JAKARTA – Anies Baswedan kini menjadi tokoh yang paling banyak dibicarakan di Indonesia. Ia diidolakan oleh lintas generasi dan kalangan. Apalagi setelah ia menginisiasi misi “perubahan” untuk Indonesia yang lebih baik di Pilpres 2024.
Namun, yang tak banyak tahu adalah karya Anies Baswedan. Anies pernah menerbitkan satu buku dengan judul: Merawat Tenun Kebangsaan. Buku setebal 251 halaman itu terbit pertama pada tahun 2015 lalu.
kebangsaan. Hukum harus tegas terhadap mereka,” katanya.
Anies melanjutkan, dalam bab “Demokrasi” ada tulisan “Menjadi Mantan Presiden. Mengulas tindakan George Washington, presiden Amerika pertama, yang memilih menjadi negarawan ketimbang menjadi presiden lagi, padahal kesempatan terbuka lebar untuknya.
Tulisan ini terbit pada 2 Februari 1998 ketika Indonesia memasuki masa pemilihan presiden dan Golkar mengajukan kembali Soeharto sebagai calon presiden. “Saya sengaja tak mencantumkan nama Soeharto dalam tulisan itu, tapi rata-rata pembaca menilai bahwa saya sedang mengkritik Soeharto. Dan itu benar,” katanya.
“Buku ini juga merangkum catatan perjalanan. Sepulang dari menempuh perjalanan, saya kadang mencatat pengalaman saya. Catatan-catatan itu ada yang saya simpan sendiri dan ada pula yang langsung saya siarkan di media, seperti kisah Ban Tan dan Surin Pitsuwan, mantan Sekjen ASEAN. Terkesan dengan kisah Surin dan pesantren milik keluarga besarnya di Thailand, saya langsung menulis catatan itu di pesawat dalam perjalanan pulang dari Bangkok menuju Jakarta,” jelasnya.
Belakangan, Anies juga menulis surat terbuka untuk umum, seperti ajakan untuk menjadi Pengajar Muda di Gerakan Indonesia Mengajar, Kelas Inspirasi, dan Gerakan Turun Tangan. Gagasannya, tulisan yang menggunakan format surat lebih bisa mengungkapkan sesuatu dengan lebih akrab, seperti berbicara kepada kawan atau sahabat.
Selain itu, dalam bab “Tokoh Inspirasi”, Anies menulis tentang mereka yang menginspirasi dirinya, seperti Surin Pitsuwan, Pak Koesnadi Hardjasoemantri, dan ada juga Pengajar Muda, Aditya Prasetya.
“Semua tulisan ini ditutup dengan “Pancasila Pengikat Tenun Kebangsaan”. Semula, ini bahan ceramah untuk Forum Komunikasi TNI-Gerakan Pemantapan Pancasila. Tulisan ini menjadi peneguh agar kita tetap menjaga tenun kebangsaan dengan erat dan betapa negeri ini beruntung karena memi liki nilai Pancasila sebagai pemersatu, sebagai pengikat tenun kebangsaan,” ujarnya. [Kba/Kf]