JARI : Realitas Kekuasaan dan Azab untuk Pemimpin
“Ingat, hukuman bagi pemimpin zalim tidak hanya akan menimpanya di akhirat berupa siksa neraka, tetapi juga di dunia berupa kesulitan hidup, hilangnya keberkahan, dan kehancuran negeri yang dipimpinnya. Dan seperti kata Plato serta Lord Acton, kekuasaan tanpa kebijaksanaan dan moral adalah bencana bagi peradaban.” [ DR (C) Ade Indra Chaniago ]
Indra Darmawan: Uda, saya ingin mulai dari dasar dulu. Dalam pengamatan saya, banyak calon pemimpin berebut kursi kekuasaan seolah-olah itu adalah barang dagangan atau harta rampasan. Sebenarnya, bagaimana Islam mendefinisikan kepemimpinan? Apakah ia sebuah hak istimewa atau justru beban?
Ade Indra Chaniago: Pertanyaan yang sangat fundamental, Adindaku. Dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah, bukan maghnam (ghanimah/harta rampasan). Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (HR. Bukhari Muslim). Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan itu bersifat universal dan melekat. Seorang pemimpin adalah pelayan rakyat, sesuai dengan konsep sayyid al-qawm khaadimuhum (pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka). Jadi, bukan rakyat yang harus melayani pemimpin, tapi pemimpin yang harus melayani rakyat. Amanah ini diberikan oleh rakyat dan akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah.
Indra Darmawan: Tapi realitasnya Uda, begitu pegang kekuasaan, yang dilayani malah partai dan keluarganya. Di mana letak khianat di sini?
Ade Indra Chaniago: Tepat sekali. Mengkhianati amanah bisa dalam banyak bentuk. Allah berfirman dalam QS. An-Nisa: 58, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” Ketika seorang pemimpin menggunakan posisinya untuk memperkaya diri, mengangkat keluarga yang tidak kompeten, atau membuat kebijakan yang hanya menguntungkan partainya, maka ia telah keluar dari pakem amanah. Ia telah mengkhianati rakyat yang memilihnya dan mengkhianati Allah.
Politik, Antara Surga dan Neraka
Indra Darmawan: Uda, saya sering mendengar ungkapan bahwa politik itu kotor. Tapi di sisi lain, banyak juga yang bilang politik adalah jalan pengabdian. Sebenarnya, bagaimana kita harus memandang politik ini?
Ade Indra Chaniago: Nah, ini poin yang sangat penting, Bro. Saya sering mengatakan, dan ini harus kita pahami bersama: “Politik itu adalah jalan paling cepat ke surga, sekaligus jalan paling cepat ke neraka. Dan bagi yang salah langkah, politik juga bisa menjadi jalan paling dekat ke penjara.”
Kenapa saya katakan begitu? Karena kekuasaan itu ibarat pisau bermata dua. Jika digunakan untuk menegakkan keadilan, mengentaskan kemiskinan, dan melayani rakyat, maka pahala mengalir terus meskipun ia sudah meninggal. Itu cepat ke surga. Tapi jika digunakan untuk korupsi, menindas, dan mementingkan golongan, maka laknat dan dosa akan terus mengalir. Itu cepat ke neraka. Dan secara duniawi, kita lihat sendiri, banyak pemimpin korup yang akhirnya mendekam di penjara. Jadi, politik itu bukan main-main. Ia adalah medan pertanggungjawaban terberat.
Indra Darmawan: Nah, bicara soal konsekuensi, Uda. Saya melihat di masyarakat, kadang pemimpin yang korupsi atau zalim terlihat “baik-baik saja” di dunia. Malah hartanya bertambah. Apakah tidak ada hukuman yang nyata? Bagaimana Al-Qur’an dan Hadis menjelaskan hal ini?
Ade Indra Chaniago: Jangan tertipu oleh fenomena sementara. Al-Qur’an dengan tegas menyatakan, “Sesungguhnya, dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih” (QS. Asy-Syura: 42). Azab itu bisa di dunia, bisa di akhirat, atau keduanya.
Allah juga punya sunatullah (hukum alam) bahwa kezaliman adalah penyebab kehancuran. “Dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman” (QS. Al-Qashash: 59). Jadi, kemunduran suatu bangsa itu tidak datang tiba-tiba, tapi karena akumulasi kezaliman para pemimpinnya.
Indra Darmawan: Lalu bagaimana dengan hadis Nabi? Apakah ada yang secara spesifik membahas dampak dari pengkhianatan ini?
Ade Indra Chaniago: Banyak sekali, Bro. Misalnya, hadis riwayat Dailami: “Amanah itu mendatangkan rezeki, sedangkan khianat itu mendatangkan kemiskinan.” Saya kira ini relevan dengan kondisi kita. Kemiskinan struktural, sulitnya lapangan kerja, itu semua bisa jadi akibat dari pengkhianatan para pemimpin yang korupsi dan tidak berpihak pada rakyat.
Bahkan ada hadis yang sangat menakutkan: “Barang siapa yang diangkat oleh Allah menjadi pemimpin bagi kaum Muslim, lalu ia menutupi dirinya (acuh) tanpa memenuhi kebutuhan mereka… Allah akan menutupi (diri-Nya) darinya, tidak memenuhi kebutuhannya, dan membiarkannya dalam kemiskinan” (HR. Abu Dawud). Artinya, Allah akan mencabut keberkahan dari hidupnya. Doa Rasulullah juga sangat jelas: “Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia.” (HR. Muslim).
Indra Darmawan: Itu peringatan yang sangat keras. Jadi, kalau ada pemimpin yang selalu dipersulit dalam urusannya, mungkin itu efek dari doa Nabi?
Ade Indra Chaniago: Bisa jadi demikian. Atau setidaknya, itu adalah isyarat bahwa Allah sedang menunjukkan ketidakridhaan-Nya.
Pandangan Kaum Sufi
Indra Darmawan: Berbicara soal hubungan dengan Allah SWT, saya tertarik dengan perspektif kaum sufi. Biasanya, sufi itu kan fokus pada akhirat. Apakah mereka juga peduli dengan masalah kepemimpinan yang zalim?
Ade Indra Chaniago: Sangat peduli. Tokoh sufi besar, Imam Hasan Al-Bashri, adalah contoh nyata. Beliau adalah seorang tabi’in yang sangat zuhud, tapi tidak segan mengkritik penguasa zalim. Suatu ketika, Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang terkenal adil pun meminta nasihat darinya.
Imam Hasan menulis surat yang isinya sangat tajam. Saya kutipkan: “Janganlah, wahai Amirul Mukminin, engkau memerintah hamba-hamba Allah dengan hukum yang diterapkan oleh orang-orang jahil. Jangan juga menempuh jalan orang-orang yang berlaku aniaya. Jangan beri peluang para pendurhaka terhadap kaum lemah… karena jika engkau memberi peluang itu maka engkau akan memikul dosa-dosamu dan juga dosa-dosa (mereka) bersama dosamu…” Beliau mengingatkan agar pemimpin jangan sampai memerintah dengan kebodohan (mengesampingkan syariat), jangan mengikuti jalan orang zalim, dan yang terpenting, jangan beri kekuasaan kepada penindas untuk menguasai kaum lemah.
Indra Darmawan: Ini menarik. Nasihat untuk Umar bin Abdul Aziz saja setajam itu. Lalu bagaimana dengan penguasa yang benar-benar zalim, seperti Hajjaj bin Yusuf?
Ade Indra Chaniago: Nah, ini pelajaran keberanian moral. Imam Hasan Al-Bashri tidak segan mendoakan kebinasaan bagi Hajjaj. Beliau berdoa, “Ya Allah yang Maha Perkasa, hancurkan dan binasakanlah Hajjaj bin Yusuf…” Dikisahkan tidak lama kemudian, Hajjaj tewas dengan kondisi perut dipenuhi cacing. Ini menunjukkan bahwa para sufi tidak hanya diam beribadah, tapi memiliki ghirah (keberanian) untuk membela kebenaran. Mereka percaya bahwa doa orang yang tertindas adalah senjata paling ampuh melawan kezaliman.
Perspektif Tokoh Filsafat Dunia Barat
Indra Darmawan: Uda, kita sudah membahas panjang lebar dari sudut pandang Islam. Agar diskusi kita lebih kaya, saya ingin mengajak melihat masalah ini dari perspektif filsafat barat. Sebenarnya, apa kata para filsuf tentang pemimpin yang korup dan zalim ini?
Ade Indra Chaniago: Bagus sekali, Bro. Justru dengan melihat dari kacamata universal, kita akan paham bahwa masalah kepemimpinan yang amanah ini bukan hanya urusan agama, tapi urusan kemanusiaan global.
- Plato (Filsuf Yunani Kuno)
Plato dalam bukunya “The Republic”memperkenalkan konsep “Philosophy King”(Raja Filsuf). Menurut Plato, pemimpin ideal adalah orang yang bijaksana, mencintai kebenaran, dan tidak tertarik pada kekayaan atau kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Ia mengatakan bahwa negara akan kacau balau jika dipimpin oleh orang yang serakah dan bodoh. Korupsi terjadi ketika pemimpin lebih mencintai harta daripada keadilan. Ini selaras dengan Islam yang melarang pemimpin mengambil harta yang bukan haknya. - Niccolò Machiavelli (Filsuf Politik Renaisans)
Nah, ini yang menarik. Machiavelli dalam bukunya “The Prince”sering disalahpahami. Ia memang terkenal dengan realismenya yang ekstrem, “the end justifies the means”(tujuan menghalalkan cara). Tapi banyak orang lupa, Machiavelli juga mengingatkan bahwa pemimpin yang hanya mementingkan diri sendiri dan merampok rakyatnya pada akhirnya akan dibenci dan dihancurkan oleh rakyatnya sendiri. Ia menulis, “Hal terbaik yang bisa dilakukan seorang pangeran adalah membangun benteng pertahanan, tetapi benteng terbaik adalah tidak dibenci oleh rakyat.” Artinya, kekuasaan tanpa dukungan rakyat karena kezaliman adalah bom waktu. - Lord Acton (Sejarawan Inggris)
Ini yang paling terkenal, Bro. Lord Acton berkata, “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.”(Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan absolut pasti korup). Ini adalah peringatan universal bahwa siapa pun yang diberi kekuasaan, jika tidak memiliki landasan moral dan kontrol yang kuat, pasti akan menyalahgunakannya. Dalam Islam, kontrol itu adalah iman dan keyakinan bahwa Allah selalu mengawasi. - Jean-Jacques Rousseau (Filsuf Pencerahan)
Rousseau dalam “The Social Contract”mengatakan bahwa pemimpin adalah pelaksana dari “Kehendak Umum”(General Will). Pemimpin tidak boleh mewakili kepentingan pribadi atau golongan, tapi harus mewakili kepentingan seluruh rakyat. Jika pemimpin hanya melayani golongannya sendiri, maka kontrak sosial itu rusak, dan rakyat berhak untuk mengoreksi. Ini mirip dengan konsep amanah dan musyawarah dalam Islam.
Indra Darmawan: Luar biasa, Uda. Ternyata para filsuf barat pun sampai pada kesimpulan yang sama: pemimpin yang korup dan tidak amanah adalah bencana. Mereka tidak punya konsep akhirat, tapi mereka paham bahwa kezaliman akan berujung pada kehancuran di dunia.
Ade Indra Chaniago: Tepat sekali. Itulah bukti bahwa nilai-nilai keadilan itu bersifat universal. Bedanya, dalam Islam, kita punya konsekuensi ganda: di dunia dan di akhirat. Jadi, seharusnya seorang Muslim yang menjadi pemimpin memiliki “rem” yang lebih kuat dari siapa pun.
Hukuman bagi Pemimpin Zalim
Indra Darmawan: Uda, kita bawa ke konteks kekinian. Bentuk-bentuk kezaliman modern seperti mementingkan partai (kebijakan berpihak pada pengusaha partai), nepotisme (mengangkat keluarga dan kawan), serta korupsi. Apakah ini termasuk dalam kategori yang diancam dalam hadis?
Ade Indra Chaniago: Jelas termasuk, Adindaku. Hadis tentang hakim yang zalim misalnya, itu tidak hanya untuk hakim di pengadilan, tapi untuk semua pengambil keputusan. Jika seorang pemimpin tahu sebuah kebijakan itu benar, tapi sengaja membuat kebijakan yang salah demi kepentingan golongannya, maka ia termasuk dalam ancaman neraka. Praktik suap-menyuap juga dilaknat oleh Nabi.
Ini semua adalah dosa besar. Dampaknya tidak hanya individual, tapi sosial. Ketika pemimpin korupsi, rakyat miskin. Ketika kebijakan hanya untuk pengusaha besar (kroni), UMKM mati. Ketika jabatan diberikan pada keluarga yang tidak kompeten, pelayanan publik hancur. Semua ini adalah bentuk kezaliman yang akan dihisab.
Indra Darmawan: Terakhir, Uda. Lalu apa saja hukuman yang menanti pemimpin zalim ini?
Ade Indra Chaniago: Ada dua ranah.
- Di Dunia: Hukuman di dunia bisa berupa hilangnya keberkahan. Rezeki terasa susah, negara krisis, kepercayaan rakyat hilang, dan yang paling parah adalah kehancuran (QS. Al-Qashash: 59). Ingat, kehancuran suatu bangsa sering dimulai dari kebobrokan pemimpinnya.
- Di Akhirat: Ini yang lebih berat. Mereka akan mendapatkan azab yang pedih di neraka (QS. Asy-Syura: 42). Mereka akan dimintai pertanggungjawaban total atas setiap jiwa yang dipimpinnya. Bahkan, di dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 66-68, digambarkan para pengikut yang dulu setia akan berbalik melaknat pemimpin mereka di neraka dan meminta agar azab pemimpin itu dilipatgandakan. Na’udzubillahi min dzalik.
Indra Darmawan: Sebuah gambaran yang sangat mengerikan. Jadi, kekuasaan hari ini benar-benar adalah tanggung jawab yang sangat berat di akhirat nanti. Ingat juga ungkapan Uda tadi: Politik itu jalan paling cepat ke surga, tapi juga paling cepat ke neraka.
Ade Indra Chaniago: Tepat sekali. Pesan saya untuk para pemimpin, jangan pernah remehkan doa rakyat yang tertindas. Dan untuk rakyat, pilihlah pemimpin yang amanah, jujur, dan berpihak pada kebenaran, jangan karena iming-iming materi atau ikatan partai semata. Karena kelak, kita semua juga akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan kita.
Ingat, hukuman bagi pemimpin zalim tidak hanya akan menimpanya di akhirat berupa siksa neraka, tetapi juga di dunia berupa kesulitan hidup, hilangnya keberkahan, dan kehancuran negeri yang dipimpinnya. Dan seperti kata Plato serta Lord Acton, kekuasaan tanpa kebijaksanaan dan moral adalah bencana bagi peradaban.
Kamis, 26 Februari 2026
Tadarus Politik JARI
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan