Mengutip pusi K.H A. Musthofa Bisri yang berjudul Selamat Tahun Baru Kawan, “Sholat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu-ibu. Lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai daripada lamunan 1000 anak pemuda”. Padahal sholat merupakan ibadah yang seorang hamba berkomunikasi langsung dengan-Nya.
ertanyaannya, mengapa bisa demikian? Hal ini terjadi karena shalat masih dipahami hanya sebatas formalitas yang tidak memiliki konsekuensi apa-apa terhadap kehidupannya. Sepanjang kita masih berkutat pada pemahaman seperti ini maka shalat kita jelas tidak memiliki makna apa-apa, tidak bisa mencegah perbuatan yang keji dan mungkar.
Kata “faqr” berarti: melarat, tidak memiliki apa yang dibutuhkan. Bagi para sufi, kata “faqr” berarti: Mengosongkan hati (takhalli) dari segala bentuk entitas, selain baqa` di dalam hubugan antara hamba dengan Tuhan. Kata ini juga berarti: Kesadaran atas kebutuhan kepada Allah semata dan hidup dalam kesadaran atas kecukupan pada makhluk. Demikianlah pengertian dari “faqr” yang dipahami para ahli tasawuf. Sebagaimana halnya pengertian para sufi ini bukanlah pengertian “faqr” seperti yang dipahami oleh orang kebanyakan, yaitu berarti “kekurangan”, maka mereka juga tidak perlu menunjukkan kefakiran mereka kepada manusia.
Kefakiran adalah bentuk tawajuh langsung kepada sang Mahaesa, dengan memutus hubungan dengan semua entitas. Itu dilakukan sesuai kesanggupan manusia untuk meninggalkan semua yang fana dengan hatinya untuk kemudian mengalami fana` dalam sifat dan Dzat Ilahi. Pada saat itu terjadi, maka sang salik telah berhasil mencapai “faqr” dan “fakhr” (kebanggaan) sekaligus, sehingga muncullah kata-kata yang berbunyi “al-faqr fakhriy” (kefakiran adalah kebanggaanku).
Ada sebuah penjelasan tentang kefakiran dalam sebuah kata-kata kudus sebagai berikut:
Ketika seseorang sampai pada dimensi iman dan ketundukan, maka semua kehendak, keinginan, dan kekuatan akan hilang, sehingga yang tersisa hanyalah daya dan kekuatan Allah. Kalau orang yang mengalami ini memiliki kekayaan seisi dunia, ia pasti akan menganggap sebuah itu hanya sebagai khayalan belaka, karena semuanya pasti akan hilang musnah. Pada saat itu dia tidak akan melihat apapun selain Allah, tidak akan mengetahui apapun selain Allah, tidak akan memikirkan apapun selain Allah, dan tidak akan mempercayai apapun selain Allah, sembari menyadari kelemahan dan kefakirannya. Dengan begitu, maka dia tidak akan mencari perlindungan kemanapun selain hanya kepada Allah dan dia akan peduli pada siapapun selain Allah swt.
Dalam kitab Fihi Ma Fihi salah satu karya fenomenal penyair sufi Jalaluddin Ar-Rumi diceritakan salah seorang murid bertanya kepada gurunya: Apakah ada jalan yang lebih mendekatkan (diri) kepada Allah dari sholat?
Guru menjawab: Sholat (lagi). Sholat akan mendekatkan diri kita kepada Allah. Akan tetapi bukan sekedar engkau sholat sebagaimana bentuk gerakan orang-orang sholat. Sholat adalah perintah yang harus dilakukan dengan wujudnya sholat. Sebagaimana engkau lapar, rasa laparmu tidak akan hilang kecuali dengan makan. Sholat lebih dari sekedar engkau takbir, ruku’, dan sujud.
Ucapan takbir pernyataan atas keagungan Tuhan, adalah permulaan shalat dan ucapan salam adalah akhirnya. Begitupula ada sesuatu yang lebih dari sekedar ucapan iman yang diucapkan lidah, karena ucapan itu pun memiliki awal dan akhir.
Apapun yang dapat diucapkan, memiliki awal dan akhir adalah bentuk dan bungkus. Sedangkan jiwanya (sholat) tidak dibatasi oleh isyarat-isyarat fisik dan tidak terbatas, tanpa awal dan akhir.
Pada hakikatnya jiwa atau ruh sholat bukan hanya sekedar “bungkus” sholat, jauh dari itu ruh sholat merupakan saat engkau sholat pada-Nya engkau tenggelam bukan pada suatu tempat melainkan terbawa akan kenikmatan sholat yang tidak terbentang oleh ruang dan waktu.
Saat engkau sholat itu sama halnya dengan engkau menghadapkan wajahmu ke cahaya agung. Keagungan-Nya tidak terlintas namun tidak lepas dari pandanganmu. Nur-Nya tidak pernah sirna bahkan setiap makhluk yang melihatnya terpana dengan kelemahan dan ketundukan pada Tuhan-Nya.
فأي وضع لهذا الإنسان الضعيف وهو يري الأسود والنمور والتماسيح جميعا عاجزة ومرتجفة أمامه؟ والسماوات والأرضون كلها عاجزة ومسخرة لحكمه. إنه ملك عظيم. وليس نوره كنور القمر والشمس, الذى في حضرته يبقي الشيء في مكانه. عندما يستطيع نوره دون حجاب لاتبقى سماء ولاأرض, ولاشمس ولاقمر, لايبقى إلا ذلك الملك
Jika binatang-binatang seperti burung kecil, macan tutul, dan buaya saja tidak berdaya dan gemetar di depan-Nya, bagaimana dengan manusia yang lemah? Surga, bumi dan segala isinya tidak berdaya dan dikuasai hukum-Nya. Dia adalah raja Yang Maha Kuat. Cahaya-Nya tidaklah seperti cahaya matahari dan bulan, meskipun keberadaan benda itu tetaplah sebagaimana adanya. Cahaya-Nya bersinar tanpa disaring, surga atau pun bumi tak akan dapat bertahan, tidak pula matahari atau bulan, tidak seorang pun akan tersisa tanpa keberadan-Nya (Jalaluddin Ar-Rumi, Fihi Maa Fihi, terjemah dari Persia I’sa Ali Al-A’kub, Daar Al-Fikri, h. 43).
Wujud sholat dalam Jalaludiin Ar-Rumi merupakan bentuk keluh kesah manusia kepada-Nya. Merupakan bentuk manusia tidaklah mempunyai apa-apa. Dan bentuk pengabdian manusia kepada-Nya. Jika sudah timbul Nur-Nya saat kita menghadap-Nya (sholat).
Maka tiada kenikmatan yang paling nikmat selain ingin selalu bertemu dengan-Nya. Wallahu a’lam. [abiattar]