BANGKA − Sebagian besar nelayan memutuskan tidak melaut di musim paceklik saat ini. Mereka, nelayan Kabupaten Bangka berupaya memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan mencari penghasilan lain walau harus serabutan.
“Selama paceklik ini ya kami (nelayan-), harus putar otak mencari nafkah, ada yang jadi tukang, berkebun, ngurus warung, apa pun lah dikerjakan yang penting halal, dan dapur bisa ‘berasap,” kata Ketua Perhimpunan Nelayan Matras, Kabupaten.Bangka Okrodi, di Pantai Matras, Selasa (23/7/2024).
Okro menyebut jika cuaca ekstrem masih akan terus terjadi dan diperkirakan baru berakhir pada awal September nanti.
“Sekarang musim tenggara di mana cuaca 2 hari ekstrem tapi ada waktunya cuaca ‘kendur’, nah itu kita melaut walaupun hasilnya sangat sedikit. Ini sudah berlangsung 2 bulan. Kami justru mengkhawatirkan di bulan Agustus nanti, karena puncak itu musim tenggara, maka bisa 1 bulan full nelayan tidak bisa melaut,” ujarnya.
Sementara Lurah Matras, Chari Yulianto mengaku nelayan seluruhnya sama sekali tidak bisa melaut di cuaca yang sangat ekstrem saat ini.
Dia berharap para nelayan tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari melalui berbagai usaha yang selam ini juga ditekuni.
“Ya mereka menjalankan usaha lain, ada yang berkebun, ambil upah merumput, ada yang bergerak di bidang UMKM, itu dilakukan sambil menunggu cuaca kembali baik, sehingga kebutuhan tetap dapat terpenuhi,” ujar Lurah Matras.
Pantauan RRI.co.id, di dermaga Tambat Perahu Nelayan Pantai Matras, ratusan perahu saat ini ‘menganggur’ tidak bisa melaut. beberapa nelayan hanya sibuk membersihkan dan memperbaiki perahu serta peralatan melaut mereka. [Ia]