JARI : Perjalanan Panjang Tanpa Akhir untuk Kebaikan

JARI : Perjalanan Panjang Tanpa Akhir untuk Kebaikan

 

“Mungkin kita perlu memikirkan kembali tujuan pendidikan. Bukan sekadar mentransfer pengetahuan, tapi membentuk manusia yang memiliki kebijaksanaan praktis, kepekaan terhadap situasi, dan komitmen pada kebaikan bersama.” [DR (C) Ade Indra Chaniago]

 

Ade Indra Chaniago: (sambil membalik halaman buku) “Bro, kau sudah baca After Virtue-nya Alasdair MacIntyre? Aku baru membaca bagian tentang kekacauan moral masyarakat modern. Menarik sekali bagaimana ia menggambarkan etika kontemporer yang hanya menjadikan kehendak bebas sebagai ukuran kebaikan.”

Indra Darmawan: (tersenyum) “Oh, MacIntyre. Iya, aku sering membacanya ulang untuk kesekian kalinya. Kau tahu, bagian yang paling mengena bagiku adalah ketika ia mengatakan bahwa kita kehilangan narasi bersama tentang apa yang baik. Setiap orang punya pendapatnya sendiri, dan kita tidak pernah mencapai konsensus. Tapi justru itu yang membuatku bertanya-tanya—apakah etika kebajikan Aristoteles benar-benar bisa menjadi solusi bagi masyarakat kita yang majemuk?”

Ade Indra Chaniago: “Itu pertanyaan bagus. Tapi sebelum kita melompat terlalu jauh, mari kita pahami dulu apa yang sebenarnya ditawarkan Aristoteles. Kau tahu, Etika Nikomakea itu unik karena merupakan catatan kuliah, bukan risalah formal. Kita bisa mendengar intonasi suara Aristoteles sendiri ketika ia terus-menerus bertanya ‘Apa yang kita katakan tentang topik ini?’ bukan ‘Apa yang saya katakan?'”

Indra Darmawan: (mengangguk antusias) “Ya, ya! Itulah yang paling kusukai dari Aristoteles. Ia tidak berbicara sebagai individu yang menemukan kebenaran, tapi sebagai suara rasional dari warga terbaik di polis terbaik. Ia percaya bahwa polis adalah satu-satunya bentuk politik di mana kebajikan bisa terungkap sepenuhnya. Tapi pertanyaannya, bagaimana dengan kita yang hidup di negara bangsa modern, bukan polis Yunani kuno?”

Ade Indra Chaniago: “Nah, di situlah MacIntyre masuk. Menurutnya, kita memang kehilangan konteks komunal itu. Tapi bukan berarti etika kebajikan tidak relevan. Hanya saja, kita perlu membangun kembali komunitas-komunitas lokal yang bisa menjadi wadah bagi praktik kebajikan.”

Memahami Eudaimonia dan Kebajikan

Indra Darmawan: (menuangkan kopi) “Bro, menurutmu apa sebenarnya yang dimaksud Aristoteles dengan eudaimonia? Penerjemah sering mengartikannya sebagai kebahagiaan, tapi aku rasa itu terlalu sederhana.”

Ade Indra Chaniago: “Kau benar. Eudaimonia lebih dari sekadar kebahagiaan dalam pengertian modern. Ini tentang menjadi baik dan berbuat baik—keadaan di mana seseorang disukai di mata diri sendiri dan di hadapan ilahi. Menariknya, Aristoteles dengan cerdas menunjukkan bahwa eudaimonia tidak bisa disamakan dengan uang, kehormatan, atau kesenangan semata.”

Indra Darmawan: “Tapi di sinilah letak problemnya. Aristoteles mendefinisikan bonum berdasarkan kodrat manusia yang memiliki telos tertentu. Ia mengandaikan apa yang kemudian disebut G.E. Moore sebagai kekeliruan naturalistik—klaim tentang apa yang baik sebagai klaim faktual. Apakah kita masih bisa menerima premis metafisik ini?”

Ade Indra Chaniago: “Sebagai orang Indonesia yang hidup di era modern, kita tentu tidak bisa menerima begitu saja biologi metafisik Aristoteles. Tapi mungkin kita perlu melihatnya secara berbeda. Al-Ghazali, misalnya, memiliki pemahaman yang lebih spiritual tentang tujuan hidup manusia. Bagi Al-Ghazali, kebahagiaan sejati (sa’adah) adalah ketika jiwa manusia mencapai kedekatan dengan Allah melalui penyucian diri dan praktik kebajikan.”

Indra Darmawan: “Ya, Al-Ghazali! Ini menarik. Dalam Ihya’ Ulumuddin, ia berbicara tentang pembentukan karakter melalui latihan spiritual. Ia menyebutnya takhalli (mengosongkan diri dari sifat buruk), tahalli (menghiasi diri dengan sifat baik), dan tajalli (terungkapnya kebenaran ilahi). Menurutmu, apakah ini sejalan dengan konsep Aristoteles tentang pembentukan kebajikan melalui praktik?”

Ade Indra Chaniago: “Ada paralel yang menarik, tapi juga perbedaan mendasar. Bagi Aristoteles, kebajikan adalah kecenderungan untuk bertindak dan merasakan dengan cara tertentu, yang dibentuk melalui pembiasaan. Pendidikan moral adalah éducation sentimentale. Sementara bagi Al-Ghazali, ada dimensi spiritual yang lebih dalam—kebajikan tidak hanya tentang tindakan lahiriah, tapi juga kondisi batin yang terkoneksi dengan Allah Swt.”

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Rakyat Bukan Konsumen, Demokrasi Bukan Pasar

Antara Aturan dan Penilaian Praktis

Indra Darmawan: (merenung) “Salah satu hal yang paling menarik dari Etika Nikomakea adalah ketiadaan aturan yang mencolok. Aristoteles tidak memberi kita daftar perintah atau larangan yang kaku. Ia lebih menekankan pada phronesis—kebijaksanaan praktis—kemampuan untuk menilai apa yang tepat dalam situasi konkret.”

Ade Indra Chaniago: “Ya, dan ini sangat relevan dengan kritik MacIntyre terhadap etika modern yang terlalu bergantung pada aturan universal. Kant dengan imperatif kategorisnya, Rawls dengan prinsip keadilannya, semua mencoba merumuskan aturan yang bisa diterapkan di mana saja. Tapi Aristoteles sadar bahwa tidak ada aturan yang bisa menentukan bagaimana kita harus bertindak dalam setiap situasi spesifik.”

Indra Darmawan: “Contoh tentang Suku Wampanoag di Mashpee yang kau sebut tadi sangat menggambarkan hal ini. Tidak ada aturan Rawls atau Nozick yang bisa menyelesaikan sengketa tanah itu secara adil. Solusi yang dirancang—mengecualikan bidang tanah di bawah satu acre—adalah hasil dari penalaran praktis yang peka terhadap situasi spesifik.”

Ade Indra Chaniago: “Nah, di sini kita bisa menghadirkan perspektif Ibn Miskawayh, filsuf Muslim abad ke-10 yang menulis Tahdzib al-Akhlaq (Penyempurnaan Karakter). Ia mengembangkan etika kebajikan yang sangat dipengaruhi Aristoteles, tapi juga diintegrasikan dengan ajaran Islam. Menurut Miskawayh, kebajikan adalah kondisi jiwa yang stabil yang mendorong seseorang melakukan perbuatan baik dengan mudah, tanpa memerlukan pertimbangan berat.”

Indra Darmawan: “Miskawayh juga menekankan pentingnya keadilan sebagai kebajikan yang menyelaraskan semua kebajikan lainnya, bukan? Dan ia melihat bahwa keadilan tidak bisa direduksi menjadi sekadar kepatuhan pada aturan.”

Ade Indra Chaniago: “Tepat sekali. Dan ia juga memperkenalkan konsep al-mahabbah (cinta) sebagai fondasi komunitas yang berbudi. Tanpa cinta, aturan-aturan keadilan hanya akan menjadi mekanisme kosong. Ini mengingatkanku pada apa yang dikatakan Aristoteles bahwa kebajikan bukan hanya tentang bertindak benar, tapi juga tentang merasakan dengan cara yang benar.”

Hukum dan Pelanggaran Mutlak

 Indra Darmawan: “Tapi Bro, jangan-jangan kita terlalu fokus pada fleksibilitas penilaian praktis sehingga melupakan bahwa Aristoteles juga mengakui adanya tindakan yang secara mutlak dilarang. Ia berbicara tentang hukum alam yang universal—tindakan seperti sumpah palsu, pengkhianatan, pencurian, pembunuhan orang tak bersalah—semua ini dilarang terlepas dari keadaan atau konsekuensinya.”

Ade Indra Chaniago: “Poin penting! Aristoteles memang bukan konsekuensialis. Ada batas-batas absolut yang tidak bisa dilanggar. Dan menariknya, ia menghubungkan ini dengan kelangsungan hidup komunitas. Tindakan-tindakan tertentu dianggap begitu jahat sehingga merusak ikatan komunitas, membuat pengejaran kebaikan bersama menjadi mustahil.”

Indra Darmawan: “Di sinilah kita bisa menghadirkan pemikiran Muhammad Abduh atau filsuf Islam modern lainnya. Abduh, dalam risalahnya tentang tauhid, menekankan bahwa syariah bukan sekadar kumpulan aturan hukum, tapi juga sistem nilai yang menjaga kohesi sosial. Ia berbicara tentang maslahah (kemaslahatan umum) sebagai tujuan syariah.”

Ade Indra Chaniago: “Tapi Abduh juga menekankan pentingnya ijtihad—penalaran independen untuk menerapkan prinsip-prinsip universal dalam situasi konkret. Ini mirip dengan konsep orthos logos-nya Aristoteles yang diterjemahkan keliru oleh Ross sebagai ‘aturan yang benar’, padahal lebih tepat dipahami sebagai ‘akal sehat’ atau ‘penalaran yang benar’.”

Indra Darmawan: “Ya, kesalahan terjemahan Ross itu signifikan! Ia menerjemahkan kata ton orthon logon sebagai ‘sesuai dengan aturan yang benar’, padahal Aristoteles tidak sedang berbicara tentang aturan. Ini mencerminkan obsesi modern terhadap aturan yang justru dikritik MacIntyre.”

Ade Indra Chaniago: “Ngomong-ngomong soal filsuf Islam modern, bagaimana dengan pemikiran Fazlur Rahman tentang etika? Ia mengembangkan teori double-movement—pertama, memahami konteks historis wahyu untuk menangkap prinsip moral universalnya, kedua, menerapkan prinsip itu dalam konteks kontemporer.”

Indra Darmawan: “Rahman membantu kita menjembatani universalitas prinsip dengan partikularitas situasi. Ini persis seperti yang dilakukan Aristoteles ketika ia mengatakan bahwa kebajikan terletak di antara dua ekstrem—keberanian di antara kenekatan dan ketakutan, kemurahan hati di antara pemborosan dan kekikiran. Titik tengah itu tidak bisa ditentukan secara abstrak, tapi harus ditemukan dalam situasi konkret.”

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Niat Suci dan Politik Kotor

Komunitas sebagai Konteks Kebajikan

Ade Indra Chaniago: (menyeruput kopi) “Kembali ke MacIntyre, argumennya yang paling kuat menurutku adalah bahwa kebajikan hanya bisa berkembang dalam komunitas yang memiliki narasi bersama tentang kebaikan. Di sinilah letak tragedi modernitas—kita kehilangan narasi itu.”

Indra Darmawan: “Tapi apakah kita benar-benar kehilangannya? Mungkin narasinya berubah, bukan hilang. Lihatlah masyarakat kita di Indonesia, dengan segala keragamannya, masih ada nilai-nilai bersama seperti gotong royong, musyawarah, keadilan sosial. Mungkin kita perlu mengartikulasikannya kembali.”

Ade Indra Chaniago: “Jangan terlalu cepat optimis, Bro. MacIntyre menunjukkan bahwa kebajikan Homer berbeda dari kebajikan Aristoteles, yang berbeda lagi dari kebajikan Kristen. Setiap periode punya narasinya sendiri. Pertanyaannya, apa narasi kita hari ini? Kapitalisme konsumeris yang menjadikan keinginan individu sebagai ukuran segala sesuatu?”

Indra Darmawan: “Tapi di situlah perlunya dialog antara tradisi. Mungkin kita bisa mengambil inspirasi dari para sufi seperti Jalaluddin Rumi yang melihat kebajikan sebagai cerminan sifat-sifat ilahi. Rumi berkata, ‘Kebajikan bukan tentang menjadi baik, tapi tentang menyadari bahwa kebaikan itu adalah esensi keberadaanmu.’ Ini mengubah seluruh kerangka—dari pencapaian menjadi penyingkapan.”

Ade Indra Chaniago: “Itu perspektif yang indah Bro. Tapi hati-hati, jangan sampai terlalu spiritual sehingga melupakan bahwa kebajikan harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan institusi sosial. Aristoteles mengingatkan bahwa individu hanya bisa dipahami sebagai politikon zôon—hewan politik. Kita tidak bisa menjadi baik sendirian.”

Indra Darmawan: “Benar. Dan di sinilah konsep ummah dalam Islam bisa berkontribusi. Ummah bukan sekadar kumpulan individu, tapi komunitas yang terikat oleh nilai-nilai bersama dan tanggung jawab kolektif untuk mewujudkan kebaikan (amar ma’ruf nahi munkar).”

Ade Indra Chaniago: “Tapi ummah juga harus mewujud dalam institusi-institusi konkret—sekolah, rumah sakit, pasar, pemerintahan. Seperti yang dikatakan Aristoteles, alokasi manfaat dan hukuman harus diatur oleh hukum yang adil. Dan untuk bisa menerapkan hukum secara adil, kita butuh orang-orang yang memiliki kebajikan keadilan.”

Pendidikan Moral dan Pembentukan Karakter

 Indra Darmawan: “Bro, kita bicara tentang kebajikan, komunitas, hukum, tapi bagaimana sebenarnya seseorang menjadi berbudi? Aristoteles menekankan pembiasaan sejak dini. Kebajikan bukan bawaan lahir, tapi dibentuk melalui praktik berulang.”

Ade Indra Chaniago: “Ini titik penting Bro. Pendidikan moral bukan pengajaran aturan, tapi pembentukan karakter. Dan yang menarik, Aristoteles mengatakan bahwa bertindak berbajikan bukan berarti bertindak melawan kecenderungan, seperti yang dipikirkan Kant. Orang berbudi bertindak dari kecenderungan yang sudah dibentuk oleh penanaman kebajikan.”

Indra Darmawan: “Al-Ghazali punya konsep riyadhah (latihan jiwa) dan mujahadah (kesungguhan) dalam pembentukan karakter. Ia bahkan menyusun program latihan spiritual yang sistematis untuk mengatasi sifat-sifat buruk dan menumbuhkan sifat-sifat baik. Tapi bedanya, Al-Ghazali lebih menekankan pada peran guru spiritual (mursyid) yang membimbing muridnya.”

Ade Indra Chaniago: “Ya, dan ini berkaitan dengan konsep taqlid (mengikuti otoritas) dalam tahap awal pendidikan moral. Tapi akhirnya, seseorang harus mencapai tingkat di mana ia bertindak berdasarkan penilaian dan keyakinannya sendiri, bukan sekadar ikut-ikutan.”

Indra Darmawan: “Ini mirip dengan apa yang dikatakan Aristoteles tentang perbedaan antara orang yang benar-benar berbudi dengan orang yang kebetulan bertindak benar karena alasan yang salah. Prajurit yang bertindak berani karena takut pada perwiranya, bukan karena keberanian—ia tidak memiliki kebajikan keberanian.”

Ade Indra Chaniago: (tersenyum) “Ngomong-ngomong soal pendidikan, bagaimana dengan sistem pendidikan kita hari ini? Apakah kita mendidik anak-anak menjadi manusia berbudi, atau sekadar melatih mereka untuk lulus ujian dan mendapatkan pekerjaan?”

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Hujan dan Hikmah yang Terlupakan

Indra Darmawan: “Nah, itu pertanyaan krusial. Ki Hadjar Dewantara, dengan konsep among-nya, menekankan pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan. Tapi sayangnya, praktik pendidikan kita sering jauh dari ideal itu.”

Ade Indra Chaniago: “Mungkin kita perlu memikirkan kembali tujuan pendidikan. Bukan sekadar mentransfer pengetahuan, tapi membentuk manusia yang memiliki kebijaksanaan praktis, kepekaan terhadap situasi, dan komitmen pada kebaikan bersama.”

Refleksi

 (Matahari mulai terbenam. Kedai kopi yang berderet disepanjang Jalan Radial 26 Ilir Kota Palembang mulai ramai dengan pengunjungnya. Selasa sore, 17 Februari .)

Indra Darmawan: (menatap jalan trotoar tampak lampu penerangan jalan umum di Palembang Indah Mall seakan mengingatkan obrolan harus diakhiri ) “Bro, setelah diskusi panjang ini, aku jadi bertanya-tanya—mampukah kita mewujudkan etika kebajikan dalam masyarakat modern yang kompleks?”

Ade Indra Chaniago: “Mungkin bukan dalam skala besar seperti yang dibayangkan Aristoteles dengan polis-nya. Tapi MacIntyre memberi harapan—kita bisa membangun komunitas-komunitas lokal kecil di mana praktik kebajikan bisa dihidupkan. Keluarga, komunitas keagamaan, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat.”

Indra Darmawan: “Dan dari sana, secara perlahan, nilai-nilai itu bisa merembes ke masyarakat yang lebih luas. Seperti yang dikatakan Rumi, ‘Kamu bukan setetes di lautan, tapi lautan dalam setetes.’ Setiap komunitas kecil bisa menjadi lautan kebajikan dalam dirinya sendiri.”

Ade Indra Chaniago: (tertawa) “Bro, Kau memang selalu suka mengutip Rumi. Tapi aku setuju. Yang penting adalah kita tidak kehilangan visi tentang manusia yang berbudi—manusia yang mampu menilai dengan benar, merasakan dengan tepat, dan bertindak dengan bijaksana dalam situasi konkret.”

Indra Darmawan: “Dan semua itu, seperti diingatkan Aristoteles, tidak mungkin tercapai tanpa komunitas yang mendukung. Kita tidak bisa menjadi baik sendirian. Zoon politikon—itulah kita.”

Ade Indra Chaniago: “Mari kita minum kopi kita yang sudah dingin ini. Dan besok, kita coba praktikkan sedikit kebajikan dalam interaksi kita dengan orang-orang di sekitar. Setidaknya itu awal.”

Indra Darmawan: (mengangkat cangkir) “Setuju. Untuk perjalanan tanpa akhir menuju kebaikan.”

Ade Indra Chaniago: “Untuk perjalanan itu Bro.”

(Mereka berdua meneguk kopi dingin, tersenyum pada ironi bahwa diskusi tentang kebajikan menghabiskan waktu hingga kopi tak lagi hangat. Tapi mungkin, seperti etika kebajikan itu sendiri, yang penting bukanlah kesempurnaan momen, melainkan praktik berkelanjutan yang membentuk karakter.)

Ade Indra Chaniago: (sambil membereskan buku) “Sebentar, Bro, sebelum kita benar-benar selesai, mari kita pastikan kita sudah menyebutkan semua tokoh dengan adil.”

Indra Darmawan: “Kita sudah bicara tentang Aristoteles, poros utama diskusi. MacIntyre sebagai pembaca kritis kontemporer. Al-Ghazali dengan spiritualitas sufistiknya. Ibn Miskawayah yang menjembatani Yunani dan Islam. Muhammad Abduh dengan modernisme Islamnya. Fazlur Rahman dengan hermeneutika double-movement-nya. Rumi dengan cinta kosmiknya. Ki Hadjar Dewantara dengan pendidikan membebaskan.”

Ade Indra Chaniago: “Jangan lupa, kita juga menyinggung Kant, Rawls, Nozick sebagai perbandingan—mungkin kita agak kritis pada mereka, tapi itu fair dalam konteks diskusi ini.”

Indra Darmawan: “Tentu. Dan Porphyry, editor Etika Nikomakea, meskipun hanya sekilas.”

Ade Indra Chaniago: “Ya, sudah lengkap rasanya. Tapi yang paling penting, kita tidak hanya mengutip, tapi mencoba memikirkan ulang etika kebajikan dalam konteks Indonesia kontemporer.”

Indra Darmawan: “Bukankah itu tugas kita sebagai intelektual Bro? Bukan sekadar menjadi penjaga museum pemikiran, tapi menghidupkannya kembali dalam percakapan yang relevan dengan zaman.”

Ade Indra Chaniago: “Aamiin. Sekarang, mari kita bayar kopinya dan pulang. Istri dan anak – anakku sudah menunggu untuk maghrib berjamaah.”

(Mereka berdua tertawa, lalu meninggalkan kedai kopi dengan langkah ringan, membawa percakapan yang akan terus bergema dalam tindakan-tindakan kecil sehari-hari.)

 

Rabu, 18 Februari 2026

Jaringan Aliansi Rakyat Independen

Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan