Menapak Saat-saat Terakhir Rezim (7): Perang-perangan Para Boneka Arab-Cina, serta Sandiwara Politik PKI Gaya Baru
Sri-Bintang Pamungkas
etika Joko Widodo muncul di Panggung Politik secara tiba-tiba, seperti keluar dari liang-liang di Bumi, kami sudah tahu dia seorang Keturunan Cina, Utusan Xi Jinping. Bahkan kemudian saya mengira dia sudah diangkat menjadi Gubernur Jenderal RRC di Indonesia.
Ternyata bukan cuma Xi Jinping yang mendukung Jokowi ini. Melainkan juga Barack Obama. Obama mengirim John Kerry, Menlu AS, untuk hadir pada hari Pelantikan Jokowi di MPR, 20 Oktober 2014.
Kemenangan Jokowi di MK melawan Prabowo pada 2014 itu adalah berkat kunjungan Megawati ke Washington, DC untuk meminta AS melakukan intervensi memenangkan Jokowi. Sebagai imbal-baliknya, Megawati menyerahkan Proposal Referendum di Papua yang konon dibikin oleh Jokowi. Tapi orang menduga, bahwa Proposal itu dibuat oleh Agen-agen AS sendiri semacam John Perkins.
Bagi AS dan sekutunya, bersekutu dengan RRC dan PKI dalam PKI Gaya Baru tidak menjadi soal, demi kepentingannya, untuk melemahkan, menguasai, bahkan menghancurkan, Pribumi dan Islam Indonesia. Demikian pula RRC yang agen-agennya pun sudah menyebar di seluruh pelosok Indonesia.
Republik Indonesia Proklamasi 45 sungguh menarik tapi sekaligus dianggap membahayakan Dunia Kapitalis dan Komunis. Karena itu harus diobrak-abrik dan dikuasai. Penggantian Konstitusi 1945 merupakan sebuah kemenangan dan “karya besar” serta Percobaan Pertama yang berhasil dari para Kolonialis. Sesudah berhasil, ditempatkanlah Boneka-bonekanya seperti SBY, Jokowi dan Anies Baswedan. Cara semacam itu digunakan lagi pada Negara-negara berpenduduk Islam.
Dalam waktu 20 tahun terakhir para Kolonialis-Imperialis itu berhasil merampok dan menguasai kekayaan Indonesia dan sekaligus memiskinkan Rakyat, Bangsa dan Negara. Sekarang, menghadapi Pilpres 2024, upaya menghancurkan Indonesia terus dilanjutkan… Kemarin Pribumi Sontoloyo macam SBY dan keturunan Cina macam Jokowi yang digunakan…; sekarang dipakailah keturunan Arab macam Anies Baswedan.
Siapa sejatinya Jokowi, keturunan siapa dia, di mana Bapaknya… tidak ada yang tahu… Selain, bahwa Bapaknya orang Cina, Babah Oey, ibunya orang Jawa, Sujiatmi. Kata “Wi” dalam “Widodo” diambil dari “Oey”. Nama keluarga Cina (she) bapaknya…
Waktu kecil hidup Joko sangat menderita, karena Bapaknya, Babah Oey, meninggalkan Ibunya yang masih sangat belia, saat si Joko masih bayi…. Dititipkanlah keduanya kepada seorang lelaki, Notomiharjo. Dari Notomiharjo, Sujiatmi melahirkan lagi tiga perempuan yang menjadi saudara tiri Joko.
Pendapat di atas berbeda dari tulisan Bambang Tri (Jokowi Undercover) yang mengatakan, bahwa “yang cina” itu Ibunya, yaitu Mei Hoa; bukan bapaknya…
Joko Oey pun ikut menderita hidupnya, dan mengakibatkannya sakit jiwa (schizophrenia).
Perilaku Jokowi selama ini, yang aneh-aneh, gila-gilaan, dan mega maniak, menunjukkan adanya gangguan jiwa itu… Tapi, orang Indonesia yang “lemah hati dan pikirannya” menganggap Jokowi sebagai Ratu Adil dan mendukungnya menjadi presiden. Seorang Megawati saja bisa tertipu… Dan itu dimanfaatkan dengan baik oleh PKI Gaya Baru…
Lain dengan Anies Baswedan. Kakek dan kakek-kakeknya konon datang dari Arab Yaman atau Hadramaut, negara yang pada masa lalu penduduknya menyembah Matahari di bawah Ratu Seba di jaman Nabi Sulaiman. Mereka datang ke Nusantara sewaktu jaman Belanda. Atau sebelumnya, sewaktu Kerajaan Islam mulai berdiri pada pasca Majapahit. Yaitu, hampir bersamaan dengan datangnya para Bule dari Eropa Barat…
Kakek Anies, Abdurrahman Baswedan, ikut dalam pergerakan Kebangkitan Nasional. Pada masa penjajahan Belanda itu, komunitas keturunan Arab, bersama para pendatang Timur Asing lainnya, diberi kelas di atas Pribumi Nusantara. Sekalipun begitu, tidak seperti para pendatang Bangsa lain yang Cina, India, Pakistan dan lain-lain, Abdurrahman Baswedan mengajak para Keturunan Arab dan Totok untuk ikut mendukung aspirasi Pribumi Indonesia, mungkin karena ada kesamaan Agama.
Pada 4-5 Oktober 1934 di Semarang, mereka pun ikut mengadakan Sumpah Pemuda Keturunan Arab dan Totok dengan menyampaikan, bahwa Indonesia adalah Tanah Air mereka. Sekalipun dalam sumpahnya itu, mereka masih mengakui identitasnya sebagai Bangsa Arab.
Kebangsaan memang tidak mungkin bisa berubah. Allah Swt memang menghendaki demikian, sekalipun kalau Mau, Allah pun Bisa Menciptakan manusia menjadi Satu Bangsa saja…
Adurrahman Baswedan tahu tentang Faham Kebangsaan itu, sehingga bersedia bergabung dalam satu perjuangan kemerdekaan Indonesia bersama Bung Karno dan Bung Hatta. Dia pun menjadi anggota BPUPKI, bersama kelompok Pribumi dan Keturunan Timur Asing lain, dan ikut melahirkan Pancasila dan UUD 1945.
Hal-hal yang terkait dengan Sejarah Perjuangan Bangsa itu yang tidak difahami oleh Anies Baswedan dan para pendukungnya. Nafsunya untuk menjadi Orang Pertama RI timbul karena mendapat dukungan dari Amerika Serikat; serta sifat megalomania-nya yang menganggap dirinya hebat di atas orang-orang Indonesia Asli.
Anies lupa daratan. Padahal dia hampir tidak pernah berjuang… tidak pernah bicara demokrasi, hukum, keadilan dan HAM; tidak pernah bicara tentang kesejahteraan rakyat, kemiskinan, ekonomi kerakyatan, ekonomi pancasila ataupun ekonomi pembangunan; tidak pula pernah bicara tentang liberalisme, kapitalisme, individualisme, kolonialisme dan imperialisme, serta Asas Kekeluargaan; apalagi melawan kekuasaan zalim. Dia pun bergabung dengan Jokowi.
Anies Baswedan mengabaikan pula perjuangan kakeknya, dan bersedia mengkhianati Pancasila dan UUD 1945. Anies tidak tahu diri, bahwa dirinya adalah Bangsa Arab yang selama ini hidupnya “menumpang” pada Bangsa Indonesia. Seperti juga Jokowi, dia bukan Orang Indonesia Asli, dan karenanya dilarang menjadi Orang Pertama RI. Tapi, dia nekat menggabungkan dirinya ke dalam kelompok pendukung UUD 2002 bersama PKI Gaya Baru, menjadi Capres 2024.
Terjadilah sekarang drama Panggung Sandiwara di Arena Politik Indonesia, di antara para Capres 2024. Sandiwara Perang-perangan di antara kelompok-kelompok PKI Gaya Baru sendiri dalam berebut kedudukan Orang Nomor Satu RI. Panggung yang digunakan adalah Mahkamah Konstitusi, produk UUD 2002 PKI Gaya Baru. Penggugatnya adalah Anies Baswedan/Imin dan Ganjar/Mahfud; dan Tergugatnya adalah Prabowo/Gibran yang “sudah dinyatakan menang” oleh KPU. Mereka semua adalah PKI Gaya Baru, pendukung UUD 2002.
Demikian pula para Pengacara/Ahli Hukum dari kedua pihak: Bambang Widjojanto dari Koalisi LSM untuk Konstitusi Baru; Refly Harun, anak kemarin sore; Yusril Ihza, the all presidents man; Hotman Paris yang dikelilingi banyak perempuan; dan lain-lain; baik dari Penggugat maupun Tergugat. Mereka tahu UUD 2002 adalah karya PKI Gaya Baru.
Tidak tertutup kemungkinan, baik Gugatan maupun Keberatan dari Tergugat ditolak semuanya oleh Majelis Hakim MK, demi menyelamatkan diri dari Pengadilan Rakyat; sekalipun pintu Neraka Jahim tetap terbuka bagi mereka!
Apabila Megawati pergi lagi meminta tolong Washington, DC, maka ini sungguh suatu pengkhianatan terhadap Rakyat, Bangsa dan Negara. Sementara Prabowo sudah lebih dulu ke Beijing. Bahkan Xi Jinping sudah mengirim lagi ratusan Tentara Cina tiap hari ke Tanah Air kita guna melengkapi kekurangan dari sekian jutaan yang dijanjikan Jokowi untuk menguasai Republik Proklamasi 1945.
Memang seharusnya Pilpres 24 PKI Gaya Baru itu dibatalkan oleh People’s Power Parlemen Jalanan; Kembali memberlakukan UUD 1945; Menjatuhkan Rezim PKI Gaya Baru; dan Membentuk Pemerintah Darurat sebagai Pemerinrah Transisi…
Jakarta, 24 Ramadhan 1445 H
@SBP
Hizbullah Indonesia