JARI : Filsafat di Serambi, Ma’rifat di Pedalaman

JARI : Filsafat di Serambi, Ma’rifat di Pedalaman

Indra Darmawan: “Uda, saya baru saja membaca sebuah tulisan yang cukup panjang semacam artikel plus kumpulan pendapat dari beberapa tokoh Islam di Indonesia mengenai Averroes. Yang menarik, tulisan itu tidak hanya mengulas pemikiran Ibnu Rushd, tapi juga menghadirkan tanggapan dari ulama Palembang, Minang, Jawa, dan Aceh. Ada yang kritis, ada pula yang mengapresiasi. Menurut saya, ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang akal dan wahyu ternyata masih sangat hidup di Nusantara. Dari perspektif Uda sebagai akademisi sekaligus muslimin, bagaimana Uda melihat keberagaman sikap terhadap Averroes tersebut?”

Ade Indra Chaniago: “Memang itu kekayaan kita, Dinda. Saya membaca sendiri potongan-potongan pendapat itu. Misalnya, KH. Muhammad Syarif dari Palembang yang mewakili perspektif tasawuf Sunni menyoroti bahwa Averroes terlalu mengagungkan burhan (bukti logis) hingga abai pada ma’rifat dan ihsan. Bagi beliau, akal butuh cahaya, dan itu disuarakan oleh al-Ghazali. Sementara dari Minang, Dr. Syafwan Rozi lebih menekankan bahwa semangat Averroes soal akal sebagai anugerah Tuhan sejalan dengan etos reformis Minangkabau, tapi tetap membedakan ranah muamalah (yang boleh terus di-ijtihad) dan ranah akidah (yang berpegang pada qath’i). Menarik sekali karena masing-masing daerah punya ‘urf (tradisi intelektual) yang berbeda.”

Indra Darmawan: “Saya cukup terkejut dengan pernyataan Gus Mus. Beliau bilang Averroes itu pintar tapi terlalu kaku dengan logika Yunani, dan justru menyoroti bahwa orang awam pun bisa mendapat ilmu laduni yang tidak diajarkan di buku. Di sisi lain, Prof. Al Yasa’ dari Aceh mengingatkan bahwa ketiadaan pengaruh Averroes di Timur bukan karena kebodohan, melainkan karena tradisi fikih Aceh yang sudah punya sistem zhanni dan qath’i sendiri. Beliau menawarkan ijtihad jama’i sebagai jalan keluar. Saya melihat ada semacam ketegangan: sebagian menganggap Averroes sebagai pahlawan rasionalisme, sebagian lagi memandangnya sebagai figur yang elitis dan bahkan berbahaya jika diterapkan mentah-mentah. Di posisi mana sebaiknya kita bersikap?”

Ade Indra Chaniago: “Pertanyaan bagus. Saya rasa kita tidak perlu memaksakan diri untuk ‘memilih’ satu kubu secara dikotomis. Yang lebih penting adalah mengambil esensi dari perdebatan itu. Averroes mengajarkan bahwa al-haqqu la yudhaddu bi al-haqq kebenaran tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran. Prinsip ini memberi kita keberanian untuk tidak menutup mata terhadap temuan ilmiah atau perubahan sosial, sekaligus tidak meninggalkan teks. Namun, kritik dari Palembang dan Jawa mengingatkan bahwa dimensi spiritual dan kebijaksanaan (wisdom) tidak boleh dikorbankan di altar rasionalisme belaka. Di sinilah letak kekhasan Islam Nusantara: kita tidak hanya mengenal burhan (logika), tapi juga ‘irfan (gnosis) dan ‘ilm (hukum) yang berjalan beriringan.”

Indra Darmawan: “Tulisan itu juga menyinggung soal Irshad Manji yang menggunakan Averroes untuk menyerukan ‘Operasi Ijtihad’ ala liberal. Di beberapa pendapat, terutama dari Minang dan Aceh, ada kekhawatiran bahwa semangat Averroes bisa disalahartikan menjadi relativisme teks yang berlebihan. Apakah menurut Anda, di Indonesia, semangat Averroes lebih mungkin mendorong liberalisme sekuler atau justru memperkuat moderasi beragama?”

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : “Jika Tuhan Ada, Kita Harus Menghapus-Nya?”

Ade Indra Chaniago: “Saya cenderung melihat ke arah moderasi, asalkan kita tidak mengimpor secara utuh bingkai liberal ala Manji. Contohnya, para ulama progresif di Indonesia baik dari kalangan NU, Muhammadiyah, maupun jaringan intelektual muda mereka menggunakan logika yang mirip dengan Averroes: ‘Jika nilai keadilan gender atau demokrasi adalah kebenaran yang ditemukan oleh pengalaman manusia, maka ia tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran Al-Quran. Yang perlu kita lakukan adalah menafsir ulang teks-teks yang tampak kontradiktif.’ Tapi mereka melakukannya dalam kerangka fiqh al-waqi’ dan maqasid syariah, bukan sekadar meniru Barat. Jadi, roh Averroes tetap hidup, tapi dikawinkan dengan tradisi keislaman Nusantara yang lebih kolektif dan kontekstual.”

Indra Darmawan: “Satu hal yang menarik dari tulisan itu: meskipun Averroes sendiri membatasi akses filsafat hanya untuk kalangan terpelajar (khawash), di era digital sekarang justru terjadi demokratisasi pengetahuan. Setiap orang bisa mengakses teks dan sains. Apakah ini berarti kita perlu merevisi sikap elitis Averroes, atau justru kekhawatirannya terbukti karena literalis dan radikalisme juga tumbuh subur akibat akses tanpa bimbingan?”

Ade Indra Chaniago: “Ironis memang. Averroes khawatir orang awam akan tersesat jika membaca filsafat tanpa pendampingan. Di era digital, yang terjadi adalah banjir informasi tanpa otoritas yang jelas. Kelompok literalis dan radikal juga memanfaatkan akses ini untuk menyebarkan pemahaman yang sempit. Karena itu, saya setuju dengan saran Prof. Al Yasa’ tentang ijtihad jama’i kita perlu lembaga-lembaga kolektif yang bisa membimbing publik dalam menafsirkan teks dan realitas. Bukan dengan menutup akses, tapi dengan memperkuat literasi keagamaan yang kritis dan berjenjang. Di sinilah peran kampus, pesantren, dan majelis taklim menjadi sangat strategis.”

Indra Darmawan: “Jadi, bisa disimpulkan bahwa Averroes bukanlah sosok yang harus dipuja atau ditolak mentah-mentah. Ia lebih seperti ‘titik pijak’ untuk terus mempertanyakan bagaimana kita mempertemukan akal dan wahyu dalam konteks yang terus berubah. Dan kekayaan pendapat dari Palembang, Minang, Jawa, dan Aceh menunjukkan bahwa Islam Nusantara sebenarnya sudah memiliki tradisi dialektika semacam itu sejak lama.”

Ade Indra Chaniago: “Tepat sekali. Diskusi tentang Averroes sejatinya adalah cermin bagi kita sendiri. Ia mengingatkan bahwa dalam Islam, berpikir kritis bukanlah dosa, tapi justru bagian dari ibadah jika dilakukan dengan adab. Dan para ulama kita di berbagai daerah sudah memberikan contoh bagaimana menjaga keseimbangan antara nash dan ‘aql, antara syariat dan realitas. Warisan itulah yang harus kita teruskan, tanpa perlu terjebak pada label ‘rasionalis’ atau ‘tradisionalis’ secara sempit.”

Indra Darmawan: “Terima kasih, Uda. Diskusi ini membantu saya melihat bahwa perdebatan tentang Averroes tidak pernah usang ia hanya berganti wajah sesuai zaman dan tempat.”

Ade Indra Chaniago: “Sama-sama, Dinda. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari keberagaman itu, dan bersama-sama membangun tradisi keilmuan Islam yang terbuka, beradab, dan membumi.”

(Di tengah diskusi yang hangat, seorang teman bergabung dalam percakapan.)

Andi Wijaya: “Maaf, saya ikut menyimak dari tadi. Izinkan saya menambahkan sedikit perspektif dari tradisi sufi yang mungkin melengkapi apa yang telah Uda dan Dinda bicarakan. Menarik sekali melihat bagaimana Averroes dibicarakan dengan sangat serius di Nusantara. Namun, dalam pandangan saya, akar persoalannya bukan semata pada akal atau wahyu, melainkan pada maqam (tingkatan) pengetahuan itu sendiri.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : Kalender dan Ramadhan Abadi

Indra Darmawan: Ya setuju bisa jadi pada maqam nya. Dalam tradisi tarekat ada tiga tingkatan pengetahuan: ‘ilm al-yaqin (pengetahuan berdasarkan dalil dan argumentasi), ‘ain al-yaqin (pengetahuan berdasarkan pengamatan langsung), dan haqq al-yaqin (pengetahuan berdasarkan pengalaman hakiki atau penyatuan). Averroes, dengan segala keagungan burhan-nya, bergerak di ranah ‘ilm al-yaqin dengan sangat kuat. Tapi ia kurang memberi ruang pada dzauq (rasa) dan kasyf (penyingkapan) yang menjadi ciri ‘ain al-yaqin dan haqq al-yaqin. Kurang lebih demikian bro Andi?

Andi Wijaya: KH. Muhammad Syarif dari Palembang, yang disebut tadi, berada pada jalur yang benar ketika mengingatkan bahwa akal butuh cahaya. Cahaya itu bukan sekadar logika, melainkan nur yang diberikan Allah melalui hati yang dibersihkan. Al-Ghazali, yang dikritik Averroes dalam Tahafut al-Tahafut, sebenarnya tidak anti-logika. Al-Ghazali justru menguasai logika, tapi beliau sadar bahwa ada batas-batas logika. Di sanalah ma’rifat berperan. Saya sering berkata pada murid-murid: “Akal itu seperti mata, ia bisa melihat, tapi ia tidak bisa melihat dirinya sendiri tanpa cahaya dari luar. Cahaya itulah yang disebut hidayah.”

Ade Indra Chaniago: Saya sepakat dengan Prof. Al Yasa’ dari Aceh tentang ijtihad jama’i. Tapi dalam perspektif sufi, ijtihad jama’i yang paling tinggi adalah ketika para ulama yang memiliki kasyf (para mukasyafah) duduk bersama para ulama yang memiliki burhan (para mutakallimun dan fuqaha). Di Aceh dulu, para wali dan ulama fikih berjalan beriringan. Syekh Abdurrauf al-Sinkili, misalnya, beliau adalah sufi agung sekaligus ahli fikih yang produktif. Di sanalah keseimbangan sejati: syariat sebagai fondasi, thariqat sebagai metode, hakikat sebagai tujuan, dan ma’rifat sebagai esensi.

Jadi, ketika Dinda bertanya tentang posisi kita terhadap Averroes, saya tidak akan berkata ‘pro’ atau ‘kontra’. Saya akan berkata: kita harus melampaui Averroes, bukan dengan menolaknya, tapi dengan menempatkannya pada tempatnya. Averroes sangat baik untuk membangun peradaban, untuk sains, untuk hukum dalam ranah muamalah yang membutuhkan nalar kritis. Tapi untuk membangun manusia yang utuh (insan kamil), kita butuh lebih dari itu.

Indra Darmawan: (tersenyum mengangguk) “Terima kasih. Penjelasan tentang tiga tingkatan pengetahuan itu sangat membantu. Saya jadi ingat, dalam tradisi filsafat Islam sendiri, sebenarnya Ibn Sina pun membagi pengetahuan menjadi ‘ilm hushuli (konseptual) dan ‘ilm hudhuri (hadir langsung). Yang terakhir inilah yang kemudian dikembangkan oleh Suhrawardi dengan ishraq-nya dan oleh Ibn ‘Arabi dengan futuhat-nya. Averroes memang lebih condong ke hushuli dalam bentuknya yang paling murni. Maka tidak heran jika ia kurang diterima di Timur, karena tradisi Timur (termasuk Nusantara) sejak awal sudah akrab dengan dimensi hudhuri dan dzauqi.”

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Pemberontakan Tak Bersuara

Bro Andi, apakah umat Islam di Nusantara saat ini tidak kehilangan keseimbangan? Di satu sisi kita digempur dengan wacana liberal yang memuja akal, di sisi lain muncul gerakan literalis yang menolak akal sama sekali. Dalam pandangan sufi, bagaimana mendidik generasi muda agar tidak terjebak pada kedua ekstrem itu?”

Andi Wijaya: “Pertanyaan yang sangat relevan, Dinda. Dalam tarekat, diajarkan untuk memiliki adab. Adab bukan sekadar sopan santun, tapi kemampuan untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya. Imam al-Ghazali menyebutnya al-‘aql sebagai asl al-iman (akar iman). Tanpa akal, iman itu tidak bermakna. Tapi akal yang tidak dibimbing oleh adab dan ikhlas akan menjadi sombong dan sesat.
Averroes mengajarkan kita untuk tidak takut pada logika. Al-Ghazali mengajarkan kita untuk tidak terperangkap oleh logika semata. Dan para wali mengajarkan kita bahwa puncak pengetahuan adalah ketika engkau tahu bahwa engkau tidak tahu lalu engkau berserah.

Ade Indra Chaniago: Jadi, daripada sibuk mempertentangkan Averroes dan al-Ghazali, kita lebih baik mengajarkan pada generasi muda tafaqquh fi al-din (pemahaman mendalam tentang agama) dengan kurikulum yang mencakup burhan (filsafat/logika), bayani (tekstual/fikih), dan ‘irfani (spiritualitas). Itulah yang dulu dilakukan oleh para ulama Nusantara seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, dan Nuruddin al-Raniri meski mereka kadang berbeda pendapat, mereka semua berada dalam silsilah keilmuan yang menghormati ketiga tradisi itu.”

Andi Wijaya: “Saya rasa poin Uda ini sangat penting. Bahwa perdebatan Averroes vs al-Ghazali sebenarnya adalah perdebatan dalam satu rumah. Mereka berdua sama-sama berjuang untuk membela Islam dengan caranya masing-masing. Al-Ghazali membela Islam dari filsafat yang keliru, tapi ia tidak membuang filsafat. Averroes membela filsafat dari tuduhan sesat, tapi ia tidak membuang spiritualitas. Di Nusantara, kita punya tradisi untuk tidak memilih salah satu secara eksklusif, melainkan mengintegrasikan.”

Indra Darmawan: “Sekarang kita semakin paham. Averroes bukanlah ‘musuh’ tasawuf, sebagaimana al-Ghazali bukanlah ‘musuh’ akal. Mereka adalah dua pilar yang berbeda fungsi. Dan di Nusantara, kita diberi contoh bagaimana pilar-pilar itu bisa disatukan dalam ijtihad jama’i yang melibatkan berbagai disiplin. Terima kasih, Bro Andi, atas pencerahannya.”

Andi Wijaya: “Sama-sama, Dinda. Saya tutup dengan satu nasihat dari seorang arif: ‘Barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya.’ Pengenalan diri itulah yang menjadi titik temu antara akal, hati, dan wahyu. Karena akal mengenal dirinya sebagai makhluk terbatas, hati merasakan kerinduan kepada Yang Tak Terbatas, dan wahyu menjadi petunjuk jalan. Semoga kita semua dimudahkan di jalan itu.”

Ade Indra Chaniago: “Aamiin. Diskusi ini benar-benar membuka cakrawala baru. Mari kita akhiri dengan doa semoga ilmu yang kita bahas ini menjadi berkah.”

Ketiganya kemudian berdoa bersama, mengakhiri diskusi yang hangat dan penuh makna tentang pertemuan akal, wahyu, dan hati dalam tradisi Islam Nusantara.