanya warga negara sedang berkonflik dengan masyarakat dan negara. Mereka tidak bekerja sama, tapi saling bertentangan. Namun, jika sejarah akal budi selesai dengan sendirinya, masyarakat ideal akan terwujud: ketiga tingkatan tersebut akan bersama-sama membentuk satu kesatuan organik.

Setelah kematian Hegel pada tahun 1831, filsafat politiknya telah ditafsirkan dengan berbagai cara. Saat ini, Hegelian kiri dan kanan masih ada.

Palembang, 05 Oktober 2024
Gesah Politik Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan K