Strategi Merebut Kekuasaan ala Komunis

Strategi Merebut Kekuasaan ala Komunis

 

 da satu hal yang menarik dari sepak terjang penguasa Komunis China yang perlu dicermati. Bagaimana kelicikan penguasa Komunis itu untuk melanggengkan kekuasaannya. Cara-cara licik ini juga nampaknya banyak ditiru oleh banyak di berbagai belahan dunia, bahkan terkadang atas nama demokrasi.

Kita mengenal bahwa China adalah negara yang sangat maju dan kuat. Bahkan hampir-hampir saja menyalip negara-negara besar dan maju lainnya, termasuk Amerika Serikat. Akan tetapi harus pula diakui bahwa kemajuan perekonomian yang telah dicapai oleh China yang sedemikian dahsyat ternyata belum mampu memberikan kemakmuran yang luas dan merata bagi rakyatnya. Mayoritas rakyat yang jumlahnya lebih 2 Milyar itu masih bodoh dan miskin.

Mereka yang lemah, bodoh dan miskin, menjadi mainan politik. Kampanye-kampanye pun bukan untuk mendidik masyarakat tentang siapa calon yang lebih baik, baik dalam karakter dan kepribadian punya ide dan gagasan. Tapi siapa yang bisa memberi hiburan sesaat; joget ria dan sembako murahan.

Sementara kampanye yang mendidik, mencerahkan dan mencerdaskan dianggap seolah tidak berlaku. Rakyat jelata pun semakin dikorbankan dengan ragam pembodohan. Yang cerdas, mencerahkan dan berwawasan dibalik secara sistemik menjadi seolah tidak memberi harapan. Kampanye-kampanye usang dipoles sesuai kadar pemikiran yang dipelihara selama ini. Figur-figur politik, usaha, dan dunia hiburan pun berkolaborasi untuk semakin menina bobokkan rakyat dalam kebodohan dan kemiskinannya.

Sementara pihak yang hadir untuk merubah nasib tragis rakyat kecil, ingjn menghadirkan perubahan yang mendasar di kehidupan masyarakat dibalik seolah ancaman yang membahayakan. Suatu realita yang sesungguhnya tidak asing. Karena begitu pulalah nasib Musa ketika menghadapi Fir’aun. Atau ketika Ibrahim menghadapi Namrud… ketika kebenaran menghadapi kebatilan.

Semoga kebenaran akan menampakkan diri dan menang pada waktunya. Karena saya sangat yakin kemenangan itu akan selalu berada di pihak kebenaran. Kemenangan bagi kebenaran itu bukan lagi dengan kata “if” (jikalau). Tapi dengan kata “when” (kapan). Ini masalah waktu bung!

Pertanyaannya adalah apakah Anda menjadi bagian dari sejarah memenangkan kebenaran? Atau justru Anda menjadi kolaborator kejahatan dan berbagai manipulasi dalam kehidupan manusia. “Ask your heart!”.

Kampong New York, 16 Februari 2024

Shamsi Ali