Simulacra: Realitas Tidak Ada,Kita Hidup Dalam Hiper-realitas yang Dibentuk oleh Media
Abiattar – JARI & ForJIS
ada awal tahun 1991, Amerika Serikat dan sekutunya siap mengusir tentara Irak dari Kuwait yang diduduki. Namun filsuf dan sosiolog Jean Baudrillard (1929-2007) menyatakan pada tanggal 4 Januari bahwa perang tidak akan terjadi.
Ketika bom pertama jatuh pada tanggal 17 Januari, dia bereaksi seperti yang kita harapkan dari seorang pemikir postmodern Perancis: bagaimana kita tahu bahwa perang benar-benar terjadi? Setelah pemimpin Irak Saddam Hussein menyerah, Baudrillard menulis bahwa perang tidak pernah terjadi.
Apakah ini membuktikan bahwa dia telah kehilangan kontak dengan kenyataan?
Sebuah pertanyaan yang sangat naif, di mata Baudrillard. Bukan hanya dia, tapi seluruh budaya Barat sudah lama meninggalkan kenyataan. Kita hidup dalam apa yang disebutnya ‘hiperrealitas‘: kita mengira kita mengetahui realitas karena tanda-tanda merujuk padanya, namun jika diamati lebih dekat, tanda-tanda itu hanya merujuk satu sama lain.
Apa yang kita anggap sebagai kenyataan adalah simulasi, tiruan dari kejadian di dunia nyata. Realitas itu sendiri, yang asli, sudah tidak ada lagi. Kita hanya melihat ‘simulacra‘, salinan yang mewakili hal-hal yang tidak lagi memiliki, atau tidak pernah memiliki, yang asli.
Misalnya, apa jadinya Perang Teluk yang sebenarnya? Bahkan sebelum konflik terjadi, semua pihak yang terlibat telah melancarkan perang propaganda. Misalnya, seorang perawat asal Kuwait sambil menangis menggambarkan bagaimana tentara Irak, setelah menginvasi negaranya, mengeluarkan bayi dari inkubator dan membiarkan mereka mati di lantai yang dingin. Jelas bagi puluhan juta orang Amerika yang menyaksikan kesaksiannya di TV bahwa negara mereka harus melakukan intervensi.
Namun belakangan diketahui bahwa perawat tersebut adalah putri duta besar Kuwait untuk Amerika Serikat, yang tidak tinggal di negara asalnya selama dan setelah penggerebekan. Kisah ini adalah bagian dari aliran informasi berkelanjutan yang dicurahkan media kepada audiensnya. Bahkan di lereng ski Prancis, Perang Teluk dapat disaksikan melalui pengeras suara.