JARI: Leviathan di Tumpukan Barang Bekas
Sore hari, terdengar suara obeng dari bengkel mobil di samping gudang, Ade Indra Chaniago mengusap keringat di dahinya sambil memeriksa mobil sedan tuanya yang sedang didandani montir. Indra Darmawan duduk di kursi plastik sambil memegang botol teh botol. Rahman keluar dari gudangnya, wajahnya berseri meski baju lusuh terkena debu.
Rahman: (tersenyum lebar) Astaghfirullah, ada Dik Indra masuk ke gudang bekas saya! Ini kehormatan besar, Dik. Biasanya hanya pemulung dan pengepul kecil yang singgah.
Indra Darmawan: (tertawa) Maaf mengganggu, Pak Rahman. Saya ikut Uda Ade, mobilnya lagi kena masalah kopling. Saya lihat gudang Bapak rapi sekali. Sistem pengepulannya modern.
Ade Indra Chaniago: (menepuk-nepuk ban mobil) Pak Rahman ini luar biasa, Dinda Indra. Saya kenal dia sejak 1996, beliau baru lulus kuliah, zaman itu susah cari kerja. Dia nekad buka usaha pengepul barang bekas. Sekarang? Lihat sendiri dia punya tiga gudang, mempekerjakan empat puluh orang, kebanyakan anak putus sekolah.
Rahman: (merendah) Alhamdulillah, rezeki dari yang Maha Kuasa. Silakan duduk dulu, Pak, saya ambilkan kopi. Kebetulan baru dapat kiriman buku bekas dari perpustakaan daerah, mungkin Adik – adik tertarik.
(Rahman masuk ke gudang, kembali dengan nampan berisi kopi panas dan beberapa buku tua.)
Indra Darmawan: Buku ini… (mengambil satu buku) ini karya Al-Farabi, edisi lama! Bapak baca buku-buku seperti ini?
Rahman: Saya sarjana ekonomi, Pak, tapi sejak kuliah dulu memang gemar baca filsafat dan pemikiran Islam. Al-Farabi, Al-Mawardi, Ibnu Khaldun, sampai tokoh modern seperti Muhammad Abduh dan Ali Abdul Raziq. Waktu tidak dapat kerja setelah lulus, buku-buku ini yang membuat saya tidak frustrasi. Saya sadar, kesuksesan tidak selalu di kantor pemerintahan atau perusahaan asing.
Ade Indra Chaniago: (tersenyum) Nah, ini baru menarik. Saya tidak tahu Pak Rahman sedalam ini. Dinda Indra, kita lagi hangat-hangatnya membahas masalah klasik dalam filsafat politik. Kebetulan Pak Rahman paham pemikiran Islam, kita bisa diskusi panjang lebar.
Indra Darmawan: (menyandarkan kursi) Ya, kita sedang mengupas satu pertanyaan besar: Apakah politik itu pada dasarnya ketidakpercayaan yang terorganisir? Saya ingat satu pernyataan dari seorang warga bernama Keurmeester dalam forum digital, katanya, “Takut politisi hanya ingin memperkaya diri sendiri? Ketakutan itu tidak lekang oleh waktu.” Lalu dia menambahkan, “Kiri atau kanan, rata-rata sepuluh kali lipat, tetapi semuanya bisa diraih!”
Rahman: (menghela napas) Saya tahu persis perasaan itu, Dik. Sebagai pengepul barang bekas, saya setiap hari berurusan dengan orang-orang kecil, pemulung, pengemis, buruh harian lepas. Mereka semua punya pengalaman pahit dengan politisi. Janji manis saat kampanye, tapi setelah terpilih? Lupa daratan. Yang kaya makin kaya, yang miskin tetap miskin. Saya membaca buku “The Origins of Political Order” punya Francis Fukuyama. Beliau bilang, patrimonialisme, kecenderungan orang untuk mengutamakan keluarga dan teman dekat, itu sudah menjadi konstanta dalam sejarah politik. Buktinya, sejak zaman kerajaan sampai sekarang, masalahnya sama.
Ade Indra Chaniago: (mengangguk-angguk) Fukuyama memang melakukan lompatan besar dengan menghubungkan biologi, ekonomi, dan antropologi ke filsafat politik. Dia membuktikan bahwa keserakahan yang bersifat regeneratif itu nyata. Tapi pertanyaannya: adakah solusi? Mari kita lacak dari Socrates dulu.
Indra Darmawan: Socrates, dalam Politeia karya Plato, mengusulkan solusi yang sangat radikal. Katanya: pastikan para administrator tidak punya kepentingan pribadi sama sekali. Dalam negara ideal Socrates, hanya pekerja yang boleh memiliki harta pribadi dan keluarga. Para penguasa dan penjaga hidup atas biaya negara dalam semacam komune.
Rahman: (menyruput kopi) Saya ingat itu, Dik. Tapi saya geli sendiri membayangkannya. Socrates bahkan mengusulkan eugenika, katanya orang-orang terbaik harus melakukan hubungan seksual sebanyak mungkin, orang terburuk sesedikit mungkin. Anak-anak dari orang berbakat yang dibesarkan. Mereka bahkan dikasih “kebohongan mulia” bahwa mereka anak-anak bumi, bukan anak orang tua kandungnya.
Ade Indra Chaniago: (tertawa) Memasukkannya ke ranah utopia. Tapi yang menarik, Fukuyama menunjukkan bahwa poin-poin utama Socrates ini benar-benar dipraktikkan! Di Kekaisaran Ottoman, mereka mengembangkan sistem perbudakan militer yang canggih. Sejak awal abad keenam belas, mereka mengambil anak laki-laki Kristen terbaik dari Balkan, anak-anak ini tidak pernah bertemu orang tua mereka lagi. Mereka dilatih jadi tentara atau administrator di Istanbul. Mereka disebut Janissari.
Indra Darmawan: Betul. Mereka belajar bahasa, matematika, musik, kaligrafi, menunggang kuda, berkelahi. Yang paling cerdas bisa menjadi wazir agung, posisi kedua terkuat setelah sultan. Dan paradoksnya, mereka tetap budak. Hanya budak yang bisa diberi posisi tinggi karena mereka tidak punya kepentingan pribadi. Mereka tidak boleh punya properti. Fukuyama menyebut ini sebagai “rezim paling sukses yang pernah ada di dunia Islam.”
Rahman: (merenung) Tapi sistem itu gagal, kan, Dik indra? Saya baca di buku yang sama. Gagal karena peraturannya dilonggarkan. Para Janissari mulai diizinkan berkeluarga. Begitu punya istri dan anak, mereka punya insentif untuk mengumpulkan properti. Mereka mulai korupsi, memperkaya diri. Bahkan mereka bersatu jadi kelompok yang bisa menggulingkan sultan. Akhirnya Sultan Mahmoud II membakar barak mereka tahun 1826, melenyapkan empat ribu Janissari sekaligus.
Ade Indra Chaniago: Nah itu pelajaran berharga. Sistem yang dirancang untuk menghilangkan kepentingan pribadi tetap tidak bisa bertahan selamanya. Begitu manusia punya ikatan keluarga dan properti, keserakahan muncul kembali. Ini mengingatkan saya pada prinsip Islam, manusia memang diciptakan dengan kecenderungan mencintai harta. QS. Al-‘Adiyat ayat 8: “Wa innahu lihubbil khairi lasyadid” , dan sesungguhnya dia (manusia) sangat bakhil karena cinta harta.
Indra Darmawan: Hobbes, filsuf Inggris hidup di masa Perang Saudara Inggris (1639-1651). Dia melihat langsung bagaimana brutalnya manusia. Hobbes punya pandangan gelap: semua orang punya “nafsu yang terus-menerus dan tak kenal lelah akan kekuasaan dan lebih banyak kekuasaan, yang hanya berakhir dengan kematian.”
Rahman: (tersenyum pahit) Saya lihat sendiri itu di dunia bisnis pengepulan, Dik. Saat harga besi naik, pedagang malah saling menjatuhkan. Ada yang sampai membakar gudang saingan. Tapi Hobbes lalu bilang apa?
Ade Indra Chaniago: Hobbes bilang karena dunia ini kelangkaan dan manusia punya akal, maka mereka akan membuat kontrak sosial. Mereka sadar bahwa “perang semua melawan semua” tidak menguntungkan. Maka mereka bersepakat melepaskan hak-hak individual dan tunduk pada otoritas absolut yang disebut Leviathan. Di sampul bukunya, digambarkan makhluk raksasa yang tubuhnya terdiri dari banyak rakyat kecil, tapi kepalanya satu, sang penguasa.
Indra Darmawan: Tapi perhatikan baik-baik, Pak Rahman. Hobbes tidak menghilangkan kepentingan pribadi. Dia malah mengandalkan kepentingan pribadi untuk menciptakan ketertiban. Sebab, manusia tunduk pada Leviathan karena mereka takut mati. Itu kepentingan pribadi yang paling mendasar: self-preservation.
Rahman: Ini menarik. Jadi Hobbes mengakui bahwa manusia itu serakah, tapi dia memanfaatkan keserakahan itu untuk menciptakan stabilitas? Bukankah itu sama saja dengan mengatakan politik itu organisasi dari rasa tidak percaya? Kita tidak percaya satu sama lain, maka kita perlu kekuatan di atas kita yang memaksa kita untuk patuh.
Ade Indra Chaniago: (mendecak kagum) Tepat sekali! Hobbes terkenal dengan pernyataannya: “Perjanjian tanpa kekuatan pedang tidak lebih dari sekedar kata-kata.” Artinya, kepercayaan saja tidak cukup. Butuh institusi yang memaksa. Tapi masalahnya siapa yang memaksa si pemaksa? Siapa yang mengawasi Leviathan? Hobbes tidak bisa menjawab itu. Akibatnya, Leviathan bisa menjadi tiran yang juga serakah.
Rahman: (menunjuk ke arah koran bekas yang menumpuk) Persis seperti yang saya baca di forum digital itu, Dik. Si Keurmeester bilang: “Partai yang memiliki keberanian untuk mengatasi para perampas arogan seperti bupati ini dan dengan kejam melemparkan mereka ke jalan-jalan berbatu dengan pukulan yang bagus, sayalah yang berhak memilihnya.” Tapi dia juga sadar bahwa begitu partai “pemberani” itu berkuasa, mereka akan berperilaku sama seperti “perampas arogan” sebelumnya. Karena kiri atau kanan, rata-rata sepuluh kali lipat, semuanya bisa diraih!
Indra Darmawan: Itulah dilema abadi politik. Kita selalu butuh pahlawan baru untuk melawan koruptor. Tapi si pahlawan baru itu, begitu punya kekuasaan, akan menjadi koruptor juga. Ini siklus tak berujung.
Ade Indra Chaniago: Lalu muncullah Rousseau. Filsuf Swiss ini melihat sendiri elite Prancis yang korup di masa Louis XIV dan XV. Alih-alih hidup hemat, mereka terus berpesta dan membebani pajak pada rakyat miskin. Rousseau bilang kontrak sosial Hobbes itu antisosial, hanya melegitimasi kesenjangan yang ada.
Rahman: Rousseau ini yang bicara tentang “manusia alami” yang mulia, kan? Yang hidup berkelana di hutan tanpa properti?
Indra Darmawan: Betul, Pak Rahman. Rousseau membedakan volonté de tous (kehendak semua) dari volonté générale (kehendak umum). Yang pertama tidak lebih dari jumlah kepentingan pribadi—saya mau A, kamu mau B, hasilnya kompromi yang dangkal. Tapi kehendak umum adalah sesuatu yang lain, kepentingan kolektif, kebaikan bersama yang sejati.
Ade Indra Chaniago: (menambahkan) Dan Rousseau bilang, dalam kontrak sosial yang benarnya, setiap orang “membawa dirinya dan seluruh kekuasaannya di bawah bimbingan tertinggi kehendak umum.” Karena setiap orang memberikan dirinya kepada semua, maka ia tidak memberikan dirinya kepada siapa pun. Ini sangat beda dengan Hobbes, di sini kedaulatan tetap di tangan rakyat, tidak diserahkan ke Leviathan.
Rahman: (menggaruk kepala yang mulai botak) Kalau boleh jujur, Dik, kedengarannya indah tapi… bagaimana praktiknya? Saya punya pengalaman mengelola kelompok pengepul di Palembang ini. Ada lebih dari lima puluh orang yang menggantungkan hidup pada gudang saya. Setiap hari ada konflik, siapa dapat jatah besi lebih banyak, siapa yang boleh masuk ke gudang dulu, siapa yang dapat pinjaman modal. Mencari “kehendak umum” itu susah sekali. Yang ada malah kepentingan-kepentingan kecil yang saling berbenturan.
Indra Darmawan: Itulah kritik paling tajam terhadap Rousseau, Pak Rahman. Teorinya indah, tapi hampir tidak mungkin diterapkan dalam skala besar. Bahkan Fukuyama, meskipun mengakui Rousseau benar tentang asal-usul ketidaksetaraan dari pertanian dan kepemilikan pribadi, tetap mengkritiknya. Kata Fukuyama: Rousseau, Hobbes, dan Locke sama-sama salah dalam satu hal penting.
Ade Indra Chaniago: (menyambi sambil memeriksa bensin mobil) Benar. Ketiganya menganggap manusia dalam keadaan alami sebagai individu-individu tunggal yang masyarakatnya tidak alami. Tapi biologi modern membuktikan manusia, seperti kata Aristoteles, adalah zoon politikon, makhluk politik secara alami. Kita selalu hidup berkelompok. Bahkan primata sudah jauh lebih sosial dibandingkan “manusia alami” Rousseau.
Rahman: Maksudnya, Dik?
Ade Indra Chaniago: Maksudnya, keadaan alamiah bukan perang semua melawan semua (seperti Hobbes), bukan juga manusia mulia yang menyendiri (seperti Rousseau). Keadaan alamiah adalah perang kelompok melawan kelompok. Dan di sinilah masalahnya. Karena kita secara biologis cenderung mengutamakan kelompok sendiri, keluarga, suku, agama, partai. Ahli biologi William Hamilton menyebutnya inclusive fitness: semakin banyak gen yang kita miliki dengan seseorang, semakin altruistik kita terhadap mereka.
Indra Darmawan: Nah, ini kunci dari “ketidakpercayaan yang terorganisir.” Kita tidak percaya pada orang di luar kelompok kita. Tapi karena kita harus hidup bersama, kita menciptakan institusi, hukum, parlemen, pengadilan yang memaksa kita untuk bekerja sama meskipun tidak percaya. Politik adalah mekanisme untuk mengelola ketidakpercayaan itu.
(Sunyi sejenak. Rahman berdiri, berjalan ke rak buku di sudut gudang. Dia mengambil satu buku bersampul coklat lusuh.)
Rahman: (kembali duduk) Adik-adik, izinkan saya menambahkan dari bacaan saya tentang pemimpin dalam Islam. Saya punya buku ini—“Al-Ahkam As-Sulthaniyyah” karya Al-Mawardi, ulama abad ke-11. Juga ada pemikiran Ibnu Khaldun dari “Muqaddimah” . Dua tokoh ini sudah memikirkan masalah yang sama tentang bagaimana mengelola kekuasaan di tengah sifat alamiah manusia yang cenderung korup.
Ade Indra Chaniago: (mata berbinar) Wah, ini baru menarik. Silakan, Pak Rahman. Kami justru ingin mendengar perspektif dari praktisi sekaligus pembaca.
Rahman: (membuka buku) Al-Mawardi bilang, imamah (kepemimpinan) itu diperuntukkan untuk melanjutkan risalah kenabian dalam menjaga agama dan mengatur dunia. Tapi dia sadar betul, manusia itu serakah. Maka dia mengusulkan syarat-syarat ketat untuk seorang pemimpin: adil, berilmu, sehat jasmani dan rohani, berani, serta keturunan Quraisy (ini poin yang kontroversial). Lalu dia juga mengatur mekanisme baiat dan pemberhentian pemimpin. Itu bentuk “ketidakpercayaan yang terorganisir” dalam khazanah Islam, prosedur untuk memastikan pemimpin tidak bertindak sewenang-wenang.
Indra Darmawan: Jadi ada kesadaran bahwa pemimpin pasti punya potensi menyalahgunakan kekuasaan?
Rahman: (mengangguk tegas) Justru itulah, Dik Indra. Dalam Islam, konsep amānah (kepercayaan) dan mas’uliyyah (tanggung jawab) sangat kuat. Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Tapi Al-Mawardi dan Ibnu Khaldun tidak naif, mereka tahu bahwa ancaman surga-neraka saja tidak cukup. Maka mereka merancang institusi politik yang saling mengawasi. Ada lembaga hisbah seperti ombudsman, ada peran ahlul halli wal ‘aqdi (penentu kebijakan), ada qadhi (hakim) yang independen.
Ade Indra Chaniago: Ibnu Khaldun bahkan lebih brillian, menurut saya. Dia mengembangkan teori ‘ashabiyyah solidaritas kelompok. Ini mirip dengan inclusive fitness-nya Hamilton! Ibnu Khaldun bilang, sebuah dinasti akan kuat ketika ‘ashabiyyah-nya tinggi, tapi akan runtuh ketika solidaritas itu berubah menjadi keserakahan. Rata-rata satu dinasti bertahan empat generasi. Generasi pertama masih kerja keras seperti “orang gurun”, generasi kedua mulai menikmati kemewahan, generasi ketiga lupa perjuangan, generasi keempat hancur karena korupsi dan perebutan kekuasaan.
Rahman: (tersenyum) Itu sebabnya saya memutuskan tidak jadi birokrat, Dik. Saya melihat sendiri pejabat yang masuk tahun 1980-1990-an, rata-raya mereka awalnya idealis. Tapi setelah sepuluh tahun, dua puluh tahun? Dunia dikecilkan, diperkaya, keluarganya dimanjakan. Lalu mereka lupa pada rakyat kecil seperti pemulung saya. Saya memilih jalan sendiri, menjadi pengepul barang bekas. Bukan karena saya sok suci, tapi karena saya tahu kelemahan saya. Saya tidak yakin bisa bertahan menjadi pejabat tanpa korupsi.
Indra Darmawan: Itu pengakuan yang jujur, Pak Rahman. Dan itu sebenarnya adalah bentuk kepemimpinan yang langka, memimpin dengan cara mengurangi potensi penyalahgunaan kekuasaan, bukan dengan cara menambah kekuasaan. Anda menciptakan lapangan kerja untuk anak-anak putus sekolah. Anda tidak perlu jadi bupati untuk mempengaruhi kehidupan mereka.
Ade Indra Chaniago: (menepuk paha) Kita sudah berkeliling dari Socrates ke Hobbes, Rousseau, Fukuyama, sampai Al-Mawardi dan Ibnu Khaldun. Saya rasa kesimpulannya begini: politik memang pada dasarnya adalah ketidakpercayaan yang terorganisir. Tapi ini bukan sinisme kosong. Ini adalah pengakuan realistis bahwa manusia itu terbatas, kita punya kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri dan kelompok sendiri. Maka kita butuh institusi untuk mengelola kecenderungan itu.
Rahman: (menimpali) Saya setuju, Dik Ade. Tapi saya ingin menambahkan sesuatu dari pengalaman praktis. Selama puluhan tahun jadi pengepul, semenjak 1996 saya belajar bahwa ketidakpercayaan yang terorganisir tidak cukup. Kita butuh juga kepercayaan yang terorganisir. Gimana maksudnya? Di gudang saya, ada anak-anak putus sekolah yang dulu preman. Mereka saling tidak percaya. Tapi setelah saya beri tanggung jawab, dilatih, diawasi dengan sistem yang jelas, stok dicatat bersama, keuntungan dibagi transparan, pelanggaran ada sanksi, perlahan-lahan kepercayaan tumbuh.
Indra Darmawan: Jadi, institusi bisa membangun kepercayaan, bukan hanya merespon ketidakpercayaan?
Rahman: (mengangguk) Tepat. Saya ingat pembuka dari artikel yang Adik kutip tadi, tentang Keurmeester. Dia bilang: “Partai yang memiliki keberanian untuk mengatasi para perampas arogan… sayalah yang berhak memilihnya.” Itu adalah ketidakpercayaan murni. Tapi Keurmeester masih punya keyakinan dalam politik, dia masih mau memilih. Artinya, dia percaya bahwa mungkin ada partai yang berbeda. Ini mirip dengan apa yang Rousseau sebut sebagai kontrak sosial yang sebenarnya kontrak yang harus terus-menerus dinegosiasikan ulang.
Ade Indra Chaniago: (menghela napas panjang) Sayangnya, banyak warga yang sudah kehilangan keyakinan itu, Pak Rahman. Di Indonesia, tingkat kepercayaan pada parlemen dan partai politik sangat rendah. Survei Litbang Kompas terbaru hanya sekitar 40 persen yang percaya DPR. Selebihnya menganggap politisi hanya cari untung.
Indra Darmawan: Tapi bukankah rendahnya kepercayaan itu juga sehat? Jika terlalu percaya, kita jadi naif dan membiarkan korupsi merajalela. Jika terlalu tidak percaya, kita jadi apatis dan tidak mau berpartisipasi. Yang ideal adalah kepercayaan kritis , percaya pada sistem, tapi selalu waspada dan siap mengawasi.
Rahman: (tertawa kecil) Persis seperti yang saya bilang ke anak buah saya “Kerja itu seperti politik. Saya kasih kalian kepercayaan untuk memilah sampah sendiri. Tapi saya juga catat semua. Kalau ketahuan curang, tidak ada ampun.” Kontrol dan kepercayaan harus berjalan beriringan. Itulah ketidakpercayaan yang terorganisir dalam skala kecil.
(Matahari sore mulai condong ke barat. Suara obeng dari bengkel mulai mereda. Ade Indra Chaniago memeriksa mobilnya sudah selesai.)
Ade Indra Chaniago: (membayar montir) Saya setuju, Pak Rahman. Tapi kita masih punya satu pertanyaan besar: bagaimana mengatasi patrimonialisme, kecenderungan pemimpin mengutamakan keluarga dan teman? Ini akar masalahnya.
Rahman: (merenung) Saya tidak punya jawaban sempurna, Dik Ade. Tapi dari buku “The Origins of Political Order” punya Fukuyama, saya belajar bahwa sistem yang paling tahan korupsi adalah yang memiliki akuntabilitas vertikal dan horizontal. Vertikal, rakyat bisa memilih dan memberhentikan pemimpin melalui pemilu yang jujur. Horizontal, lembaga negara saling mengawasi: DPR mengawasi presiden, KPK mengawasi DPR, pengadilan mengawasi KPK, media mengawasi semuanya.
Indra Darmawan: Tapi akuntabilitas horizontal hanya berfungsi jika lembaga itu independen dan profesional. Di Indonesia, KPK sendiri sering diganggu. DPR diisi politisi yang punya konflik kepentingan. Polisi dan jaksa sering ditekan kekuasaan. Jadi kita masih jauh dari ideal.
Ade Indra Chaniago: (duduk kembali) Dan di sinilah peran masyarakat sipil. Seperti yang Anda lakukan, Pak Rahman memberi pekerjaan pada anak putus sekolah. Itu membangun social capital. Membangun kepercayaan dari bawah. Karena pada akhirnya, politik bukan hanya soal parlemen dan presiden. Politik ada di setiap interaksi kita, di gudang barang bekas, di bengkel mobil, di warung kopi.
Rahman: (Rahman mengelap meja kecil di depannya. Dia tampak berpikir keras, suaranya lirih.) Adik-adik, izinkan saya cerita. Dulu, ketika saya baru buka usaha tahun 1996, banyak tetangga yang meremehkan. “Lulusan sarjana jadi pemulung?” ejek mereka. Saya hampir putus asa. Tapi malam-malam, saya baca kembali filosofi politik, baik dari Barat maupun Islam. Saya sadar bahwa kekuasaan tidak hanya di gedung putih. Ada dua jenis kekuasaan: power over (kekuasaan atas orang lain) dan power to (kemampuan untuk melakukan sesuatu). Saya memilih power to. Saya tidak perlu jadi bupati untuk mengubah hidup seseorang.
Indra Darmawan: (menepuk bahu Rahman) Subhanallah, diam-diam mengamalkan ajaran Socrates, Pak Rahman. Anda “memerintah” gudang ini tanpa menjadi tiran. Anda memberdayakan, bukan menindas. Itu esensi kepemimpinan yang hilang dari politik modern.
Ade Indra Chaniago: (tersenyum) Saya jadi ingat kata-kata Fukuyama: “Rousseau benar sekali bahwa ketidaksetaraan manusia berawal dari munculnya pertanian dan kepemilikan pribadi. Tapi kita tidak bisa kembali ke keadaan alami.” Artinya, kita harus menerima kepemilikan pribadi, uang, pasar, tapi kita juga harus merancang institusi yang membatasi keserakahan. Institusi seperti KPK, seperti pers bebas, seperti partai politik yang transparan, seperti sistem pengawasan publik.
Rahman: (mengangkat gelas kopi) Dan institusi seperti usaha kecil-kecilan yang jujur, Dik. Seperti gudang barang bekas saya. Karena politik pada akhirnya juga tentang bagaimana kita mengelola sampah , bukan sampah plastik dan kertas, tapi sampah berupa keserakahan, ketidakpercayaan, dan kepentingan pribadi. Kita tidak bisa menghilangkannya sepenuhnya. Tapi kita bisa daur ulang menjadi sesuatu yang berguna. Bukankah itu politik yang baik?
(Ketiganya tertawa. Ade Indra Chaniago melihat arlojinya.)
Ade Indra Chaniago: (berdiri) Hari sudah sore, Pak Rahman. Terima kasih atas kopi dan diskusinya. Saya jadi sadar, mobil mogok saya hari ini justru membawa saya pada “bengkel” pemikiran yang luar biasa.
Indra Darmawan: (juga berdiri) Saya setuju. Pak Rahman, bolehkah saya suatu hari kembali untuk membaca koleksi buku Bapak? Saya lihat ada edisi langka Al-Farabi yang bahkan tidak ada di perpustakaan kampus saya.
Rahman: (tersenyum lebar) Silakan, Dik Indra. Untuk Adik-adik, pintu gudang saya selalu terbuka. Tapi satu syarat, bawakan saya diskusi menarik lagi. Saya bosan hanya berbicara dengan karung plastik dan tumpukan kardus.
(Ade Indra Chaniago dan Indra Darmawan melambai. Mereka masuk ke mobil sedan tua itu, mesinnya menderu halus. Rahman berdiri di ambang gudang, memegang buku Al-Mawardi di tangannya, tersenyum.)
(Rahman duduk sendirian di gudangnya. Suara mobil menjauh. Dia membuka buku catatan kecilnya.)
Rahman: (berbicara pada diri sendiri) “Politik adalah ketidakpercayaan yang terorganisir.” Mungkin benar. Tapi bukan berarti kita pasrah. Kita pemulung, pengepul, profesor, montir, politisi, ojol, bentor, kita semua punya pilihan. Kita bisa ikut dalam perang semua melawan semua. Atau kita bisa menjadi Janissari modern, bekerja keras, tidak korupsi, melayani meskipun tidak diakui. Saya memilih menjadi Janissari versi pengepul barang bekas.
Dan untuk Keurmeester, warga di forum digital yang kecewa dengan politisi, saya pesan: Jangan berhenti memilih. Jangan berhenti marah. Tapi jangan juga hanya marah. Lakukan sesuatu. Buka usaha kecil-kecilan. Ajar anak tetangga yang putus sekolah. Bangun gudang di mana orang bisa bekerja dengan martabat. Karena politik sejati dimulai dari situ, dari ketidakpercayaan yang dikelola secara produktif, bukan yang dibiarkan membusuk.
Palembang, 27 April 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan