JARI: Mereka Lupa Ideologi Sendiri
Rumah Makan Gumarang di Jalan Makrayu, Palembang. Lantai keramik putih agak licin karena sering dipel. Meja-meja kayu berat dengan alas plastik kotak-kotak merah putih. Di dinding, poster masakan Padang: rendang, ayam pop, gulai tunjang, sambal ijo. Aroma rendang dan bumbu rempah bercampur dengan asap rokok kretek dan uap kopi tubruk.
Hari sudah malam. Lampu TL 40 watt menerangi ruangan yang mulai sepi. Di meja pojok, lima orang duduk melingkar. Piring-piring nasi Padang sudah setengah habis. Es jeruk dan kopi hitam masih tersisa. Satu piring pempek kapal selam (kuliner Palembang) diletakkan di tengah sebagai camilan tambahan.
Andi Wijaya: Silakan tambah rendang. Di Gumarang ini, rendangnya empuk, bumbunya meresap. Saya sudah langganan sejak anak saya masih kecil.
Ferry Lesmana: Terima kasih, Andi. Kita malam ini bukan hanya makan, tapi juga membedah “Para Politisi Seringkali Buta terhadap Ideologi Mereka Sendiri” wawancara dengan Ronald van Raak, filsuf dan politisi Belanda dari Partai Sosialis (SP).
Juliansyah: Saya sudah baca artikelnya, pinjam bukunya Kak Indra. Van Raak bilang bahwa dua puluh tahun terakhir adalah periode paling ideologis, tapi para politisi justru buta akan ideologi mereka sendiri. Mereka mengaku pragmatis, padahal sedang menjalankan neoliberalisme dengan sangat fanatik.
Ade Indra Chaniago: Ini fenomena global, termasuk Indonesia. Para politisi kita juga sering mengaku “bekerja berdasarkan fakta” atau “tidak berideologi”, padahal mereka sangat ideologis. Mereka hanya tidak sadar. Van Raak menyebutnya “buta ideologi” suatu kondisi di mana ideologi menjadi begitu dominan sehingga tidak tampak lagi sebagai ideologi, tapi dianggap sebagai “keniscayaan” atau “zaman”.
Indra Darmawan: Mari kita bedah satu per satu. Artikel ini penuh dengan wawasan penting. Tapi sebelum itu, saya ingin semua tahu: Ronald van Raak ini bukan politisi biasa. Ia meraih gelar PhD tentang pemikir konservatif Belanda abad-19, tapi ia sendiri sosialis. Ia anggota SP (Partai Sosialis) Belanda, aktif di DPR sejak 2006. Bukunya Denkers op de dijken mengupas sejarah filsafat Belanda dari Abad Pertengahan hingga sekarang.
Ferry Lesmana (menyendok es jeruk): Dalam artikel, Van Raak menyebut tokoh awal Santo Odulphus (sekitar 830 M) yang menyelaraskan para pembangkang di Stavoren dengan Katolik. Tapi ia juga bicara tentang Johan van Oldenbarnevelt, negarawan Belanda yang dibunuh karena memperjuangkan toleransi. Ceritanya, Uda?
Ade Indra Chaniago (menghela napas): Oldenbarnevelt adalah pahlawan yang tragis. Pada abad ke-17, Belanda sedang berperang melawan Raja Spanyol. Maurice dari Orange ingin memaksa Calvinisme yang ketat dari atas, mempersatukan rakyat dengan kekerasan ideologis. Sebaliknya, Oldenbarnevelt menghendaki “persatuan dari bawah” dengan memberi tempat bagi minoritas. Ia percaya pada “kompromi dan kompromi” serta “persatuan dalam keberagaman”. Karena pandangannya itu, ia dipenggal kepalanya di Binnenhof tahun 1619.
Juliansyah (mencatat): Mirip dengan Indonesia, Uda. Kita punya perdebatan abadi: apakah persatuan harus dipaksakan dengan ideologi tunggal yang kaku, ataukah dibangun dari bawah dengan mengakui keberagaman? Bung Karno dulu memilih yang kedua: Pancasila sebagai “persatuan dalam keberagaman”. Tapi hari ini, ada kelompok yang ingin memaksakan satu tafsir agama atau ideologi tertentu kepada seluruh bangsa.
Andi Wijaya (mengangguk): Di Palembang, kita hidup rukun beda agama dan suku sejak dulu. Itu warisan Kesultanan Palembang yang toleran. Tapi sekarang, isu-isu intoleransi mulai masuk. Contohnya, beberapa tahun lalu ada penolakan pembangunan rumah ibadah minoritas di kawasan IB II. Padahal, di tempat itu dulu semua rukun.
Indra Darmawan (menambahkan): Van Raak menegaskan bahwa ide-ide Oldenbarnevelt tentang toleransi tidak hilang meskipun ia dibunuh. Itulah yang kemudian melahirkan tradisi Belanda yang dikenal toleran. Tapi jangan lupa, toleransi ala Belanda juga punya batasnya. Mereka bisa sangat keras terhadap perbedaan pendapat, terutama di era perang.
Ferry Lesmana (mematikan rokok di asbak, mengambil pempek kapal selam):
Van Raak mengaku sebagai “Spinozist”. Ia memuja Spinoza sebagai filsuf terpenting Belanda, bahkan dunia. Tapi ia juga mengatakan, “Spinoza terlalu agung untuk Belanda”. Maksudnya?
Ade Indra Chaniago (tersenyum): Spinoza (1632-1677) adalah filsuf Yahudi-Portugis yang tinggal di Belanda. Ia mengembangkan sistem filsafat yang sangat rasional, abstrak, dan menyeluruh. Ia membahas Tuhan, alam, kebebasan, kebahagiaan, etika, dan politik dalam satu kerangka yang koheren. Bayangkan: baginya, Tuhan tidak berbeda dengan alam (Deus sive Natura). Ini panteisme, yang membuatnya dikucilkan oleh komunitas Yahudi dan Kristen.
Juliansyah (terkejut): Pantesan ia difitnah selama dua abad!
Indra Darmawan (meneruskan): Van Raak mengatakan bahwa orang Belanda suka filsafat yang praktis, tidak abstrak. Mereka ingin wawasan yang bisa langsung dipakai untuk hidup bahagia. Teori abstrak seperti Spinoza dipecah-pecah pada akhir abad ke-19 oleh Johannes van Vloten dan Multatuli menjadi filsafat hidup yang praktis. Baru kemudian populer. Ini pola yang sama: Geert Groote dengan Devosi Modern yang mengajarkan kebajikan praktis; Isaac Newton yang pemikirannya dikembangkan menjadi doktrin moral oleh ‘s-Gravesande.
Andi Wijaya (menggaruk kepala): Jadi, orang Indonesia juga seperti itu, Uda? Kita suka yang praktis-praktis. Filsafat dianggap mumet, nggak jelas gunanya.
Ade Indra Chaniago (tertawa kecil): Iya, Andi. Di kampus, filsafat sering dianggap “ilmu yang ngawang-ngawang”, tidak ada gunanya untuk cari kerja. Padahal, justru filsafat melatih kita berpikir kritis, melihat asumsi-asumsi tersembunyi, dan memahami ideologi yang kita hidupi setiap hari. Ronald van Raak mengatakan, “Bertanya langsung tentang kegunaan praktis adalah pertanda buruk bagi filsafat”. Karena filsafat harus berupaya mencapai sintesis besar, koheren, dan menyeluruh. Sayangnya, itu tidak selalu menjadi bagian dari tradisi Belanda dan mungkin juga tradisi Indonesia.
Ferry Lesmana menyalakan rokok baru. Andi memesan tambahan es jeruk dan kopi hitam. Pelayan membawa pisang goreng hangat sebagai camilan.
Juliansyah: Kita sudah bicara Spinoza. Sekarang, tolong tambahkan pendapat tokoh filsuf dunia lainnya dan tokoh sufi Islam. Agar diskusi ini lebih kaya.
Indra Darmawan (membuka catatan tebal): Baik. Pertama, dari Baruch Spinoza sendiri. Ia mengajarkan tentang conatus , setiap hal berusaha mempertahankan eksistensinya. Kebebasan bukan berarti tanpa kendala, tapi memahami keniscayaan dan hidup selaras dengannya. Ia juga berargumen bahwa demokrasi adalah bentuk pemerintahan terbaik karena paling sesuai dengan nalar. Namun, ia bukan pendukung pasar bebas seperti yang diklaim kaum neoliberal. Ia membandingkan manusia dengan batu yang dilemparkan ke udara: batu itu tidak menentukan sendiri ke mana ia jatuh. Kita bisa berusaha lebih berbudi luhur, tapi tidak pernah sepenuhnya bebas.
Ferry Lesmana: Lalu dari tradisi Islam?
Ade Indra Chaniago (mengusap lensa kacamata): Kita punya Ibnu Sina (Avicenna, 980-1037) dengan filsafatnya yang sangat rasional, mirip Spinoza dalam hal upaya membangun sistem yang koheren antara Tuhan, alam, dan manusia. Ia juga dibenci oleh kaum konservatif pada zamannya karena dianggap terlalu abstrak.
Lalu Al-Ghazali (1058-1111) yang awalnya seorang filsuf rasionalis, tapi kemudian menulis Tahafut al-Falasifah (Keruntuhan Para Filsuf) yang mengkritik kecenderungan filsafat terlalu abstrak dan jauh dari pengalaman spiritual. Namun, Al-Ghazali bukan anti-filsafat; ia justru ingin menyelaraskan rasio dan hati. Ia mengajarkan bahwa pengetahuan tertinggi tidak hanya dari akal, tapi dari dzauq (rasa langsung) dan kasyf (penyingkapan ilahi). Mirip dengan kritik Van Raak bahwa filsafat harus menjadi sintesis, bukan sekadar spesialisasi yang kering.
Andi Wijaya (terkejut): Berarti Al-Ghazali setuju dengan Van Raak bahwa filsafat tidak boleh hanya abstrak tanpa makna hidup?
Indra Darmawan (mengangguk): Tepat. Dan kemudian Ibnu Arabi (1165-1240) dengan konsep wahdat al-wujud (kesatuan wujud). Ia mengatakan bahwa realitas sejati adalah satu, dan segala sesuatu adalah manifestasi dari Yang Esa. Ini mirip dengan panteisme Spinoza, tapi dalam bingkai Islam yang lebih spiritual. Ibnu Arabi juga sangat abstrak dan sulit dipahami, sehingga banyak dikritik. Tapi pengaruhnya luar biasa di dunia sufi, termasuk di Nusantara, lihat saja ajaran Hamzah Fansuri di Aceh abad ke-17.
Juliansyah (mencatat cepat): Lalu Jalaluddin Rumi (1207-1273). Beliau lebih puitis, tapi juga filosofis. Rumi berkata, “Engkau bukan setitik air dalam lautan; engkau adalah seluruh lautan dalam setitik air.” Ini ajaran tentang potensi manusia yang tak terbatas. Rumi juga mengajarkan bahwa perbedaan agama adalah “nama-nama berbeda dari cahaya yang sama”. Ini sangat relevan dengan ide toleransi Oldenbarnevelt dan Pancasila.
Ade Indra Chaniago (meneguk kopi): Semua tokoh sufi ini, seperti Spinoza, menghadapi tantangan yang sama: karya mereka terlalu besar, terlalu abstrak, sehingga sering disederhanakan atau diabaikan. Baru ketika dipecah-pecah menjadi ajaran praktis (zikir, suluk, etika sehari-hari), mereka menjadi populer. Pola yang sama persis dengan yang Van Raak catat di Belanda.
Es jeruk di gelas Juliansyah hampir habis. Feri memotong pempek kapal selam untuk semua.
Ferry Lesmana: Bagian paling tajam dari artikel Van Raak adalah kritiknya terhadap neoliberalisme. Ia bilang, dua puluh tahun terakhir merupakan periode paling ideologis, tapi para politisi buta terhadap ideologi mereka sendiri. Mereka menganggap diri pragmatis, padahal mereka adalah penganut fanatik pasar bebas, privatisasi, dan pengalihan tugas.
Andi Wijaya (mengangguk-angguk): Di Indonesia, kita juga merasakan itu. Pemerintah Orde Baru awalnya anti-neoliberal, tapi sejak reformasi, gelombang privatisasi BUMN, liberalisasi perdagangan, dan pengalihan layanan publik ke swasta masif terjadi. Politisi kita bilang, “Itu tuntutan globalisasi”, “Itu kebutuhan zaman”, seolah tidak ada alternatif. Padahal, itu adalah ideologi.
Juliansyah (menambahkan): Contoh nyata: kebijakan hapusnya tenaga honorer guru dan tenaga kesehatan. Mereka dialihkan menjadi PPPK dengan sistem kontrak yang tidak jelas. Banyak guru honorer puluhan tahun tiba-tiba di-PHK. Pemerintah bilang, “Ini efisiensi anggaran”. Tapi efisiensi untuk siapa? Mengapa tidak mengangkat mereka menjadi PNS tetap? Karena ideologi neoliberal menganggap bahwa tenaga kerja fleksibel lebih “efisien”. Padahal, para guru itu kehilangan kepastian hidup.
Ade Indra Chaniago (suara berat): Van Raak menyebut fenomena ini sebagai “politik telah menjauhkan diri dari rakyat”. Ia mengatakan, “Terkadang dikatakan bahwa orang-orang telah menjauhkan diri dari politik, tetapi yang terjadi justru sebaliknya: politik telah menjauhkan diri dari rakyat melalui politik pengalihan tugas, liberalisasi, dan privatisasi”.
Indra Darmawan (menambahkan data): Di Sumsel, kita lihat bagaimana privatisasi air bersih di beberapa daerah gagal. PDAM diserahkan ke swasta, tapi tarif naik, kualitas tidak membaik. Rakyat kecil kesulitan akses air bersih. Atau privatisasi pelabuhan di Boom Baru Palembang diserahkan ke operator swasta, tetapi nasib buruh pelabuhan lokal tidak terjamin. Mereka kehilangan pekerjaan karena digantikan alat dan kontraktor luar.
Ferry Lesmana (menghela napas): Van Raak juga menyindir kaum neoliberal yang mengaku mengikuti Spinoza. Mereka baca kata “kebebasan” lalu langsung kaitkan dengan pasar bebas. Padahal Spinoza tidak percaya pada kebebasan mutlak. Van Raak berkata, “Spinoza tidak percaya pada manusia rasional yang dapat memutuskan sesuatu dengan kebebasan penuh”. Kebebasan bagi Spinoza adalah memahami determinisme dan hidup berbudi luhur.
Andi Wijaya (tertawa kecil): Jadi kaum neoliberal salah baca Spinoza. Sama seperti mereka salah baca Adam Smith. Smith tidak hanya bicara invisible hand, tapi juga moral sentiments. Ia mengajarkan bahwa pasar tanpa moral adalah biadab.
Ferry Lesmana meminta tambahan kopi hitam. Asbak sudah penuh. Pelayan diam-diam mengganti asbak baru.
Juliansyah: Van Raak juga mengkritik para filsuf akademis. Ia bilang, sejak Perang Dunia II, mereka menarik diri ke dalam spesialisasi, sehingga sulit menciptakan sintesis pemikiran besar. Akibatnya, mereka jarang terlibat debat publik. Apakah di Indonesia juga begitu?
Ade Indra Chaniago (mengangguk sedih): Sangat. Di kampus-kampus, para filsuf atau ilmuwan sosial kita sibuk dengan jurnal internasional, indeks sitasi, dan penelitian yang sangat sempit. Mereka enggan berbicara di media massa atau terlibat advokasi kebijakan. Ada yang bilang, “Itu bukan domain saya” atau “Saya hanya peneliti, bukan aktivis”. Padahal, masyarakat butuh pencerahan dari para intelektual. Van Raak memberi contoh Gerrit Mannoury, filsuf bahasa awal abad-20 yang juga komunis. Ia memastikan spesialisasinya (filsafat bahasa) menjadi bagian dari sintesis yang lebih besar, bahkan terkait dengan perjuangan politiknya.
Indra Darmawan (menambahkan): Di Indonesia, kita punya tokoh seperti Soedjatmoko (almarhum mantan Rektor UNPAD, duta besar, dan intelektual publik). Ia tidak pernah terkungkung spesialisasi. Ia berbicara tentang pembangunan, demokrasi, hak asasi manusia, dan kebudayaan secara utuh. Ia juga aktif dalam debat publik. Atau Mochtar Lubis yang meskipun sastrawan, ia berbicara tentang korupsi dan demokrasi. Tapi generasi sekarang? Jarang.
Ferry Lesmana: Jadi, filsafat dan ilmu-ilmu sosial di kampus perlu keluar dari menara gading, kembali ke rakyat. Seperti yang Van Raak lakukan: ia politisi yang tetap memegang teguh filsafatnya, tapi juga bersedia berkompromi untuk kemajuan partai.
Andi Wijaya meregangkan punggung. Piring-piring nasi Padang sudah kosong. Hanya pempek dan pisang goreng yang tersisa.
Andi Wijaya: Saya minta contoh konkret kebijakan neoliberal di Indonesia yang gagal dan merugikan rakyat. Bukan hanya teori.
Ade Indra Chaniago (menunjuk ke arah luar warung): Contoh klasik: kebijakan impor beras. Indonesia sebenarnya swasembada beras di era Soeharto, tapi sejak reformasi, tekanan IMF dan Bank Dunia memaksa kita membuka keran impor. Akibatnya, harga gabah petani anjlok. Banyak petani di Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, dan Banyuasin yang rugi. Mereka terpaksa menjual sawah atau beralih ke pekerjaan lain. Ironisnya, kita impor beras dari Vietnam dan Thailand, padahal sawah kita subur.
Indra Darmawan (menambahkan): Contoh lain: liberalisasi sektor energi. Kontrak bagi hasil minyak dan gas bumi yang terlalu menguntungkan asing. Di Sumsel, kita punya blok migas yang dikelola asing, tapi pendapatan daerah tidak maksimal. Rakyat di sekitar wilayah tambang tetap miskin. Privatisasi listrik juga gagal: swasta hanya mau masuk ke daerah menguntungkan (perkotaan), sementara daerah terpencil tidak tersentuh.
Juliansyah (menyambar): Di sektor kesehatan, BPJS Kesehatan yang setengah privat. Peserta mandiri iurannya naik terus, tapi layanan tidak membaik. Banyak rumah sakit swasta yang menolak pasien BPJS karena klaim mereka terlambat dibayar. Rakyat kecil jadi korban.
Ferry Lesmana (menghela napas): Van Raak mengatakan bahwa neoliberalisme sedang runtuh. Ia berkata, “Sekarang, tidak ada lagi yang tertawa ketika Anda mengatakan bahwa kekuatan pasar tidak cocok untuk layanan kesehatan dan bank sistemik”. Bahkan Mark Rutte (PM Belanda dari partai liberal) sudah mulai menjauhkan diri dari neoliberalisme. Tragedi bagi Van Raak adalah perubahan ini terjadi ketika ia akan meninggalkan politik.
Ade Indra Chaniago (tersenyum): Di Indonesia, kita juga melihat tanda-tanda keruntuhan itu. Misalnya soal kebijakan hilirisasi nikel yang dilarang Uni Eropa. Ini adalah upaya membebaskan diri dari dogma pasar bebas. Namun, masih panjang jalan. Karena para politisi dan birokrat yang terbiasa dengan neoliberalisme masih banyak.
Malam semakin larut. Rumah Makan Gumarang mulai sepi. Pelayan mulai membersihkan meja di sebelah.
Juliansyah: Van Raak mengaku sebagai anggota SP (Partai Sosialis). Ideologi SP didasarkan pada kesetaraan alamiah manusia. Apakah itu berbeda dengan ideologi sosialis pada umumnya?
Indra Darmawan: Kesetaraan alamiah manusia adalah keyakinan bahwa semua manusia dilahirkan setara dalam martabat dan hak. Perbedaan kelas, kekayaan, dan kekuasaan adalah hasil konstruksi sosial, bukan alamiah. SP memperjuangkan masyarakat yang lebih setara melalui kepemilikan publik atas alat-alat produksi, layanan kesehatan dan pendidikan gratis, serta upah minimum yang layak. Ini berbeda dengan sosialisme Marxis yang revolusioner; SP lebih moderat dan parlementer.
Ade Indra Chaniago (menyambung): Dalam Islam, konsep musawah (kesetaraan) sangat kuat. Nabi Muhammad bersabda dalam khutbah wada’: “Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab, kecuali dengan takwa.” Ini adalah pernyataan kesetaraan alamiah manusia. Namun, Islam juga mengakui perbedaan bakat dan usaha. Jadi bukan sosialisme egalitarian yang ekstrem, tapi kesetaraan dalam kesempatan dan perlakuan.
Andi Wijaya (bertanya): Apakah Van Raak pernah mengalami dilema antara filosofi pribadi dan ideologi partai?
Ferry Lesmana (menjawab): Ia bilang, filosofi pribadinya (Spinozist) dan ideologi SP sangat selaras, jadi tidak ada konflik. Namun, ia juga mengakui bahwa sebagai politisi, ia harus bisa memisahkan pribadi dari jabatan. Katanya: “Kita adalah wakil rakyat, bukan wakil diri sendiri. Anggota Parlemen cenderung sering melupakan hal itu.” Dan ia tidak akan mengangkat tangan untuk sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani. Jika dipaksa, ia akan keluar.
Juliansyah (mengangguk): Teladan yang baik. Di DPR kita, banyak anggota yang asal comot kebijakan, asal setuju dengan ketua fraksi, tanpa memikirkan hati nurani. Mereka lupa bahwa mereka mewakili rakyat, bukan partai atau diri sendiri.
Lampu di Rumah Makan Gumarang mulai diredupkan. Hanya lampu dapur yang masih terang. Pelayan pamit pulang, namun mengizinkan mereka tetap duduk.
Ferry Lesmana (merapikan catatan): Malam ini kita sudah menjelajahi dari Santo Odulphus hingga Spinoza, dari Al-Ghazali hingga neoliberalisme. Kesimpulan saya: politikus dan kita semua harus sadar akan ideologi yang kita anut. Jangan buta. Karena ideologi yang tidak disadari adalah yang paling berbahaya — ia bekerja seperti asap, meracuni tanpa terlihat.
Ade Indra Chaniago (berdiri sebentar, meluruskan kaki): Saya tambahkan: Van Raak mengajarkan bahwa filsafat harus kembali menjadi sintesis yang besar, bukan sekadar spesialisasi yang sempit. Para filsuf harus terlibat dalam debat publik. Dan kita, sebagai warga negara, harus berani menanyakan asumsi-asumsi di balik kebijakan publik. Jangan menerima “tuntutan zaman” atau “keniscayaan globalisasi” begitu saja.
Indra Darmawan (menutup catatan): Dari sufi Islam, kita belajar bahwa pengetahuan tanpa dzauq (rasa) dan amal (tindakan) adalah hampa. Spinoza juga mengajarkan bahwa kebebasan sejati adalah memahami keniscayaan dan hidup berbudi luhur. Maka, marilah kita tidak hanya menjadi penonton politik yang pasif. Mari kita tuntut agar politisi berhenti buta terhadap ideologi mereka sendiri. Dan mari kita bangun masyarakat yang lebih adil, setara, dan toleran seperti cita-cita Oldenbarnevelt, Spinoza, dan para sufi.
Juliansyah (mengangkat gelas es jeruk yang tersisa): Saya usul, kita tutup dengan kutipan dari Van Raak sendiri: “Ideologi neoliberalisme sedang runtuh. Saya telah mampu memberikan sedikit kontribusi untuk itu.” Semoga kita juga bisa berkontribusi, sekecil apa pun.
Andi Wijaya (tersenyum lebar): Amin. Sekarang, siapa yang mau pesan pempek dibungkus? Nanti dibawa pulang untuk anak istri.
Mereka tertawa kecil. Pesanan pempek dibungkus. Masing-masing membayar dengan iuran. Satu per satu meninggalkan Rumah Makan Gumarang di Jalan Makrayu. Udara malam Palembang terasa sejuk. Di kejauhan, lampu Jembatan Ampera berkelap-kelip.
Dialog panjang usai. Namun, perjuangan untuk menyadarkan politisi dan masyarakat akan ideologi mereka — baru dimulai.
Palembang, 18 Mei 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen